Daftar Isi

Pesantren At-Taqwa, Bekasi Utara

Kawasan Bekasi Utara konon wilayah itu tercatat dalam sejarah kota Bekasi sebagai basis perjuangan melawan penjajah. Demografinya terdiri dari masyarakat religius. Tidak ada satupun dapat ditemui lokalisasi pelacuran atau tempat maksiat lainnya di wilayah tandus itu.

Berbicara tentang kawasan utara, maka tidak bisa terlepas dari semangat keberagamaan yang kental terhadap Islam. Masyarakat sekitar masih memelihara kehidupan beragamanya. Di sisi lain, kawasan utara juga masih bisa membanggakan adanya pesantren besar yang mempunyai sejarah perjuangan semasa melawan kolonialisme.

Ya itulah, Pesantren At-Taqwa yang didirikan oleh ulama kharismatis lokal, KH Nurali, pada tahun 1942. Beberapa tahun berikutnya, hampir semua santri ikut aktif dalam perjuangan fisik, dan setelah adanya dekrit presiden pada tahun 1955, mereka kembali mengaji di pesantren

Kini tongkat kepemimpinan pesantren itu ada di putranya, KH Aminnoer. Menurut KH Aminnoer, saat ini cabang yayasannya mencapai 44, sedangkan cabang pendidikannya mencapai 120 di semua tingkat, atau sekitar 99 persen dari jumlah pesantren yang ada di Bekasi. Satu cabang juga ada di luar Jawa, yaitu di Sambas dan Tebas Kalimantan Barat.

Pesantren tersebut mengembangkan sistem pendidikan sekolah. Jumlah sekolah yang dimiliki di antaranya adalah 20 TK, 62 Madrasah Ibtidaiyah, 18 Madrasah Tsanawiyah dan SMP, 13 Madrasah Aliyah, 2 SMU dan SMEA, dan 2 Pesantren Tinggi untuk putra dan putri. Di pesantren pusat jumlah santri putra sekitar 600 orang, dan putri sekitar 800 orang.

Dalam pembiayaan, pesantren menggunakan dana swadaya. Sejak awal, KH Nurali telah mengembangkan tender wakaf kepada para warga sekitar. Mereka ditawarkan untuk berwakaf sesuai dengan kemampuan, misalnya satu meter persegi atau lebih. Karena banyaknya warga yang berpartisipasi, maka pesantren memiliki lahan yang cukup luas. Kini luas areanya mencapai 100 hektare, dan sekitar 70 persennya merupakan lahan sawah. Sedangkan bagi kalangan yang tidak mampu, biasanya dengan tradisi ngeblek (birih sawah). Mereka menggarap sawah yayasan yang sebagian pendapatannya diserahkan dalam bentuk wakaf tunai.

Kiprah KH Nurali yang begitu lengkap, antara dakwah dengan lisan maupun tindakan dan angkat senjata, tidak terlepas dari proses belajarnya. Ia pernah menuntut ilmu di Mekkah selama 7 tahun. Di sana ia tidak hanya mempelajari literatur ajaran Islam, tapi juga banyak bersinggungan dengan pergerakan Islam dan semangat pan-Islamisme, serta mengikuti perkembangan jihad negara-negara Muslim dalam mengusir penjajahan.

Hampir dipastikan, KH Nurali juga banyak menyerap pemikiran tokoh kala itu, seperti Abul A'la al-Maududi di Pakistan, maupun Sayid Qutb di Mesir. Agaknya, itulah yang menjadi isnpirator semangat jihadnya yang kemudian ditularkan kepada para pejuang tanah air, khususnya di Bekasi. Ia kemudian memimpin jihad bersam-sama ulama lainnya, seperti Abdurrahman Shadri, Sholeh Iskandar, Masturo, Fudloli, dan Awing Syuhada. KH Nurali wafat pada tahun 1992 dalam usia 79 tahun.