Ponpes Binaul Ummah, Sirnasari, Tasikmalaya



Begitu memasuki lokasi pesantren, pemandangan yang mendominasi mata adalah kaum hawa. Para ibu, mahasiswi dan remaja putri membaur dalam kegiatan yang sama di Ponpes Binaul Ummah, yang terletak di wilayah Sirnasari, Kota Tasikmalaya ini. Inilah pondok pesantren khusus kaum hawa. Pesantren Binaul Ummah ini dipimpin oleh Ummi Imas Sutrasmini (46).

Setiap hari, sekitar 150 santri belajar bahasa Arab, membaca Alquran, dan ilmu agama lainnya. Selain itu, mereka juga belajar keterampilan, seperti memasak dan menjahit. Santri-santri di pesantren tersebut umumnya tidak menetap. Karena, mereka terdiri atas ibu-ibu yang sudah berkeluarga, mahasiswa, dan kaum remaja. Dengan begitu, selain mengaji di pesantren, mereka juga tetap bisa menjalankan aktivitas lain.

Dorongan kuat untuk membangun pesantren itu sebenarnya berawal dari pengajian kelompok kecil ibu-ibu di lingkungannya. Itulah sebabnya, sebelum dinamai Binaul Ummah (1997), pesantren yang berdiri sejak tahun 1992 itu bernama Pesantren Binna'un Nisa.

Karena perkembangan santrinya, maka nama itu pun berganti menjadi Binaul Ummah. Sekarang, santrinya datang dari berbagai latar belakang. Selain kalangan remaja dan dewasa, pesantren tersebut juga membina anak-anak.

Mulanya, setiap hari tak sedikit ibu muda yang mengantarkan anaknya ke Binaul Ummah untuk belajar bahasa Arab, baca Alquran dan lain-lain. Usai mengantarkan anak-anaknya ke Binaul Ummah, sebagian ibu muda itu kembali ke rumah atau langsung menuju kantornya. Tapi ada juga sebagian dari mereka yang memilih tetap di pesantren hingga pengajian anak-anaknya usai.

Aktivitas seperti itu sering membuat para ibu tersebut saling berkomunikasi dan membentuk 'komunitas' sendiri.

Di sela-sela menunggui anaknya belajar, ibu-ibu sering curhat kepada Ummi Imas tentang berbagai persoalan. Umumnya tema curhat mereka banyak berkait dengan persoalan sehari-hari di keluarganya. Dari proses curhat itulah lambat laun terbentuk kelompok kecil. Makin lama, kelompok itu memerlukan wadah untuk berdialog.

Dialog-dialog untuk menghasilkan solusi itu ternyata bergulir makin deras. Akhirnya, terbentuklah kelompok yang biasa melakukan curhat secara massal. Terbentuklah halaqoh-halaqoh (kelompok dialog) yang masing-masing beranggotakan 10-12 orang.

Melihat perkembangan dan respons positif dari kelompok itu, Ummi Imas pun terdorong untuk melembagakannya lebih permanen. Akhirnya, sang suami Ummi Imas, Ustadz Syarif Hidayatullah, turut memperkaya wawasan Pesantren Binaul Ummah. Syarif mulai melibatkan kaum bapak untuk terlibat di pesantrennya.

Usai menyelesaikan studi di IAIN Sunan Gunung Djati plus LIPIA perwakilan Riyadh, ia pun ikut terlibat secara total. Yang menjadi sasaran program Uztadz Syarif adalah kaum bapak. Hal ini ditujukan untuk menjadi peran pengimbang dalam membina sebuah keluarga yang sakinah. Karena menurut keyakinan Ustadz Syarif, kalau hanya ibu-ibunya saja yang dibina, rasanya pincang. Jangan sampai kita menginginkan istri-istri yang saleh, sementara kaum laki-lakinya terabaikan. Posisi suami dan isteri dalam hal keimanan, menurutnya harus seimbang.

Program ’Taksi’

Untuk mencapai tujuan itu, maka pasangan suami-istri tersebut membuka program khusus pembinaan keimanan. Program itu mereka namai 'Taksi.' Tapi yang ini Taksi-nya bukan sembarang taksi. Tidak lain, Taksi yang ditawarkan Ummi Imas dan suaminya itu adalah Ta'aruf Singkat Studi Islam.

Program ini menjadi semacam forum dialog yang sangat interaktif untuk membahas berbagai persoalan sekitar rumah tangga. Para peserta dalam forum tersebut bisa menikmati konsultasi seputar persoalan psikologi sampai jurus-jurus membahagiakan pasangan. Makin lama kegiatan itu dilengkapi dengan latihan berbagai keterampilan.

Seiring dengan pemantapan pengajian remaja dan dewasa, pesantren itu juga terus menggiatkan kegiatan anak-anak. Untuk mengisi liburan sekolah, anak-anak dikenalkan dengan nilai-nilai dasar Islam lewat beberapa pengajian.

Tak hanya itu, mereka juga digiatkan dalam mengapresiasi kesenian. Ustadz Syarif menilai kesenian sebagai salah satu komponen penting yang perlu dikembangkan di pesantrennya. Aktivitas seni di pesantren tersebut sekarang mulai menunjukkan hasil. Para santri di Pesantren Binaul Ummah sudah membentuk kelompok nasyid Shalawatul Ummah. Kelompok nasyid ini siap pentas waktu diperlukan.

Biasanya saat mengisi bulan suci Ramadhan, di pesantren ini terdapat studi intensif Islam. Biasanya, aktivitas selama Ramadhan itu ditutup dengan seminar sehari tentang pencegahan narkoba. Diharapkan, lewat seminar itu, masyarakat bisa terus disadarkan soal bahaya penyalahgunaan narkoba. n