Daftar Isi

Masjid Jami Al-Barkah (1818)Bangka, Jakarta Selatan

Sudah menjadi bukti sejarah kalau wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Timur, adalah daerah yang begitu banyak memiliki bangunan bersejarah. Dua daerah ini pada masa kolonial adalah daerah yang dipilih sebagai pusat aktivitas ekonomi maupun sosial oleh pemerintah maupun sipil Belanda. Maka tak heran di sana banyak bangunan bekas kantor, benteng pertahanan, atau kediaman pembesar Belanda. Kalau ada rumah besar, biasanya ada pula pemukiman pribumi di sekitarannya. Lalu di mana ada pemukiman pribumi, umumnya pasti ada tempat ibadah berupa masjid atau langgar kecil.

Tapi siapa sangka kalau di daerah Bangka ternyata ada juga sebuah masjid tua yang dibangun pada awal abad ke 19. Padahal di tahun-tahun itu, Bangka termasuk daerah pedalaman. Tapi mungkin saja, karena bisa jadi Bangka berdekatan dengan Blok M. Wilayah elit yang dirancang oleh dan untuk orang-orang Belanda ketika itu. Dan memang sejak abad ke 18 pun pembukaan daerah-daerah baru sudah dilakukan hingga ke selatan Batavia. Ada Kebayoran Lama, Condet, Cilandak bahkan hingga ke Depok sekarang.

Di Bangka, tepat di pertengahan Jalan Kemang Utara pertigaan Jalan Kemang Timur, di situ terdapat sebuah masjid dengan atap joglo mirip bangunan Masjid Demak. Masjid itu adalah Masjid Jami Al Barkah yang didirikan tahun 1818 oleh seorang yang disebut Guru Sinin. Guru Sinin ini diyakini sebagai wali yang berasal dari Banten. Tapi sesungguhnya yang ada sekarang bukan bangunan asli seperti pertama kali dibangun tahun 1818. Replika masjid ini awalnya beratapkan rumbia dengan tiang penyangga dari batang kelapa berdinding papan.

Lokasi masjid saat itu pun bukan merupakan tanah matang. Dahulunya daerah berawa-rawa dengan kedalaman satu meter. Kemudian pada tahun 1932 pemugaran masjid secara permanen mulai dilakukan. Penggunaan material modern pun mulai dipakai, seperti bahan semen, genteng, batu bata dan lain sebagainya. Mulai tahun 1935, lalu 1950, 1960 dan 1970 bentuk fisik masjid sudah banyak mengalami perubahan. Ada penambahan-penambahan bangunan lain di sekitar masjid. Misalnya teras dan pagar dalam, juga pembuatan menara pendek setinggi kurang lebih 15 meter di muka masjid.

Sejak tahun 1985 tampilan masjid bertambah cantik, apalagi dengan dipakainya bahan keramik untuk lantai dan eternit untuk langit-langitnya. Sebagaimana masjid tua lainnya, Masjid Jami Al Barkah juga meninggalkan jejak sejarahnya. Di bagian barat masjid terdapat makam-makam tua yang salah satunya merupakan makam dari Guru Sinin yang wafat tahun 1920. Juga ada makam menantu dan cucu Guru Sinin, KH.Ridi yang wafat tahun 1933 dan KH Naisin yang hidup hingga usia 132 tahun. Sebagai tetua di Bangka, Guru Sinin dikenal pula sebagai orang yang memiliki ilmu kanuragan. Di hari-hari tertentu makam-makam tua itu masih didatangi para peziarah.