PASAL 2

HUKUM-HUKUM BENDA NAJIS

Masalah 175: Untuk kesahan salat dan tawaf, baik salat dan tawaf wajib maupun sunah, tubuh kita disyaratkan harus suci, termasuk rambut, kuku, dan seluruh bagian tubuh kita yang lain, serta pakaian yang menutupi atau yang tidak menutupi tubuh kita, kecuali beberapa pakaian yang dikecualikan. Begitu juga pada saat kita bersujud, tempat dahi kita disyaratkan harus suci. Tetapi tempat anggota-anggota sujud yang lain tidak harus suci selama benda najis itu tidak berpindah ke anggota sujud kita.

Masalah 176: Kita wajib menghilangkan benda najis dari seluruh bagian masjid, termasuk—berdasarkan ihtiyâth wajib[1]—bagian luar temboknya. Sama seperti hukum masjid, makam suci para imam maksum as. dan bangunannya, serta seluruh benda yang wajib diagungkan dalam kaca mata syariat sehingga penajisannya bertentangan dengan keagungan benda itu, seperti tanah makam suci Imam Husain as.

Masalah 177: Menyucikan masjid tersebut adalah wajib kifâyah dan tidak khusus dikenakan kepada orang yang telah menajiskannya. Begitu juga kewajiban menyucikan itu adalah sebuah kewajiban yang harus segera dilaksanakan bila ia mampu.

Masalah 178: Kewajiban yang telah disebutkan di atas tidak berbeda antara masjid yang masih bagus, masjid yang sudah rusak, dan masjid yang sudah ditinggalkan.[2] Bahkan berdasarkan ihtiyâth wajib, hukum itu juga masih berlaku untuk masjid yang sudah berubah fungsi, seperti sebuah masjid digasab orang dan dijadikan rumah, losmen, atau toko.[3]

Masalah 179: Berdasarkan ihtiyâth wajib,[4] hukum-hukum benda najis juga berlaku atas sebuah benda yang telah menyentuh benda najis tersebut. Dengan demikian, suatu benda yang menyentuh sebuah benda yang telah menyentuh air kencing harus dicuci sebanyak dua kali, dan begitu seterusnya. Ya, jika perantara menjadi banyak,[5] maka berdasarkan pendapat yang aqrab (lebih dekat) benda yang menyentuh sebuah benda yang telah menyentuh suatu benda yang terkena najis (mutanajjis) tidak menjadi najis.



[1] Syaikh Behjat: Berdasarkan ihtiyâth wajib, kecuali apabila pewakaf tidak memasukkan bagian luar tembok itu ke dalam bagian masjid.

[2] Sayyid Khu’i: Berdasarkan pendapat yang lebih kuat, hukum itu tidak berlaku lagi apabila masjid itu telah rusak.

[3] Imam Khamenei: Jika bekas-bekas masjid itu telah musnah dan tidak ada harapan dapat dibangun kembali, maka keharaman menajiskannya tidak dapat dipastikan, meskipun berdasarkan ihtiyâth mustahab kita jangan menajiskannya.

[4] Syaikh Behjat: Benda yang terkena najis (mutanajjis) dapat menajiskan, meskipun perantara berbilang dan menjadi banyak.

[5] Imam Khamenei: Berdasarkan ihtiyâth wajib untuk benda yang menyentuh benda (perantara) kedua. Adapun benda yang menyentuh benda (perantara) ketiga, makan benda tersebut tidak menjadi najis.