Back Index Next

Selepas Nabi Musa, kaum Yahudi selalu diingatkan tentang risalah Allah yang secara berangsur-angsur diturunkan kepada para nabi dan rasul. Meskipun begitu, tetap saja kaum Yahudi membandel, menentang, dan menolak banyak dari nabi-nabi. Kemunafikan, pengingkaran, keraguan, dan perdebatan tentang kepemimpinan, meskipun sudah ada petunjuk yang jelas dari nabi, muncul di seluruh bangsa dan agama. Selarna manusia terus tunduk kepada pengaruh hawa nafsunya, maka dia tidak akan dapat mengikuti jalan ilahi yang lurus.

وَقَالَ لَهُمْ نِبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَن يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِّمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَى وَآلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ الْمَلآئِكَةُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

248. Dan nabi mereka mengatakan kepada mereka, "Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja ialah kembalinya tabut kepadamu yang di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun, dan tabut itu dibawa oleh malaikat." Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagi orang-orang yang beriman.

Tabut adalah sebuah peti yang berisi firman Tuhan yang diwariskan terus-menerus dari satu rasul ke rasul lainnya. Tabut dikabarkan memiliki sifat mukjizat. Secara fisik, tabut bisa berupa perahu perjanjian yang ditinggalkan Musa untuk para rasul-rasul Israel. Secara maknawiah, tabut bisa berarti "hati yang di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanrnu." Meskipun demikian, para pengikut yang meragu saat itu baru dapat melihat bukti nyata akan kebenaran kerasulan nabi-nabi mereka ketika kondisi tenang dan damai itu telah hadir. Dengan kasih sayang ilahi, para rasul Allah memberikan mukjizat dan bukti-bukti nyata dalam berbagai bentuk. Bukti-bukti dan kejadian-kejadian mukjizat ini membuat hati manusia siap untuk menerima dan untuk disucikan.

فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِالْجُنُودِ قَالَ إِنَّ اللّهَ مُبْتَلِيكُم بِنَهَرٍ فَمَن شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَمَن لَّمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّي إِلاَّ مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً بِيَدِهِ فَشَرِبُواْ مِنْهُ إِلاَّ قَلِيلاً مِّنْهُمْ فَلَمَّا جَاوَزَهُ هُوَ وَالَّذِينَ آمَنُواْ مَعَهُ قَالُواْ لاَطَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنودِهِ قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلاَقُوا اللهِ كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللّهِ وَاللّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

249. Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata, "Sesungguhnya Allah akan mengujimu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kalian meminum airnya, ia bukanlah pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali seciduk tangan, maka ia adalah pengikutku." Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka, tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia menyebrangi sungai itu, orang-orang yang telah minuin berkata, "Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya." Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata, "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar."

Tema pokok dari Alquran adalah sebagai pembeda (furqan), dan ayat ini menggambarkan perbedaan antara orang-orang yang merupakan pengikut sejati dalam jalan kebenaran dan orang-orang yang selain itu. Thalut menguji prajuritnya dengan perantaraan sungai, dan terbukti hanya beberapa di antara mereka yang setia beriinan. Kisah ini menggambarkan bahwa kualitas seringkali mengatasi kuantitas. Kualitas atau sifat kesabaran memancar dari keimanan: kesabaran merupakan aspek keabadiaan. Karenanya, dengan kesabaran kita beroleh kemenangan.

وَلَمَّا بَرَزُواْ لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالُواْ رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

250. Tatkala mereka tampak oleh Jalut dan tentaranya, mereka (Thalut dan tentaranya) pun berdoa, "Ya Tuhan kami, tnangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami dari orang-orang kafir."

Ayat 251-260

فَهَزَمُوهُم بِإِذْنِ اللّهِ وَقَتَلَ دَاوُدُ جَالُوتَ وَآتَاهُ اللّهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُ مِمَّا يَشَاء وَلَوْلاَ دَفْعُ اللّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ الأَرْضُ وَلَكِنَّ اللّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ

251. Mereka mengalahkan tentaraJalut dengan izin Allah dan Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya pemerintahan dan hikmah, dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah Bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia atas alam semesta.

تِلْكَ آيَاتُ اللّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ وَإِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ

252. Itu adalah ayat-ayat Allah. kami bacakan kepadamu dengan benar dan sesungguhnya engkau benar-benar nabi yang diutus.

Yang sedikit mengalahkan yang banyak. Kemunculan Daud itu karena Allah telah memberinya karunia ilmu dan kebijaksanaan. "Jalan Tengah" itu berada di antara kekuatan-kekuatan yang saling berlawanan, antara kebajikan dan kejahatan, ilmu dan kebodohan, iman dengan kekufuran, kedamaian dan kegelisahan. Arus dinamis ini menghantarkan pada suatu keseimbangan dan keadilan ilahi. Dengan merenungkan dan menyadari bahwa segala sesuatu itu selalu berubah, manusia dapat meraih pengetahuan, kebijaksanaan, dan kedekatan kepada Allah.

تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِّنْهُم مَّن كَلَّمَ اللّهُ وَ رَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ وَلَوْ شَاء اللّهُ مَا اقْتَتَلَ الَّذِينَ مِن بَعْدِهِم مِّن بَعْدِ مَا جَاءتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَلَكِنِ اخْتَلَفُواْ فَمِنْهُم مَّنْ آمَنَ وَمِنْهُم مَّن كَفَرَ وَلَوْ شَاء اللّهُ مَا اقْتَتَلُواْ وَلَكِنَّ اللّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ

253. Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah bicara langsung kepadanya, dan sebagian lagi Allah tinggikan beberapa derajat. Dan kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapa mukjizat serta kami perkuat dia dengan Ruhul Kudus. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidak akan saling berbunuh-bunuhan orang-orang yang telah kedatangan rasul itu. Di antara mereka ada yang beriman dan ada pula yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah Mereka saling membunuh. Akan tetapi Allah berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya.

Seperti halnya ada beberapa ayat yang lebih jelas dibanding ayat-ayat lainnya, demikian juga para rasul Allah, memiliki derajat yang berbeda-beda. Kasih sayang Allah dilaksanakan lewat para rasul yang membawa mata air kesegaran, suatu mata air yang mencerahkan manusia. Meskipun demikian, pilihan mutlak tetap terpulang kepada manusia, sebagai satu-satunya makhluk yang dapat menge-nali, memilih, serta mengikuti antara jalan iman atau jalan kekufuran.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَنفِقُواْ مِمَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَنيَأْتِيَ يَوْمٌ لاَّ بَيْعٌ فِيهِ وَلاَ خُلَّةٌ وَلاَ شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ

254. Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu, sebelum datang hari yang pada hari itu, tidak ada lagi jual beli, tidak ada lagi persababatan yang akrab, dan tidak ada lagi syafaat. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang lalim.

Dalam perniagaan sehari-hari, manusia melakukan penawaran jual-beli, pertemanan, dan pertolongan. Pada hari pengadilan, di mana segala bentuk pertobatan sudah tidak diterima, yang akan dinilai adalah tingkat kemurnian hati dan ketundukan seseorang yang dinilai pula dari tindakannya dalam dunia. Hati orang mukmin penuh dengan amal, kemurahan hati, kepasrahan, dan tindakan baik di jalan Allah (fi sabilillah). Sedangkan orang-orang yang hidup dalam kekufuran, mereka tidak akan mampu melihat jalan terang kebebasan. Orang-orang kafir akan hidup dalam neraka kebingungan selamanya.

اللّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاء وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

255. Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya; tidak mengantuk dan tidakpula tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di Bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di badapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah kecuali apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan Bumi. Dan Allah tidak merasa berat rnemelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.

Ini adalah ayat kursi yang merupakan pancaran dan aplikasi dari kekuasaan Allah. Allah adalah Zat yang Maha Esa, Mahahidup, Maha Mengums segalanya, dan Mahaada yang kehadiran-Nya meliputi segala keadaan, tindakan, dan amal penciptaan yang dapat dirasakan, baik alam gaib atau lahir, ataupun alam yang dekat atau jauh. Hukum-hukum Allah itu mutlak dan tidak dapat diganggu-gugat, "Tidak mengantuk dan tidak pula tidur" (la ta'khudzuhu sinatuw wala naum). Allah itu di luar jangkauan waktu dan kondisi, karena Dia meliputi segala waktu dan kondisi. "Kecuali apa yang dikehendaki-Nya" memiliki arti bahwa segala sesuatu eksis menurut hukum-hukum dan firman-firman-Nya, baik yang jelas maupun yang tersembunyi.

"Apa-apa yang ada di hadapan dan di belakang Mereka" (ma baina aydihim wa ma khalfahum) memiliki arti bahwa Allah meliputi waktu. "Mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah, kecuali apa yang dikehendaki-Nya" (wa la yuhithuna bi syain min 'ilmihi illa bi ma sya`). Maksud kata "yang dikehendaki-Nya" adalah derajat kedekatan seseorang kepada Allah, yang paralel dengan derajat kejauhan kepada sesuatu selain Allah. Semakin seseorang dapat melihat jalan Allah, semakin ia memperoleh pengetahuan tentang-Nya. "Kursi-Nya" adalah suatu kursi di mana para penghuni alam nir-waktu dan nir-ruang berada. Kursi-Nya meliputi langit dan Bumi. Pada hakikatnya, hanya ada Allah. Segala sesuatu diciptakan dan dipelihara oleh Allah.

"Allah merasa tidak berat memelihara keduanya" (wa la yauduhu hifzhuhuma). Tidak ada sesuatu yang dapat terjadi tanpa seizin-Nya. Ayat Kursi merupakan ayat perlindungan, karena jika seseorang dapat menyerahkan dirinya menuju pengetahuan bahwa Allah menguasai dan meliputi segala sesuatu, maka ia akan dijaga dan dilindungi dalam cinta dan keseimbangan.

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىَ لاَ انفِصَامَ لَهَا وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

256. Tidak adapaksaan dalam agama. Sesungguhnya, telah jelas jalan yang benar dari yang sesat. Karena itu, barangsiapa ingkar kepada tagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang amat kuat dan tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Kita akan selamat jika kita berpegang pada tali pengaman, berupa amal baik, sepanjang perjalanan kita. Seseorang tidak dapat memaksakan kepada orang lain untuk mengikuti keselamatan, melalui kasih sayang: banyak orang yang lebih suka berkeliaran di jalan penuh godaan yang menghalangi jalan lurus.

اللّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُواْ يُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوُرِوَالَّذِينَ كَفَرُواْ أَوْلِيَآؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُم مِّنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

257. Allah pelindung orang-orang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir, pelindung-pelindung-Nya adalah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka adalah penghuni neraka dan kekal di dalamnya.

Kita terlahir dalam kegelapan. Namun, dengan Islam, Iman, dan Ihsan (amal baik), kita dapat mengetahui sebab mendasar dan faktor pemelihara dari penciptaan. "Allah adalah cahaya langit dan Bumi" (Alldhu nurus-samawati wa al-ardh; Q.S. 24: 35). Hakikat ruh adalah cahaya (nur). Kekufuran menghalangi pengetahuan tentang hakikat. Kaum kafir kekal berada dalam api neraka dan dalam keadaan gelisah (fiha khalidun), karena mereka memang layak mendapatkannya. Allah sangat mengasihi orang yang betul-betul beriman dan Dia akan memandu mereka dengan cahaya. Melalui keimanan sejati, seseorang dapat memasuki kepasrahan, kedamaian, dan rahmat, yaitu keadaan yang berlahuh pada Tuhan. Perjalanan ini dapat diumpamakan seperti keluar dari tandusnya padang pasir untuk menuju kesuburan oase kesenangan yang abadi. Lawannya adalah perjalanan dari cahaya penciptaan menuju kegelapan kepompong—kuburan, egoisme, keterasingan, dan kekafiran.

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَآجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رِبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَاأُحْيِي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللّهُ لاَيَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Back Index Next