Daftar Isi

Pondok Pesantren Ihya Ulumiddin, Cilacap, Jateng

Jika ada sesuatu dalam perkembangan Islam yang khas Indonesia, maka itu adalah pesantren. Di setiap tempat, kita selalu bisa menjumpai pesantren yang tertua. Tak terkecuali di Cilacap, Jawa Tengah.

Pondok pesantren Ihya Ulumiddin merupakan pondok persantren tertua di Cilacap Jawa Tengah. Lembaga itu dibangun dengan keikhlasan dan keteguhan hati serta kedalaman wawasan agama ulama kelahiran Purworejo, Jawa Tengah, KH Badawi Hanafi.

Dengan penuh kesabaran dan ketekunan, bertempat di sebuah ruang yang sederhana dan bersahaja yang dikenal dengan nama 'langgar duwur', KH Badawi Hanafi memulai mengajar dan membimbing santrinya. Anak-anak, orang tua dan masyarakat datang untuk mengaji. Ada yang menetap sebagai santri, namun ada pula yang hanya sekedar minta keberkahan dan didoakan agar diberikan keselamatan.

Kemudian datang pula santri dari berbagai daerah sehingga menambah ramai suasana. Banyak yang menghafal dan melafazkan ayat-ayat Alquran. Dengan bertambahnya santri dan kebutuhan akan sarana pendidikan yang memadai didukung semangat kebersamaan yang tinggi pada 24 Nopember 1925 didirikan pondok pesantren di Desa Kesugihan, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap, yang kemudian dikenal dengan nama pondok pesantren Kesugihan.

Kepemimpinan ponpes ini kemudian dilanjutkan oleh KH Ahmad Mustholih dan KH Chasbulloh Badawi, putra pendiri. Dalam asuhan kedua kiai ini, pesantren mengalami perkembangan pesat sehingga lahir pula lembaga-lembaga pendidikan formal mulai TK hingga madrasah aliyah. Setelah KH Mustholih Badawi wafat pada 1999, kepemimpinan pondok pesantren dipegang adiknya, KH Chasbulloh Badawi, hingga sekarang.

Pada 1961 pondok pesantren ini berubah nama menjadi Pendidikan dan Pengajaran Agama Islam (PPAI). Pada 1983 PPAI diubah menjadi pondok pesantren Ihya Ulumiddin. Perubahan ini dimaksudkan untuk mengenang pendirinya, KH Badawi Hanafi, karena ia sangat mengagumi pembahasan Imam Al Ghozali, terutama kajian dan pemahaman dienul Islam yang tertuang dalam masterpiecenya, Ihya Ulumuddin.

Kegiatan ponpes ini makin berkembang. Santri pun berdatangan dari berbagai daerah termasuk luar Jawa seperti Lampung, Kalimantan, Palembang, Aceh dan Medan.

Saat ini jumlah santri yang menetap 1.500 orang. Dari jumlah tu, 700 santri wanita yang seluruh ruangnya terpisah dari santri lelaki.

Ponpes ini berdiri di atas lahan seluas lima hektar. "Pembangunan bertahap sesuai dengan kebutuhan."

Di samping tingkat pendidikan dari TK hingga aliyah, di pondok ini ada juga sekolah umum yaitu SMP dan SMU. Bahkan sejak 1988 didirikan perguruan tinggi yaitu Institut Agama Islam Imam Ghozali. Keseluruhan tenaga pengajar berjumlah 200 orang.

Sistem pendidikan di pesantren ini adalah salafi model bandungan dan sorogan. Model bandungan adalah mengaji salah satu kitab yang diikuti banyak santri. Sedangkan sorogan, satu kitab dihadapi satu orang. Beberapa kitab dipelajari terutama fikih, tasawuf, akhlak, dan nahwu sorof.

Mengenai biaya pendidikan, KH Chasbulloh mengatakan tidak melebihi biaya sekolah umum di lingkungan ponpes. Bahkan, ada beberapa anak yang sama sekali tidak dikenakan biaya. Dulu istilahnya ashabus suffah.

Pondok pesantren terbesar dan tertua di Cilacap ini bisa digolongkan sebagai ponpes transisi modern karena di samping menganut pendidikan modern, teori pendidikan tradisional yang berguna masih tetap dipelihara. Kitab Kuning menjadi pelajaran wajib bagi para santri.

Menjelang Ramadhan, ponpes ini meliburkan santrinya selama beberapa pekan. Saat Ramadhan tiba, santri kembali masuk untuk melaksanakan program khusus puasa. Program ini berupa pendalaman dan pengamalan materi agama.