Ayat 71-80

أَفَرَأَيْتُمُ النَّارَ الَّتِي تُورُونَ

71. Maka terangkanlah tentang api yang kamu nyalakan.

أَأَنتُمْ أَنشَأْتُمْ شَجَرَتَهَا أَمْ نَحْنُ الْمُنشِؤُونَ

72. Kamukah yang menciptakan kayu (bakar)nya, atau Kamikah yang menjadikannya?

Kata syajar berarti pohon. Dalam kebudayaan Islam, pohon secara tradisional melambangkan pohon kehidupan; segenap rantingnya melambangkan seluruh aspek penciptaan yang berkaitan dengan sebuah batang yang akarnya—yang memberikan zat-zat makanan ke seluruh pohon—menghunjam ke dalam tanah. Apakah manusia mengetahui akar kehidupan? Apakah ia mengetahui maknanya? Apakah ia yang telah menciptakannya? Apakah ia yang telah menciptakan api? Yang perlu dilakukannya adalah menggosok dua ranting kayu berbarengan untuk memperoleh percikan bunga api; sebenarnya, ia tidak melakukan apa pun. Ia hanya sekadar mengalami—Allah sajalah sang Pencipta (munsyi'). Asal-usul kehidupan ada pada satu-satunya Tuhan Yang Mahabenar, pemilik segala sesuatu.

نَحْنُ جَعَلْنَاهَا تَذْكِرَةً وَمَتَاعًا لِّلْمُقْوِينَ

73. Kami menjadikan api itu sebagai peringatan dan harta yang berguna orang-orang yang bepergian di padang pasir.

فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ

74. Maka bertasbihlah kamu dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahaagung.

Kata tadzkirah berasal dari dzikr, yang bermakna mengingat, kesadaran, dan sebuah jalan lorong. Dalam bahasa Arab modern, tadzkirah berarti tiket. Ini dimaksudkan untuk mengingatkan siapa saja yang menghentikan Anda di pintu gerbang bahwa Anda sebenarnya sudah diperbolehkan masuk ke dalam situasi berikutnya. Inilah persyaratan untuk masuk dengan mengingatkan sang pemeriksa karcis atau tiket.

Kata sandi untuk memasuki pintu kejayaan adalah Nama (ism). Di pintu, sewaktu sedang diterima, Nama itu harus disebutkan. Seseorang yang shidq, orang yang benar, berkata, "Allah, atau Tuhanku." Diriwayatkan dalam banyak hadis bahwa ketika ayat, "Maka bertasbihlah kamu dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahaagung" turun kepada Nabi Muhammad saw., beliau menjadikannya sebagai jalan ibadah. Beliau meminta kaum muslim untuk mengucapkan, "Subhana rabbi al-'azhim wa bihamdih" sewaktu mereka mengerjakan rukuk, karena seseorang melakukan rukuk sesudah berdiri dan menyaksikan kehidupan ini, kehidupan akhirat, api neraka, surga, dan asal-usul. Siapa pun yang memuji satu-satunya Tuhan Yang Mahabenar pastilah akan didengar, karena Tuhan Yang Mahabenar adalah Maha Mengetahui. Sesudah melakukan hal itu, seseorang akan merasa hina dan tidak berarti. Ketika seseorang berada dalam perasaan rendah, barulah ia bisa berbicara tentang Yang Mahatinggi (al-A'la)— subhana rabbi al-a'lâ wa bihamdih. Dalam keadaan tidak berarti itu, mata lahiriah tidak lagi berfungsi. Mata batiniah mampu melihat keagungan Zat Yang Mahatinggi, Mahaagung.

فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ

75. Maka Aku bersumpah dengan tempat jatuhnya bintang-bintang.

وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَّوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ

76. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui.

"Maka Aku bersumpah dengan tempat jatuhnya bintang-bintang" berarti bahwa Aku bersumpah dengan kebenarannya, tempat kebenaran itu. Kata mawaqi' (posisi, tempat jatuhnya sesuatu) berasal dari kata waqa’a yang berarti jatuh. Nujum adalah bintang, atau sesuatu yang bercahaya—Aku bersumpah dengan cahaya, cahaya risalah ini yang bersinar, pijaran kebenaran yang menyala di hati kaum mukmin. Buktinya adalah bahwa risalah itu menekan tombol yang tepat dan benar dalam hati dan menyalakannya. Setiap orang adalah bintang—berbeda tetapi juga sama. Inilah ikrar kebenaran tentang realitas fisik. Inilah ikrar yang membuktikan kesempurnaan berbagai posisi dari segala sesuatu dalam ciptaan ini. Posisi tetap dari bintang-bintang adalah manifestasi dari tatanan alam semesta. Sesungguhnyalah, posisi-posisi tetap ini bersifat dinamis. Posisi-posisi ini tidaklah kaku, melainkan berinteraksi dengan lingkungannya.

إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ

77. Sesungguhnya Alquran ini adalah bacaan yang sangat mulia.

فِي كِتَابٍ مَّكْنُونٍ

78. Dalam kitab yang terpelihara.

Alquran sangat layak dan pantas dibaca. Kitab ini adalah sesuatu yang telah dihimpun dan dikumpulkan—pengungkapan tentang Tuhan Yang Mahabenar. Kitab ini meliputi dan mencakup apa yang bisa dialami dan dipahami tentang Tuhan Yang Mahabenar. Alquran sangat berguna dalam mengajari manusia untuk menempuh hidup lurus, harmonis, dan bahagia.

Alquran tidak bisa dihampiri atau dipahami bila didekati melalui batas-batas dualitas. Jika pembacanya dibebani dengan dualitas, penuh dengan ketidakpasrahan, maka Alquran pun terhijab baginya. Sebagai pengungkapan murni tentang zat Yang Mahahakiki, Alquran hanya bisa mencerminkan tingkat kemurnian hati pembacanya.

لَّا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

79. Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.

Alquran sangat halus dan lembut. Kitab ini mengandung apa yang bisa dibayangkan oleh manusia dan bahkan lebih dari itu. Karena itu, bagaimana seseorang bisa menyentuhnya? Seseorang hanya bisa mengetahui kitab ini bila ia berhenti mengetahui sesuatu yang lainnya dan, dengan kepasrahan menyeluruh, tenggelam dalam Alquran—yang ada hanyalah Alquran. Inilah esensi dari makna Islam.

Dalam situasi eksistensial ada dualitas. Pengetahuan dan informasi eksistensial berpijak pada sang pencari dan sesuatu yang dicari. Sesuatu yang memiliki domain tertentu, seperti bahasa, bisa dikuasai. Inilah pengetahuan eksistensial dan bersifat informatif. Pengetahuan ini didasarkan pada waktu, kapasitas berpikir, dan kesabaran. Akan tetapi, pengetahuan ihwal Kebenaran tidak bisa diperoleh dengan cara ini. Pengetahuan itu hanya bisa diraih dengan membiarkannya muncul, karena sebetulnya ia sudah ada dan bersemayam dalam hati. Pengetahuan tentang kebenaran tidak akan tumbuh subur bila manusia lebih menghargai yang lainnya. Energi manusia telah teralihkan kepada yang lain, kepada materi, sementara pengetahuan tentang Kitab suci dalam diri tidak disimak dengan cermat. Kebenaran adalah substrata dari eksistensi, dan kebenaran sangat memperhatikan peristiwa di alam semesta yang dialami manusia dalam kehidupan singkatnya ini.

تَنزِيلٌ مِّن رَّبِّ الْعَالَمِينَ

80. Diturunkan dari Tuhan semesta alam.

Allah adalah Tuhan dua alam, alam fisik dan alam non-fisik—dunia yang dialami manusia ini, dan akhirat di mana ia tunduk pada akibat-akibat dari segenap niatnya di alam sebelumnya. Manusia akan mengalami dan menjadi apa yang diniatkannya, tidak lebih dari itu. Di dunia ini, yang kasar mengalahkan yang lembut, sementara di akhirat yang lembut menjadi jelas, dan segala sesuatu yaftg tadinya tersembunyi di dalam hati seseorang menjadi sebuah buku yang terbuka lebar (shuhuf munasysyarah).