Konsep Tauhid Dalam Dunia Empirik
KONSEP TAUHID DALAM SEMESTA EMPIRIK
Tauhid argumentatif adalah pengenalan manusia terhadap Tuhan semesta alam dalam koridor rasio, akal dan
nalar. Kelebihan teologi semacam ini dibandingkan dengan tauhid yang berpijak
pada fitrah manusia semata adalah bahwa tauhid fitri ini tidak bisa menjadi
suatu pedoman tertulis bagi orang lain, karena realitas hubungannya kepada
Tuhan sangat individual dan emosional, dan pada sisi lain, perasaan internal
setiap manusia tidak bisa ditransfer kepada orang lain melalui percakapan atau
diskusi semantik, namun hanya bisa dirasakan dan dialami secara langsung lewat
intuisi batin.
Tauhid argumentatif selain dapat menjadi penuntun bagi orang lain untuk mengenal Tuhan semesta alam, juga
dapat melahirkan sebuah dinamika dalam pemikiran orang lain, karena tauhid
argumentatif adalah konklusi serangkaian argumen ilmiah dan filosofis yang
dapat dipaparkan kepada orang lain berdasarkan kaidah-kaidah argumentasi dan
konklusi-konklusinya, dan seluruh permasalahan ilmiah dapat ditransfer kepada
orang lain dengan cara tersebut.
Ringkasnya, walaupun metode esoterik adalah sebuah jalan yang sempurna, akan tetapi untuk menyebar luaskan
tauhid dan menguniversalkannya terpaksa kita harus masuk lewat jalur rasio dan
berjalan melalui tuntunan akal dan logika.
Argumen keberadaan Tuhan semesta alam bukan satu atau dua. Sains dan filsafat telah menetapkan
keniscayaan keberadaan pencipta dengan banyak argumen. Dan dalam sepanjang
sejarah kehidupan manusia, setiap orang telah mengenal Tuhannya berdasarkan
pemahaman dan potensi serta landasan-landasan pengetahuannya dari sebuah metode
tertentu dan bersandar kepada salah satu argumen ilmiah dan filosofis serta
mengokohkan akidah-akidah mazhabnya di atas hal tersebut.
Menukil dan menjelaskan berbagai macam argumen tersebut di luar pembahasan ini, bahkan menjelaskan
sebagian argumen filosofis ketauhidan secara mendetail membutuhkan waktu yang panjang.
Akan tetapi hal ini tidak menghalangi kita untuk mengkaji beberapa argumen ketauhidan dengan jelas,
kokoh, dan universal. Adapun kumpulan argumen filosofis yang berada di atas
tingkatan pemahaman umum dan membutuhkan spesialisasi dan pemahaman kaidah
filosofis tidak akan disinggung.
Metode Sederhana Mengenal Tuhan
Sistem penciptaan alam semesta adalah argumen paling jelas dan universal untuk mengenal Tuhan. Para
ulama menyeru manusia untuk menelaah mekanisme penciptaan untuk membuktikan
akan keberadaan keteraturan yang luar biasa, bahkan tidak cukup hanya dengan
seruan universal ini, namun manusia bisa juga menelaah dan mengkaji berbagai
penjelasan contoh dari sistem-sistem keteraturan alam semesta yang menakjubkan
itu.
Alasan pengenalan terhadap metode ini adalah karena setiap individu berdasarkan pengetahuan, pandangan,
dan potensinya dapat memahami contoh-contoh yang nyata dari keteraturan alam
semesta dan dari keberadaan keteraturan yang berada di dalam setiap atom dari
atom-atom yang tidak terbilang, manusia dapat mengetahui akan keberadaan Sang
Pengatur yang memberikan keteraturan kepadanya dengan pancaran ilmu yang sangat
mendetail.
Tentu saja apa yang dipahami oleh seorang ilmuwan tumbuh-tumbuhan, ahli biologi, fisikawan, ahli kimia, dan
spesialis dalam masalah angkasa luar dan benda-benda angkasa, tidak dapat
dibandingkan dengan apa yang diperoleh oleh orang biasa dengan kajian
dangkalnya, akan tetapi meskipun demikian, dari dua macam kajian mendalam dan
dangkal tersebut masing-masing kelompok memperoleh sebuah kesimpulan yang
serupa.
Masing-masing kelompok menyimpulkan bahwa sistem-sistem keteraturan alam semesta yang mencengangkan
ini, bahkan sistem keteraturan setiap atom yang tidak terbilang, bangunan rumit
setiap sel makhluk hidup, gerakan teratur setiap fenomena alam dan lain-lain,
membuktikan bahwa keberadaan-keberadaan ini tercipta melalui perencanaan,
keteraturan, perhitungan, dan pertimbangan yang sangat cermat. Mustahil materi
yang tidak bisa bergerak memberikan keteraturan, perhitungan, dan pertimbangan
terhadap diri sendiri tanpa adanya campur tangan dari sebuah kekuasaan agung
yang mahatahu dan kuasa.
Pada hakikatnya ilmu pengetahuan alam dengan berbagai macam jurusannya menjelaskan sebuah sudut dari
sistem-sistem keteraturan dan formasi-formasi dunia penciptaan yang
mencengangkan ini. Setiap kali manusia meraih berbagai keberhasilan dan kecemerlangan
mendalam dalam menyingkap rahasia-rahasia alam dan menundukkan puncak-puncak
baru ilmu pengetahuan, tanpa diragukan lagi ia sedang melangkahkan kakinya
menuju pemahaman sistem-sistem keteraturan alam semesta yang cermat dan mencengangkan.
Meskipun apa yang dipahami oleh para ilmuwan masa kini di bidang kemajuan sains dan keteraturan dunia
tumbuh-tumbuhan yang menakjubkan, makhluk hidup, benda-benda angkasa, dan
keajaiban-keajaiban laut memiliki perbedaan yang menonjol dengan apa yang
didapatkan oleh orang-orang sebelumnya, akan tetapi dalam kacamata seluruh ilmu
pengetahuan, dua hal bagi kita akan tampak jelas dengan baik.
Salah satunya adalah alam semesta tercipta berdasarkan sebuah perencanaan ilmiah, perhitungan, dan
pertimbangan khusus. Dan serangkaian hukum dan undang-undang permanen berdiri
di atas setiap atom.
Hal yang lain adalah keteraturan dunia penciptaan dengan perhitungan ilmiah yang cermat.
Pondasi Argumen Keteraturan
Argumen ini memiliki tiga unsur, antara lain:
1. Setiap fenomena memiliki sebuah sebab dan hukum sebab-akibat adalah sebuah hukum universal;
2. Sebuah fenomena yang memiliki keteraturan, perhitungan, dan pertimbangan tidak mungkin
merupakan efek dari sebuah kebetulan, akan tetapi adalah akibat dari suatu
sebab yang menciptakannya melalui ilmu, perhitungan, dan kecermatan;
3. Apa saja yang disingkap oleh akal dan ilmu pengetahuan manusia di dunia keberadaan,
tidak ditemukan selain keteraturan dan kecermatan. Seluruh ilmuwan dunia dan
peneliti besar memberikan pengakuan dalam riset-riset mereka bahwa mereka tidak
melihat fenomena-fenomena dunia selain memiliki perhitungan, pertimbangan,
keteraturan, dan formasi yang menakjubkan.
Bahkan seluruh usaha manusia dalam pusat-pusat ilmiah, laboratorium-laboratorium, dan observatorium-observatorium
adalah untuk menemukan sistem-sistem keteraturan yang berkusa di dunia ini, dan
tujuan orang yang melakukan observasi terhadap alam tidak lain adalah untuk
menyingkap rahasia-rahasia alam, hukum-hukum rumitnya, dan sistem-sistem keteraturan
yang menyelimutinya. Seluruh ilmu pengetahuan alam dengan berbagai macam
jurusannya menjelaskan tentang keteraturan dunia yang indah ini.
Di bawah ini kami akan membahas secaran ringkas mengenai ketiga unsur argumen keteraturan tersebut.
Unsur Pertama
Mungkin termasuk hal yang paling gamblang dalam pemikiran manusia adalah setiap fenomena berpijak pada
sebuah sebab yang mengadakannya dan tidak ada satu fenomenapun[1]
yang tercipta tanpa sebab yang menjadi sumber keberadaannya. Manusia memperoleh
hukum universal ini dari sebuah penelitian sempurna yang dilakukan di sepanjang
kehidupan manusia, dan hingga saat ini belum pernah terlihat sebuah fenomena
tercipta dengan sendirinya tanpa bergantung pada suatu sebab.[2]
Unsur Kedua
Keberadaan keteraturan di dunia penciptaan ialah bukti bahwa penciptanya memiliki ilmu.
Ini adalah unsur kedua argumen keteraturan dan walaupun dari sisi kejelasanya tidak sama dengan unsur
pertama, akan tetapi pada kenyataannya setelah melalui sebuah kajian singkat,
untuk orang-orang yang jauh dari fanatisme, menjelma sebagai sebuah hal yang
diterima dan jelas.
Jika keberadaan jejak merupakan bukti keberadaan pemilik jejak, maka keistimewaan jejak menunjukkan
kepada kita keistimewaan pemilik jejak. Ringkasnya, keberadaan mobil
bukti akan keberadaan pembuatnya, sebagaimana juga keistimewaannya menceritakan
bahwa pembuatnya memiliki pengetahuan sempurna terhadap ilmu-ilmu yang
berhubungan dengan industri pembuatan mobil.
Sebuah bangunan yang dibangun di atas dasar-dasar seni dan sesuai dengan kebutuhan sebuah lembaga,
mengisahkan keberadaan seorang arsiteknya, sebagaimana juga membuktikan bahwa
pembuatnya memiliki ide dan rancangan, dan dengan pandangan dan pengetahuannya
merancang bangunan tersebut. Tak seorangpun berpikir bahwa orang yang
membangunnya tak memiliki pengetahuan akan dasar-dasar arsitek dan seni-seni
bangunan, dan dibangunnya hanya sebagai permainan menyusun batu bata, dan
dengan suatu kebetulan, sebuah bangunan modern tingkat sepuluh didirikan dengan
tanpa perencanaan yang cermat dan teliti
Tanpa diragukan lagi bahwa karya setiap penulis dan pembicara, pekerjaan setiap pekerja dan kuli adalah
bukti yang jelas akan pengetahuan, kebiasaan, dan mentalnya. Sistem-sistem
keteraturan yang penuh dengan hikmah, kekokohan, dan kesolidan alam membuktikan
adanya ide, kehendak, pengetahuan, kekuasaan, dan pandangan penciptanya. Dan
sistem keteraturan alam penciptaan yang mengherankan akal ini tidak dapat
dianggap sebagai suatu akibat dari sebuah kebetulan dan ketidaksengajaan.
Perbedaan Makna "Kebetulan" dan "Perencanaan"
Suatu pekerjaan yang rapi, cermat, dan penuh pertimbangan, tentunya lahir dari aktivitas seorang perancang
mahir yang berakal. Akan tetapi pekerjaan-pekerjaan yang tidak rapih dan tidak
teratur adalah hasil dari suatu kebetulan yang tidak berpijak pada ide dan pemikiran cemerlang.
Untuk kejelasan hal ini, di bawah ini kita akan sebutkan sebuah contoh yang dilontarkan oleh sebagian
ilmuwan:
Anggap saja dua juta ton batu kali, batu bata, besi, semen, kapur, kayu, kabel, tombol lampu, paralon,
engsel, dan satu ton bahan-bahan bangunan diserahkan sepenuhnya kepada seorang
insinyur bangunan dan dia mengeluarkan bahan-bahan bangunan tersebut dari
gudang untuk membangun sebuah gedung beberapa tingkat. Beberapa lama kemudian
datanglah banjir yang menakutkan, dan satu juta ton bahan bangunan yang tersisa
di gudang terbawa air dan tertumpuk dalam beberapa kilometer di atas tanah yang
rata.
Sekarang kita bandingkan antara bangunan beberapa tingkat hasil karya insinyur dan tumpukan bahan
bangunan yang disebabkan oleh bencana banjir. Orang-orang yang berakal, ketika
memasuki bangunan sang insinyur dan melihat segala sesuatunya tertata di
tempatnya masing-masing melalui perhitungan yang benar, batu-batu berada dalam
pondasi, batu-batu marmer menghiasi bangunan, pilar-pilar besi dengan berbagai
ukurannya menyangga atap dan pintu-pintu berada di tempatnya masing-masing.
Mereka mengamati bahwa kabel-kabel lewat paralon-paralon dan lengkap dengan tombol-tombolnya,
kran-kran air dingin dan panas tersambung ke pipa dan siap dipergunakan, pintu
dan jendelanya terpasang dengan teratur dan penuh perhitungan.
Akan tetapi, ketika kita melihat tumpukan yang dihasilkan oleh banjir, kita tak akan menemukan adanya
perhitungan dan keteraturan, batu-batu marmer berada di bawah lumpur,
pilar-pilar besi masing-masing berada di setiap tempat dengan tanpa
perhitungan, kabel-kabel dan tombol-tombol lampu tercecer di tengah-tengah batu
bata, pintu-pintu yang patah, miring, sebagian melintang dan sebagian
horizontal, engsel-engsel dan pegangan-pegangan pintu berada di tengah tengah
batu-batu.
Ringkasnya, hal yang terlihat dari hasil banjir ialah ketiadaan keteraturan, perhitungan, dan
pertimbangan. Tanpa diragukan lagi, orang yang melihat hasil banjir tersebut
dapat menyimpulkan bahwa tumpukan itu bukan hasil dari suatu pengetahuan.
Insinyur bangunan menata segala sesuatunya di tempatnya masing-masing melalui
kehendak, kebebasan, perhitungan, dan pertimbangan, akan tetapi, banjir tidak
memiliki kehendak dan kebebasan, aliran air yang deras telah membawa segala
sesuatunya ke sebuah tempat secara kebetulan dan jadilah suatu tumpukan.
1. Jika kita memasuki sebuah ruangan dan kita melihat dua orang berada di belakang mesin ketik dan ingin mengetik sebait
syair. Salah satu di antara mereka pernah belajar dan mengenal huruf-huruf dan
kata-kata, dan yang lainnya buta dan tidak mengenal huruf-huruf dan kata-kata,
namun dapat menekan tombol-tombol huruf dengan jari-jarinya dan menggunakan
mesin ketik.
Masing-masing mulai bekerja, orang yang pernah belajar dan mengenal huruf-huruf meletakkan jarinya di atas
tombol huruf (N) kemudian di atas huruf (a) setelah itu di atas huruf (b)
berikutnya diatas huruf (i), secara keseluruhan menjadi (Nabi), dan dia lalu
mengetik seluruh bait dengan perhitungan dan pertimbangan yang benar dan
sempurna.
Orang buta, yang tidak mengenal huruf dan kata yang hanya dapat menggunakan mesin ketik dan meletakkan
jari-jarinya di atas huruf-huruf, mulai bekerja. Karena dia tidak mengenal
huruf-huruf, setelah mengetik beberapa halaman, pasti akan disaksikan kata-kata
yang tidak teratur dan tidak bermakna.
Bagian pertama adalah hasil karya seorang penulis yang berilmu, adapun bagian kedua adalah hasil karya
seorang buta yang tidak mengenal huruf dan tanda baca.
Dengan demikian, ketika kita menemukan selembar kertas yang di atasnya terketik dengan benar bait syair,
maka kita akan mengatakan bahwa lembaran ini adalah karya dari seorang seniman,
dan kita tak akan pernah membayangkan bahwa lembaran ini adalah karya orang yang buta huruf.
2. Seorang seniman yang mahir menggambar sebuah pemandangan indah dari alam di atas sebuah lembaran kertas, dan
menunjukkan pemandangan kehidupan sekelompok orang yang hidup di pinggiran
laut, dan sekelompok orang dari mereka sedang berenang di tengah laut, dan
sebagian yang lain sedang beristirahat di pinggir pantai, bahkan tergores di
dalam lukisan tersebut aliran air, gerakan perahu-perahu, pulau-pulau di tengan
laut, kebun-kebun dan taman-taman yang segar di pantai.
Dengan melihat bingkai lukisan ini, orang akan memberikan penghargaan kepada karya seniman itu, dan memuji
selera yang memenuhi lukisan tersebut, serta menganggap pantas untuk memberikan
penghargaan karena sang pelukis telah dapat menuangkan pemikirannya dan
menggambar dengan pencampuran warna secara mengagumkan.
Karya seni ini, sebagaimana menceritakan akan keberadaan pembuatnya, juga menceritakan akan sifat-sifat dan
kriteria-kriteria seninya. Tak seorangpun akan memberikan kemungkinan bahwa
seorang bocah kecil atau seorang yang tidak mengenal seni menorehkan penanya
untuk bermain tanpa gagasan dan pemikiran, tanpa memilki modal seni, tanpa
memiliki sebuah tujuan, dan secara kebetulan terciptalah bingkai lukisan indah
seperti ini, karena mustahil sebuah lukisan dengan pemandangan seperti ini
tercipta secara kebetulan tanpa menggunakan gagasan dan ide, mustahil permainan
bocah kecil dengan pena lukisan dapat menciptakan karya yang teratur seperti ini.
3. Seorang pemahat patung memahat patung seorang yang berkepribadian ilmiah atau militer dari sepotong batu, akan tetapi
dalam hal ini dia mengalami kesulitan dan setelah berpuluh-puluh jam berpikir,
kemudian menuangkan idenya dan memulai melakukan aktivitas dengan menggunakan
peralatan seni dan sarana memahat, setelah itu dia menyerahkan patung indah itu
ke pusat-pusat seni.
Namun keberadaan sebuah patung seperti ini tidak dapat dianggap sebagai akibat dari gerakan-gerakan
tanpa tujuan dan tidak teratur dari tangan seorang pemahat, akan tetapi harus
dikatakan dia menggunakan peralatan seni dan sarana memahat sedemikian teratur
sehingga pada akhirnya sebuah batu berubah menjadi patung seorang manusia. Jika
kita mengambil batu ini dari gunung dan tanpa secara beraturan memahatnya, maka
tidak akan pernah terwujud menjadi patung manusia. Demikian juga bila lempengan
batu ini diserahkan kepada seorang buta yang lemah dan tidak mengetahui
dasar-dasar memahat patung, maka tidak akan pernah menjadi sebuah patung yang
diinginkan.
Dari contoh-contoh di atas, dikatakan bahwa setiap fenomena yang memiliki keteraturan dan pertimbangan,
tentu saja adalah akibat dari sebuah pelaku yang memiliki pengetahuan,
kehendak, ide, dan gagasan. Setiap fenomena yang tidak teratur dan tidak
bertujuan merupakan hasil dari suatu sebab yang kebetulan dan tidak berakal.
4. Mobil sebagai sarana transportasi merupakan produk dan desain dari ilmuwan, mobil ini tidak akan pernah tercipta
secara kebetulan. Jika kita meletakkan potongan-potongan baja, kaca, dan ban ke
dalam sebuah tong, kemudian tong itu kita putar beribu-ribu kali, maka sebuah
mobil tidak akan pernah tercipta dari hasil putaran itu.
5. Menerbitkan sebuah kitab membutuhkan kata pengantar pemikir dan penyusun harus mengatur kandungan-kandungan kitab
dalam otaknya serta dengan ketajaman penanya menuangkannya ke atas kertas,
kemudian percetakan mengatur huruf-hurufnya dan mendesai tata letaknya, setelah
itu dijilid di percetakan. Hal ini tidak dapat dikatakan bahwa telah terjadi
sebuah "ledakan" di tempat percetakan dan tiba-tiba menghasilkan
sebuah kitab yang teratur.
6. Kita masuk ke ruang kelas dan melihat sebuah formula matematik yang tertulis di atas papan hitam, apakah dalam
kondisi ini kita berpikir bahwa formula ini ditulis oleh selain ahli
matematika? Apakah kita memberikan kemungkinan bahwa formula tersebut adalah
hasil dari berkumpulnya atom-atom kapur di atas papan hitam secara kebetulan?
7. Ilmu pengetahuan dan eksperimen telah membuktikan bahwa sebuah keteraturan sederhana sekalipun hanya terjadi dari
gagasan dan ide, oleh karena itu ketika kita melihat sebuah tulisan dalam
museum purbakala, secara langsung kita menghubungkannya kepada seorang penulis
yang dihasilkannya dari gagasan dan ide, dan kita tidak akan pernah meyakininya
bahwa tulisan itu lahir secara kebetulan.
8. Ilmu pengetahuan dan eksperimen telah menunjukkan bahwa setiap eksistensi yang susunan bangunannya semakin rumit,
membuktikan bahwa penciptanya memiliki ilmu dan akal yang tinggi.
Apakah seseorang dapat mengklaim bahwa sebuah satelit yang berputar di angkasa lahir dari sebuah
kebetulan? Dengan cara bahwa atom-atom seirama dalam menciptakan sebuah satelit
dan secara kebetulan menyentuh sebuah roket yang juga ada dengan sendirinya,
dan tiba-tiba terisi bahan bakar, dan seluruh tahapan ini terjadi secara
kebetulan, dan tiba-tiba menjadi sempurna, dan meluncur ke orbit bumi, dan
mulai berputar, dan proyek ini tidak menggunakan gagasan dan juga tidak
dilakukan oleh pelaku yang berpengetahuan.
9. Kalkulator yang meringankan pekerjaan akuntan-akuntan mahir di lembaga-lembaga besar dan karena kecepatan operasinya
dapat melakukan tugas lebih dari 400 orang pegawai akutansi, ini adalah sebuah
kenyataan. Hal itu tidak dapat diterima sebagai hasil dari suatu kebetulan.
10. Kita melihat lingkungan hidup kita sendiri. Kita perhatikan sebuah ruangan yang kita hidup di dalamnya dan
terdapat barang-barang seperti kursi, pemanas ruangan, karpet atau permadani,
rak buku, apakah dapat dikatakan bahwa barang-barang ini adalah hasil dari
suatu kebetulan? Ataukah ditata oleh penata yang berpengetahuan dan mahir?
Apabila akal dalam hal-hal di atas tersebut menghukumi secara pasti bahwa setiap ciptaan yang memiliki
keteraturan, pasti diciptakan oleh desainer yang mahir, pembuat yang
berpengetahuan, dan pencipta yang kuasa. Dalam hal ini bagaimanakah dengan alam
penciptaan yang penuh dengan desain-desain independen yang tiada batas dan pada
saat yang sama memiliki hubungan satu sama lainnya?
Unsur Ketiga
Sistem Keteraturan Alam yang Menakjubkan
Ketakberdayaan Ilmu Dan Pengetahuan
Rahasia sistem keteraturan
yang cermat dan rumit di alam penciptaan ibarat samudera yang dalam dan tak
berbatas. Manusia dengan pengetahuan-pengetahuan saat ini hanya mampu
menjangkau beberapa meter dari samudera yang luas ini.
Manusia saat ini dengan
pengetahuan-pengetahuan mendalam dan kemajuan-kemajuannya yang manakjubkan baru
dapat mengenal alfabet ilmu-ilmu pengetahuan alam, dan setiap kali melangkahkan
kakinya ke depan, dari sisi ilmu dan pengetahuan, semakin bertambah keheranan
dan kebingungannya terhadap alam semesta dan semakin memahami akan
kebodohannya, menurut salah seorang pakar fisika, "Semakin banyak aku
mempelajari segala sesuatu dan memperhatikan atom, galaksi, bakteri hingga
manusia, aku menyadari bahwa sampai sekarang ini sangat banyak hal-hal yang
masih belum diketahui."
Menurut salah seorang
ilmuwan lain dalam bidang ilmu pengetahuan alam, "Ilmu pengetahuan
berusaha untuk menyempurnakan hipotesa-hipotesanya, dan semakin mendekati
hakikat-hakikat, akan tetapi, semakin kita mendekat, hakikat-hakikat tersebut
semakin menjauh, dan pemahaman kita atas alam melalui sarana indera yang tidak
sempurna dan peralatan kita yang tidak cermat."
Di antara berbagai ucapan
ilmuwan-ilmuwan banyak dijumpai pengakuan-pengakuan ini, seluruhnya
mengungkapkan bahwa manusia dengan tangga ilmu pengetahuan belum naik ke atas
selain hanya beberapa anak tangga dan oleh karena itu ketika ditanyakan kepada
seorang pakar matematika terkenal, Einstein, untuk menjelaskan tentang
"yang diketahui" (known) dan "yang tak diketahui" (unknown),
dia yang dalam kondisi berdiri di samping tangga perpustakaan, menjawab,
"Perbandingan keduanya seperti perbandingan anak-anak tangga ini dengan
atmosfir langit yang tiada batas dan hingga saat ini aku baru menaiki beberapa
anak tangga dari tangga ilmu pengetahuan."
Oleh karena itu, ilmu
manusia terhadap sistem-sistem keteraturan dunia penciptaan ini tidaklah
memadai. Ketika manusia membandingkan bentuknya dengan bentuk benda-benda
langit dan jarak bintang-bintang, maka dia akan melihat dirinya sangat kecil
dan tidak berdaya.
Akan tetapi, dengan semuanya
ini, satu sepermilyar ilmu terkini manusia, seputar keagungan penciptaan sudah
cukup untuk membuktikan Sang Pencipta dan dapat ditetapkan dengan gamblang
bahwa sebuah keteraturan yang cermat dan rumit seperti ini tidak mungkin
terwujud kecuali dari Sumber Kekuasaan, akal dan ilmu.
Dari sudut pandang ini,
dalam kitab ini akan dipaparkan sedikit tentang keteraturan dunia penciptaan
dan di antara manifestasi-manifestasi keteraturan yang tiada batas. Hanya
beberapa maujud akan menjadi bahan kajian dan penjelasan terperincinya silahkan
merujuk ke buku-buku ilmu pengetahuan alam.
Rahasia memahami ketauhidan
dan kunci teologi adalah kita tidak melihat secara dangkal eksistensi apapun,
walaupun ukurannya sederhana dalam pandangan kita, karena eksistensi-eksistensi
sederhana inilah yang dianggap menjadi langkah awal sebuah dinamika besar dan
sumber ilmu bagi manusia.
Biasanya para pemikir besar
memiliki keistimewaan ini karena mereka tidak mengira sebuah obyekpun sebagai
hal yang sia-sia, dan tidak melihat sesuatupun dengan acuh tak acuh, serta
mengambil pelajaran-pelajaran besar dari permasalahan-permasalahan dan hal-hal
yang sangat sederhana dan biasa.
Newton menyingkap hukum
gravitasi umum dari jatuhnya sebuah apel dari pohon, Archimedes merasakan bahwa
badannya menjadi ringan di dalam air dan dari hal tersebut memperoleh ide
dasar-dasar keseimbangan benda-benda cair, Galileo dalam sebuah ritual
keagamaan menyaksikan 40 obor di atas kepalanya dalam keadaan fluktuasi dan
darinya menyimpulkan hukum jatuhnya benda-benda. Berapa banyak orang merasakan
bahwa badannya menjadi ringan di air, atau melihat sebuah apel jatuh dari
pohon, atau 40 obor sedang berfluktuasi di atas kepala, namun tak berhasil
mencapai suatu kesimpulan agung dan mengungkap hakikat yang tersembunyi
sebagaimana yang dicapai oleh ilmuwan.[3]
Oleh sebab itu, al-Quran menganggap kelompok tersebut sebagai hamba-hamba hakiki Tuhan karena
bertafakkur dalam penciptaan alam dan tidak memandang tanda-tanda penciptaan
secara dangkal dan acuh tak acuh.[4]
Dari sudut pandang ini, hal-hal yang sederhana bisa menjadi jalan menuju tauhid
dan kunci untuk menyingkap rahasia-rahasia tersembunyi alam serta menjadi
faktor kuat untuk perjalanan pemikiran di alam supra natural.
Argumen Tauhid di Alam Semesta
Langit biru dengan
bintang-gemintang yang bercahaya senantiasa menjadi bahan perhatian manusia dan
pada setiap masa menafsirkan keajaiban-keajaibannya dengan metode yang berbeda,
misalnya dengan astronomi Di Miqratis, astronomi Phytagoras, dan astronomi
orang-orang Mesir, namun penguasaannya atas akal-akal manusia sangatlah pendek.
Satu-satunya teori yang
sangat terkenal dan berumur panjang adalah astronomi Ptolemous. Teori ini
dirancang oleh ilmuwan tersebut pada satu setengah abad sebelum Masehi, dan
hampir 1500 tahun digunakan di kalangan keilmuan. Tak hanya mempengaruhi
ilmuwan-ilmuwan Barat saja, akan tetapi juga menjadi pondasi
pemikiran-pemikiran ilmiah para ilmuwan Islam hingga beberapa lamanya dan
melalui keyakinan terhadap teori tersebut mereka menakwilkan banyak ayat dan
hadis.
Ringkasan teori Ptolemous
adalah bumi sebagai pusat rotasi seluruh planet-planet alam dan tiga planet
lain secara berurutan, seperti planet air, planet udara, dan planet api, dan
setelah ini terdapat sembilan orbit plenet dimana orbit pertama adalah bulan,
kedua Mercurius, ketiga Venus, keempat Matahari, kelima Mars, keenam Jupiter,
ketujuh Saturnus, orbit kedelapan adalah pusat seluruh bintang, dan orbit
kesembilan adalah orbit "Atlas" yang tidak memiliki bintang. Menurut
mereka, Luasnya alam semesta hanya sebatas ini saja.
Dasar teori ini ambruk
melalui empat ilmuwan besar dan masing-masing dari mereka menciptakan sebuah
dinamika besar dalam mengenal alam semesta:
1. Copernicus Polandia. Dia membuktikan bahwa matahari sebagai
pusat rotasi planet dan memperkenalkan bintang-bintang sebagai benda-benda yang
bergantung di angkasa serta menganggap bumi sebagai salah satu planet yang
mengelilingi matahari.
2. Astronom dan matematikawan Jerman, Copler. Dia membuktikan bahwa setiap
planet dalam mengelilingi matahari menempuh sebuah jalur berbentuk telur dan
setiap planet yang lebih dekat dengan matahari gerakannya semakin cepat.
3. Galileo Italia. Dengan temuan teleskop kecil, dia mendukung
pandangan-pandangan dua ilmuwan tersebut dan dengannya dia berhasil menyingkap
bintang-bintang yang hingga hari itu belum dikenal, dan menafsirkan galaksi
dengan bintang-bintang yang bertaburan.
4. Newton. Dengan membuktikan hukum gravitasi dan daya tolak, dia
menyatakan bahwa putaran bintang-bintang di bawah sebuah hukum universal ini.
Dan menafsirkan adanya jutaan bintang bergantungan di angkasa tanpa tiang dan
pergeseran.
Usaha sekelompok ilmuwan
membuktikan bahwa dalam sistem tata surya kita, matahari adalah central
planet-planet dan mayoritas atau seluruhnya memiliki bulan atau beberapa bulan
yang dalam kondisi bergerak mengikuti planet, dan bentuk planet-planet tata
surya kita berdasarkan jarak dari matahari dan jumlah bulannya adalah sebagai
berikut:
1. Mercurius tidak berbulan;
2. Venus tidak berbulan;
3. Bumi memiliki 1 bulan;
4. Mars memiliki 2 bulan;
5. Jupiter memiliki 12 bulan;
6. Saturnus memiliki 10 bulan;
7. Uranus memiliki 5 bulan;
8. Neptunus memiliki 2 bulan;
9. Pluto memiliki kondisi yang belum jelas.
Seluruh planet di atas dapat dilihat dengan mata telanjang, akan tetapi dua planet terakhir sedemikian jauh
sehingga dapat dilihat hanya dengan teleskop.
Bintang-bintang permanen[5]
untuk sampai ke bumi akan bergerak dengan kecepatan cahaya 300.000 kilometer perdetik
selama 4 tahun, cahaya Neptunus kurang dari 4 jam, dan cahaya matahari selama 8 menit.
Matahari dengan kumpulan planet-planet dan bulan-bulannya disebut dengan sistem tata surya. Sebelum
tersingkapnya tiga planet terakhir (yakni Uranus, Neptunus, dan Pluto)
dibayangkan bahwa batas tata surya adalah planet Saturnus yang berada pada 1428
juta kilometer dari matahari, akan tetapi setelah penemuan planet terakhir,
Pluto, yang ditemukan sekitar 40 tahun yang lalu,[6]
radius kekuasaan tata surya bertambah 5920 juta kilometer dan pada masa
mendatang mungkin akan berubah lagi seiring dengan kemajuan ilmu dan
pengetahuan.
Keluasan Alam Penciptaan
Batas alam penciptaan lebih
luas dari apa yang bisa diukur dengan meter, kilometer atau farsakh
(satu farsakh setara dengan 6, 24 kilometer), dan jumlah benda-benda
langit lebih banyak dari apa yang dapat dijelaskan dengan bilangan. Dari
sinilah untuk menjelaskan jarak bintang-bintang, manusia menggunakan skala lain
dan hal itu adalah kecepatan perjalanan cahaya yang dalam perdetiknya menempuh
jarak 300.000 kilometer atau sama dengan 50.000 farsakh.
Kita akan semakin keheranan
ketika menyadari bahwa matahari kita adalah sebuah planet dalam salah satu
wilayah besar bintang-bintang yang bernama galaksi dan di dalam galaksi ini
terdapat sekitar 100.000 juta bintang.
Dalam satu malam yang terang
tanpa bulan, pertengahan musim panas atau pertengahan musim dingin, galaksi
dapat terlihat dengan mudah. Disamping itu galaksi kita dengan tata surya dan
ratusan juta bintangnya adalah sebuah galaksi di antara jutaan galaksi yang ada
di alam semesta dan tak seorangpun mengetahui berapa juta galaksi yang ada di
alam semesta dan setiap saat tercipta sebuah teleskop baru yang canggih akan
terungkap lebih banyak lagi galaksi. Sebagiannya sedemikian jauh hingga
cahayanya baru sampai ke bumi selama jutaan tahun.
Galaksi kita ditempuh oleh cahaya selama sekitar 200 hingga 300 juta tahun.
Apollo 11 dan seterusnya dengan kecepatan sekitar 6.000 kilometer perjam mampu menginjakkan kaki ke
bulan selama kurang lebih 3 hari, akan tetapi berdasarkan sudut pandang
skala-skala astronomi, bulan adalah sebuah planet yang hampir menempel dengan
planet bumi dimana cahaya bulan sampai ke bumi selama kurang dari satu setengah
detik dan dengan memperhatikan bahwa skala ukuran bintang-bintang dengan yang
lainnya adalah tahunan cahaya, maka sangat jelas kedekatan bulan dengan bumi.
Apabila apollo dengan
kecepatan ini ingin menempuh perjalanan ke arah salah satu planet tata surya
seperti Jupiter[7],
maka perjalanan ini akan memakan waktu 30 tahun, dan para antariksawan harus
kembali dengan rambut memutih.
Bila kita melihat planet Pluto[8],
tetangga paling jauh dan anggota keluarga tata surya kita yang terakhir, maka
kita akan sampai dengan waktu 280 tahun.
Dan jika kita ingin menengok
bintang paling dekat di luar tata surya kita dengan apollo-apollo ini dan
dengan kecepatan-kecepatan ini, kita memerlukan waktu 2 juta tahun untuk pulang
pergi dan dengan masa ini, umur manusia tidak akan pernah mencukupi.
Bintang permanen paling
dekat dengan kita adalah bintang yang terkenal dengan nama Proksima yang
cahayanya sampai ke kita selama 4 tahun 4 bulan dan dengan kecepatan cahaya
dalam 300.000 kilometer perdetik.
Menurut salah seorang
ilmuwan, apa yang sekarang ini kita namakan dengan "menundukkan"
angkasa, dibandingkan dengan kebesaran alam di atas persis sama dengan seekor
kupu-kupu kecil hinggap di atas daun pohon besar yang memiliki ribuan ranting
dan jutaan daun, di tengah-tengah hutan belantara tiada batas yang panjangnya
ratusan farsakh dan ingin terbang dari satu daun ke daun lain
sebelahnya, daun pertama adalah bumi kita, daun kedua adalah bulan, dan
seterusnya, dan ranting tersebut seperti tata surya dan pohon besar itu ibarat
galaksi (yang tata surya kita adalah bagian darinya) serta hutan tersebut
seperti alam semesta, dan ilmuwan-ilmuwan astronomi seperti penumpang-penumpang
yang berjalan di dalam hutan, bintang-bintang juga memformat hutan, sebagaimana
setiap hutan terbatas, jumlah bintang-bintang juga terbatas. Perkiraan terbaru
yang dilontarkan menunjukkan bahwa bintang-bintang berjumlah sekitar 40 miliar.[9]
Di hadapan benda-benda besar
dan luas ini, Manusia melihat dirinya sangat kecil, terheran-heran, dan
menundukkan kepala karena kehinaan yang berlebihan.
Pena dan halaman-halaman
kitab lebih tidak berdaya untuk dapat menjelaskan sebuah sudut dari sistem yang
tampaknya tidak terbatas ini, akan tetapi pepatah "Bila air laut tidak
dapat diambil, maka harus dicicipi untuk sekedar menghilangkan rasa
dahaga", sebuah sudut dari sistem-sistem keteraturan tata surya dapat
dipantulkan dalam halaman-halaman ini, dan dari trotoar ini dapat diketahui
kebesaran ilmu pengetahuan dan kekuasaan tiada batas Sang Pencipta.
Matahari, Induk Tata Surya
Matahari adalah planet langit pertama yang menarik perhatian penduduk bumi pada permulaan munculnya
peradaban. Planet api ini adalah sumber penuh rahasia yang
keajaiban-keajaibannya tidak tertampung di dalam angan-angan dan pemikiran
manusia, saat ini kita akan singgung sebagian rahasia lentera api yang terang
benderang ini dan keajaiban-keajaiban penciptaannya yang seluruhnya
menceritakan kekuasaan penciptanya.
Ukuran matahari adalah 1.391.000 kali ukuran bumi yakni bila bumi berukuran 1.391.000 kali lebih
besar, maka baru akan seukuran raja tata surya, matahari, dan bila kita
mengenal ukuran planet bumi dengan bilangan, pada saat itu akan jelas bagi kita
kebesaran ukuran matahari. Ukuran bumi ialah 1.083. 320 milyar kilometer
persegi.[10]
Dengan memperhatikan bahwa diameter bumi adalah 12.756 kilometer, maka diameter matahari 109 kali diameter
bumi yaitu 1. 391. 000 kilometer.[11]
Berat Matahari
Para ilmuwan mampu menentukan berat matahari dan memperoleh hasil bahwa berat matahari adalah
330.000 kali berat bumi.[12]
Alasan perbedaan ukuran matahari dan beratnya dengan bumi adalah bahwa berat khusus matahari yang dalam
kondisi bergas atau berkabut tipis akan lebih ringan dari pada berat khusus
bumi, karena setiap kali kepadatan atom-atom sebuah benda lebih sedikit, maka
ukurannya akan lebih besar dan beratnya lebih ringan, akan tetapi jika
kepadatan atom-atom benda lebih besar, maka beratnya akan lebih berat dan
ukurannya lebih ringan.
Temperatur Matahari
Temperatur permukaan luar
matahari kira-kira mencapai 11.000 derajat F akan tetapi temperatur intinya
diperkirakan mencapai 70 juta derajat F.[13]
Dan dari sudut pandang centigrade temperatur permukaan matahari adalah 6.000 derajat centigrade dan
temperatur kedalaman-kedalamannya diperkirakan sekitar 20 juta derajat
centigrade.[14]
Dari titik panas ini, dalam perdetiknya memproduksi 4 juta dan setiap menitnya 240 juta ton energi cahaya
dan panas, dan setiap harinya memancarkan 350.000 juta ton energi ke angkasa.
Walaupun telah jutaan tahun planet yang terang benderang ini memancarkan cahaya dan panasnya, hingga saat
ini kekuatan dan kemampuannya masih tetap tersisa.
Menurut para ilmuwan, energi yang keluar dari matahari dalam jangka satu menit lebih banyak dari seluruh
energi yang dipergunakan oleh manusia di sepanjang kehidupannya.
Planet bersinar ini seperti sebuah pabrik yang memproduksi perdetiknya 4 juta ton dan permenitnya 240 juta
ton energi. Seluruh anggota keluarga Matahari, mulai dari Mercurius hingga
Pluto dengan seluruh bulan kecil dan besar, menyerap panasnya lalu memancarkan
sinar terang dan panasnya hingga 6.000 juta kilometer. Sementara bumi, yang
dari segi jarak adalah planet ketiga, memanfaatkan energi yang diproduksi ini
lebih dari cukup.[15]
Anda akan bertanya: Apa bahan bakar digunakan oleh pembuat energi ini (matahari) untuk memproduksi
ribuan energi panas tersebut?
Riset para ilmuwan sampai pada batas bahwa untuk memproduksi energi raja tata surya menggunakan bahan
hidrogen dan untuk setiap 4 juta ton energi dalam perdetiknya, membutuhkan 660
juta ton hidrogen, untuk 240 juta ton energi dalam setiap menitnya memerlukan
39.600 juta ton hidrogen. Dalam hal ini harus dilihat, sampai berapa banyak
bahan mentah planet ini (hidrogen) yang dengan pengeluarannya selama ribuan
juta tahun dalam keadaan aktif dan produktif, belum terlihat perubahan yang
terasa dalam aktivitas dan pruduksi energinya.
Umur Matahari
Teori terakhir mengenai umur matahari seperti sebagian benda angkasa yang berdekatan dengannya diperkirakan
dari sekitar 4.000 juta hingga 5.000 juta tahun[16]
dan untuk menentukan umur planet terdapat beberapa jalan yang jelas bagi pakar dalam bidang studi tersebut.
Rotasi Matahari
Untuk pertama kalinya Galileo dengan teleskopnya menyaksikan beberapa noda atau bintik hitam di atas
permukaan matahari. Sementara ketika kita menyaksikan matahari tenggelam di
saat udara dipenuhi debu, atau kita melihat ke arahnya di siang hari dengan
kaca gelap, maka kita akan menyaksikannya tanpa cacat dan noda sama sekali.
Dengan sebuah teleskop besar, permukaan matahari tampak seperti gumpalan awan, ini adalah bukan awan
salju dan hujan akan tetapi adalah gumpalan-gumpalan uap panas yang memiliki
gas-gas atau kabut tipis besi, timah, dan materi-materi lain yang muncul dari
tungku perapian besar ini.
Noda hitam yang disaksikan
oleh Galileo adalah sesuatu yang seperti mulut gunung berapi. Bila kita
memperhatikan matahari setiap hari, akan dapat disaksikan bahwa noda-noda ini
berpindah tempat, dan bergerak menuju ke arah timur matahari, dalam hasil
pengamatan-pengamatan inilah para ilmuwan untuk pertama kalinya memahami bahwa
matahari sama seperti bumi berputar pada porosnya sendiri, sebagaimana yang
dinantikan dari benda angkasa berukuran besar semacam ini yang diameternya
hampir 1.600.000 kilometer yang gerakan pada porosnya sangat lebih lambat dari
bumi, dan setiap putarannya memakan waktu hampir 25 hari.[17]
Matahari berputar mengelilingi porosnya seperti arah bumi berputar mengelilingi
matahari.[18]
Alasan seluruh planet bergerak dari barat menuju timur adalah karena gerakan matahari berputar dari arah barat
ke arah timur, maka daya gravitasinya mengakibatkan semuanya bergerak ke arah
tersebut.
Gerakan Perpindahan Matahari
Sentralisasi matahari tidak menghalanginya bersama seluruh anggota keluarga sembilannya untuk melakukan
gerakan perpindahan yang kecepatannya 19,5 kilometer perdetik.
Menurut riset para ilmuwan, tata surya kita dengan planet-planet dan bulan-bulannya bergerak menuju arah
titik utara dengan kecepatan tersebut, dan astronom terkenal Herschel[19]
pada tahun 1790 mampu menemukan arah tujuan tata surya dari gerakan ini. Dia
menjelaskan bahwa tata surya sedang bergerak ke arah sebuah bentuk falak
Hercules[20],
dan menjauh dari tempat beradanya hari ini dalam satu tahun 615 juta kilometer.
Gerakan Matahari Mengelilingi Sentral Galaksi
Setiap galaksi tersusun dari jutaan bintang dan seluruhnya sedang dalam kondisi bergerak pada poros dan
central galaksi, dan kecepatan gerakan mereka tidak sama dan berbeda sesuai
dengan jaraknya dari sentral.
Matahari kita adalah bagian dari galaksi kita, dan seperti seluruh bintang yang lain dari galaksi ini,
berputar mengelilingi central galaksi dengan kecepatan 972 ribu kilometer per
jam dan orbit perputaran matahari sedemikian luas sehingga dalam 220 juta tahun
sekali menempuh orbit ini.[21]
Mungkin sebatas ini mengenai
pengetahuan kebesaran matahari dan sistem keteraturan yang menakjubkan serta
aktivitas-aktivitasnya yang berguna. Sekarang ini kita akan berbicara secara
global seputar sistem-sistem keteraturan seluruh anggota keluarga ini
berdasarkan jaraknya dengan matahari.
Planet-Planet Tata Surya
1. Mercurius
Mercurius adalah anggota
keluarga terdekat dengan matahari. Berada dalam jarak 58 juta kilometer dengan
matahari. Karena planet-planet bergerak dalam sebuah orbit elips mengelilingi
matahari, maka jarak masing-masing dengan matahari dalam seluruh waktu tidak
sama. Jarak-jarak mereka dari matahari dalam kondisi osilasi memiliki jarak
maksimal dan minimal, jarak maksimalnya dari matahari adalah 70 juta kilometer,
jarak minimalnya 46 juta kilometer dan jarak menengahnya 58 juta kilometer.
Satu sisi planet ini selalu
menghadap matahari, dari sinilah satu sisinya seperti neraka jahannam yang
membakar dan penasnya mencapai 400 derajat centigrade, dan sisi lainnya seperti
wilayah-wilayah kutub yang dingin dan membeku, oleh karena gravitasinya rendah
maka tidak ditemukan udara di sana dan bila terdapat udara akan berbentuk
pusaran angin cepat dan bergerak dari satu arah ke arah lain. Alasan kenapa
planet ini jarang sekali kelihatan karena terbit dan tenggelamnya bersamaan
dengan terbit dan tenggelamnya matahari, oleh karena itu jarang sekali
menampakkan diri kepada kita, meskipun demikian pada sebagian hari sepanjang
tahun akan terlihat di ufuk dengan mata telanjang.
Sebuah Planet yang Masa Tahun dan Harinya ialah Satu
Planet ini berputar mengelilingi orbitnya sendiri dan mengelilingi matahari dalam waktu 88 hari,
dengan kata lain, Mercurius berputar sekali pada orbitnya sendiri memakan waktu
persis seperti mengelilingi matahari. Dari sinilah, Mercurius ialah sebuah
planet yang sama antara masa tahun dan harinya.
Ukuran berat dan kecepatan perjalanan planet-planet adalah demikian: Setiap planet yang jaraknya semakin
dekat dengan matahari akan berputar dalam sebuah orbit yang lebih kecil dengan
perjalanan lebih cepat, akan tetapi sebuah planet yang jaraknya lebih jauh dari
centralnya maka akan menempuh orbit yang besar dengan sebuah gerakan yang lebih lambat.
Oleh karena Mercurius ialah planet terdekat dengan matahari maka dalam orbitnya lebih kecil dengan
kecepatan lebih (47.5 kilometer perdetik) dalam keadaan berputar, akan tetapi
Pluto yang adalah anggota keluarga paling jauh menempuh orbitnya yang besar
dengan kecepatan 4,7 kilometer perdetik.
2. Venus
Venus ialah sebuah planet yang menurut istilah ilmuwan-ilmuwan alam disebut dengan saudara kembar bumi.
Karena efek dari kabut atau debu tebal yang menyelimuti venus ini maka hingga
saat ini data-data tentangnya masih belum jelas sama sekali.
Venus berputar megelilingi matahari dalam orbit antara bumi dan Mercurius. Dengan pancaran sinar terang
istimewa yang dimilikinya setelah tenggelamnya matahari di langit barat dan
sebelum terbitnya matahari di langit timur, kita dapat melihat Venus. Oleh
karena itu, planet ini dapat disaksikan dalam dua tempat. Pada zaman dahulu,
orang-orang Yunani membayangkan bahwa terdapat dua bintang dan menamakannya
dengan dua nama, yakni bintang malam hari dan bintang dini hari. Venus terbit 1
tahun 20 bulan sebelum dini hari dan 1 tahun 20 bulan setelah tenggelamnya
matahari.[22]
Venus dinamakan sebagai saudara kembar bumi karena memiliki keserupaan dengan bumi dari beberapa sisi,
yakni ukurannya 97 persen bumi dan diameternya 12.188 kilometer, beratnya 82
persen berat bumi, dan daya gravitasinya 9 persen gravitasi bumi serta jarak
menengahnya dari matahari 108 juta kilometer.
Venus berputar sekali mengelilingi matahari selama 224 hari 16 jam 48 menit[23]
dan berputar sekali pada porosnya sendiri selama 10 hari planet bumi.[24]
3. Planet Bumi
Data-data manusia mengenai planet bumi diperoleh sebelum planet-planet lain. Menurut masyarakat umum,
planet bumi ialah planet paling besar yang dapat dilihatnya, akan tetapi,
menurut para ilmuwan planet ini tergolong kecil dibandingkan dengan planet
lain.
Bumi adalah sebuah planet yang berputar dengan bebas di angkasa seperti planet-planet yang lain. Planet
ini berada dalam jarak 150 juta kilometer dengan matahari dan mengelilingi
matahari selama 365 hari 5 jam 48 menit dan 40 detik dengan kecepatan 29,8
kilometer perdetik.
Jarak maksimal bumi dengan matahari 152 juta kilometer dan minimalnya 148 juta kilometer.
Udara bumi dengan gas dengan tebal sekitar 800 kilometer sebagai pelindung bumi dari terpaan 20 juta
batu-batu meteor yang menimpa bumi dengan kecepatan sekitar 50 kilometer perdetik.
4. Mars
Sebuah bintang yang menarik perhatian para ilmuwan Timur dan Barat. Usaha-usaha berkesinambungan dilakukan
untuk menyingkap rahasia-rahasianya dengan alasan sebagai berikut:
Selain planet bumi, di Mars lebih tersedia persyaratan-persyaratan kehidupan melebihi planet-planet
lain. Oleh karena itu, hingga saat ini telah terambil banyak gambar dari planet
tersebut dan keberadaan kehidupan bagi tumbuh-tumbuhan dan yang lainnya
diterima sebagai sebuah hal yang pasti.
Planet Mars berjarak 228
juta kilometer dengan matahari dan berputar sekali mengelilingi matahari selama
697 hari dengan kecepatan 24 kilometer perdetik.
Mars adalah adik bumi.
Diameternya 6760 kilometer. Daya gravitasinya sepertiga dari daya grafitasi
bumi dan sesuatu yang di bumi beratnya 18 kilogram, di Mars akan menjadi 6
kilogram.
Siang dan malam di Mars sama seperti bumi dengan sedikit perbedaan selama 24, 37 menit sekali berputar pada
porosnya sendiri. Di Mars, sebagaimana di bumi, memiliki empat musim, akan
tetapi masanya dua kali lipat daripada di bumi.
Mars memperoleh separuh dari cahaya dan panas yang diambil oleh bumi dari matahari, oleh karena itu, udara
planet ini lebih dingin dari bumi. Batas maksimal pada musim panas tidak lebih
dari 27 derajat centigrade dan temperatur udara pada musim dingin mencapai 58
derajat di bawah nol.
Diameter Mars adalah 6.760 kilometer sementara diameter bumi mencapai 12.678 kilometer. Mars memiliki dua
bulan kecil yang berputar mengelilinginya dan inilah planet pertama yang berada
di luar orbit bumi.[25]
5. Jupiter
Planet terbesar tata surya
berada pada sebuah orbit yang hampir berbentuk lingkaran di luar orbit Mars dan
berjarak 741 juta kilometer. Diameternya 148 ribu kilometer yaitu 11 kali lipat
diameter bumi dan permukaannya 150 kali lipat lebih besar dari bumi. Kita memiliki
7 benua yang hingga saat ini sebagian besar wilayahnya belum dicapai oleh
manusia. Apabila bumi seukuran dengan Jupiter maka jumlah benuanya 150 kali
dari jumlah benua bumi dan untuk mensurvei benua ini akan membutuhkan
waktu bertahun-tahun lamanya.
Jupiter berputar mengelilingi matahari dalam waktu 11 tahun 315 hari dengan kecepatan 13
kilometer perdetik dan gerakan rotasinya berjalan selama 9 jam 55 menit 41 detik.
Ketika Galileo melihat Jupiter dengan teleskop, dia menyaksikan terdapat 4 bulan, akan tetapi sekarang
ini para ilmuwan telah menyingkap adanya 12 bulan, dan mungkin pada masa
mendatang akan ditemukan lagi lebih dari itu. 12 bulan ini memiliki kecepatan
yang berbeda-beda sesuai dengan jaraknya dengan planet yang berputar mengelilingi Jupiter.
6. Saturnus
Jika kita melanjutkan perjalanan melewati Jupiter akan sampai kepada planet lain yang bersinar terang
bernama Saturnus. Menurut orang-orang Babilonia dan Yunani, Saturnus adalah
bintang tata surya paling terakhir karena planet-planet yang lebih jauh dari
matahari memiliki cahaya sedikit sehingga dengan mata telanjang tidak dapat
terlihat, akan tetapi setelah ditemukannya teleskop jelas bahwa Saturnus
bukanlah batas wilayah terakhir susunan tata surya dan area kekuasaan matahari
lebih dari apa yang mereka bayangkan.
Saturnus adalah sebuah planet besar yang berdiameter sekitar 110.000 kilometer yakni 9 kali lipat
bumi, dan ukurannya 700 kali lipat bumi. Oleh karena Saturnus terbentuk dari
materi yang sangat ringan maka ukuran beratnya tidak lebih dari 100 kali lipat bumi.
Saturnus memiliki 10 bulan dan menempuh orbit selama hampir 30 tahun bumi dengan kecepatan menengah 9,5
perdetik dan berputar pada porosnya sendiri selama 10 jam 15 menit.
7. Uranus
Planet ini ditemukan oleh Herschel pada tahun 1781 dan area kekuasaan matahari meluas dari 1.427 juta
kilometer menjadi 2.873 juta kilometer. Planet ini, dari sisi ukuran besarnya,
tidak lebih kecil dari Jupiter dan Saturnus bahkan terkadang dengan mata biasa
dapat terlihat. Gerakan perpindahan Uranus mengelilingi matahari terjadi selama
84 tahun 7 hari dengan kecepatan 6.700 meter perdetik dan gerakan rotasi pada
porosnya sendiri selama 10 jam 8 menit.
8. Neptunus
Planet ini ditemukan oleh dua ilmuwan Le Verrier[26]
berkebangsaan Prancis dan Galer yang pakar astronomi di pusat penelitian Berlin.
Loriah menentukan tempat planet dan Galeh menyingkap keberadaan planet di tempat yang ditunjukkan oleh
Lorieh. Dengan demikian, area kekuasaan susunan tata surya bertambah luas pada tahun 1846.
Planet ini berada dalam jarak 4.500 juta kilometer dari matahari dan menempuh orbit selama 164 tahun 28
hari, yakni masa setiap dari empat musimnya selama 40 tahun, berputar pada
sumbunya selama 15 jam 40 menit, dan memiliki dua bulan yang mengelilinginya
dengan gerakan-gerakan berbeda yang teratur.
9. Pluto
Planet ini ialah anggota terakhir dari keluarga tata surya kita yang ditemukan pada awal-awal tahun 1930
oleh seorang ilmuwan Amerika. Planet ini adalah planet kesembilan tata surya
dan dibandingkan dengan bumi sekitar 40 kali lebih jauh dari matahari. Dengan
ditemukannya planet ini area kekuasaan tata surya melebar dari 4.500 juta
kilometer menjadi 5.920 juta kilometer, karena jarak menengah planet ini dari
matahari adalah seukuran itu. Planet ini dalam orbitnya yang berbentuk elips
mengelilingi matahari selama 250 tahun.
Planet ini sedemikian jauh dari bumi sehingga tak satupun teleskop yang bisa menjangkaunya, oleh karena
itu, hingga saat ini kondisinya masih belum jelas.
Dan tak bisa dikatakan bahwa
planet ini adalah planet terakhir tata surya, akan tetapi para ilmuwan
memberikan kemungkinan bahwa Pluto ialah salah satu dari beberapa planet yang
bisa dihuni.[27]
Inilah sekilas dari sistem keteraturan tata surya kita.[28]
Sekarang tibalah saatnya mengingatkan beberapa hal seputar keteraturan tata surya kita yang menakjubkan.
Capaian Tauhid
Penjelasan mengenai tata surya menuntun kita kepada sebuah keteraturan luas dan meyeluruh dalam
penciptaan planet-planet, dimana setiap sudut darinya adalah bukti yang jelas
atas keteraturan dan pemikiran dalam penciptaannya. Akal dan rasio tidak akan
pernah mempercayai bahwa sistem keteraturan yang mencengangkan ini tercipta
melalui konteks kebetulan, tanpa adanya perencanaan sebelumnya, dan tanpa
adanya campur tangan sebuah akal yang agung. Dan di antara sistem-sistem
keteraturan yang tidak terbilang ini, kita akan singgung sebagian poin penting
yang menjadi bukti jelas dan argumen nyata akan campur tangan akal dalam penciptaan alam.
1. Keteraturan Gravitasi
Maksud dari gravitasi umum adalah seluruh benda satu dengan lainnya saling menarik. Tak ada satu makhluk
hidup yang terkecualikan dari hukum ini. Dan kekuatan gravitasi dua benda
dengan jarak keduanya memiliki hubungan berlawanan, artinya setiap kali jarak
benda-benda semakin berdekatan, maka daya tariknya akan semakin besar. Akan
tetapi kekuatan ini sendiri dengan ukuran dan kebesaran benda memiliki hubungan
secara langsung, dan setiap kali ukuran benda bertambah besar maka kekuatan
daya tariknya akan semakin bertambah.[29]
Berdasarkan hal tersebut, maka seluruh benda langit dan bumi seharusnya akan berbenturan dan sistem akan
hancur berantakan, akan tetapi adanya hukum daya tolak dari central mencegah
setiap macam benturan itu. Kekuatan daya tolak dari central itu ada pada
seluruh benda yang memiliki gerakan berputar. Tarikan dan daya tolak dari
central ini menyebabkan terjadinya keseimbangan dalam planet-planet tata surya kita.
Kedua kekuatan ini sedemikian rupa telah diprogram sehingga tak ada salah satu yang mengalahkan
yang lain dan bila tidak terjadi kesamaan di antara keduanya, atau kekuatan
gravitasinya lebih banyak, dan seluruh planet tertarik ke arah centralnya
(yakni ke arah matahari) atau bila kekuatan daya tolak dari central bertambah
maka seluruh planet sedikit demi sedikit akan menjauh dari centralnya.
Keseimbangan ini terletak pada jarak, ukuran, dan kecepatan orbit yang dimiliki oleh setiap planet.
Apabila jarak, ukuran, dan kecepatan orbit setiap planet bertambah atau
berkurang dengan centralnya, maka akan melahirkan perubahan kekuatan daya tolak
yang negatif dari central, dengan demikian sistem keteraturan tata surya akan berantakan.
Misalnya, jarak bumi dari matahari adalah sekitar 150 juta kilometer dan jarak ini ditempuh oleh cahaya
dengan kecepatan 300 ribu kilometer perdetik. Jarak planet - berpenghuni yang
menjadi pusat tumbuh-tumbuhan dan makhluk hidup ini - dengan centralnya
sedemikian rupa terprogram secara cermat sehingga apabila tidak demikian maka tak satu sel pun yang mampu bertahan hidup.
Bila jaraknya kurang dari tersebut, maka dengan demikian panas matahari yang pada permukaannya mencapai
6000 centigrade dan di intinya jutaan centigrade itu akan membunuh seluruh sel
hidup dan mencabut kehidupan dari akarnya, dan bila jaraknya lebih dari itu
maka akan menimbulkan rasa dingin yang sangat hebat dan terjadi proses
pembekuan dimana hal ini tidak memberikan kemungkinan hidup bagi makhluk bumi.
2. Kuantitas Cahaya Dan Panas
Menurut pandangan bidang studi astrofisika (ilmu yang mempelajari tabiat bintang-bintang), seluruh
bintang menyala seperti lilin dan memisah-misah, dan central tata surya kita,
matahari, perdetiknya memerlukan 660 juta hidrogen untuk memproduksi pancaran
cahaya dan panas. Dalam proses pembakarannya, perdetik memancarkan 4 juta ton
pancaran cahaya dan panas di angkasa, dan memberikan panas dan penerangan
kepada 9 planet dan 32 bulan dan pancaran 6.000 juta kilometer. Aktivitas ini
berjalan selama kurang lebih 5.000 juta tahun. Apakah dapat dikatakan sumber
kekuatan dan kehidupan, cahaya, dan penerangan serta panas ini ada dengan sendirinya,
dan ataukah pengaturan kuantitas pembakaran, cahaya dan, panasnya yang
memungkinkan hidup dan kehidupan di atas bumi adalah terjadi tanpa perhitungan dan pertimbangan?
Tidak seorang yang meyakini bahwa sistem yang penuh hikmah, kebijaksanaan, dan perhitungan-perhitungan
cermat yang berada di luar batas pikiran manusia ini sebagai pruduk dari suatu yang bersifat kebetulan belaka.
3. Gerakan-Gerakan Yang Teratur
Gerakan bumi dan planet-planet lain yang teratur dan cermat dalam ribuan juta tahun dengan
sendirinya menunjukkan atas campur tangan akal dan ide dalam penciptaan susunan tata surya.
Bumi menjalani gerakan evolusinya dalam 365 hari, 5 jam, 48 menit dan 40 detik dalam sebuah orbit 942
juta kilometer dan demikian juga setiap tahun, berputar 365 kali pada porosnya.
Kedua gerakannya sedemikian teratur sehingga tidak pernah tampak sedikitpun kesalahan di dalamnya.
Para geofisikawan melalui benda-benda radioaktif (benda-benda yang beradiasi) menemukan lapisan beku
bumi. Benda-benda radioaktif, meskipun tidak permanen akan tetapi perubahan dan
dinamikanya berjalan dengan lambat, setelah miliaran tahun berubah menjadi
materi lain seperti galena (timah hitam). Uranium yang merupakan
benda-benda radioaktif dalam jangka waktu 100 juta tahun 2 persennya akan
berubah menjadi galena, dan 98 persennya uranium murni dan dalam jarak
waktu 1 miliar tahun 14 persennya menjadi galena dan sisanya menjadi
uranium murni dan pada akhirnya setelah 5 miliar tahun 50 persennya menjadi
uranium dan separuhnya lagi menjadi galena.
Atas dasar pengukuran ini, kuantitas uranium dan galena dalam batu-batu tambang akan membawa kita
kepada lapisan beku bumi, dan para ilmuwan setelah melakukan beberapa percobaan
terhadap berbagai macam batu menyimpulkan bahwa tempat kehidupan manusia (baca:
bumi) telah ada sejak 3.000 juta tahun dan tidak menutup kemungkinan sama
sekali bahwa riset-riset mendatang akan meyakinkan kita kepada ukuran lebih besar.
Oleh karena itu, planet bumi yang berumur 3.000 juta tahun melakukan dua gerakan ini secara cermat dan
sedemikian cermat pengaturannya sehingga tidak terlihat ketakserasikan di
dalamnya. Dengan kata lain, 3 miliar juta tahun secara teratur memiliki empat
musim, dan musim semi dan gugur, dan selama ini setiap hari terbit dan
tenggelam yang menghadirkan cahaya dan kegelapan.
4. Skala Waktu
Manusia dengan menciptakan berbagai macam jam, seperti matahari, pasir, dan akhir-akhir ini membuat jam
bandul, berhasil menimbang dan mengukur waktu. Teknik pembuatan jam sedemikian
cermat dan mengalami kemajuan sehingga sebagian jam mampu juga menentukan
sepersatu juta detik, namun dengan demikian hingga kini tidak seorangpun mampu
menciptakan sebuah jam yang jauh dari segala jenis kekurangan, dan seluruh jam
setelah beberapa lama bekerja akan mengalami maju atau mundur satu detik dan
faktor penting dari perubahan ini adalah perubahan temperatur panas dan
kelembaban, karena udara panas menyebabkan pengembangan benda-benda dan udara
dingin mengakibatkan kepadatannya, dengan demikian, panasnya udara menyebabkan
pengembangan dan panjang bandul, dan pada akhirnya osilasinya lebih pelan dan
mengakibatkan lambannya jarum jam. Namun, pada udara dingin panjang bandulnya
berkurang dan osilasinya lebih cepat serta gerakan jarum jam akan lebih cepat.
Namun bumi adalah satu-satunya jam yang dengan gerakan-gerakan teraturnya mengukur waktu dari sisi tahun dan
hari secara cermat. Yang mengherankan adalah jam ini telah bekerja selama 3
miliar tahun dan belum pernah terjadi kerusakan sekecil apapun dalam komponennya.
Bumi tidak hanya sebuah jam otomatik yang alami, akan tetapi masing-masing dari planet dan bulan dalam
orbitnya adalah jam-jam yang selama miliaran tahun mengukur waktu secara cermat
tanpa kerusakan, dan dengan gerakan rotasinya mendemokan siang dan malam, dan
dengan gerakan evolusinya mendemokan tahun.
Dengan kata lain, area tata surya kita yang sekitar 6 juta kilometer seperti lembaran besar jam yang jarum
jam matahari seperti jarum jam yang lebih besar di tengah dan 9 jarum lain yang
relatif besar dan 32 jarum kecil (bulan-bulan). Masing-masing berada pada
sebuah sisi dalam lembaran ini dan masing-masing jarum ini mengukur waktu dalam
berbagai titik dunia secara cermat, dan selama ribuan juta tahun belum pernah
tampak kerusakan sekecil apapun dalam pekerjaan jarum-jarum ini.
Apakah dapat dikatakan bahwa bangunan jam besar alami dan jarum-jarum jam yang mendunia ini ada dengan
sendirinya, dan sama sekali tidak menggunakan perencanaan dan managemen dalam
kemunculannya? Sementara dalam jam sederhana buatan manusia kita tidak berpikir demikian.
5. Berbagai Gerakan Dalam Orbit yang Berbeda
Berbagai gerakan planet dalam berbagai macam orbit menunjukkan managemen penuh hikmah dari Tuhan, dan
suatu kebetulan tak akan pernah dapat menjadi langkah awal sebuah gerakan
teratur dalam berbagai orbit yang sesuai ini.
Kecil dan besar orbit planet bergantung kepada ukuran jaraknya dari central tata surya, setiap kali jarak
dari central lebih dekat maka orbitnya akan semakin besar dan relasi ini ada
dalam seluruh planet dan menjadi sebuah relasi permanen alam semesta dalam
seluruh benda angkasa tata surya.
Kecepatan dan kelambanan gerakan planet tergantung pada ukuran jaraknya dari central tata surya, setiap
kali ukuran jarak planet lebih dekat maka kecepatan gerakannya lebih besar, dan
planet akan menempuh orbitnya dengan gerakan lebih cepat. Setiap kali ukuran
jarak lebih jauh maka gerakan planet lebih lamban dan planet akan menempuh
orbitnya dengan lamban. Dari sudut pandang ini, Mercurius yang adalah planet
terdekat tata surya kita menempuh orbit kecilnya dalam jangka waktu 886 hari
dengan kecepatan 45,5 kilometer perdetik, sementara bumi menempuh orbit yang
relatif besarnya selama 365 hari 5 jam 48 menit dan 40 detik dengan kecepatan
29,5 kilometer perdetik.
6. Gerakan-Gerakan Tanpa Kesalahan Dan Kebetulan
Yang perlu diperhatikan adalah seluruh planet dan bulan sedemikian teratur bergerak pada orbit-orbitnya
sehingga tidak pernah keluar dari arah perjalanannya dan tidak bertabrakan
dengan planet-planet lain, meskipun terkadang sebagian astronom memberikan
perkiraan bawah pada hari dan jam tertentu sebuah planet (dari planet-planet
yang berada di antara orbit Mars dan Jupiter) akan bertabrakan dengan Bumi, dan
akan menghancurkan kehidupan manusia. Betapa banyak penduduk bumi ketakutan dan
gelisah mendengar berita ini. Dan tibalah hari dan jam yang telah ditentukan,
namun airpun tidak bergerak dan beberapa jam sebelum waktu tabrakan planet
tersebut merubah arah perjalanannya dan menjauh dari Bumi.
Sebuah sistem teratur, baik dari sisi orbit, gerakan, dan tidak terjadinya tabrakan sekecil apapun
membuktikan bahwa alam semesta adalah produk kehendak dan keinginan, pengetahuan, dan kekuasaan Tuhan Yang Maha Agung.
7. Keteraturan Dalam Gerakan Rotasi
Seluruh planet dan bulan bahkan matahari sendiri memiliki gerakan rotasi yang begitu teratur dan cermat.
Yang menarik perhatian adalah arah dan tujuan semua gerakan itu adalah satu dan semuanya berotasi dari
arah barat ke arah timur. Apakah kesatuan arah ini merupakan akibat dari suatu
yang kebetulan? Ataukah harus dikatakan bahwa Sang Pencipta Yang Maha Bijaksana
yang menggerakkan semuanya melalui suatu perencanaan dan menetapan kesatuan
arah dan tujuan gerakan rotasi semua planet, bulan dan matahari.
Dan orbit seluruh gerakan planet dari sisi bentuk geometrisnya adalah satu yang semuanya mengelilingi
matahari dalam sebuah orbit berbentuk elips.
8. Sistem sebagai Petunjuk
Kita semua mengetahui bahwa para astronom melalui informasi-informasi luas yang mereka peroleh dari rotasi
benda-benda angkasa alam semesta sejak ratusan juta tahun yang lalu mampu
memperkirakan seluruh kondisi bintang-bintang, menentukan terbit dan
tenggelamnya planet-planet dan waktu gerhana bulan dan gerhana matahari.
Perkiraan cermat semacam ini mustahil bersumber selain dari sistem teratur yang
menguasai benda-benda langit ini dan selain dari rotasinya yang teratur.
Gerakan benda-benda angkasa ini sedemikian teratur sehingga seringkali observasi terhadap gerakan sebuah
planet menyebabkan tersingkapnya keberadaan planet lain, dan para ilmuwan
mengetahui bahwa lambannya gerakan planet adalah akibat adanya planet lain di
dekatnya yang berefek kepada kecepatan geraknya.
Contohnya, setelah ditemukan Uranius, para astronom melakukan perhitungan orbitnya dan merasakan sebuah penyimpangan
dalam orbit gerakan serta menemukan gerakan planet lebih lamban dari ukuran
semestinya. Teka-teki ini terselesaikan melalui seorang ilmuwan Prancis Le
Verrier. Setelah mengkaji sebuah reportasi dia melontarkan jawaban kepada
kalangan ilmiah dan berkata, "Menurut pandanganku, keberadaan sebuah
planet lain yang hingga kini telah mengurangi kecepatan Uranus dan menciptakan
ketakteraturan dalam gerakannya, planet ini tidak mungkin berada di antara
Matahari dan Uranus dan semestinya berada dekat pada orbit Uranus karena tidak
berpengaruh sama sekali terhadap orbit Saturnus."
Setelah beberapa lama, seorang ilmuwan Jerman bernama Galer menyingkap posisi planet tersebut
sebagaimana yang telah ditentukan oleh Le Verrier sebelumnya.[30]
Planet lain bernama Pluto juga hampir sama dengannya. Karena para astronom setelah menyingkap Uranus dan
Neptunus menyaksikan sebuah ketakteraturan kecil dalam gerakan dua planet ini
dan menemukan gerakannya lebih lamban dari ukuran yang ditentukan, dari sini
mereka mengatakan bahwa di seberang dua planet ini semestinya terdapat sebuah
planet lain yang kekuatan daya tariknya berpengaruh pada dua planet itu, tidak
berselang lama ditemukan sebuah planet pada tahun 1930 M dan seluruh perkiraan
para astronom adalah benar.
Perkiraan-perkiraan cermat para astronom tersebut lahir dari gerakan teratur benda-benda angkasa.
Apakah dengan mengkaji sistem-sistem tata surya, kejelasan keteraturan alam semesta akan berakhir,
ataukah setelah kajian semacam ini manusia menyaksikan dirinya berada di ambang
pintu gerbang alam semesta yang lebih luas dan agung, alam semesta yang penuh
dengan jutaan tata surya dan miliaran bintang bersinar terang yang mengambang
di angkasa. Sistem tata surya kita dibandingkan dengan hal tersebut ibarat
sebuah batu mutiara di dasar samudra besar dan sebuah mostar di hadapan
hamparan alam semesta.
Jika manusia mampu melihat tata surya kita dari planet Sirius yang jaraknya dengan kita adalah 9 tahun
cahaya, maka matahari yang akan ia saksikan dalam bentuk sebuah titik terang,
dan bila ia melakukan hal ini dari bintang utara yang berjarak 300 tahun cahaya
maka ia tidak akan menyaksikan sesuatu dari tata surya ini dan seluruh sistem
tata surya ini dengan kebesarannya akan tak nampak di hadapan alam semesta yang sangat luas.
Apabila manusia dengan sayap-sayap ilmu terbang lebih tinggi lagi dari tata surya ini dan menyaksikan
kebesaran miliaran bintang dan galaksi serta sekelompok bintang yang nampak
seperti kabut bercahaya, maka tanpa sadar ia akan tunduk di hadapan keagungan
Sang Pencipta benda-benda angkasa ini, dan tak akan pernah membayangkan bahwa
keberadaan benda-benda angkasa dan keteraturan sistemnya lahir dari suatu
kebetulan dan dan tanpa perencanaan. Hal ini sebagaimana dalam teks suci Ilahi,
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit-langit dan bumi dan pergantian
malam dan siang terdapat tanda-tanda (keagungan Allah) bagi orang-orang yang
berakal."[31]
[1] Mohon diperhatikan dengan cermat apa yang telah dibuktikan oleh ilmu pengetahuan dan filsafat
adalah bahwa setiap fenomena membutuhkan sebab, bukan setiap keberadaan, dan
maksud dari fenomena adalah sesuatu yang sebelumnya tidak memiliki keberadaan
dan kemudian mengada. Adapun keberadaan yang azali (ada sejak dulu) dan tidak
pernah diselimuti oleh ketiadaan seperti wujud Tuhan, keluar dari obyek hukum
tersebut, oleh karena itu hukum filosofis tidak dapat digunakan untuk
membuktikan bahwa Tuhan juga harus memiliki pencipta dan sebab, karena apa yang
dibuktikan oleh akal dan rasio serta riset-riset manusia adalah bahwa
"setiap fenomena" membutuhkan sebab bukan "setiap keberadaan
mutlak yang tidak membutuhkan kepada yang lain".
[2] Walaupun kita meyakini bahwa kebutuhan setiap fenomena terhadap sebuah sebab adalah sebuah
hal yang gamblang (penetapannya tidak butuh kepada argumen), akan tetapi bisa
timbul suatu keraguan atasnya. Ada yang mengklaim bahwa hukum ini sesuai dengan fitrah
manusia, mereka berargumen bahwa seorang anak kecil senantiasa bertanya kepada
ibunya: Suara ini datang dari mana? Pertanyaan anak kecil ini menjadi tumpuan atas ke-fitri-an masalah ini.
[3] Tarikh-e Ulum, Pijer Roso, hal 288.
[4] QS. Ali Imran: 191 dan Al-Furqan: 73.
[5] Bintang-bintang yang
jarak dan hubungannya dengan seluruh bintang tidak satu jenis dan selalu dalam
kondisi berubah disebut planet atau asteroid, akan tetapi bintang-bintang yang
memiliki kondisi tetap dan selalu memiliki hubungan permanen dengan
bintang-bintang yang lain dinamakan bintang-bintang permanen, jika tidak
seluruh bintang selalu dalam keadaan bergerak dan berputar.
[6] Untuk pertama
kalinya ilmuwan Amerika bernama Lawel memperoleh informasi tentang adanya sebuah
planet di balik dua planet terakhir, bahkan dia mendeteksi orbit dan beratnya,
akan tetapi karena tidak adanya teleskop yang canggih dia tidak mampu
menyaksikannya, namun setelah 15 tahun kematiannya, salah satu potograper pusat
penelitian Izurona yang memotret dari sebuah titik yang diperkirakan planet
yang belum disingkap berada di sana berhasil menyingkap sebuah planet tersebut
dan jarak pertengahan Pluto dari matahari adalah sebagaimana yang disebutkan di
atas 5920 juta kilometer.
[7] Jarak Jupiter dari matahari adalah 778 juta kilometer dan dari bumi dalam jarak terdekatnya adalah 628 juta kilometer.
[8] Jarak Pluto dari matahari adalah 5920 juta kilometer.
[9] Az Atom To Setoreh, hal. 89.
[10] Az Jahon-ho-ye Dur, hal. 229 – 294.
[11] Sokhtemon-e Khursyid, hal 91.
[12] Az Jahon-ho-ye Dur, hal 229.
[13] Nujum Baroy-e Hameh, hal. 1. Satuan
temperatur ini diambil dari nama Franhayet seorang ahli fisika Jerman yang
menemukan pembagian temperatur ini. Dalam ukuran faranhait, air dalam
temperatur 32 derajat di atas nol akan menjadi es dan dalam temperatur 212 derajat akan mendidih.
[14] Jahon-ho-ye Dur, hal. 227. Dan terkadang temperatur kedalaman matahari dideteksi lebih dari apa yang dikatakan di atas.
[15] Menurut keyakinan
sebagian ilmuwan, bumi hanya memperoleh 1.800 gram yang setiap harinya mencapai
173 ton dari pancaran sinar keseluruhan matahari yang dalam setiap detiknya 4
juta ton sementara sisanya sampai kepada planet-planet lain.
[16] Marz-ho-ye Nujum, hal 203.
[17] Dalam kitab, Nujum Bi Teleskop, hal. 55, disebutkan masa putarannya adalah 27 hari dan
menjelaskan bahwa noda yang anda saksikan sekarang ini akan hilang dalam
beberapa hari berikutnya di pinggir timur matahari dan kemungkinan dua minggu mendatang akan muncul kembali di pinggir lain.
[18] Nujum Baroy-e Hameh, hal 12-13.
[19] Herschel, William 1738-1822.
[20] Pada malam-malam
terang terlihat segerombolan bintang-bintang berkumpul dengan bentuk tertentu
dan pada mulanya tampak tidak lebih dari beberapa bintang saja. Para ilmuwan
memberikan nama untuknya yang berjarak 36 ribu tahun cahaya dengan kita, dan
tampaknya tidak lebih dari beberapa bintang saja dan dengan teleskop-teleskop diperkirakan mencapai 30.000 bintang.
[21] Taskhir-e Setoregon, hal 392 dan 421.
[22] Nujum Baroy-e Hameh, hal 56.
[23] Dengan demikian, tahun planet Venus hampir 7 setengah bulan. Haiat Flamariyun, hal 107.
[24] Teori terakhir yang menjelaskan mengenai gerakan Venus pada poros matahari.
[25] Nujum Baroy-e Hameh, hal 63.
[26] Le Verrier, Urbain 1811-1877.
[27] Nujum Baroy-e Hameh, hal 71.
[28] Marz-ho-ye Nujum, penulis: Ridho Aqsha; Nujum-e Bi Teleskop; Az Atom To Setoreh; Nujum Baroy-e Hameh dan Astronomi Flamari.
[29] Hukum Newton dalam
hal ini setiap kali ukuran benda-benda angkasa bertambah maka gravitasinya akan
semakin bertambah pula, misalnya bila kumpulan benda-benda angkasa menjadi dua
kali lipat maka gravitasinya akan menjadi dua kali lipat, dan bila jaraknya
menjadi dua kali lipat maka gravitasinya berkurang menjadi seperempat.
[30] Az Jahon-ho-ye Dur, hal 381.
[31] QS. Ali Imran: 190.
|
|