Fathimah, Ibu Ayahnya

Oleh : Sirajuddin

إن فاطمة (عليها السلام) كانت تكنى أم أبيها

Imam Baqir a.s. berkata: “Sesungguhnya Fathimah a.s. dijuluki ibu ayahnya”

Sekilas dari hadis di atas, kita bisa memahami bagaimana hubungan Nabi SAWW dengan putri tercintanya, Az-Zahra` salamullah alaiha. Sebuah ungkapan yang amat indah: Ummu Abiha, Kalimat itu sangat singkat, namun menyimpan segala muatan cinta, kasih, dan sayang di setiap lubuk sanubari insan.

Sebelum kita membahas maksud dari gelar Az-Zahra' di atas, alangkah baiknya jika terlebih dahulu kita kaji akar kata umm, yang merupakan kata kunci dalam menyingkap maksud di atas, sehingga kita lebih cermat memahami makna yang dimaksudkan Nabi SAWW ketika memanggil putri beliau: "Selamat datang wahai ibu ayahnya!"

Jauhari dalam Shihāhul Lugāt menjelaskan; Ummu Syai' berarti inti sesuatu, makna yang juga gunakan Al Quran lewat frasa Ummul Qura', yang berarti pusat perkampungan, untuk mengumpamakan posisi Makkah; kota yang memiliki letak geografis yang amat strategis di jantung jazirah Arab dan mengatur menjadi pusat riuh-rendah rutinitas kehidupan kawasan tersebut. Dengan demikian, interpretasi hadis di atas secara leksikal adalah bahwa Fathimah a.s. sumber keturunan Nabi, sesuai dengan tafsiran AI-Kautsar yang berarti mata air keturunan Nabi SAWW.

Kalau kita mau membaca dan mencermati riwayat hidup Sayyidah Fathimah a.s., niscaya tidaklah sulit bagi kita untuk memahami maksud dari ummu abiha di atas tadi. Lebih dari itu, kita akan mendapatkan berbagai tafsiran tentangnya.

1. Tafsir Pertama

Fatimah a.s. memperlakukan Rasul SAWW lebih dari perlakuan seorang ibu terhadap anaknya, sebagaimana Rasul SAWW mencintai dan menghormati Az-Zahra' lebih dari penghormatan seorang anak terhadap ibunya. Sirah Nabawi mengingatkan kita akan sikap Rasul SAWW saat ditemui Az-Zahra'. Beliau berdiri menyambut, menyalami, mencium, dan mendudukkannya di sisi beliau, serta menemaninya dengan seluruh jiwa. Acapkali, ketika mencium Az-Zahra', Rasul SAWW selalu berkata, "Sungguh aku mencium aroma surga dari dirinya."

Di samping itu, terdapat   riwayat lain yang menguatkan tafsiran ini. Ahli sejarah menuturkan bahwa Fathimah adalah orang pertama yang ditemui Rasul SAWW setiap kali pulang dari perjalanan, baik dari peperangan atau lainnya, Istri Ali inilah orang terakhir yang beliau pamiti, jika beliau hendak keluar kota.

Di sisi lain, sejarah mencatat bahwa perlakuan Az-Zahra' terhadap sang ayah tidak kurang dari perhatian seorang ibu terhadap anaknya. Beliau mengobati luka-luka Rasul  akibat peperangan, Beliau turut meringankan beban berat yang dipikul Nabi SAWW, dan selalu   menghibur sang ayah, layaknya seorang ibu pada anaknya. Ringkasnya, luapan cinta, kasih, dan sayang yang diterima seorang anak dari ibunya, semua   itu bisa ditemukan dalam pribadi agung Fathimah a.s.

2. Tafsir Kedua

Risalah   Nabi SAWW merupakan agama khatam (terakhir) yang abadi sampai kiamat nanti. Risalah samawi ini tidak akan berakhir dengan berakhirnya ajal beliau. Akan tetapi, untuk keberlangsungan risalah tersebut harus ada pribadi-pribadi agung yang secara takwiniyah sama seperti   Nabi. Pribadi-pribadi yang dalam hadis disebutkan sebagai bintang-bintang penjamin keselamatan penghuni bumi ini. Mereka lahir dari keturunan Fathimah a.s. Oleh karena itu,   Nabi SAWW bersabda: "Husain dariku dan aku dari Husain. Allah mencintai orang yang mencintai Husain." Artinya,   Husain   anakku   dan   penyambung keturunanku. Dialah cahaya mataku, buah hatiku. Rasul menambahkan "dan aku juga dari Husein", bahwa keberlangsungan risalah dan keutuhan ajaran-ajaran Islam, dapat terealisir berkat Al-Husain a.s. dan para keturunan ma'sum Az-Zahra'. Dari sini,   tidaklah berlebihan jika ada yang mengatakan, " Dinul Islam Muhammadiul wujud Husainiul baqo' " (Islam eksis karena Muhammad SAWW dan kekal berkat Al Husain.) Hal ini kita lihat jelas dari pengorbanan Imam Husain di hari Asyura'. Beliau telah mengorbankan segala-galanya demi menjaga dan mengembalikan orisinilitas Islam yang sudah dicemari oleh tangan-tangan zalim dan durjana Bani Umayyah. Beliau tebus kehormatan Islam dengan darah beliau, keluarga, dan pengikut beliau, dari bayi yang masih merah sampai yang tua, dari kaum pria maupun wanita.

Dengan    demikian,    ummu    abiha    berarti keberlangsungan dan kesinambungan ajaran-ajaran Nabi berkat Sayyidah Fathimah, dan gerakan-gerakan yang digalang oleh putra-putra beliau. Hal ini jelas diketahui Rasul. Layak sekali beliau memuliakan dan menghormati Az Zahra' dengan memanggilnya: "Selamat datang wahai ummu abīhā".

3. Tafsir Ketiga

Maula Al-Anshari menyatakan sebab dijulukinya Az Zahra’ dengan ummu abiha adalah ekspresi cinta tulus Rasul SAWW terhadap putri beliau. Karena kebiasaan   manusia, ketika seseorang mencintai orang tuanya, lalu ingin mengungkapkan serta melukiskan seluruh rasa cintanya, dia akan memanggilnya dengan "Wahai ayah!" jika laki-laki, dan "Wahai ibu!" jika perempuan.

Al-Anshari menambahkan, maksud lain dari julukan tersebut adalah ketika Allah memuliakan para istri Nabi dengan panggilan Ummul mu'minin (ibu kaum mu'min), mungkin akan menebar persepsi bahwa mereka adalah wanita-wanita termulia di bumi, bahkan dari Fathimah a.s. Untuk menepis persepsi yang jelas salah ini, Rasul SAWW yang setiap ucapannya adalah wahyu, menjuluki putri beliau dengan ummu abiha, seakan-akan, Rasul SAWW dengan julukan ini hendak menegaskan kepada ummat, "Wahai istri-istri Nabi! Jika kalian ibu kaum mukmin, ketahuilah bahwa Fathimah adalah ibu Mustafa, ibu   Nabi, ibu ayahnya."

4. Tafsir Keempat

Kata ummu kulli syai'   berarti inti sesuatu, sebagaimana yang dijelaskan para ahli bahasa, seperti ummul kitab, ummul quro, ummul qaum. Atas dasar ini, bisa ditarik maksud dari gelar tersebut bahwa Fathimah a.s. merupakan inti rumpun   Rasul   SAWW  dan  akar  kenabian, sebagaimana Imam Baqir a.s. bersabada, "Pohon kebaikan adalah Rasul, cabangnya Ali, dan akarnya Fathimah, sedangkan para putra-putra Az-Zahra' dan para pengikut setia adalah buahnya." Layaknya sebuah pohon akan layu ketika akarnya hilang, maka Islam yang diibaratkan sebuah pohon ini akan layu dan mengering, andai Fathimah a.s. tidak ada. Hal ini dikarenakan sebuah pohon itu tumbuh dan berkembang dengan menyerap makanan dari akarnya, sedang pohon Islam itu akan tumbuh dan berkembang dengan perjuangan para putra-putra Az-Zahra' a.s. Perjuangan AI-Hasan dalam bentuk sikap damainya dan dan AI-Husain dengan aksi menolak bai'at dan menumpahkan darah sungguh telah menjaga pohon itu dari benturan-benturan. Pada dasarnya, beliau telah menyirami dan menumbuh-suburkan pohon tersebut.. Andai shulh Al-Hasan dan bangkitnya Al-Husain tidak terjadi, niscaya Islam akan layu dan kering. Jelas bahwa semua itu berkat didikan ibu agung mereka, Az-Zahra' salamullah alaiha.

Sebagai pelengkap, kami akan bawakan beberapa riwayat yang menguatkan tafsiran di atas. Rasul bersabda, "Aku adalah pohon, Fathimah akarnya, dan Ali pangannya, sementara Hasan dan Husain sebagai buahnya."

Mufaddhal bin Muhammad AI-Ju'fi bertanya kepada Aba Abdillah As-Shadiq a.s tentang ayat 261 surat Al-Baqarah yang mengatakan "Perumpamaan nafkah orang yang menafkahkan hartanya dijalan Allah SWT bak sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir benih, dan tiap-tiap benih itu menumbuhkan seratus benih." Beliau bersabda, "Al habbah   (sebutir benih) itu adalah Fathimah, sab'a sunbulatin (tujuh butir benih) adalah tujuh keturunan Az-Zahra'. Ketujuhnya adalah Imam Mahdi A'jjalalla Taa'la Farajahus Syarif.

Pada dasarnya, Nabi selalu menegaskan maqam Az Zahra' dalam setiap kalimat yang beliau ucapkan dan dalam setiap tindakan yang beliau lakukan. Beliau ingin menjelaskan keagungan Fathimah a.s. bahwa dia sangat istemewa dan berbeda dengan istri-istri beliau. Fathimah a.s. adalah ma'sum, terjaga dari dosa, karena beliau salah satu misdaq (perwujudan nyata) dari ayat At-Thathir. Tidak satupun dari istri  Nabi yang termasuk di dalam ayat itu, bahkan Ummu salamah dengan segala kemulyaanya.

Di hari Mubahalah, sejarah telah mencatat hanya Fathimahlah yang diikutkan Nabi, tidak wanita lain. Andai ada dari istri Nabi yang sepadan dengan Az-Zahra', niscaya Nabi akan mengikut-sertakannya pada hari tersebut. Tetapi, beliau tidak mendapatkan satu wanita pun, baik dari istri beliau, para wanita Bany Hasyim, ataupun dari para wanita khalifah, yang sederajat dengan Az-Zahra' a.s. Hari itu merupakan fakta dan argumen yang amat jelas untuk membantah sekolompok manusia yang bersikeras memasuk-masukkan istri-istri Nabi ke dalam Ahlul Bayt.

Disadur dari kitab Al Asrarul Fatimiyah, karya Syekh Muhammad Fadil AI-Mas'ud.