Daftar Isi

Pesantren Pabelan, Mungkid, Magelang, Jateng

Barangkali tak banyak pesantren yang mendapat sorotan dunia internasional terutama peneliti dan kalangan LSM seperti Pesantren Pabelan di Magelang, Jawa Tengah.

Mendapat penghargaan internasional pada 1980, pesantren ini masih menjadi fokus utama perhatian peneliti nasional dan internasional. Hampir tiap bulan, santri dan pengasuh kedatangan peneliti asing yang hidup membaur di lingkungan pondok.

Melihat suasana yang ada, tak heran jika Pabelan masih merebut perhatian peneliti. Rumah-rumah joglo di sekelilingnya, kebersihan lingkungan, bangunan fisik yang asri yang menyatu dengan alam dan masyarakat sekitar, kesantunan santri menyambut kedatangan orang luar adalah kesan yang menonjol dari pesantren di jalur utama penghubung Jogjakarta dan Magelang.

Dua puluh tahun lebih, sejak pondok yang sempat diasuh KH Jafar Hammaam ini mendapat award dari Zia Ul Haq untuk bidang lingkungan dan kultural, situasi tak berubah. Jika ada yang mencolok yang bisa dilihat adalah bangunan fisik yang mulai dibuat dari batu berplester dan jumlah santri.

Tentu saja sebuah masjid joglo yang hampir menutupi masjid tua dan bersejarah.

Pohon rindang masih mengaumi. Rumah-rumah bilik yang ditata rapi masih terlihat. Sebuah makam di bagian barat dan bangunan tempat tinggal santri yang berdiri apik. Dari tempat itu, para pakar di bidang agama dan politik seperti Bachtiar Effendi dan Komarudin Hidayat lahir.

Pesantren Pabelan sesungguhnya telah lama berdiri. Namun tahun 1965, Imam Jafar Hammaam yang kala itu masih berusia 25 tahun tergelitik melihat situasi sekitar, baik ekonomi maupun lingkungan tempat tinggal. Ia adalah pria yang berprinsip bahwa pendidikan merupakan modal awal untuk hidup lebih baik.

Maka dengan hanya 35 santri, ia memulai langkahnya. Setiap habis shalat Subuh, kata KH Najid Hammaam santri Pabelan yang kala itu masih mandi di kali diharuskan membawa sebuah batu ke lingkungan pesantren. Lalu, mereka kembali ke sungai untuk membawa pasir.

Batu dan pasir tersebut tidak otomatis dijadikan bangunan melainkan dijual untuk dibelikan alat pertukangan. Dengan alat-alat tersebut KH Jafar mengajar anak didiknya membuat meja kursi untuk belajar. Ia juga mengerjakan sawah penduduk dengan sistem bagi hasil. Dari cara ini, ia mampu mendirikan bangunan tempat anak-anak Pabelan belajar mengaji.

Pabelan tak berkembang sendiri. Kyai muda itu bukan saja peduli pada anak remaja usia sekolah tapi juga seluruh masyarakat. Meski bukan arsitek, ia melihat ada yang salah dengan desain rumah penduduk. Rumah-rumah tak berjendela bagi penduduk Jawa mengandung filosofi menyimpan rejeki. Namun tak demikian dengan Kyai Hammaam. Ia melihat rumah itu tak sehat karena sirkulasi udara yang buruk.

Secara perlahan, ia berhasil mengubah sikap penduduk tentang sebuah rumah. Maka rumah-rumah di sekitar pesantren kini adalah bilik yang dianyam rapi dengan banyak jendela dan kebersihan yang terjaga. Melihat jerih payahnya, ia menyamai kedudukan Romo Mangun Wijaya yang merehabilitasi perkampungan kumuh di pinggir Kali Code YogYakarta.

Desain pesantren ini juga dibangun dengan filosofi hidup manusia. Berada pada sisi timur adalah perpustakaan yang melambangkan pencerahan. Timur adalah tempat matahari terbit. Sedang ayat Alquran yang pertama kali turun berisi perintah tentang mencari ilmu atau membaca.

Bangunan sekolah dan masjid tua yang dibangun pada 1820 dan lantas ditambahkan bangunan baru berada di tengah. Itu melambangkan usia manusia yang harus diisi dengan belajar mengenal Sang Pencipta dan tunduk ibadah kepadaNya. Berada di ujung barat, tempat matahari terbenam, adalah pemakaman yang berarti akhir hidup di dunia.

Pabelan adalah persantren terbuka bukan saja bagi dunia luar tapi juga di dalam. Fasilitas pesantren, masjid dan balai kesehatan, terbuka luas untuk masyarakat sekitar. Pelajar asal Pabelan boleh jadi santri tanpa membayar sepeserpun. Mereka juga mengikuti kegiatan penuh layaknya santri dari tempat lain. Hanya saja mereka tidak menginap.

Pesantren ini juga terbuka dalam artian tak terlalu ketat menyekat santri lelaki dan perempuan. Mereka belajar di sekolah yang sama. Masjidnya pun serupa. Hanya sepotong jalan memisahkan tempat tinggal mereka.

Di pesantren seluas 6 hektar itu, mondok sekitar 600 santri. Sekitar 192 merupakan pelajar asli Pabelan. Mereka datang dari berbagai kalangan dan telah melebur dengan kehidupan penuh santun.

Dari Kultural ke Liberal

"Kami mengajarkan kultural dan pluralisme. Apakah Islam kultural itu berarti liberal?" tanya KH Fachrurrozi, pengasuh pesantren Pabelan. Bahwa kemudian muncul aktivis Islam liberal dari pesantren Pabelan juga bukan sesuatu yang direncanakan. Dakwah yang dikembangkan di Pabelan adalah lekat dengan kultural.

"Kami mengajarkan santri untuk mengenal dirinya," tegas Fachrurrozi lagi. Untuk itu mereka tak mengarahkan pada pilihan tertentu. Pabelan hanya memberi modal dasar agar santri mampu mengenal diri dan memiliki bekal untuk hidup.

Fachrurrozi menegaskan lulus dari Pabelan tak berarti santri siap pakai. Namun santri binaannya punya modal dasar untuk berkembang dengan motivasi yang baik dan mengenal kemampuan diri. "Bila mereka jadi petani, mereka petani yang baik. Bila jadi pedagang, mereka jadi pedagang yang baik. Begitupun bila mereka jadi mahasiswa, mereka punya akhlak yang baik."

Mengenai pelajaran agama yang diberikan, Fachrurozi mengatakan tak ada kurikulum khusus. Santri kelas I (setingkat madrasah tsanawiyah) diberikan pelajaran fiqh yang populer di Indonesia yakni mazhab Syafii. Kepada mereka juga mulai diperkenalkan kajian ushuluddin dengan kekhususan mazhab Asyariyah melalui kajian Sifat 20.

Meningkat ke kelas 3, santri mulai dibekali ilmu ushul fiqh dan ayat-ayat ahkam dan ilmu hadis Bulughul Maram. Pada kelas V dan VI, kepekaan dan rasionalitas santri diasah dengan perbandingan mazhab dan agama dengan kitab induk Bidayatul Mujtahid. "Jadi, sebenarnya yang kami berikan kepada santri juga diberikan pengasuh pondok pesantren lain. Metodologinya pun sama. Hanya outputnya berbeda."

Pada pelajaran perbandingan agama, misalnya, santri juga diperkenalkan pada doktrin agama selain Islam seperti Budha, Katholik, Kristen atau agama lain. "Kami ingin menunjukkan kepada santri bahwa perbedaan teologi merupakan hal yang tak bisa dihindari." Dengan dasar itu, katanya, akan muncul sikap menghargai mereka yang berkeyakinan lain.

Bahwa kemudian beberapa alumni tergolong pelopor Islam liberal, Fachrurrozi mengaku tak bisa mengerti karena memang tak diajari tentang itu di pesantrennya. Ia hanya mengatakan bahwa sistem pendidikan yang sama bisa melahirkan bermacam orang. "Kami pernah dimintakan pendapat tentang penerapan syariat Islam. Dan kami katakan kami mendukung penerapan syariat secara benar tapi tak nampak sangar atau garang." Itulah yang bisa Pabelan berikan bagi bangsa yang plural.