Pesantren Al-Ishlah, Sudimampir, Indramayu



Mendengar istilah 'tawuran antar desa', ingatan kita akan tertuju pada Indramayu, yakni sebuah kabupaten yang terletak di pantai utara (pantura) Jawa Barat.

Namun, sudah berjalan hampir dua tahun, peristiwa yang membuat imej kabupaten penghasil mangga makin jelek itu berangsur hilang. Bahkan, pihak kepolisian wilayah (polwil) Cirebon secara statistik mencatat angka tawuran terbesar di wilayah III Cirebon dalam enam bulan terakhir disandang oleh kabupaten Cirebon. Sementara, kabupaten Indramayu turun meraih peringkat kedua.

Upaya tersebut tak lepas dari peran serta pesantren dalam menyadarkan dan mengentaskan generasi muda dari jurang kebathilan.

Tak kurang puluhan pesantren besar mulai bermunculan, seperti pesantren Al-Zaytun Haurgeulis, pesantren Candangpinggan di Kertasemaya, pesantren Darussalam di Eretan dan pesantren As-Sakinah di desa Tugu kecamatan Sliyeg memberikan kontribusi positif bagi pemahaman keagamaan di kalangan generasi muda.

Salah satunya, pesantren Al-Ishlah yang terletak di blok Tajug desa Sudimampir kecamatan Sliyeg kabupaten Indramayu. Pesantren yang terletak di salah satu desa basis tawuran ini merupakan pesantren yang membawa santrinya untuk lebih mengedepankan etika dalam bermasyarakat.

Di pesantren yang rata-rata pendidiknya jebolan dari pesantren Gontor Ponorogo, setiap santri diajarkan etika untuk saling menghormati antar sesama juga menyiarkan syiar Islam kepada masyarakat dalam bentuk perilaku yang baik.

Dengan cara tersebut, baik dan buruknya santri dinilai oleh masyarakat yang berada di sekitar pesantren.Pimpinan pondok pesantren Al-Ishlah KH Imam Mawardi Hakim, menuturkan misi pesantren yang berdiri dua tahun lalu bertujuan untuk menjadikan pesantren ebagai perekat antara santri dan masyarakat sekitar.

Daerah Sudimampir dan Tugu merupakan salah satu daerah yang masyarakatnya memiliki temperamen keras sehingga untuk menyelesaikan sebuah persoalan yang sepele tak lepas dari tawuran.

Dari 101 santri yang mendalami ilmu keagamaan dipesantrennya, 30 persennya merupakan anak-anak yang pernah terlibat tawuran antar desa dan selebihnya santri-santri yang juga pernah menyandang sebagai anak nakal dari daerah Riau dan Sumatera.

Dibantu 15 orang tenaga pengajar yang berasal dari Ciamis, Ponorogo, Jambi, Subang, dan Bojonegoro serta mau diajak 'prihatin' itu, santri mengikuti pendidikan dan aturan yang diterapkan dari mulai pukul 04.00 pagi hingga hari menjelang malam.

Meski dibilang ketat, santri pun nampak dengan seksama mengikuti mata pelajaran agama dan mata pelajaran umum, santri pun dibebaskan untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler mingguan seperti pidato dalam tiga bahasa, kajian agama islam, pramuka, kursus ketrampilan, dan olahraga.