Kosakata Asing dalam Al-Quran

Oleh: Nasir Dimyati

Para ahli bahasa Arab memaklumi bahwa jika al-Quran tidak turun maka bahasa Arab akan hancur atau minimal kehilangan keasliannya. Namun, salah satu persoalan yang sampai sekarang masih diperdebatkan oleh para ahli bahasa dan sastra Arab serta mufasir al-Quran adalah apakah kosakata serapan Arab dari bahasa asing dipakai dalam al-Quran atau tidak? Dengan kata lain, apakah semua kata yang digunakan dalam al-Quran adalah Arab asli atau ada juga kata-kata yang telah melalui proses pengaraban?

Semula manusia mempelajari bahasa lisan untuk berkomunikasi dengan sesama kaumnya, kemudian ia mempelajari bahasa lain agar dapat menjalin interaksi antar bangsa. Dan saat ini, ilmu bahasa sudah semakin luas dan modern yang meliputi pembahasan tentang sejarah bahasa, perbandingan antar bahasa, macam-macam dialek, kelompok-kelompok bahasa, dan lain sebagainya.

Lebih dari dua abad yang lalu, Filologi lahir dan berkembang di Barat sedang di dunia Islam Arab, Fiqhul Lughoh dengan artian yang baru, luas, dan menggunakan metode modern baru muncul di universitas Mesir sejalan dengan aktifitas orientalis di negeri itu meskipun Fiqhul Lughoh dan ilmu qiroat sudah ada sejak dulu.

Karya-karya ulama klasik seperti al-Khosoish[1], as-Shohibi fi Fiqhil Lughoh[2], al-Muzhar fi Ulumil Lughoh[3] sampai sekarang masih terhitung sebagai referensi berharga dalam filologi atau fiqhul lughoh Arab. Dalam perkembangannya, para ahli bahasa melengkapi kajian-kajian klasik itu dengan pembahasan-pembahasan baru dalam karya-karya mereka seperti Ilmul Lughoh[4], Fiqhul Lughoh[5], dan Fushulun fi Fiqhil Lughoh al-Arobiyah[6].

Para ahli bahasa Arab memaklumi bahwa jika al-Quran tidak turun maka bahasa Arab akan hancur atau minimal kehilangan keasliannya.[7] Namun, salah satu persoalan yang sampai sekarang masih diperdebatkan oleh para ahli bahasa dan sastra Arab serta mufasir al-Quran adalah apakah kosakata serapan Arab dari bahasa asing dipakai dalam al-Quran atau tidak? Dengan kata lain, apakah semua kata yang digunakan dalam al-Quran adalah Arab asli atau ada juga kata-kata yang telah melalui proses pengaraban?

Secara istilah, kata-kata yang diserap dan dipinjam oleh bahasa Arab dari bahasa-bahasa lain disebut dengan muarrob, dan tentunya melalui proses perpindahan serta perubahan yang disebut dengan tarib atau pengaraban.

Biasanya, kata-kata asing satu bahasa masuk ke bahasa lain disebabkan oleh faktor-faktor berikut: kedekatan letak geografis, hubungan perdagangan, imigrasi, kekuasaan politik, kecenderungan religius, kultur, ekonomi, industri dan lain-lain. Intinya, faktor-faktor ini adalah faktor yang berakar dari tuntutan-tuntutan material dan spiritual manusia.

Itulah sebabnya mengapa terjadi proses bargaining kata. Sejalan dengan perkembangan peradaban, budaya pun melalui waktu yang cukup panjang dalam sejarah manusia dan proses bargaining meningkat luar biasa sehingga dapat dikatakan bahwa tidak ada lagi bahasa hidup dunia yang masih murni. Tidak ada pula bangsa beradab yang berani mengaku bahwa bahasa mereka bersih dari unsur-unsur asing serapan atau pinjaman dari bangsa-bangsa lain.

Bahasa Arab juga tidak terhindar dari proses bargaining kata. Namun, yang lebih menjadi persoalan adalah apakah  al-Quran yang diwahyukan kepada Muhammad Rasulullah saww dengan bahasa Arab fasih yang populer di kawasan Hijaz pada waktu itu memakai kata-kata asing juga atau tidak? Harus diingat bahwa keterbukaan sebuah bahasa untuk menerima atau menyerap kata-kata asing maupun daerah tidak berarti mempertaruhkan kesejatian bahasa tersebut dan ini berbeda dengan pergeseran bahasa yang kita saksikan dari satu bahasaseperti  Indonesia ke bahasa lain seperti Inggrissehingga terkadang pemaknaan bahasa Arab ke bahasa Indonesia pun terpaksa harus dijembatani oleh bahasa Inggris yang belum tentu tepat.

Terdapat tiga pandangan yang bersebarangan tentang penggunaan kata-kata Arab serapan atau pinjaman di dalam al-Quran:

Kelompok pertama mengingkari penggunaan itu secara mutlak, di antara dalil Quranik yang mereka kemukakan adalah:

ی   / ی: 2

Artinya: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya berupa al-Quran yang berbahasa Arab agar kalian memahaminya. (QS. 12: 2).

ی ی   / : 44

Artinya: Dan sekiranya Kami jadikan al-Quran itu bacaan yang bukan bahasa Arab, niscaya mereka berkata mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya? Apakah patut (al-Quran) itu dalam bahasa Ajam (bukan bahasa Arab) sedang rasul orang arab. (QS. 41: 44).

Menurut Abu Ubaidah (Muammar bin Mutsanna), bukankah al-Quran diwahyukan dengan bahasa Arab yang jelas dan menjelaskan, maka akan aneh sekali jika ada yang berpendapat bahwa al-Quran juga memakai kata non Arab. Ibnu Faris (Ahmad) mendukung pendapat ini dalam kitab Fiqhul Lughoh-nya yang berjudul as-Shohibi dan dia menegaskan jika pemakaian itu benar-benar terjadi dalam al-Quran itu akan berarti bahwa bahasa Arab tidak mampu menawarkan kata-kata padanannya, dan pandangan seperti ini jelas-jelas tertolak. Kemudian, Fakhrur Razi dan para pengikutnya menolak pangkategorian kata-kata seperti Ԙɡ ޡ ی dan lain sebagainya sebagai kata-kata serapan atau pinjaman dari bahasa asing, dan mereka mengklaim bahwa kata-kata tersebut kebetulan sama dengan kata-kata dalam bahasa non Arab.[8] Ibnu Jarir Thabari, Qadhi Abu Bakar Baqilani, dan Syafii juga menolak adanya kata Arab serapan atau pinjaman dalam al-Quran, demikian pula beberapa kalangan ahli bahasa  kontemporer seperti Ahmad Syakir, yang merevisi dan mengkritisi kitab al-Muarrob karya Jawaliqi.

Kelompok kedua sedikit lebih terbuka dalam hal ini. Menurut mereka selain nama-nama khusus, semua kata yang digunakan oleh al-Quran adalah bahasa Arab asli. Abu Ubaid Qasim bin Sallam telah menetralisir pendapat gurunya sendiri (Abu Ubaidah) dan menyatakan bahwa  meskipun pada dasarnya nama-nama khusush itu adalah bahasa non Arab, tetapi setelah melalui proses penyaduran dan pengaraban nama-nama itu menjadi bagian dari bahasa Arab dan diperlakukan sebagaimana layaknya kata-kata Arab lainnya. Ibnu Athiyyah juga cenderung memilih pandangan ini dan menolak pendapat Thabari yang menyatakan bahwa kebetulan ada kata-kata yang sama dengan bahasa lainnya.

Kelompok ketiga lebih terbuka dari kelompok kedua. Mereka berpendapat bukan hanya nama-nama saja yang telah diserap, tetapi ada juga kosakata lain yang masuk ke bahasa Arab. Ibnu Abbas yang terkenal sebagai Hibrul Ummah (tinta umat Islam) dan murid-muridnya; Mujahid, Ikrimah, Said bin Jubair, dan Atthar bin Yasar adalah mufasir-mufasir masyhur al-Quran yang sering menguraikan tentang asal-usul kata Arab serapan yang dipakai oleh al-Quran. Kemudian Jawaliqi, Suyuthi dan Khaffaji melanjutkan jejak mereka dalam karya-karya klasik Fiqhul Lughoh, dan dilanjutkan oleh orientelis-orientalis seperti Arthur Geoffrey dalam bukunya The Foreign Vocabulary of the Quran dan pakar-pakar kontemporer bahasa Arab lainnya.

Agar dapat dimengerti lebih jelas, kami bawakan dua contoh kosakata Arab yang digunakan oleh al-Quran:

1. dalam ayat:

ی   / : 104

Ada berbagai pendapat tentang asal-usul kata ; sebagian mengatakan kata itu berasal dari Abyssinia dan berarti (lelaki)[9], Ibnu Jinni mengartikannya dengan surat dan menurutnya kata ini berasal dari bahasa Parsi[10], Khaffaji sepakat dengan pendapat yang mengatakan kata ini berasal dari Abyssinia dan berarti surat.[11] Sedang Arthur Geoffrey menolak dua pendapat tersebut dan menyatakan bahwa kata ini bukan berasal dari Abyssinia dan juga bukan dari Parsi, melainkan dari bahasa Yunani yang sepadan dengan kata Latin sigillum[12].

2.  dalam ayat:

ی   / : 7

Menurut sebagian ahli, kata (kertas) bukan Arab asli.[13] Penulis al-Kalimat al-Aromiyyah fil Lughotil Arobiyyah berpendapat sama bahwa kata ini bukan bahasa Arab asli dan berasal dari kata charta dalam bahasa Yunani sedang dalam bahasa Abyssinia adalah kartas.[14]

Namun, para mufasir dan ahli bahasa mempunyai pendapat yang berbeda dan menurut mereka  kata ini adalah bahasa Arab asli. Farra mengatakan bahwa al-Qirthos adalah sahifah atau lembaran.[15] Raghib Isfahani dalam Mufrodat dan Lisanul Arob, menyatakan keaslian dalam bahasa arab.

Walhasil, meskipun terjadi perbedaan Filologis atau Ffiqhul Lughoh tentang sebagian kosakata yang digunakan oleh al-Quran, tapi ada satu hal yang perlu kita cermati dan sadari untuk kemudian kita yakini bahwa perbedaan pendapat itu sama sekali tidak mengusik kefasihan al-Quran sedikit pun, kefasihan yang tidak akan tertandingi sampai akhir zaman. Itulah sebabnya mengapa orang-orang Arab seperti Ibnu Abbas yang pakar di bidang Ulumul Quran dan Tafsir tidak merasa janggal melihat kosakata itu di sela-sela ayat al-Quran. Apalagi sejak dulu sampai sekarang tidak ada seorang pun yang sanggup menjawab tantangan al-Quran untuk menandinginya.

ی ی ی ی / : 88

Artinya: Katakanlah: kalau sekiranya berkumpul manusia dan jin untuk mendatangkan yang serupa dengan al-Quran, mereka tidak akan sanggup mendatangkan yang serupa dengannya walaupun sebagian mereka dengan sebagian yang lain tolong-menolong. (QS. 17: 88).

Sumber: Islamalternatif

* Penulis: Mahasiswa S2 Jurusan Ulumul Quran di Universitas Imam Khomeini Qom, republik Islam Iran

 [1] Karya Abul Fath Usman bin Jinni.
[2] Karya Ahmad bin Faris.
[3] Karya Jalalud Din Abdur Rahman bin Abi Bakar as-Suyuthi.
[4] Karya Dr. Ali Abdul Wahid al-Wafi.
[5] Ibid.
[6] Karya Dr. Abdut Tawwab Ramadan.
[7] Sebagai contoh Anda bisa lihat dalam Fushul karya Dr. Abdut Tawwab Ramadan.
[8] Jawaliqi, Abu Mansur, al-Muarrob. Teheran; Iddi Syir, al-Alfadz al-Farisiyyah al-Muarrobah. Bairut.
[9] Suyutyhi,  Al-Itqon fi Ulumil Quran: 2/134; Al-Mutawakkili fima Waroda fil Qurani bil Lughotil Habasyiyyati wa Ghoiriha:50 ; al-Muhadzdzabu fima Waqoa fil Qurani minal Muarrob: 67; ad-Durul Mantsur: 4/340; Jawaliqi, al-Muarrob: 342.
[10] Al-Muhtasabu fi Wujuhi Syawadzdzil Qurani: 2/67.
[11] Syifaul Gholil: 173.
[12] Wozhehhoye Dakhil dar Quron (terjemahan parsi The Foreign Vocabulary of the Quran): 250.
[13] Al-Muarrob: 276; al-Muhadzdzab: 103; al-Itqon: 2/137; al-Mutawakkili: 83 dinukil dari Jawaliqi.
[14] Al-Kalimat al-Aromiyah fil Lughotil Arobiyyah: 245.
[15] Maanil Quran: 1/343.