Daftar Isi

Pesantren Al-Istiqomah, Sirnaresmi, Sukabumi

Jarang ada pondok pesantren yang secara khusus menawarkan terapi kejiwaan. Apalagi jika terapi itu dikembangkan dari metode psikoterapi Islam. Jika hati sedang rusuh, stress atau ingin melakukan 'pendakian spirituil,' maka Pondok Pesantren Al-Istiqomah di Desa Sirnaresmi, Gunung Puyuh, Sukabumi adalah tempat yang sangat cocok untuk itu.

Pesantren ini banyak mengkaji terapi spiritual dengan cara mengembangkan psikoterapi Islam. Terapi itu dilakukan untuk memperoleh ketenangan jiwa dengan cara mendekatkan diri kepada Allah SWT. Di pesantren ini psikotherapi diberikan tidak hanya kepada mereka yang mengidap problem kejiwaan. Di pesantren ini, 'pendakian spiritual' ditekankan bagi para santri dan masyarakat umum yang membutuhkannya.

Psiko spiritual ini mulai disosialisaikan oleh sesepuh Pesantren Istiqomah, KH Drs M Royanuddin (45). Dia adalah kyai muda alumni IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kyai yang juga alumni Pondok Pesantren Syamsul Ulum, Gunung Puyuh, Sukabumi ini menerapkan beberapa tahapan dalam mempraktikkan terapinya. Tahapan itu sering disebut riyadhoh, mujahadah, dan muqarobah.

Tahap riyadhoh diisi dengan pembacaan dzikir, kalimah thoyibah, istighfar, dan shalawat Nabi Muhammad SAWW yang dipimpin oleh pembimbing. Kyai pembimbing ini akan mengantarkan para jama'ah untuk introspeksi diri sekaligus mencapai tahap mujahadah.

Dalam tahap mujahadah para santri didorong untuk menghayati dan mengagumi sifat-sifat Allah SWT dan Nabi Muhammad SAWW. Sedangkan muqarobah adalah keberhasilan seorang hamba untuk selalu dekat dengan Allah SWT sehingga bisa merasakan bimbingan-Nya dalam perilaku sehari-hari.

Sebagai pesantren yang berbasis psikoterapi, para santri selalu riyadhoh sebanyak dua kali dalam sepekan. Sedangkan masyarakat umum hanya diikutkan aktivitas itu sekali dalam sebulan, yakni setiap tanggal 15.

Pesantren Istiqomah berdiri tanggal 22 April tahun 1991. Bermodalkan tanah seluas 7000 meter persegi, awalnya Pesantren Istiqomah hanya menerima 40 orang santri putra dan putri. Mereka datang dari kampung sekitar pesantren, Kabupaten Cianjur dan Bogor. Selama dua tahun ruang belajar mengontrak di sebuah madrasah diniyyah setempat.

Untuk menginap santri, pesantren itu mengontrak rumah penduduk. Barulah pada tahun 1995 Istiqomah memiliki dua ruang belajar, satu asrama putri dan satu asrama putra.

Dalam perkembangannya, Pesantren Istiqomah ini juga memadukan metode pendidikannya menjadi terpadu. Kajian salafiyah dengan pendidikan modern diajarkan menjadi satu selama enam tahun (tiga tahun tsanawiyyah, tiga tahun 'aliyah). Selain belajar kitab kuning santri diajarkan pelajaran kimia, bahasa Inggris, dan ilmu lain seperti yang diajarkan di SLTP dan SLTA umum.

Di lain pihak, para santri juga dibekali dengan pendidikan kewirausahaan. Mereka diberi kesempatan untuk belajar cara bertani jagung dan menanam pohon jati emas. Untuk kepentingan itu, dia bekerjasama dengan beberapa koperasi. Dari kerjasama itu, pesantren mampu menanam jati emas di atas lahan seluas 15 hektar.

Selain bekerjasama dengan berbagai koperasi, Pesantren Istiqomah juga merangkul Pesantren Al Fatah Cileungsi, Bogor, pimpinan KH Muhyidin Hamidi dan Pesantren Daarut Taqwa Cibinong pimpinan KH Ahmad Tajudin. Kerjasama dengan dua pesantren itu meliputi pendidikan organisasi dan kepemimpinan bagi para santri.

Pesantren Istiqomah hingga kini telah meluluskan 354 alumni. Kebanyakan alumninya melanjutkan sekolah ke jenjang perguruan tinggi atau menjadi pengajar di pesantren lain. Sebagian mereka mengajar di pesantren yang berada di Flores, Papua, Kalimantan, dan Lampung. Santri yang kini belajar di Istiqomah sebanyak 188 orang, terdiri dari 90 putra dan 98 putri.

Minimnya pendaftar ke pesantren itu umumnya terjadi akibat minat masyarakat terhadap dunia pesantren masih rendah, serta memposisikan lembaga itu sebagai pendidikan alternatif.