Ayat 91-96

فَسَلَامٌ لَّكَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ

91. Maka keselamatan bagimu karena kamu dari golongan kanan.

Surah ini adalah tentang berbagai keadaan berbeda yang mungkin dialami manusia sesuai dengan tingkatan tauhidnya. Orang-orang yang didekatkan kepada Allah (al-muqarrabun) akan jauh dari selain diri-Nya dan, karena itu, dekat dengan-Nya.

Golongan kanan adalah orang-orang saleh, mereka yang bertindak secara cermat. Sebagian penafsir Alquran (mufassir) menggambarkan golongan kanan (ashhāb al-yamin) sebagai ashhāb al-mujāhadah, yakni orang-orang yang berjihad, orang-orang yang terus-menerus berjuang dan bersabar dalam menanggung penderitaan mereka. Akan ada kedamaian bagi mereka, meskipun mereka berada dalam cobaan dan kegelisahan. Kehidupan ini adalah gudang cobaan dan penderitaan. Akan tetapi, jika cobaan itu dijalani di atas jalan yang ditempuh oleh Nabi Muhammad saw., maka ia akan terasa ringan dan bisa ditanggung. Bila tidak demikian, seorang yang waras hanya bisa melompat dari jendela dan terang-terangan menyatakan bahwa eksistensi dirinya sama sekali tidak bisa dipahami. Kehidupan ini adalah tempat cobaan dan kesulitan di mana pembangkangan atas rahmat Allah dihapuskan. Manusia tidak punya pilihan kecuali harus berjihad.

وَأَمَّا إِن كَانَ مِنَ الْمُكَذِّبِينَ الضَّالِّينَ

92. Dan adapun jika ia termasuk dalam golongan orang-orang yang mendustakan lagi sesat.

فَنُزُلٌ مِّنْ حَمِيمٍ

93. Maka ia mendapat hidangan air yang mendidih.

وَتَصْلِيَةُ جَحِيمٍ

94. Dan dibakar di dalam neraka.

"Dan adapun jika ia termasuk dalam golongan orang-orang yang mendustakan lagi sesat" berarti: jika ia telah mengingkari satu-satunya Kebenaran, jika ia mendustakan tauhid. Orang seperti itu dihitung termasuk dalam golongan orang-orang yang mendustakan dan sesat (mukadzdzibīn adh-dhāllin). Pertama, ia berdusta, dengan mengingkari apa yang sebetulnya dipandang benar oleh hatinya. Jika manusia mengingkari rasa utang budinya kepada AUah, maka ia akan berada dalam kerugian.

"Maka ia mendapat hidangan air yang mendidih." Manusia bisa minum air panas mendidih di dunia ini dan di akhirat nanti. Ketika seseorang merasa sangat marah dan gelisah, maka segala upaya dan usaha untuk melenyapkan amarah itu akan ditolak dan hanya akan semakin menyulut emosinya saja. Hujan rahmat yang sejuk tidak disadarinya dan, karenanya itu, terasa panas bagaikan air mendidih. Api lahiriah dapat dicegah agar tidak semakin meluas dan diketahui batas-batasnya. Sementara itu, api batiniah seperti hasrat, nafsu, rasa takut, dan amarah tidaklah berbatas. Manusia sendiri adalah pohon yang memberi kayu bagi api. Keadaan puncak kaum mukadzdzibīn pun menjadi nuzulun min hamim. Rumah mereka adalah air yang mendidih, api neraka. Mereka tinggal dalam jahim, neraka yang memanggang.

إِنَّ هَذَا لَهُوَ حَقُّ الْيَقِينِ

95. Sesungguhnya (yang dituturkan) ini adalah suatu keyakinan yang benar.

فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ

96. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tubanmu Yang Mahaagung.

"Sesungguhnya (yang dituturkan) ini adalah suatu keyakinan yang benar." Seseorang akan memasuki kehidupan akhirat dengan membawa segenap amalnya dalam kehidupan di dunia ini—dan amal-amal itu didasarkan pada niat. Manusia telah membuat kunci neraka atau kunci surga, dan mulai mengalami keadaan-keadaan itu di dunia ini berdasarkan niatnya. Tidak ada diskontinuitas atau keterputusan. Mereka yang telah membuat kunci neraka sebenarnya sudah mengalaminya sekarang. Kehidupan dunia ini berkesinambungan dengan kehidupan akhirat nanti.

Orang yang membuat kunci kebahagiaan, kunci menuju surga, sudah memasuki keadaan itu. Arsip yang sudah digenggamnya berupa ilmu dan amal digunakan untuk melembutkan sisi-sisi kasar dari dirinya, kepribadiannya, berikut segala macam keinginan atau hasratnya. Pada akhirnya, jika ia memang ingin menyirnakan semuanya itu, menjadi sebuah non-entitas, maka ia akan mengenal satu-satunya Wujud hakiki. Semakin ia menegaskan identitasnya, semakin ia kurang mampu melihat Wujud hakiki itu.

Nabi Muhammad saw. bersabda, "Tidak ada dua hati di dalam dada manusia." Jika niat dan maksud seseorang adalah mengenal, maka ia akan mengenal Allah. Dan begitu Anda sudah mengenal Allah, tidak ada masalah lagi dengan yang lainnya. Jika niat Anda hanyalah menjadi kaya, maka Anda akan mendapatkannya dengan segala kesulitan yang ada di dalamnya. Jika Anda menginginkan rumah dan anak-anak, maka Anda juga akan mendapatkannya dengan segala kekecewaan yang ada. Anda tidak dapat memperoleh sesuatu tanpa juga mendapatkan keba-likannya. Inilah keseimbangan. Alquran menyebutnya al-mīzān (keseimbangan), dan hukum-hukum yang mengatur kehidupan ini pun berada dalam keadaan seimbang. Kehidupan ini bukanlah kekacauan (chaos), melainkan keteraturan (cosmos)—dalam keseimbangan sempurna.

Amirul Mukminin, 'Ali bin Abi Thalib a.s., pernah mengatakan bahwa hal pertama yang dilihat oleh manusia yang beriman dan pasrah adalah pandangan sekilas tentang Tuhan Yang Mahabenar, yang selama ini ia ingin beroleh keyakinan tentangnya. Keyakinan itu muncul dengan cara mempertanyakan, mempelajari, memahami, dan bergerak di sepanjang jalan, dengan menghayati Alquran. Tahap pertama keyakinan itu adalah seperti diberitahu bahwa ada kebakaran di hutan dan Anda mempercayai kebenaran informasi sang pembawa berita. Ini disebut 'ilm al-yaqīn, pengetahuan yang yakin. Tahap kedua adalah benar-benar melihatnya, menyaksikan kebenaran berita itu. Inilah 'ayn al-yaqīn, inti atau sumber keyakinan. Tahap ketiga adalah haqq al-yaqin, kebenaran keyakinan, yakni benar-benar merasakan panasnya api yang membakar itu. Orang bisa merasakan panasnya api dengan berada di dekatnya atau karena terbakar oleh api itu. Sama sekali tidak ada keraguan tentang hal itu. Tahap keempat adalah baqq al-haqq, kebenaran yang sebenar-benarnya, yakni ketika seseorang terbakar oleh api itu dan tidak ada sedikit pun yang tersisa.

Lā huwa illā hū: Tidak ada sesuatu pun selain Dia. Inilah segel terakhir Kebenaran. Orang terbakar di dalamnya. Setelah segel itu telah terukir, tidak ada seorang pun bisa mengambilnya dari Anda, karena Anda telah membayar utang anda.

Setelah menerima risalah, yang bisa dilakukan seorang mukmin adalah mengagungkan—dengan izin-Nya, dengan masuk melalui pintu itu, dengan nama Allah—kesadaran tertinggi yang meliputi segala sesuatu, kesadaran tentang kehadiran Allah, Tuhan Yang Mahaagung, Mahatinggi, dan Mahaperkasa. Menyebut nama-Nya berarti bahwa seseorang mengabaikan nama-nama lain, label-label lainnya. Seorang mukmin percaya bahwa ia akan memasuki keadaan itu, menuju rumah Allah, menyeru Allah, mengarungi padang kebingungan, menyeru dan menyeru, hingga ia terbangun dan sadar. Lalu, ia menyadari bahwa ia sudah berada di dalam rumah Allah, tetapi ia tidak mengetahui lantaran tertutup oleh imajinasinya sendiri.[]