‘TRINITAS’ Dalam Pandangan Akal Dan Qur’an

Oleh: Abu Aqilah

Adalah kata ‘pengikut Al-Masih’ dalam kitab-kitab teologi menggambarkan tentang keyakinan Trinitas (Tuhan Bapa, Rahul Kudus, dan Yesus Kristus) dan permasalahan- permasalahan yang mendasar yang bersumber pada akidah mereka. Tidak adanya dalil dari para pengikut Masih atas keyakinan mereka, sementara mereka mengklaim diri mereka telah menyakini monoteisme, dengan pengertian satu dalam kemajemukan. Apakah kesatuan dalam pengertian ini, berhak ada pada zat Tuhan. Sementara independen (kemandirian) terlepas pada zat-Nya dan tidak bertentangan dengan argumentasi akal?

Konsep trinitas bersumber pada ajaran kitab Injil yang diragukan keasliannya, disebabkan bukanlah kitab ‘Samawi’ (bersumber pada wahyu Allah Swt), namun kitab injil tersebut ditulis dan disusun setelah Al-Masih diangkat oleh Allah atau setelah penyalibannya menurut perkiraan orang-orang nasrani. Dan masuknya konsep Trinitas pada agama Nasrani setelah kepergian Al-Masih dan para pengikutnya.

Seorang Yahudi yang bernama Paulus yang mengajarkan ajaran nasrani tersebut, dengan klaim bahwa Al-Masih telah menyatu dalam dirinya, dan ia berkewajiban menjalankan dakwah kepada seluruh masyarakat. Dia juga menyatakan bahwa Isa sebagai tebusan dosa manusia setelah penyalibannya. Adapun syariat, bukanlah suatu kewajiban bagi orang-orang selain Yahudi. Mr. Louis, seorang cendikiawan nasrani menyatakan: “Penjasadan adalah kata dari rahasia-rahasia Tuhan, yang akal tidak mampu untuk menalarnya. Namun tidaklah bertentangan dengan argumentasi akal.”[1]

Dan didalam Al-Qur’an Al-Karim telah menerangkan tentang akidah yang diselewengkan tersebut, Allah Swt berfiman: “Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al masih itu putera Allah”. Demikianlah itu Ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?[2]

Sanggahan

Ada beberapa sanggahan disini, terhadap keyakinan trinitas:

 1. Adanya kontradiksi yang jelas, ketika mereka menyakini bahwa setiap satu dari trinitas mempunyai ciri khas tersendiri dari yang lain. Padahal mereka menyakini kemajemukannya adalah suatu yang hakiki. Bagaimanakah sebuah kontradiksi ini dapat diterima akal, atau bersumber dari kebenaran wahyu?

 2. Apa maksud pengertian trinitas berasal dari pengertian Tuhan Yang Satu atau Satu dalam kamajemukan? Hal ini tidaklah sesuai dengan dua pengertian berikut ini:

a. Hendaklah masing-masing dari Trinitas tadi adalah wujud yang independen, yang satu sama lain mempunyai kriteria-kriteria tersendiri , dan yang membedakan dengan yang lain.

b. Hendaklah keberadaan trinitas terwakili dengan ke-Esaannya, yang menjadikan Tuhan dengan kemajemukannya. Yang sebenarnya adalah zat Allah adalah Tunggal (basit).

3. Menghasilkan bentuk manfaat dalam sebuah penyatuan atau kerjasama antara komponen- komponennya. Keniscayaan Tuhan terhadap apapun bentuk manfaat dan kerjasama.

Sanggahan-sanggahan diatas, adalah bentuk agumentasi yang mendasar, melalui penilaian dalil akal sebagai sumber hukum Islam. Dan sekiranya terjadi sebuah pengaturan alam dengan ketuhanan trinitas dan politeisme, tentunya terjadi multisistem pengaturan disini. Bila masing-masing sistem pengaturan oleh Tuhan-Tuhan tadi berbeda satu sama lain, maka akan menyebabkan kehancuran alam ini. Dalam AlQur’an, Allah Swt befirman:´”Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu Telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.”[3]

Batasan-batasan Ke-Tauhidan Islam

  Menyakini ke-Esaan Allah Swt melalui tahapan:

1. Tauhid dalam zat, terbagi dalam dua bagian:

a. Zat Allah Swt Tunggal (basit); yang tidak memiliki bagian atau komponen (Ahadiyah Al-Zat). Baik komponen dalam bentuk luar maupun komponen yang terindera dalam otak. Di dalam Al-Qur’an, Allah Swt berfirman: Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa.”(QS Al-Ikhlash ayat 1)

b. Allah Swt yang Satu, yang tidak memiliki keserupaan (Wahidiyyah). Di dalam Al-Qur’an Allah Swt berfirman: “Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”(QS Al-Ikhlash ayat 4).

 Tauhid dalam peristilahan filsafat Adalah Tauhid dalam Wujud yang Mesti, tidak ada satu wujudpun yang maujud oleh dirinya sendiri, kecuali Allah swt.. Wujud yang demikian hanyalah Allah Swt, Yang Maha Tinggi, yang keberadaannya secara substantif merupakan keharusan, dan yang dari-Nya wujud-wujud yang lain maujud.

 2. Tauhid dalam Sifat. Penyatuan antara zat dan sifat. Sifat-sifat yang kita nisbatkan kepada Allah Swt, tak lain adalah Zat-Nya sendiri. Sifat-sifat ini bukanlah hal lain dari Diri-Nya dan ditambahkan kepada-Nya.

3. Tauhid dalam penciptaan. Artinya, tidak ada pencipta kecuali Allah swt.

4. Tauhid dalam manajemen (Rububiyah), yang mengelola alam semesta yang tidak membutuhkan siapapun selain-Nya.

5. Tauhid dalam penyembahan. Artinya, tak satu pun kecuali Allah Swt, yang patut disembah.

Kesimpulan

Kerancuan konsep Trinitas dengan penjelasan yang cukup jelas melalui dalil akal dan qur’an, terutama pada Ahadiyat dan Wahdaniyat Allah Swt. Ini membuktikan klaim mereka terhadap monoteisme dapatlah dibatalkan. Sementara itu Islam dengan kemurnian ajaran yang dibawa Rasul saw dan Ahlul Baitnya as telah membuktikan ke-Tauhidan yang hakiki. [Cahaya Islam]


[1] Al-Burhan al-sadid fi hakikat al-tastlist al-tauhid, hal141.
[2] At-Taubah ayat 30
[3] Surat Anbiya’ ayat 22.