Bagaimana Manusia Dapat Menjadi Kekasih Allah swt?

Kecintaan kepada Tuhan dapat digambarkan dalam dua konsep:

1. Kecintaan hamba dengan Tuhan dan Tuhan menjadi Sang Kinasih

2. Kecintaan Tuhan dengan para para hamba dan para hamba menjadi sang kekasih

Adapun yang menjadi pertanyaan di sini adalah konsep yang kedua. Tentu saja seluruh eksisten di semesta raya, sebagai makhluk dan merupakan kreasi dari Sang Pencipta, adalah kekasih Allah Swt. Akan tetapi yang dimaksud dengan hubb (cinta) yang mengemuka pada ayat dan riwayat adalah yang bermakna khusus yaitu tersingkapnya pelbagai hijab dan keceriaan batin hamba yang mendapat inayah (perhatian) dan lutfh (kelembutan) Allah Swt.

Terkadang kita berhadapan dengan ayat dan riwayat yang menggunakan pelbagai barometer dan teraju universal yang menjelaskan jalan-jalan untuk menjadi kekasih Tuhan. Seperti ketaatan, mengikuti Rasulullah Saw, mecintai Allah, mengamalkan segala yang wajib dan mustahab, serta meninggalkan segala yang haram dan makruh, dan terkadang juga kita bersua dengan hal-hal partikular yang termaktub dari ayat dan riwayat.

Dengan kata lain, iman kepada Tuhan dan hari Kiamat, membenarkan para nabi dan kenabian Nabi Muhammad Saw, menerima wilayah dua belas Imam Maksum As, dan menghindar dari kekufuran dan kemusyrikan, kemunafikan, memiliki ilmu dan pengetahuan pada tataran akidah; melaksanakan seluruh syariat Islam dan tiadanya diskriminasi dalam melaksanakan seluruh hukum agama, mengikuti sepenuhnya perintah Allah Swt tanpa tedeng aling-aling, Rasulullah Saw dan para Imam Maksum As, tiadanya kerusakan dan bersikap congkak, melanggar aturan-aturan agama, makhluk-makhluk Tuhan, sahabat Allah dan Rasul-Nya pada tataran amal; dan menghiasi jiwa dan batin dengan sifat-sifat mulia dan terpuji, dan mengosongkannya dari pelbagai sifat tercela pada arsy akhlak; kesemua ini merupakan hal-hal yang menjadi sebab berseminya kecintaan dan kedekatan serta membuat manusia mampu meraup derajat yang menjulang di sisi Allah Swt, Rasulullah Saw dan para Imam Maksum As. Dan hal ini bermakna sampainya manusia kepada kesempurnaan dan tujuan yang menjadi maksud penciptaannya yaitu “Qurb indaLlah” (kedekatan di sisi Allah Swt).

Penjelasan Detail:

Dalam kaitannya dengan Tuhan, kecintaan dapat digambarkan dalam dua konsep:

1. Kecintaan para hamba kepada Tuhan dan Tuhan menjadi Sang Kinasih

2. Kecintaan Tuhan kepada para hamba dan para hamba menjadi kekasih Tuhan sebagaimana yang disinggung dalam al-Qur’an, “Yuhibbuhum wa yuhibbunah” (Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai Allah) (Qs. Al-Maidah [5]:54)

Yang mengemuka menjadi pertanyaan di sini adalah kecintaan bagian kedua yaitu para hamba menjadi kekasih Allah Swt.

Sebelum menjawab pertanyaan ini, kiranya kita perlu memperhatikan dua matlab berikut ini:

1. Derajat mahabbah (cinta) dan isyq (cinta yang berlebih) merupakan derajat yang tinggi dan menjulang. Kalau kita ingin masuk dalam pembahasan ini, dengan keluasan dan signifikansinya, maka akan menyebabkan panjangnya tulisan ini dan keluarnya dari tema asli pembahasan, khususnya terkait dengan banyak ayat dan riwayat, doa yang terdapat pada teks-teks agama, yang meniscayakan penulisan buku tersendiri untuk menjelaskan dan mengkajinya.

2. Allah Swt mencintai dzat dan keindahan-Nya. Hal ini bermakna bahwa  Allah Swt mencintai seluruh makhluk dan karya Tuhan yang merupakan manifestasi keindahan-Nya. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadis qudsi, “Aku adalah khazanah tersembunyi. Kemudian Aku cinta untuk dikenal maka Aku ciptakan semesta dan segala isinya supaya Aku dikenal.”[1]

Khazanah tersembunyi dan menyuburkan lempung

(membuat) Lempung lebih benderang daripada bintang gemintang[2]

Asas penciptaan semesta raya adalah kasih dan cinta Allah Swt kepada Dzat-Nya sendiri. Dia ingin keindahan-Nya tampak, maka Dia mencipta semesta sebagai cermin untuk berkaca melihat keindahan-Nya.  Abdurrahman Jami salah seorang arif abad ke-9 menuturkan demikian:

Dalam kesendirian tatkala keberadaan tanpa bunyi

Pada ambang batas ketiaadan, semesta tersembunyi

Terdapat sebuah wujud yang tampak dari kejauhan

Bercengkerama kami dan Engkau dari kejauhan

Keindahan mutlak dalam kerangka pelbagai cermin

Mencahayai dirinya, mencermini diri-Nya

Keindahan-Nya menjelma dimana-mana

Semesta raya tertutup tirai bagi para pecinta

Seluruh eksisten di alam semesta adalah kekasih Allah Swt.[3] Namun yang menjadi topik bahasan kita di sini adalah manusia yang menjadi kekasih Allah Swt dalam artian khusus yang akan dijelaskan kemudian.

Kemungkinan Menjadi Kekasih Allah Dan Sorotan Perhatian Ilahi

Allah Swt  dalam menyampaikan dustur kepada Nabi Saw, mewartakan adanya kemungkinan orang-orang beriman dan para hamba menjadi kekasih Allah Swt, sebagaiman tertuang dalam firman Allah,  “Katakanlah jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku maka Allah Swt pasti akan mencintai kalian.” (Qs. Ali Imran [3]:31) Dan juga pada surah al-Maidah, “Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai Allah.” (Qs. Al-Maidah [5]:54)  dan pada hadis Qudsi, “Sekiranya mereka yang membelakangi-Ku tahu teraju kerinduan dan kecintaan-Ku kepada mereka, maka mereka akan mati karena kerinduan yang berlebihan.”[4] Demikian juga pada hadis Qudsi yang muktabar dan populer dimana Imam Shadiq As menukil dari Nabi Saw bahwa Allah Swt berfirman: Annahu liyataqarrabu ilayya bi al-nafilah hatta uhibbuhu,[5] sesungguhnya seorang hamba shaleh melalui media amalan mustahab dan perbuatan baik mereka mendekati-Ku dan menjadi kekasih-Ku.

Beberapa Makna Menjadi Kekasih Allah

Kecintaan Tuhan kepada ciptaan dan menjadi kekasih Dzat Yang Mahaindah memiliki ragam makna. Namun hal ini tidak seperti kecintaan dan kesukaan yang acapkali diekspresikan dan digunakan oleh manusia. Apa yang menjadi sorotan pembahasan kita kali ini adalah bahwa berdasarkan pengaruh kecintaan ini, Allah Swt menyingkapkan tirai sehingga para kekasih-Nya dapat menyaksikan Tuhan dengan mata hati mereka dan mendekat kepada-Nya.  Dan hal ini telah menjadi perhatian Allah Swt semenjak azal dimana Dia mensucikan batin hamba semacam ini sehingga tiada yang berkediaman selain Allah Swt pada kerajaan batinnya. Serta menghilangkan pelbagai penghalang sehingga hamba ini tidak mendengar selain yang hak, dan tidak melihat sesuatu yang lain selain menggunakan pandangan Allah Swt dan tidak berkata-kata kecuali dengan tuturan Allah Swt.[6]

Jalan-jalan Untuk Menjadi Kekasih Allah

Jalan terpenting dalam meraup kecintaan di sisi Allah Swt adalah bahwa manusia mengetahui secara jeluk apa saja yang menjadi kecintaan dan keridaan Allah Swt sehingga ia melakukan apa saja dan mengerjakan segala yang menjadi titah-Nya untuk menyedot perhatian Tuhan. Dan setapak demi setapak mendekat kepada-Nya. Sebagaimana untuk memelihara kecintaan-Nya ini juga harus menjalani proses sedemikian selama hayat di kandung badan. Ia juga harus tahu ihwal apa saja yang tidak disenangi oleh Allah Swt dan dapat mendatangkan kemurkaan,  laknat Tuhan dan hal-hal yang telah dilarang oleh-Nya guna menghindar darinya sehingga menjadi seorang kekasih di sisi Allah Swt. Dan hal ini harus berkelanjutan hingga akhir hayatnya sehingga tidak menjadi sasaran kemurkaan dan laknat Tuhan.

Apa yang telah dijelaskan di atas merupakan jalan termudah untuk mendulang makrifat ini, mengenal dan merujuk kepada al-Qur’an dan riwayat-riwayat dari para Maksum, karena al-Qur’an merupakan kitab yang terpelihara dari penyimpangan dan Allah Swt merupakan penjelas seluruh perkara yang menjadi kecintaan-Nya dan iman serta amal menjadi penyebab kecintaan di sisiNya. Dan karam dalam samudera rahmat-Nya dan juga penjelas bahwa beriman atau beramal atau menjadikan perbuatan tersebut sebagai karakternya menjadi sebab kemurkaan Tuhan dan terusir dari haribaan Tuhan dan terlempar di neraka. Dan apabila manusia menyesuaikan secara sempurna antara iman, amal, akhlak dan Qur’an dengan meneledani sirah nabawi dan para Imam Maksum As. Atas maksud ini, yaitu meraih kecintaan di sisi Allah dan keselamatan dari murka, kesusahan dan laknat Ilahi. Banyak ayat dan riwayat yang menjelaskan barometer dan pakem universal yang menunjukkan jalan-jalan untuk menjadi kekasih Allah Swt, terkadang terdapat ayat dan riwayat menunjukkan hal-hal partikular di hadapan jalan para salik yang meniti jalan kepada kesempurnaan.

Barometer dan pakem universal seperti:

1. Mengikuti Rasulullah Saw: Sebagaimana yang telah disinggung dimana Allah Swt mensyaratkan untuk dapat menjadi kekasih-Nya maka harus mengikuti dan meneladani Rasul-Nya sebagaimana firman-Nya, “Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” (Qs. Ali Imran [3]:31)

Dalam  ayat ini, barometer dan pakem universal kekasih Tuhan adalah mentaati Rasulullah Saw, baik lisan atau perbuatannya. Pada ayat-ayat yang lain berisikan perintah kepada manusia untuk mentaati dan mengikuti Rasulullah saw, “Apa yang diberikan rasul kepadamu, maka terimalah dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (Qs. Al-Hasyr [59]:7), “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah rasul-(Nya),” (Qs. Al-Nisa [4]:59), “Dan taatlah kepada Allah dan rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan.” (Qs. Al-Anfal [8]:46)

2. Mengerjakan apa-apa yang diwajibkan (faraidh) dan yang disunnahkan (nawafil). Pada hadis muktabar yang dikenal sebagai hadis qurb faraidh  dan qurb nawafil, disebutkan jalan-jalan untuk menjadi kekasih Allah yaitu dengan mengerjakan apa-apa yang diwajibkan dan disunnahkan. Kita tidak akan mengulas panjang lebar ihwal hadis qurb faraidh dan qurb nawafil di sini mengingat keterbatasan ruang dan waktu, oleh itu di sini kita akan mencukupkan untuk menyebut beberapa contoh darinya dan mengakhiri pembahasan ini dengan mengkaji riwayat-riwayat yang bertalian dengan masalah-masalah partikular yang menjadi  penyebab meraih cinta Ilahi.

Dalam sebuah hadis yang dinukil dari Imam Shadiq As yang meriwayatkan dari Rasulullah Saw yang bersabda, “Tidak mendekati-Ku seorang hamba dengan sesuatu yang lebih dicintai dari yang Kuwajibkan kepadanya. Dan senantiasa mendekati-Ku dengan perantara amalan-amalan sunnah hingga sampai pada derajat dimana Aku mencintanya.  Tatkala Aku mencintainya, dalam kondisi ini, maka Aku akan menjadi pendengaran yang dengannya ia mendengar. Menjadi penglihatan yang dengannya ia melihat. Menjadi lisan yang dengannya ia berkata-kata. Menjadi tangan yang dengannya ia mengerjakan segala perbuatan…”[7] Terdapat hadis yang serupa dengan riwayat ini dinukil dari Imam Baqir As.[8]

Dengan memperhatikan riwayat semacam ini dan mengkaji ayat-ayat terkait, maka akan menjadi jelas hasil dan natijah pengaruh tatkala seorang hamba menjadi kekasih Tuhan, dimana secara umum, munculnya keceriaan batin dan tersingkapnya pelbagai hijab dan tirai serta sampai pada derajat “kedekatan kepada Allah” (qurb ilaLlah)  yang semuanya merupakan keutamaan dan kemuliaan dari Allah Swt sebagai hasil dari kecintaan ini.[9]

“Iman” sendiri merupakan hasil dari kecintaan Ilahi ini dan dalam riwayat dinukil dari Nabi Saw yang bersabda, “Allah memberikan dunia kepada yang dicintai dan dibenci-Nya, dan tidak menganugerahkan iman kecuali kepada yang dicintai-Nya.”[10] Karena pandangan mahbub (yang dicinta) kepada muhib (pecinta), ekspresi kepeduliaan dan kemuliaan kepadanya dan pada akhirnya, kecintaan pecinta kepada yang dicinta akan semakin membuncah dan membuatnya abai terhadap dirinya sendiri. Dalam doa Nudbah kita membaca, “Allahummah, hadapkankan kepada kami wajah-Mu yang mulia dan terimalah taqarrub kami kepada-Mu dan pandanglah kami dengan pandangan rahmat sehingga dengan perantara itu kemuliaan semakin sempurna di sisi-Mu dan jangan Engkau palingkan kami dari kepemurahan-Mu.”[11]

Berangkat dari sini, sebagian jalan-jalan universal untuk meraih cinta Ilahi menjadi jelas. Sekarang sebagian hal-hal partikular akan disinggung di sini yang diperkenalkan dalam ayat-ayat al-Qur’an sebagai “amal-amal shaleh dan orang-orang yang dicintai di sisi Allah.”

Iman, mentaati Allah dan Rasul-Nya, bersegera kepada perbuatan baik, menebus segala kesalahan dan memohon ampunan kepada Allah Swt. Berinfak di jalan Allah baik sembunyi-sembunyi atau terang-terangan, menahan amarah dan memaafkan kesalahan manusia serta berbuat baik kepada mereka, orang-orang yang senantiasa mengingat Allah, tidak mengulang-ulang kesalahannya dan tidak memakan riba.[12] Bertawakkal kepada Allah dan bersabar atas segala kesusahan dan penderitaan serta  tidak berkelu-kesah, bermusyawarah dengan manusia, bersikap lembut dan santun dengan manusia.[13] Membekali diri dengan takwa,  setia kepada janji dan ikrar yang disepakati dengan Allah, Rasul-Nya dan wali atau dengan manusia.[14] Mensucikan diri dengan taubat dan ikhlas serta takwa. Dan menghindar dari segala noda dan cela. [15] Menjaga mata, telinga, lisan, perut dan kemaluannya dari hal-hal yang diharamkan.[16] Memuliakan ayah dan ibunya, dan menjaga kehormatan sanak famili (arham).[17] Menyebut para pembesar agama khususnya Nabi Saw dengan baik, dengan pemuliaan dan menyampaikan salam dan shalawat kepadanya.[18] Bersikap adil tatkala memikul sebuah tanggung jawab, ketika mengadili dan memerintah.[19] Tidak menyesali apa yang telah dikorbankan di jalan Allah dan tidak bersikap sombong tatkala mendapatkan harta, kedudukan dan pemerintahan,[20] dan gemar berkorban jiwa dan raga di jalan-Nya.[21]

Kita juga dapat melihat riwayat hal-hal yang dapat meraih cinta Ilahi sebagaimana berikut ini, memuliakan apa yang mulia di sisi Allah,[22] mencintai Rasulullah Saw dan keluarganya,[24] menuntut ilmu dan pengetahuan,[25] banyak berkata tahlil (laa ilaha ilaLlah) dan takbir  (Allahu Akbar),[26] senantiasa menyegerakan perbuatan baik.[27]

Sebaliknya, kelompok berikut ini disebut sebagai “orang-orang yang dimurkai” (maghdub) dan “orang-orang yang dilaknat” (mal’un) di sisi Allah Swt: Orang-orang kafir,[28] kaum musyrikin,[29] orang-orang munafik,[30] orang-orang yang menyombongkan diri,[31] keras kepala dan ahil kesumat,[32] berbangga-bangga,[33] melanggar batas dan tidak menunaikan hak-hak Allah dan manusia,[34] orang-orang yang suka mencari kesenangan,[35] orang-orang boros,[36] membuat kerusakan di muka bumi,[37] tidak menggunakan hartanya sebagaimana mestinya dan tidak diinfakkan di jalan Allah, bakhil, hasud dan dengki,[38] suka melanggar janji dan bekerja sama dengan orang-orang kafir dan musuh-musuh agama,[39] pengkhianat dan tidak tahu berterima kasih,[40] tidak segan-segan membunuh orang-orang beriman, para nabi dan wali-wali Tuhan,[41] pendosa, pelaku maksiat dan pendurhaka,[42] berlaku aniaya terhadap diri sendiri, manusia dan tidak menunaikan hak-hak Allah,[43] tidak termasuk golongan yang mengingat Allah, orang yang menyesal, ahli taubat, tidak gemar berdoa dan tunduk di hadapan Allah dan bersikap congkak dan angkuh di hadapan Allah,  menyimpangkan agama Allah,[44] mengikut setan dan thagut,[45] menutup jalan petunjuk manusia, membuat perpecahan di antara orang-orang beragama dan menyesatkan mereka,[46] suka menggunjing dan tidak mengamalkan apa yang diucapkannya, [47] menyakiti Allah, Rasul-Nya dan para wali Allah dengan lisan dan perbuatannya, [48] mencari-cari dalih dan lari dari pengorbanan jiwa dan raga di jalan Allah,[49] pendosa dan tidak tahu berterima kasih,[50] mengikut kepada orang-orang fasik,[51] tidak tergolong sebagai orang-orang yang mengerjakan kebaikan, beriman kepada Allah, Rasul-Nya dan para wali Allah, memutuskan apa yang diperintahkan oleh Allah supaya dihubungkan.[52]

Sekarang apabila kita benar-benar ingin meraih kecintaan, rahmat dan inayah di sisi-Nya maka kita harus memisahkan diri dari barisan dan golongan kedua dengan tekad membaja dan menyatukan diri kita dengan barisan dan golongan pertama. Melakukan amar makruf dan nahi mungkar, tabligh, dan membela wilayah eksklusif Islam dan kaum Muslimin,  dan wilayah eksklusif Syiah, ridha kepada diri dan Allah, membuat Allah ridha kepada diri kita, mencintai Allah, Rasul dan wali-Nya, serta menjadikan diri kita sebagai orang-orang yang dicintai Allah, Rasul dan wali-Nya.[53] Insya Allah [Indonesia.islamquest.net]

Catatan kaki:


[1] Bihâr al-Anwâr, jil. 84, hal. 196.  

[2] Rumi, Matsnawi Ma'nawi.

[3] Ibnu Sina, Isyârat wa Tanbihat, jil. 3, hal. 359-363; Mullah Shadra, Asfar, jil. 7, hal. 148-160.  

[4] Syaikh Muhammad Bahari Ra, Tadzkira al-Muttaqin, hal. 134.  

[5] Kulaini, Ushul Kâfi, Kitâb al-Iman wa al-Kufr, bâb man adza al-muslimin wa ihtiqaruhum, hadits 7, hal. 253; Bihâr al-Anwâr, jil. 70, Kitab al-Iman wa al-Kufr, Makârim al-Akhlak, hal. 16, hadits 8.  

[6] Mulla Muhsin Faidh Kasyani, Akhlaq Hasanah, hal. 238-239.  

[7] Kulaini, al-Kafi, jil. 2, hal. 352 hadits 7.  

[8] Ibid,  hadist 8.

[9] Akhlaq-e Hasaneh, hal. 238

[10] Mullah Muhsin Faidh Kasyani, Mahajjat al-Bai’dha, jil. 8, hal. 64. 

[11] Muhaddits Qummi, Mafâtih al-Jinân, Doa Nudbah. 

[12] Qs. Ali Imran (3): 130, 136, 146 & 148. 

[13] Qs. Ali Imran (3): 3, 146, 159 & 160. 

[14] Qs. Ali Imran (3): 76; Qs. Al-Taubah (9): 4 & 7. 

[15] Qs. Al-Taubah (9): 108; Qs. Al-Baqarah (2):222.

[16] Qs. Mukminun (23):1 &11; Qs. Nur (23):30-31; Qs. Ahzab (33):70-71. 

[17] Qs. Luqman (31):14&15.

[18] Qs. Ahzab (33):56; Qs. Hujurat (49):2 & 5.

[19] Qs. Hujurat (49):9; Qs. Al-Maidah (5):42.

[20] Qs. Al-Hadid (57):23. 

[21] Qs. Shad (38):4; Qs. Ali Imran (3):154 & 158. 

[22] Bihâr al-Anwâr, jil. 70, hal. 70, hadits 4. 

[23] Ibid, jil. 57, hal. 198, hadits 145. 

[24] Ibid, jil. 70, hal. 18, hadits 9. 

[25] Ibid, hal. 304, hadits 18.

[26] Mahajjat al-Baidha’, jil. 2, hal. 275. 

[27] Bihâr al-Anwâr, jil. 71, hal. 216, hadits 18 & hal. 322, hadits 33. 

[28] Qs. Al-Baqarah (2): 89&90; Qs. Al-Rum (30):45; Qs. Ali Imran (3):32.

[29] Luqman (31):13.

[30] Qs. Al-Fath (48):6; Qs. Al-Taubah (9):38 hingga akhir surah. 

[31] Qs. Al-Nahl (16):23. 

[32] Qs. Syura (42):16; Qs. Al-A’raf (7):71. 

[33] Qs. Al-Hadid (57):23; Qs. Al-Nisa (4):36; Qs. Luqman (31):18.

[34] Qs. Al-Baqarah (2):190; Qs. Al-A’raf (7):55. 

[35] Qs. Al-Qashash (28):76. 

[36] Qs. Al-A’raf (7):31; Qs. Al-An’am (6):141.  

[37] Qs. Al. Qashash (28:)77;Qs. Thaha (20):81; Qs. Al-Maidah (5):64; Qs. Al-Baqarah (2):205. 

[38] Ibid. 

[39] Qs. Al-Maidah (5):50,63 & 80; Qs. Al-Ra’ad (13):20 & 25. 

[40] Qs. Al-Hajj (22):38; Qs. Al-Anfal (8):58; Qs. Al-Nisa (4):107. 

[41] Qs. Al-Nisa (4):93; Qs. Ali Imran (3):112; Qs. Al-Baqarah (2):61. 

[42] Qs. Al-Hujurat (49):7. 

[43] Qs. Syura (42):40; Qs. Ali Imran (3):57 & 140. 

[44] Qs. Al-A’raf (7):55. 

[45] Qs. Hud (11):59 & 60; Qs. Al-Nisa (4):48, 54, 115, 118; Qs. Al-Ahzab (33):64 & 68. 

[46] Qs. Al-A’raf (7):44-45. 

[47] Qs. Shad (38):2 & 3; Qs. Al-Hujurat (49):11-12; Qs. Al-Nur (24):23; Qs. Nisa (4):148.  

[48] Qs. Al-Ahzab (33):57&58. 

[49] Qs. Al-Anfal (8):16

[50] Qs. Al-Baqarah (2):276. 

[51] Qs. Hud (11):59 & 60. 

[52] Qs. Al-Ra’d (13):20 & 25. 

[53] Qs. Al-Fajr (89):28; Qs. Ali Imran (3):31.