Sisi Irfan Asyura

Oleh: Ruhullah Syams

Kecintaan adalah suatu makna yang  inheren di dalam diri pemilik cinta, dan dia bermakna konsepsi kesempurnaan dan keindahan dari dimensi ia mempunyai pengaruh terhadap pemiliknya. Dan ia menjadi penyebab terciptanya hubungan mesra dan harmoni antara sesuatu dengan sesuatu lainnya. Kecintaan merupakan wasilah bagi terjalinnya hubungan antara setiap pencari dan tujuan akhir, antara setiap murid dengan muradnya. Setiap pencinta mendapatkan daya tarik kepada yang dicintainya sehingga dia dengan perantara pertemuan (wusul) dengan mahbub (yang dicintai) menemukan kesempurnaan. Kehidupan imam Husain As, seluruhnya tajalli kecintaan. Imam Husain As, tidak hanya pencinta Tuhan, akan tetapi juga pencinta segala apa yang berasal dari-Nya. Beliau merupakan orang terdepan dalam jalan kecintaan, dia setiap saat mendambakan pertemuan dengan Tuhan, sehingga dengan cahaya-Nya dia terbimbing ke puncak perjamuan dan bersama kakeknya Rasulullah Saw, ayahandanya Amirul mukminin Ali As, ibundanya hadhrat Fatimah As, dan saudaranya imam Hasan As serta para nabi dan wali Tuhan lainnya bergabung dalam kafilah pimpinan pencinta Ilahi.

Karbala, adalah taman bunga cinta dan kesetiaan. Di sanalah tempat bertajalli irfan Imam Husain As, pemimpin kafilah cinta kebenaran dan Ilahi beserta para keluarga dan para sahabatnya dalam kekesatriaan yang hakiki. Irfan Imam Husain As mengajarkan kepada para 'arif dan para pesuluk di jalan cinta dan hak, jalan yang tercepat untuk wusul dan syuhud jamal dan jalal Allah Swt.  

Kecintaan Imam Husain As

Kecintaan adalah suatu makna yang  inheren di dalam diri pemilik cinta, dan dia bermakna konsepsi kesempurnaan dan keindahan dari dimensi ia mempunyai pengaruh terhadap pemiliknya. Dan ia menjadi penyebab terciptanya hubungan mesra dan harmoni antara sesuatu dengan sesuatu lainnya. Kecintaan merupakan wasilah bagi terjalinnya hubungan antara setiap pencari dan tujuan akhir, antara setiap murid dengan muradnya. Setiap pencinta mendapatkan daya tarik kepada yang dicintainya sehingga dia dengan perantara pertemuan (wusul) dengan mahbub (yang dicintai) menemukan kesempurnaan.

Kehidupan imam Husain As, seluruhnya tajalli kecintaan. Imam Husain As, tidak hanya pencinta Tuhan, akan tetapi juga pencinta segala apa yang berasal dari-Nya. Beliau merupakan orang terdepan dalam jalan kecintaan, dia setiap saat mendambakan pertemuan dengan Tuhan, sehingga dengan cahaya-Nya dia terbimbing ke puncak perjamuan dan bersama kakeknya Rasulullah Saw, ayahandanya Amirul mukminin Ali As, ibundanya hadhrat Fatimah As, dan saudaranya imam Hasan As serta para nabi dan wali Tuhan lainnya bergabung dalam kafilah pimpinan pencinta Ilahi.

Imam Husain As berharap dari Tuhan supaya beliau ditarik pada hakikat para muqarribun (orang-orang dekat) dan terarahkan pada suluk dan tarikah orang-orang pencinta. Beliau juga bermohon kepada Tuhan supaya cahaya Ilahiah yang mengiluminasi pada setiap kalbu nabi, wali, dan orang-orang khusus, juga mengiluminasi pada kalbunya, sehingga dia sampai kepada makrifat dan tauhid paling sempurna. Dengan itu dia dapat dengan cepat wusul dan menyaksikan jamal dan jalal Tuhan serta menghapuskan kecintaan kepada selain-Nya dari kalbunya. Ini adalah makam fana, dimana makam ini merupakan akhir dan puncak makam irfan dan kecintaan. Dalam makam ini, pencinta tidak memiliki kecintaan lagi selain kepada mahbubnya, hatta kepada dirinya sendiri. Penghulu para syuhada imam Husain As dalam hal ini mengungkapkannya dalam do'a Arafah seperti ini, "Tuhanku! Saya adalah sang fakir dikala kaya, bagaimana aku tidak fakir dalam kefakiranku, Tuhanku! Saya adalah sang bodoh dikala berilmu, bagaimana aku tidak bodoh dalam ketidaktahuanku . Tuhanku! Sebab aku berperantara dengan efek-efek-Mu untuk mengenal-Mu maka aku jauh dari syuhud dan wusul kepada-Mu maka berikanlah kepadaku khidmat yang dengan cepat menyampaikanku kepada wusul dan syuhud kepada-Mu, bagaimana (aku) berdalil atas-Mu dengan sesuatu yang ia dalam keberadaannya butuh kepada-Mu, apakah ada maujud selain-Mu mempunyai zuhur dimana zuhurnya tidak ada Engkau sehingga ia menjadi penyebab Engkau dikenali? Kapan Engkau gaib sehingga butuh kepada dalil yang menunjukkan atas-Mu? Kapan Engkau jauh sehingga makhluk-makhluk menjadi penyampai kepada-Mu? Buta mata yang tidak melihat-Mu dimana Engkau senantiasa pengawas ia dan merugilah hamba yang tidak mendapatkan bagian dari kecintaan-Mu."[1]

Hubungan Antara Perang dan Irfan

Perang fisabilillah serta gerakan amar makruf dan nahi munkar mempunyai prinsip-prinsip dan syarat-syarat tertentu dimana memperoleh mereka merupakan suatu kemestian dan menolak perkara-perkara yang merintangi mereka juga menjadi suatu kewajiban. Karena itu, dalam perang dan pergerakan di jalan hak, tidak hanya menuntut keikhlasan, akan tetapi juga menuntut makrifat (baca; irfan) terhadap derajat kedarurian peperangan dan kadar pengaruhnya bagi hidayah ummat manusia secara umum serta kadar pengaruhnya dalam memelihara akidah ummat Islam secara khusus.

Perang, terkadang dikitari dengan kemudahan, seperti kondisi dalam menentukan hak dan batil dan merealisasikannya dapat dilakukan dengan mudah. Namun perang juga terkadang diputari dengan kerumitan, seperti keadaan dimana hak dari batil sulit dipisahkan dikarenakan atmosfir budaya dan sosial sedemikian keruh dan kotornya. Dan apabila telah dilakukan pemisahan hak dari batil, perkara lain yang menyulitkan pelaksanaannya adalah masalah politik dan ketiadaan medan untuk melakukan peperangan. Dalam keadaan seperti ini, jika seseorang dapat menentukan hak dari batil dan mengetahui secara bijak kebenaran bangkit untuk mempertahankannya, maka ia berhak mendapatkan pemuliaan dan penghormatan setinggi-tingginya.

Perang dan jihad hakiki tidak mungkin terlaksana tanpa irfan hakiki, sebagaimana irfan hakiki tidak mungkin dihasilkan tanpa pengorbanan harta, kedudukan, dan jiwa: "Katakanlah, jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya." (Qs, at-Taubah [9]: 24)

Dalam barisan para mujahid hakiki tertera alamat irfan dan dalam shaf para 'arif sejati tergambar alamat mujahadah. Yakni makrifat seorang 'arif kepada Tuhan dan kerinduan bertemu dengan-Nya menjadi pilar pembebasan diri dari berbagai ikatan-ikatan duniawi dan modal dasar untuk memperoleh tujuan ukhrawi yang didambakan: "Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan." (Qs. at-Taubah [9]: 20)

Kecintaan serta kerinduan seorang 'arif tidak akan pernah padam kecuali dengan pertemuan (wusul), dan pertemuan tidak mungkin terjadi kecuali dengan perang dan jihad, dan perang hakiki tidak akan dihasilkan kecuali dengan makrifat sempurna (irfan hakiki). Oleh karena itu, antara hamparan medan politik dan perlawanan terhadap kezaliman serta antara irfan sejati dan perang hakiki terdapat keselarasan dan kesimetrian sempurna. Seorang pejuang yang berperang dalam konteks seperti ini maka ia adalah pejuang yang paling utama dari seluruh pejuang, sebagaimana seorang 'arif seperti ini lebih tinggi dari seluruh 'arif.[2] Imam Husain As potret paling sempurna orang yang menyatukan antara irfan sejati dan perang hakiki, karena itu beliau layak sebagai sayyid para syuhada dalam pengertian penghulu orang yang mati syahid dan penghulu orang-orang 'arif yang bertemu kekasih yang dirindukannya.

Menggabungkan Perang dan Irfan

Perang fisabilillah dan makrifat Ilahiah merupakan dua substansi nilai insan yang masing-masing mempunyai keutamaan. Pertanyaan adalah, dapatkah kedua keutamaan dan kesempurnaan ini bergabung pada diri seseorang? Dengan kata lain, dapatkah seseorang dari satu sisi memiliki hati lembut, pengasih, dan pemaaf, di sisi lain memiliki jiwa membaja, pemberani, kesatria, dan pantang menyerah dalam berhadapan dengan thagut dan kezaliman? Apakah jiwa yang mempunyai dimensi jihad, pengorbanan, dan rezim perang, dapat menjadi ahli doa, berbisik-bisik dengan Hak Swt, dan menangis tersedu-sedu? Yang jelas sejarah telah menampilkan orang-orang yang kehidupannya telah menyatukan kedua keutamaan dan kesempurnaan insani tersebut. Kendatipun kebanyakan orang tidak dapat mempertemukannya, apatah lagi menyatukannya. Seperti terdapat orang yang senantiasa dalam hidupnya beribadah dan bermunajat, namun ketika mereka diperhadapkan antara bergabung dengan pasukan hak Amirul Mukmini Ali As atau pasukan batil Muawiyah, ataukah diperhadapkan antara memilih menyokong pasukan hak Imam Husain As atau pasukan batil Yazid,  mereka malah diam dan sama sekali tidak dapat memilih di antara keduanya. Juga terdapat orang yang di medan peperangan, pemberani dan kesatria, namun sangat disayangkan karena mereka bukan ahli irfan, sehingga terkadang mereka salah memilih jalan atau tidak menghiraukan seruan pemimpin yang hak.

Namun, orang seperti 'arif Yaman Uwais Qarani, adalah salah seorang di antara orang-orang yang dapat menggabungkan antara kedua keutamaan tersebut. Dari sisi ibadah, tatkala malam tiba dia berkata, ini adalah malam ruku. Dan dia semalaman ruku hingga waktu subuh tiba. Terkadang dia juga berkata, ini adalah malam sujud. Dan dia melewati malam itu dengan sujud hingga subuh tiba.[3] Dalam dimensi kesatriaan, dikatakan bahwa dalam keadaan mengenakan pakaian dari wol dan bersenjata dengan dua pedang, dia hadir dalam perang shiffin. Dan di hadapan pimpinan kaum 'arif Amirul Mukminin Ali As berkata, ulurkan tanganmu hingga aku membaiatmu. Setelah dia membaiat Imam Ali As, dia berperang dalam pasukan beliau hingga dia meneguk syahadat dan bertemu dengan sang kekasih mutlak.[4] 

Tidak diragukan bahwa para keluarga dan sahabat yang menyertai Imam Husai As di hari-hari Karbala dan berperang bersama beliau di jalan hak, mereka semua itu adalah orang-orang yang mampu menyatukan antara perang hakiki dan irfan hakiki. Mereka bukan tipe orang yang diam dan tidak memenuhi ajakan pemimpin hak, dan mereka bukan juga tipe orang yang bukan ahli ibadah dan munajat. Mereka, di bawah pimpinan pemimpin kafilah pencinta Ilahi, merindukan syahadat dan pertemuan serta perjamuan dengan sang kekasih mutlak, Allah Swt.

Tentu orang seperti 'arif Uwais Qarani dan para keluarga serta sahabat-sahabat Imam Husain As, mereka ini adalah orang-orang yang berada dalam makam tinggi dalam hal jihad hakiki dan irfan hakiki. Akan tetapi terdapat orang-orang yang juga berada dalam barisan ini yang secara gradasi berada dalam makam yang lebih rendah dari pada mereka. Yang urgen bagi kita adalah mengambil langkah yang pasti bergabung dengan mereka di bawah pimpinan kafilah pencinta kebenaran Amirul Mukminin Ali As dan Sayyid syuhada Imam Husain As.

Rahasia Do'a dan Gerakan Kebangkitan Imam Husain As

Do'a Arafah Imam Husain As, kendatipun ia adalah suatu do'a dan munajat kepada Sang Penguasa Mutlak, akan tetapi di dalam baris bait-baitnya juga  terkandung rahasia kebangkitan dan peperangan melawan penguasa kufur dan zalim. Beliau berkata, Tuhan! Engkau mengarunia lutf dan ihsan kepadaku, lutf dan ihsan itu adalah Engkau sedemikian sabar dalam penciptaanku hingga priode gelap jahiliah lewat kemudian sistem Islami berdiri, barulah ketika itu Engkau mengadakanku di dunia dalam sistem pemerintahan Islami.[5] Yakni Imam Husain As bersyukur bahwa dia tidak diadakan di dunia dalam kondisi zaman jahiliah dan penguasaan orang-orang kafir, dimana jika beliau lahir sebelum pemerintahan Islami, beliau tidak akan dapat memperoleh nikmat Islam dan makrifat-makrifatnya yang dalam.

Akan tetapi substansi ungkapan beliau itu tidak hanya perkara itu sebenarnya, tetapi perkara yang lebih urgen adalah dorongan pada pembentukan pemerintahan Islami dan upaya untuk tegaknya sistem Ilahi. Sebab jika seseorang ingin bersyukur dikarenakan tidak dilahirkan dalam kondisi pemerintahan kufur dan jahiliah, maka dia mesti dalam bentuk aplikasinya berupaya meruntuhkan daulah kufur dan kekuasaan syirik serta berusaha mendirikan pemerintahan Islami dan menjaganya. Ini tidak lain karena keberadaan pemerintahan kufur dan zalim, kendatipun tidak memustahilkan orang untuk memperoleh makrifat Ilahi dan akhlak insani, tetapi jalannya sangat sulit dan berat. Karena atmosfir yang menguasai lingkungan budaya, sosial, dan politik masyarakat adalah lingkungan jahiliah, akhlak rendah, dan thagut. Oleh karena itu, penghulu para syahid Imam Husain As, dengan maksud ini juga beliau bangkit melawan pemerintahan zalim Yazid, supaya masyarakat dan orang-orang akan datang berada dalam pancaran pemerintahan Islami. Sehingga mereka seperti beliau berada dalam lingkupan lutf dan berkah daulah hak dan hidup dalam lindungan pemerintahan Islam serta sinaran pancaran al-Qur'an.

Berasaskan ini juga beliau sebelumnya berkata, saya bangkit menentang pemerintahan zalim hingga saya menghapus kekufuran dan menciptakan perbaikan pada ummat kakekku Rasulullah Saw:  ی ی [6] .

Beliau kemudian merealisasikan tujuan ini dengan seluruh irfan dan kekesatriaan hingga beliau sampai pada tujuannya lewat meneguk manisnya syahadat dan indahnya pertemuan dengan sang kekasih mutlak.

Tajalli Irfan Peristiwa Karbala

1. Cinta Ilahi

Kecintaan kepada Tuhan ibaratnya api yang membakar segala apa yang dicapainya. Ia juga ibarat hujan yang mencurahkan air kepada segala sesuatu. Kecintaan kepada Tuhan itu sendiri muncul dari makrifat kepada-Nya. Karena itu semakin makrifat bertambah kepada-Nya, semakin kecintaan bertambah juga terhadap-Nya. Bagaimana dengan manusia sempurna (insan kamil) yang mempunyai makrifat sempurna insani kepada Allah Swt? Tentu kecintaannya juga pada-Nya adalah sempurna dan sedalam mungkin, yang hanya dibatasi oleh pembatas kecintaan yang tidak dapat dimiliki oleh maujud mumkin. Oleh karena itu, sesuatu yang membawa Imam Husain As pada hari Asyura melepaskan segala sesuatu hatta jiwanya, adalah cinta Ilahi. Dan beliau rela menanggung segala beban dan penderitaan pada hari itu; hanya karena cinta dan rindunya kepada Tuhan Yang maha Agung.

Kecintaan beliau kepada Tuhan ini, bukanlah sesuatu yang diperoleh secara tiba-tiba dan dalam peristiwa perjalanan Karbala ditemukan. Akan tetapi dalam seluruh perjalanan hidup beliau dipenuhi dengan cinta Ilahi dan peristiwa Asyura itu adalah buah dari kecintaan beliau tersebut. Dan sebagaimana diisyaratkan sebelumnya, bahkan seluruh hidup beliau merupakan tajalli cinta kepada Tuhan. Do'a dan munajat beliau, terutama do'a Arafah, menjadi bukti dari cinta Ilahi beliau ini. Dan juga malam-malam munajat, shalat, dzikir, sabar, tawakkal, dan pengorbanan yang beliau lewati di hari-hari Karbala merupakan manifestasi dari totalitas kecintaan beliau kepada Allah Swt. 

Di samping Imam Husain As di hari-hari Karbala, juga anggota-anggota keluarga beliau dan para sahabat-sahabat beliau yang meneguk  kesyahidan, semuanya telah menunjukkan manifestasi cinta Ilahi dan menjadi para pencinta yang syahid. Sebagaimana diriwayatkan bahwa Amirul Mukminin Ali As, seperempat abad sebelum peristiwa Asyura tersebut, ketika beliau melewati Karbala beliau berkata kepada orang-orang yang menyertainya, di sini akan menjadi tempat terbunuhnya para syuhada pencinta.[7] Sesuai dengan ungkapan Amirul Mukmini Ali As ini maka semua orang yang berperang dipihak hak dan tauhid pada hari-hari Karbala, mereka semuanya adalah pencinta Ilahi Swt. Dan pimpinan serta imam mereka yaitu Imam Husain As merupakan pimpinan kafilah pencinta yang mengajarkan kepada para pengikutnya kecintaan, perang, dan irfan hakiki, dan juga bagi generasi-generasi akan datang yang mengikuti maktab kecintaannya.   

2. Shalat

Shalat, adalah pilar dan tiang agama. Bahkan  ia paling asasnya dasar agama setelah wilayat. Dan shalat merupakan manifestasi irfan dan spiritualitas yang sangat jelas.[8] Imam Husain As, dengan seluruh usia yang dilewatinya dipenuhi dengan shalat dan ibadat, -sebagaimana diriwayatkan dari Imam Sajjad As bahwa beliau berkata, ayahku dalam sehari semalam shalat seribu rakaat[9]- pada hari ts'a (hari kesembilan bulan muharram) meminta dari saudaranya hadhrat Abul Fadl As supaya mengambil kerelaan dari musuh untuk memberi mereka kesempatan satu malam, dimana malam itu beliau ingin hanya berdo'a, shalat, tilawah al-Qur'an, istigfar, dan munajat kepada Tuhan. Karena itu, setelah beliau berbicara dengan para pengikutnya dan mengungkapkan segala kemungkinan yang akan terjadi besoknya dan hujjah telah sempurna bagi mereka, beliau kembali ke kemahnya dan melewati seluruh malam itu dengan shalat, istigfar, dan munajat.[10] Demikian pula para sahabat-sahabatnya melewati malam itu dengan shalat, istigfar, dan munajat.[11]

Pada hari Asyura, ketika peperangan demikian hebatnya berkecamuk, tapi saat-saat pembicaraan tentang shalat diungkapkan, beliau berpikir menegakkan shalat dan berkata, engkau mengingatkan kami kepada shalat, semoga Tuhan menjadikan kamu di antara orang-orang yang menegakkan shalat. Benar, sekarang adalah awal waktu shalat, mintalah dari musuh supaya menghentikan perang sejenak hingga kita selesai menunaikan shalat. Sebab musuh tidak bersedia menghentikan perang maka Said bin Abdullah Hanafi dan Zuhair bin Qin bertanggung jawab melindungi jiwa Imam As dalam keadaan shalat, yang pada akhirnya kedua sahabat Imam ini meneguk syahadat sebagai pengabdiannya terhadap shalat.[12]  Shalat ini mempunyai tiga kekhususan: berjamaah, awal waktu, dan secara 'alani (terang-terangan).

Demikianlah kecintaan beliau kepada shalat sebagai manifestasi dari kecintaan beliau kepada Tuhan. Dan shalat merupakan ungkapan jelas dari kecintaan kepada Tuhan, kendatipun perang di jalan hak itu sendiri juga ungkapan kecintaan kepada Tuhan. Karena itu, perealisasian shalat dalam keadaan perang berkecamuk, merupakan dua keutamaan yang bertajalli pada saat yang bersamaan.

3. Pengorbanan

Dalam peristiwa Karbala, terpancar pengorbanan sejati. Pengorbanan harta dan jiwa pada hari-hari Karbala merupakan manifestasi utama dari irfan dan spiritualitas. Imam Husain As adalah pimpinan pengorbanan Karbala bagi agama Hak Swt. Beliau tidak menyisakan sedikit pun bagi dirinya, semua yang berada dalam kuasanya dipersembahkannya bagi keselamatan agama kekasihnya. Oleh karena itu, asas gerakan Imam Husain As dalam menentang penguasa zalim dan kufur, tegak berasaskan pengorbanan untuk menyelamatkan agama Tuhan. Sebab pengorbanan beliau dalam pergerakan Asyura ini demikian terang dan jelas maka kami tidak perlu menyebutkannya. Dan kami cukupkan dengan menyebut dua contoh pengorbanan sejati dari sahabat-sahabat beliau dalam peristiwa hari-hari karbala tersebut:

Ketika hadhrat Abul fadl As mencapai air sungai Furat dan menciduknya, kendatipun beliau sangat haus, tetapi beliau pantang meminumnya dikarenakan mengingat junjungannya Imam Husain As beserta anak-anaknya berada dalam keadaan haus. Pengorbanan ini adalah pertanda kecintaan kepada sang Imam sebagai manifestasi kecintaan kepada Sang Pemilik Imam. Pengorbanan ini bukan didasari oleh faktor emotif semata, tetapi didasari oleh makrifat dan irfan yang dalam.

Sebagaimana kami sebutkan sebelumnya, di waktu zuhur Asyura, dua orang sahabat Imam As dengan penuh suka cita berdiri melindungi Imam dari anak-anak panah musuh ketika Imam As tegak menunaikan shalat jamaah pada awal waktu zuhur dihari Asyura tersebut. Dan kedua shabat Imam tersebut pada akhirnya meneguk manisnya syahadat menyusul sahabat-sahabat lainnya yang terlebih dahulu meneguknya. Tidak diragukan, pengorbanan ini pastilah didasari oleh makrifat dan irfan tentang loyalitas serta kecintaan kepada imam sebagai manifestasi kecintaan kepada Sang Penguasa Imam.

4. Kesabaran

Dalam pergerakan Asyura, terlukis dengan indah makna kesabaran dan taslim menerima qadha dan ketetapan hukum Tuhan. Sebab Imam Husain As sebagai pimpinan kafilah kebenaran dalam melawan kezaliman, dengan makrifat dan irfan mengetahui akhir dan kesudahan pergerakan tersebut. Dan pada akhir-akhir waktu yang tersisa baginya, beliau dalam munajatnya mengungkapkan, Tuhanku! Aku sabar atas segala qadha-Mu Tuhanku! Aku sabar atas segala ketetapan hukum-Mu.[13] Beliau tidak hanya mencukupkan kesabaran dalam menghadapi berbagai peristiwa hari-hari Karbala itu untuk dirinya, tetapi beliau juga menasehatkan kepada para keluarga dan sahabatnya untuk bersabar dan taslim dalam menghadapi qadha dan ketetapan Tuhan. Pada hari Asyura beliau berkata kepada anak-anak pamannya dan Ahlulbaitnya, sabar wahai anak-anak pamanku, sabar wahai Ahlulbaitku.[14] Sebagaimana beliau juga berkata kepada sahabat-sahabatnya, sabar wahai bani al-kiram.[15] Yakni, karena kalian semua berasal dari keluarga mulia maka hendaklah bersabar.

Dan betapa kesabaran dan taslim menerima qadha Tuhan ini memanifestasi secara sempurna dalam jiwa hadhrat Zainab As, dimana setelah beliau menyaksikan peristiwa demi peristiwa dan bencana serta musibah demi musibah di hari-hari Karbala dan Asyura tersebut, beliau dalam majlis ibnu Ziyad berkata,   ی ی (tidaklah aku saksikan kecuali keindahan).[16]

Sangat banyak lagi manifestasi sifat-sifat sempurna insani dan Ilahi yang terlukis dalam peristiwa hari-hari Karbala dan Asyura yang tidak sempat lagi kami isyaratkan, meskipun dalam bentuknya yang global. Yang jelas Imam Husain As beserta keluarga dan para sahabat-sahabatnya telah memperlihatkan kepada kita jalan suluk dan irfani yang cepat menyampaikan kita kepada Tuhan dan syuhud terhadap jalal dan jamal-Nya. Menurut riwayat, jalan dan perahu ruhani Imam Husain As adalah asra' (lebih cepat) dan lebih penuh dari lainnya.[]      


[1]. Diterjemahkan secara bebas dari do'a Arafah Imam Husain As, Abbas Qummi, Maftihul  Jinn, Hal. 476-477.

[2]. Jawadi Amuly, Hamseh wa Irfn, Hal. 46.

[3]. Syekh Muhammad Taqi Tustari, Qmus ar-Rijl, Jld. 2, Hal. 223.

[4]. Ibid, Hal. 219.

[5]. Diterjemahkan secara bebas dari do'a Arafah, Maftih al-Jinn.

[6]. Allamah Majlisi, Bihrul Anwr, Jld. 24, Hal. 329.

[7]. Allamah Majlisi, Bihrul Anwr, Jld. 41, Hal. 295.

[8]. Jawadi Amuly, Hamseh wa Irfan, Hal. 243.

[9]. Allamah Majlisi, Bihrul Anwr, Jld. 44, Hal. 196.

[10]. Allamah Majlisi, Bihrul Anwr, Jld. 45, Hal. 3.

[11]. Ibid.

[12]. Ibid, Hal. 21.

[13]. Menukil dari Ustad Jawadi Amuli, Hamseh wa Irfan, Hal. 255.

[14]. Allamah Majlisi, Bihrul Anwr, Jld. 45, Hal. 36.

[15]. Ibid, Jld. 44, Hal. 297.

[16]. Ibid, Jld. 45, Hal. 116.

Sumber: www.telagahikmah.org