MAKNA KEADILAN SOSIAL

Setelah sebelumnya membahas topik keadilan Allah, kini saya akan mengkhususkan telaahan ini pada keadilan sosial. Kendati cakupan pembahasan ini cukup luas, saya akan berupaya mengulasnya dengan secara singkat dengan menyertakan pelbagai argumentasi yang terdapat dalam al-Quran, hadis, dan Nahj al-Balaghah (seraya menjelaskan masing-masing ayat dan hadis tersebut secara sekilas).

Topik bahasan ini merupakan bagian dari mazhab kita sehingga perlu diketahui seluruh lapisan masyarakat. Tujuan membahas keadilan sosial adalah untuk mengetahui bagaimana perintah al-Quran dan para imam maksum berkenaan dengan penjagaan hak-hak, penyamarataan posisi segenap masyarakat di depan hukum, penolakan pelbagai bentuk diskriminasi, pengerukan keuntungan demi kepentingan pribadi, dan kezaliman. Selain itu juga untuk menjelaskan sekitar empat puluh peristiwa yang berhubungan dengan cara yang ditempuh Nabi mulia saww dan para imam maksum dalam mengelola baitulmal dan mengajarkan bentuk-bentuk persaudaraan Islami.

Keadilan: Program Kehidupan

Islam merupakan agama yang adil dan seimbang, sekaligus jalan yang lurus. Umat Islam merupakan umat pertengahan (yang berada di tengah-tengah). Sementara itu, sistem Islam yang diberlakukan tak lain dari wujud keadilan itu sendiri.

Dalam Islam, selain air mataJuga terdapat sebilah pedang. Islam, selain merancang program untuk menjaga kesehatan jasmani. juga memperhatikan perkembangan maknawi dan ruhani seseorang. Adanya (kewajiban) shalat pasti disertai adanya (kewajiban) zakat. Kecintaan serta hubungan dekat (tawalli) dengan para wali Allah pasti diiringi dengan keberlepasan dan penjauhan diri (tabarri) dari musuh-musuh Allah. Di samping mendukung ilmu pengetahuan, Islamjuga mengutamakan amal. Himbauan Islam kepada keimanan dan keislaman, niscaya dibarengi dengan anjuran untuk beramal saleh.

Perintah untuk bertawakal kepada Allah akan senantiasa beriringan dengan perintah untuk bekerja dan berusaha keras. Penghargaan terhadap milik pribadi pasti akan diiringi dengan pelarangan untuk membuat kerugian dan penyalahgunaan dari kepemilikan tersebut. Di dalam perintah untuk memberi rnaaf, terdapat pula perintah untuk melaksanakan hukuman (qishash) secara tegas dan tidak memperdulikan belas kasihan. Suatu ketika, serombongan orang melaporkan kepada imam bahwa si fulan mengerjakan salatnya secara acuh tak acuh. Imam bertanya, "Bagaimanakah cara berpikirnya?' Artinya, apabila ibadah individual seseorang telah sempurna, pasti dirinya akan jeli dalam berpikir.

Hubungan Keadilan Sosial dengan Pandangan Dunia Ilahiah

Sekarang ini, banyak slogan yang begitu memikat yang bergaung di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Namun, apabila slogan-slogan tersebut tidak ditopang oleh suatu prinsip yang kokoh, maka semua itu tak lebih dari "sebuah bentuk tanpa isi".

Ungkapan "keadilan sosial" adalah salah satunya. Kita menyaksikan bahwasannya hampir seluruh rezim yang berkuasa di dunia ini senantiasa menggembar-gemborkan slogan tersebut, seraya menyatakan dirinya sebagai pedukung keadilan sosial.

Namun, kita juga sering menjumpai kenyataan bahwa tak satupun dari rezim-rezim tersebut yang benar-benar menjalankan keadilan. Sebabnya, slogan-slogan tersebut tidak memiliki akar yang kokoh sehingga lebih bersifat retorik belaka.

Dalam Islam, problem persamaan dan penyamarataan memiliki akar yang cukup mendalam:

1. Seluruh keberadaan di jagat alam ini berada di bawah pengawasan Tuhan Yang Mahabijaksana, yang tidak mengandungi kerancuan dan kekacauan. Dengan begitu, saya yang merupakan salah satu bagian alam ini, dapat melakukan berbagai kegiatan dengan sesuka hati, namun tetap tidak terlepas dari ketentuan dan sistem yang berlaku.

2. Seluruh perbuatan, ucapan, dan bahkan pemikiran kita berada di bawah pengawasan-Nya. Dalam hal ini, Tuhan senantiasa memperhatikan diri kita. Kelak, semua perbuatan kita akan diadili di hadapan mahkamah-Nya yang adil.

3. Kita semua berasal dari tanah, dan akhirnya akan kembali ke tanah. Di antara butiran-butiran tanah, tidak terdapat perbedaan apapun. Kalau memang demikian, lantas mengapa saya menjadi berbeda (lebih istimewa) dari yang lain?

4. Segenap manusia merupakan hamba-hamba Allah, dan bersahabat dengan mereka merupakan sesuatu yang diridhai-Nya. Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling menggemari kebaikan.

5. Seluruh keberadaan di jagat alam ini tidak dapat melampaui batasan, ketentuan, serta hak yang telah ditetapkan sang Pencipta.

6. Ayah dan ibu kita semua adalah sama (Nabi Adam dan Sm Hawa).

Penafsiran serta pemahaman terhadap eksistensi alam dan manusia semacam inilah yang dilandasi "Pandangan Dunia Ilahiah".

Semua itu merupakan sarana yang paling kondusif dalam penciptaan keadilan. Dan faktor yang sanggup merusak dan memporakporandakan sarana tersebut tak lain dari segenap tuntutan hawa nafsu.

Keadilan: Kecenderungan Fitrah

Al-Quran menyatakan bahwa secara fitrah Kami (maksudnya, Allah) telah menganugerahi manusia pelbagai kemampuan untuk mengetahui dan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, "...maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan".[1]

Sebagai contoh, seorang anak yang menmpkan sebuah apel kepada Anda. Setelah itu, ia pergi barang sejenak untuk mengambil air minum. Namun, ketika kembali dan mengetahui bahwa Anda telah memakan buah apel itu, kendati cuma secuil, tentu ia akan langsung kecewa. Raut mukanya kontan akan memperlihatkan ekpresi khusus, seolah-olah hendak mengatakan, "Aku menganggapmu seseorang yang bisa dipercaya, namun mengapa engkau berkhianat!" Kalimat semacam ini pasti terlintas dalam benak anak tersebut, diucapkan ataupun tidak.

Camkanlah, pengetahuan tentang keburukan berkhianat tidak membutuhkan pengajaran seorang guru atau pendidik. Manusia mengetahui keburukan lewat perasaan fitrah yang bersemayam dalam dirinya.

Demikian pula halnya dengan keadilan. Secara fitriah, setiap manusia pasti menyukainya. Sebagai bukti tentang kebenaran hal tersebut dapat dilihat bahkan pada kenyataan di seputar orang-orang yang zalim.

Orang-orang zalim senantiasa membuat-buat berbagai alasan demi membenarkan dan mengabsahkan keazlimannya, seraya berusaha menunjukkan perbuatannya tersebut sebagai sesuatu yang adil.

Umpama, sejumlah orang berkomplot dan menyiapkan sarana tertentu demi melakukan pencurian. Tatkala mereka berhasil mendapatkan hasil curian dan melarikan diri ke tempat yang aman dari kejaran, tentu masing-masing dari mereka menginginkan harta hasil curian itu dibagi secara adil. Dalam ungkapan mereka, "Marilah kita bagi-bagi harta ini secara adil!"

Ucapan semacam ini terlontar tanpa sadar. Sekalipun kalimat itu tidak diungkapkan, toh hati mereka tetap menyukai cara pembagian yang adil. Kalau saja salah seorang dari mereka hendak mengambil bagian lebih banyak, tentu yang lain akan marah dan tidak merelakannya.

Sejarah telah merekam dengan baik segenap hal yang berkenaan dengan itu. Seluruh masyarakat warga dunia, pasti akan mengelu-elukan seseorang yang terbunuh dalam upayanya mewujudkan keadilan sosial ataupun mempertahankan jiwa, harta, kesucian agama, dan kehormatan negaranya. Dengan begitu, setiap dukungan terhadap keadilan dan perjuangan melawan kezaliman merupakan tuntutan akal, alam, dan fitrah yang bersemayam dalam diri setiap manusia.

Para Nabi dan Undang-undang yang Adil

Jarang kita jumpai masyarakat yang tidak berbicara tentang undang-undang keadilan. Begitu pula amat sedikit sekali lembaga-lembaga sosial-polmk yang tidak menyatakan dirinya melindungi hak-hak serta kepentingan masyarakat. Sekarang, mari kita telaah bersama persoalan tersebut dengan terlebih dulu mengemukakan sejumlah pertanyaan berikut ini:

1. Undang-undang manakah yang secara seratus persen benar-benar adil dan terlepas dari paksaan individu atau golongan? Siapakah yang mampu membuat undang-undang yang steril dari pengaruh hawa nafsu pribadi? Apa dasar pembuatan undang-undang yang adil tersebut?

2. Kondisi masyarakat bagaimana yang dimaksudkan, dan kepentingan serta peringkat (strata) sosial seperti apa yang harus dilindungi dan dijaga?

3. Seandainya saja para pembuat undang-undang tidak terpengaruh hubungan kelompok, kabilah. kawasan, ras, dan sebagainya, mungkinkah pelbagai sisi kemanusiaan dapat diketahui? Selain itu. apakah ada jaminan bahwa undang-undang (yang dianggap bersifat adil) itu tidak sampai merugikan manusia?

Dikarenakan deretan pertanyaan itulah kita berkeyakinan bahwa keadilan sosial mesti terkait dengan undang-undang yang adil. Namun, undang-undang semacam itu mustahil ada kecuali diciptakan sang Pencipta yang kemudian dibawa oleh para nabi.

Keadilan: Syarat Utama

Dalam Islam, seluruh pos penting kehidupan sosial harus diletakkan di bawah tanggungjawab orang-orang yang adil; yang dalam kehidupan sosial tidak memiliki riwayat hidup yang buruk dan dikenal memiliki kelayakan serta kesucian diri.

Dalam sebuah pengadilan, seorang hakim, para saksi, dan seluruh pegawai yang bekerja di situ harus terdiri dari orang-orang yang adil dalam berbicara dan mencatat. Imam salat Jumat dan salat jamaah haruslah scseorang yang adil. Seorang marji' taqlid (ulama yang fatwanya diamalkan orang-orang awam), pemimpin revolusi, serta pihak yang bertanggung jawab mengelola baitul mal atau perceraian, harus berpijak semata-mata di atas prinsip keadilan. Sebuah berita atau intonnasi baru dapat diterima apabila disampaikan oleh orang yang adil.

Ringkasnya, Islam menjadikan prinsip keadilan sebagai syarat utama dalam kehidupan bermasyarakat serta terhadap pelbagai persoalan yang terkait dengan hukum, kehidupan sosial, keluarga, dan perekonomian.

Nilai Penting Keadilan

Dalam berbagai riwayat, Rasulullah saww pernah bersabda, "Adil satu jam lebih baik dari melakukan salat pada malam hari dan berpuasa pada siang hari selama tujuh puluh tahun."[2]

Dalam kesempatan lain. Rasulullah savvw juga menyabdakan;

"Perbuatan seorang pemimpin yang adil dalam memimpin masyarakat selama satu hari, lebih baik dari ibadahnya seorang hamba di tengah-tengah ke!uarganya selama seratus atau lima puluh tahun."

Imam Ja'far ash-Shadiq juga berkata, "Seorang pemimpin yang adil, doanya tidak akan tertolak." Amirul Mukminin, Imam Ali bin Abi Thalib mengatakan, "Keadilan merupakan kebaikan bagi masyarakat dan mengikuti sunnah Allah."

Beliau juga mengatakan bahwa keadilan identik dengan kehidupan, sedangkan kezaliman adalah kematian. Orang-orang yang menyerah dan tunduk di bawah kaki kezaliman pada hakikatnya adalah orang-orang yang inati.

Dalam menafsirkan ayat, ...dan menghidupkan bumi sesudah matinya,[3] Imam Musa al-Kazhim mengatakan, "Bumi menjadi hidup dikarenakan tegaknya keadilan dan dilaksanakannya hukum-hukum Ilahi".

Penegakkan Keadilan: Tujuan Para Nabi

Al-Quran menjelaskan pelbagai tugas yang harus diemban para nabi. Salah satu di antaranya adalah menegakkan keadilan dalam kehidupan masyarakat. Dalam kesempatan ini, saya akan memaparkan sejumlah tugas para pemimpin maksum tersebut:

1. Mengajak masyarakat menjadi hamba Allah dan menjauhkan diri dari penghambaan kepada taghut (pemimpin yang zalim). "... 'Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah laghut itu.'" Seruan seluruh nabi kepada umat manusia adalah. " Dekatlah kepada Allah dan jauhilah taghut "[4]

2. Memberi peringatan dan kabar gembira, "Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. " Kami mengutus kalian dengan benar agar kalian menakut-nakuti masyarakat dengan dosa dan siksaan akhirat. Dan dari sisi yang lain, berilah kabar gembira atas janji Allah yang diberikan kepada mereka.[5]<><>

3. Pengajaran dan pendidikan, "...mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah (as-sunah)." Dia mengutus para nabi untuk mendidik serta mengajarkan berbagai hal yang diperlukan umat manusia.[6]

4.Memerangi berbagai bentuk keterikatan dan menghancurkan pelbagai belenggu dan mata rantai kebiasaan atau tradisi yang mengikat kuat kedua tangan dan kaki manusia, "...dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka."[7] Nabi mulia saww diutus untuk melepaskan dan membebaskan beban dan mata rantai yang mengikat manusia.

5. Menjelaskan dan menyingkapkan berbagai jalan yang menyimpang serta mengungkap hakikat pemimpin-pemimpin yang zalim pada masa itu (Fir'aun, Karun, dan berbagai bentuk pemikiran menyimpang), "...dan supaya jelas pula jalan orang-orang yang berdosa."[8]

Tujuan para nabi adalah membentuk masyarakat yang diliputi keadilan; baik dalam lingkungan keluarga, sosial, ekonomi, bahkan juga bersikap adil terhadap kawan maupun lawan. Selain itu, para nabi juga bertujuan menghidupkan keimanan kepada Allah dan hari akhir dalam sanubari masyarakat.

Pada saat setiap individu masyarakat berakhlak dan berpola pikir Ilahiah, maka masyarakat itu sendirilah yang nantinya bangkit menegakkan keadilan serta membentuk tatanan kehidupan yang adil.

"Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan".[9]

Kami telah mengutus para nabi Kami dengan membawa argumen-argumen yang jelas dan Kitab dari langit, serta neraca yang berfungsi menimbang mana hak dan mana batil. Semua itu dilakukan agar manusia yang hidup di bawah bimbingan para pemimpin dan undang-undang langit ini, memiliki wawasan luas dan bangkit mewujudkan keadilan. Namun, perwujudan sebuah masyarakat yang adil memerlukan kekuatan makna, juga kekuatan material.

Karena itu, ayat di atas menyebutkan pula keharusan dimilikinya kedua kekuatan tersebut. Kata al-bayyinat, al-Kitab, dan al-mizan merupakan bentuk kekuatan maknawi yang berfungsi sebagai tiang penyangga tegaknya keadilan. Sedangkan kalimat, "dan Kami ciptakan besi",(wa anzalna al-hadid) dalam ayat yang sama, merupakan penjelasan tentang diperlukannya kekuatan material. Kekuatan material itu juga menjadi peringatan bagi para pembangkang yang jika masih tetap keras kepala dan melakukan penentangan, akan dimusnahkan dengan menggunakan kekuatan tertentu, cepat atau lambat!

Dengan demikian, jelas kiranya bahwa salah satu tujuan diutusnya para nabi adalah menegakkan keadilan dalam masyarakat.

Argumen Imam Ali tentang Konsep Persamaan

Tatkala sejumlah orang melontarkan krmkan, "Mengapa engkau membagi baitul mal secara sama rata?". Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib menjawab:

1. Kalau saja harta ini milik pribadiku, tentu aku juga akan membagikannya secara sama rata. Apalagi dalam kenyataannya harta ini milik Allah dan berhubungan erat dengan kebutuhan seluruh masyarakat. Karenanya, seluruh masyarakat berhak atas harta ini, "Jika harta ini miiikku sendiri, pasti aku akan membagi-baginya kepada mereka secara sama rata. Lantas bagaimana dengan kenyataan bahwa harta ini sesungguhunya adalah harta Allah".[10]

2. Seseorang disebut pemboros dan suka menghambur-hamburkan harta apabila sering berbelanja tidak pada tempatnya, " Ketahuilah, bahwa memberikan harta bukan kepada yang berhak, adalah pemborosan dan mubazir." Al-Quran menyebut orang-orang yang gemar menghambur-hamburkan harta sebagai teman-teman setan, "Sesungguhnya pemhoros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan."[11]

3. Pembagian tidak sama rata menyebabkan para pencinta dunia akan mengelilingi orang-orang kaya, seraya melontarkan kata pujian dan sanjungan palsu, dengan harapan mendapat bagian harta. Semua itu jelas akan menjauhkan manusia dari lingkup keadilan Ilahi, "Dan dia meninggikan temannya di dunia dan merendahkannya di akhirat. dan menghormatinya di hadapan manusia dan menghinakannya di hadapan Allah." Kemudian Imam melanjutkan bahwasannya apabila seseorang memberikan harta secara tidak semestinya atau memberikan harta kepada orang yang tidak layak menerima, Allah akan menjauhkan pujian yang dilontarkan orang yang menerima harta tidak layak tersebut. Berangsur-angsur keadaannya akan segera berubah; orang yang sebelumnya memuji-muji akan meninggalkannya dan mengalihkan perhatian kepada selainnya.

Orang semacam ini tidak memiliki harga diri di hadapan Allah. Para pecinta dunia akan senantiasa mengelilinginya, demi meraup keuntungan dari ketidakadilan dan ketidaksamarataan yang diberlakukan. Pada saat itu, para pecinta dunia tersebut amat menyukai dan menyanjung-nyanjung dirinya.

Namun, ketika pada suatu hari diri orang tersebut dihantam kesulitan yang luar biasa, segera saja mereka akan meninggalkan dan menjadi teman yang paling buruk. Sekarang saya akan menukil kata-kata langsung dari Imam, untuk kemudian akan saya beri catatan secara ringkas. "Tidak seorung pun yang meletakkan hartanya kepada yang tidak berhak dan kepada yang tidak layak, melainkan Allah akan melenyapkan rasa terima kasih mereka kepadanya, dan cinta mereka akan tertuju kepada orang lain. Maka, jika ia terjatuh dan memerlukan pertolongan mereka, ternyata mereka adalah teman yang terburuk dan sahabat yang paling kikir".[12]

Batas Terjauh Keadilan Islam

Semakin jauh kehidupan ini dari masa Nabi mulia saww, semakin jauh pula jarak antara masyarakat dengan keadilan sosial Islam. Sedikit demi sedikit, Usman membagi-bagikan harta baitul mal tanpa perhitungan lagi kepada sanak famili dan kroni-kroninya.

Selain itu, ia juga memberikan berbagai lahan dan kesempatan (untuk berkuasa) kepada mereka. Bentuk-bentuk diskriminasi semacam inilah yang memicu kekecewaan dan kegusaran masyarakat, yang kemudian membunuhnya dan membaiat Imam Ali bin Abi Thalib.

Semasa pemerintahan Imam Ali, berbagai bentuk sunah yang menyimpang segera dihapuskan, harta-harta yang berbau nepotisme ditarik kembali, proses pengangkatan dan pencopotan secara sewenang-wenang dihentikan. Semua itu merupakan program revolusi yang dilakukan Imam Ali. Oleh karenanya, dengarkanlah pernyataan beliau;

"Demi Allah jika aku menjurnpainya (harta) telah digunakan untuk pernikahan dengan para wanita, dan telah digunakan untuk memiliki budak-budak wanita, maka aku akan menariknya (harta itu) kembali...."

Demi Allah, kalau saja harta dan berbagai sarana yang telah diberikan Usman dengan tanpa perhitungan telah digunakan sebagai mahar bagi wanita atau digunakan untuk membeli budak-budak wanita, saya tetap akan menariknya kembali.[13]

Arab dan Ajam (non-Arab): Tak Beda

Alkisah, dua orang wanita mendatangi Imam Ali bin Abi Thalib demi mengambil bagiannya dari baitul mal. Wanita yang satu beretnis Arab, sementara satunya lagi non-Arab (ajam). Imam Ali kemudian memberikan hak masing-masing sesuai dengan keadilan serta kebiasaannya memberi bagian secara sama rata.

Keduanya yang masih belum tahu betul kebudayaan dan tata cara Islam ini belum sanggup menerima keadilan yang beliau praktikkan. Segera saja keduanya memprotes, "Apakah engkau memberi bagian kepada Arab dan Ajam secara sama rata?" Imam menjawab. "Aku tidak melihat adanya perbedaan (di antara keduanya)."[14]

Memang, tatkala menerapkan berbagai persamaan di pelbagai lapisan masyarakat, Imam acapkali menghadapi berbagai protes dan krmkan yang umumnya dilontarkan orang-orang egois dan zalim. Namun, segenap krmkan itu tidak menjadikan beliau bergeming sejengkal pun dari garis tauhid dan keadilan. Sebagaimana diungkapkan al-Quran. beliau termasuk sosok yang tidak terpengaruh celaan orang yang suka mencela. "... dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela."[15]

Menghitung Jumlah Orang Mati

Salah satu bentuk kebanggaan orang-orang yang hidup di zaman jahiliah ialah besarnya jumlah individu suatu kabilah. Semakin banyak kuantitasnya, semakin besar pula kebanggaan kabilah dimaksud. Kebiasaan tersebut bahkan bisa sampai menciptakan pertengkaran di antara kabilah-kabilah yang ada.

Dalam hal ini, penghitungan jumlah individu sudah sedemikian rupa. Sampai-sampai orang-orang yang telah mati juga dimasukkan dalam penghitungan. Semua itu dimaksudkan tak lain demi membuktikan kabilah mana yang paling banyak jumlahnya! Berkenaan dengan itu, turunlah ayat. "Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu rnasuk ke dalam kubur."

Sesungguhnya, kebanggaan terhadap banyaknya jumlah (individu dalam kabilah) telah menyibukkan kalian. Sampai-sampai kalian mengunjungi seluruh kuburan orang-orang yang telah mati demi menghitung jumlahnya (untuk kemudian digabungkan dengan juinlah orang yang masih hidup, — peny.).

Dari jumlah keseluruhan tersebut, lantas kalian berbangga! Dalam khotbah ke-221, seusai membacakan ayat ini, Imam Ali bin Abi Thalib dengan tegas menentang corak berpikir semacam itu.

Dalam salah satu majelis yang dipadati orang-orang yang gemar membanggakan kabilah, suku, atau keturunan masing-masing, Salman al-Farisi mendapat giliran untuk mengungkapkan asal muasal keturunannya. Para hadirin mengira bahwa Salman pasti akan malu hati lantaran dirinya berasal dari kabilah yang tidak populer.

Namun pribadi Salman yang telah terdidik dalam kebudayaan Islam yang orisinil, dengan tegas dan penuh rasa bangga menyatakan.

"Janganlah kalian memandang keluargaku, karena aku hanya mengetahui bahwa sebelumnya diriku adalah orang yang tersesat. Hanya berkat Rasulullah Muhammad saww, aku mendapatkan petunjuk. Menurutku, yang amat penting hanyalah itu."[16]<><><>

Dengan jawaban itu, beliau berhasil mematahkan kebanggaan picik yang berkobar-kobar dalam diri orang-orang yang hadir di situ. Sekaligus pula, beliau berhasil menghapus pelbagai bentuk pengistimewaan (kekabilahan, kesukuan, keturunan, dan sejenisnya) yang tidak memiliki makna sama sekali. Ungkapan yang memukau tersebut selanjutnya ditutup dengan penjelasan yang menyentak kesadaran mereka bahwa di mata agama dan Allah. seluruh manusia adalah sama.

Usulan Penyuapan

Pernah sekelompok orang mendatangi Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib dan berkata, "Berilah kelebihan kepada para pembesar kalangan Arab dan Quraisy atas para budak dan orang-orang Ajam. Juga (berilah kelebihan) kepada orang-orang yang dikhawatirkan akan menjadi lemah dan berpihak kepada Muuwiyah." Maksudnya, Anda mesti memberi bagian yang lebih banyak kepada para pembesar Arab dan Quraisy.

Dengan itu, mereka tentu akan senantiasa mengelilingi diri Anda. Sebaliknya, kalau Anda tidak memberi kelebihan kepada mereka di atas para budak dan orang ajam, besar kemungkinan mereka akan menentang atau membelot, untuk kemudian bergabung dengan Muawiyah.

Imam Ali bersabda. "Apakah saya mesti menggunakan baitul mal untuk menarik orang-orang? Apakah saya mesti menyuap mereka? Sesungguhnya, jika ada yang mendukung saya dikarenakan harta, ataupun dikarenakan ada harta yang lebih banyak, lalu membelot kepada yang lain dan melakukan pembangkangan terhadap saya, maka ,saya akan tetap mempertahankan keadilan dan agama, serta tidak berkeinginan untuk menarik orang-orang dengan perantaraan ancaman dan harta. Saya sama sekali tidak akan melebihkan seseorang atas yang lain. Siapa yang ingin tetap tinggal, silahkan, siapa yang hendak pergi, silahkan!”

Inilah garis Imam! Dalam menarik simpati golongan tertentu, beliau tidak bersedia melakukan hal-hal yang bertentangan dengan keadilan.[17]

Bentuk-bentuk Persaudaraan

Seorang penduduk kota Balakh menceritakan bahwa pada suatu hari dirinya datang menemui Imam Ridha. Kedatangannya pada saat itu bertepatan dengan tibanya waktu makan. Lantas, keduanya pun membentangkan taplak makan. Tak lama kemudian, Imam mengundang seluruh budaknya, baik yang berkulit hitam maupun putih, untuk duduk bersama-sama di hadapan hidangan makan tersebut.

Imam sendiri duduk di antara mereka. Sama seperti yang ada di situ, beliau juga tidak mendapat pelayanan khusus.

Menyaksikan kejadian itu, orang tersebut kemudian menganjurkan Imam, "Mestinya hidangan bagi para budak Anda sediakan secara terpisah!" Imam Ridha menjawab, "Tuhan kita adalah Esa, dan kita semua berasal dari ayah dan ibu yang satu juga".[18]

Sementara itu, balasan atas kebaikan dan kejahatan terjadi pada hari kiamat. Karenanya, mengapa kita mesti menjadi seorang egois?"

Kalau kita menyaksikan orang-orang yang memiliki posisi serta kedudukan (yang tinggi) berkenan untuk duduk bersama dan berbincang-bincang dengan kalangan umum, maka sejak saat itu, revolusi kebudayaan akan terjadi dan mengalami perkembangan pesat.

Andaikata setiap Muslirn memiliki perasaan bahwa dirinya tidak memiliki kelebihan dan keistimewaan atas orang lain (dirinya dari, untuk, dan dengan masyarakat). serta senantiasa berupaya menghidupkan etika Islami dalam kehidupan pribadinya, maka siapapun yang berjumpa dengannya, secara otomatis, akan memiliki ketertarikan kepadanya, termasuk kepada agamanya.

Persamaan dalam Islam

Telah berabad-abad lamanya, sejarah menyaksikan bagaimana orang-orang kulit putih senantiasa berbuat zalim dan bertindak diskriminatif terhadap orang-orang kulit hitam; kamar mandi umum, restoran, tempat peristirahatan, rumah sakit, sekolahan, dan tempat pemakaman orang kulit hitam dipisahkan dari orang kulit putih. Islam dengan tegas menolak dan menentang bentuk pilih kasih semacam ini dengan mengatakan, "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah, ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu".[19]

Orang-orang yang termulia di sisi Allah adalah mereka yang paling bertakwa. Perbedaan bentuk fisik, ras, dan bahasa justru menunjukkan kekuasaan Allah. Di antara pelbagai tanda kekuasaan-Nya, terdapat langit, bumi, serta beragam macam bahasa dan wama kulit.[20] Pada perjalanan haji terakhirnya, Nabi mulia saww mengumpulkan para jamaah haji dan bersabda, "Seluruh umat Islam dari berbagai kabilah, suku, ras, dan bahasa adalah sama."[21]

Semasa hidupnya, Nabi mulia saww seringkali memberikan kedudukan tertentu kepada para budaknya, menikahkan orang kulit hitam dengan kulit putih, bahkan anak bibi beliau diberikan kepada seorang budak hilam. Semua itu ditujukan demi menghapus pelbagai bentuk diskriminasi (pembeda-bedaan).

Kebiasaan Keliru: Sebuah Krmk

"... Kemudian, bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang banyak (Arafah)".[22] Dalam ayat tersebut, Allah Swt menolak bentuk keistimewaan yang diyakini kaum Quraisy. Mereka berkeyakinan memiliki posisi lebih tinggi dari yang lain.

Alasannya, mereka adalah pengelola dan pemelihara Ka'bah sejak dulu kala. Berdasarkan itu pula, mereka mengabaikan salah satu kewajiban berhaji, yaitu pergi ke Padang Arafah. Sebagai gantinya, mereka malah pergi ke Muzdalifah dengan mengatakan, "Kami adalah penduduk Haram (Tanah suci) Allah, dan tidak dapat berpisah dari Haram Allah."

Kemudian turunlah ayat yang menyebutkan, kalian mesti melakukan perjalanan (ke padang Arafah) sebagaimana orang-orang lain melakukannya. Kalian juga mesti meninggalkan perasaan lebih unggul dari yang lain.

Perbedaan Kaum Agamis dan Materialis

Orang-orang kaya menganggap para pengikut Nabi Nuh terdiri dari orang-orang hina dan tidak berguna. Kemudian mereka mengusulkan kepada Nabi Nuh, "Apabila engkau menjauhkan orang-orang itu dari sekelilingmu, kami semua akan berada di Sampingmu!"

Nabi Nuh yang senantiasa melindungi orang-orang lemah, rnemberikan jawaban negatif, seraya mengatakan. "... dan aku sekali-kali tidak nkan mengusir orang-orang yang telah beriman".[23]

Aku sama sekali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman (dikarenakan hendak mendapatkan dukungan orang-orang kaya). Hal yang paling berharga dalam kehidupan ini adalah keadilan sosial dan penjagaan terhadap keutuhan agama.

Dalam mencari pengikut, siapapun mesti berpijak di atas kedua hal tersebut. Bukannya malah meremehkan sebagian ajaran agama serta mengabaikan kebenaran dan keadilan, dengan harapan moga-moga sikap semacam itu akan menambah jumlah pengikut. Bentuk pemikiran semacam ini bukanlah bentuk pemikiran orang-orang yang agamis yang menyembah Allah. Namun, tak lain dari bentuk pemikiran orang-orang materialistis.

Pembagian Adil Sekeping Roti

Pada suatu ketika, Imam Ali menerima sejumlah harta untuk baitul mal. Masyarakat pun berbondong-bondong mendatangi beliau demi meminta bagian masing-masing. Agar tidak saling berebut, beliau memagari sekeliling harta tersebut dengan seutas tali seraya mengatakan, "Menjauhlah dari harta itu, janganlah kalian masuk ke dalam tali pembatas."

Kemudian Imam memasuki pembatas tersebut dan membagi-bagikan harta itu kepada wakil masing-masing kabilah. Di akhir pembagian, Imam melihat sebuah bakul yang berisi sepotong roti. Imam kemudian memerintahkan supaya keping roti tersebut, sebagaimana harta lainnya, dibagi potong-potong menjadi tujuh bagian. Dan tiap-tiap kabilah pun mendapat satu keping darinya.[24]

Revolusi kita akan sukses seandainya di negeri ini, kita melakukan tindakan semacam itu. Selain itu, kita juga mesti mencontohkan kepada dunia bahwa kita sendiri amat telm dan cermat dalam hal penggunaan harta baitul mal serta tidak sampai melakukan pemborosan dan kemubaziran. Darinva pula, kita bisa membuat perbandingan antara pemimpin pemerintahan Islam dan pemimpin pemerintahan lainnya.

Dilema Meraih Kebaikan

Rumah salah seorang penduduk Madinah mengalami kecurian. Dalam kasus tersebut, terdapat dua orang tertuduh; seorang Muslim dan seorang Yahudi. Kemudian keduanya dibawa menghadap Rasul saww. Orang-orang Islam merasa risau kalau-kalau si Muslim itulah pencurinya. Sebab, kalau memang benar demikian, akan habislah nama baik kaum Muslimin di mata orang-orang Yahudi.

Dengan bergegas, mereka mendatangi Rasul saww dan mengatakan, "Harga diri Muslimin tengah dalam bahaya. Usahakanlah agar orang Muslim itu terlepas dari tuduhan!" Namun Rasul saww yakin bahwa penjatuhan hukuman dengan cara tidak benar justru akan memalukan dan melecehkan Islam. Mereka mengatakan, "Selama ini, orang-orang Yahudi telah banyak berbuat zalim kepada kita.

Seandainya orang Yahudi (yang dijadikan tertuduh) ini mendapat perlakuan zalim, itu masih belum seberapa dibandingkan dengan kezaliman yang telah mereka lakukan selama ini!" Rasul saww bersabda, "Pertimbangan dalam masalah hukuman dan keadilan, berbeda dengan pertimbangan berdasarkan kekecewaan di masa lalu."

Tak lama dari itu, mulailah beliau memeriksa kedua tersangka tersebut. Dan ternyata, hasilnya bertolak belakang dengan harapan kaum Muslimin; orang Yahudi tersebut terbebas dari tuduhan! Ini merupakan contoh dari praktik keadilan yang mengagumkan. Anggapan kaum Muslimin waktu itu bahwa hasil tersebut akan menjatuhkan harga diri umat Islam terbukti keliru. Malah, ketegasan serta kejujuran tersebut akan menjadikan keadilan dan Islam kian terhormat dan berwibawa.

Karenanya, kita harus memikirkan keadaan (kehormatan dan keagungan) agama dan tidak menambah atau menguranginya (agama) demi menguntungkan seseorang atau kelompok tertentu.

Pengharapan Salah Tempat

Sekelompok orang yang melintas di depan majelis Nabi saww, melihat adanya sejumlah orang yang tidak berharta, fakir, dan miskin seperti Ammar bin Yasir dan Bilal. Dengan penuh keheranan, mereka bertanya kepada Nabi saww, "Apakah engkau merasa cukup dengan orang-orang semacam ini? Segera jauhkan mereka dari sekelilingmu, niscaya kami akan condong kepadamu!"

Setelah menukil peristiwa itu, penulis tafsir al-Manar menambahkan bahwa Umar bin Khattab menunjukkan kecondongan pada usulan orang-orang kaya Quraisy tersebut, dengan mengatakan kepada Nabi saww, ''Demi menguji kebenaran ucapan mereka, usirlah orang-orang miskin ini dari sisimu, lalu kita lihat apakah mereka akan condong atau tidak? Apakah mereka menepati ucapannya atau tidak?"

Kemudian, turunlah ayat sebagai peringatan kepada Nabi saww, "Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyembuh Tuhannya pagi dan petang, sedang mereka menginginkan keridhaan-Nya...."

Janganlah engkau mengusir mereka yang di pagi dan malam hari senantiasa memanjatkan doa kepada Tuhannya. Mereka tidak melihat yang lain kecuali Zat Yang Mahasuci. Pada akhir ayat tersebut, Allah memfirmankan bahwa seandainya engkau mengusir orang-orang mukmin tersebut, maka engkau tergolong orang-orang yang zalim; ".. sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim".[25]

Larangan Menganggap Enteng

Suatu ketika, dua orang anak kecil membuat dua bentuk tulisan. Kemudian keduanya meminta Imam Hasan menilai bentuk tulisan mereka masing-masing. Andaikata permintaan itu diajukan kepada orang biasa-biasa saja, tentu akan dianggap enteng.

Sebabnya, pertama, penilaian yang dilakukan hanya berkisar pada bentuk kedua tulisan tersebut. Kedua, keduanya (yang mengajukan permintaan) tak lain dari dua orang anak kecil. Seyogianya, pemberian nilai terhadap apapun harus dilakukan secara adil dan bijaksana.

Sekalipun terhadap (karya) anak-anak kecil, Imam Ali berpesan kepada puteranya, Imam Hasan al-Mujtaba, untuk benar-benar berhati-hati dalam memberikan penilaian. Sebab, penilaian yang diberikan sekarang ini akan diminta pertanggungjawabannya kelak di hari kiamat oleh Allah Swt." Lihatlah bagaimanakah kamu memberikan keputusan karena sesungguhnya keputusan ini, Allah akan mempertanyakannya pada hari kiamat".[26]

Seputar Perselisihan Antartamu

Pada suatu hari, seseorang bertamu ke rumah Imam Ali bin Abi Thalib. Namun, tak lama berselang, terjadilah perselisihan antara dirinya (tamu itu) dengan temannya.

Dalam keadaan demikian, ia menemui Imam Ali sendirian (tanpa disertai teman berselisihnya) dan menjelaskan peristiwa yang telah terjadi. Imam Ali berkata; "Sebelum ini engkau adalah tamuku, namun sekarang engkau menjadi salah satu pihak yang bertikai. Keluarlah dari sini karena Rasul saww bersabda, 'Janganlah engkau menerima sebagai tamu salah satu dari dua orang yang saling bertikai, melainkan yang lain pun juga ikut serta.'"

Memang, terdapat ketentuan tersendiri dalam hal penerimaan tamu, begitu pula dalam hal mengadili; menerima tamu dilandasi rasa kasih sayang, sedangkan mengadili didasari undang-undang.

Hendaklah kalian menjauhkan diri dari berbagai bentuk perasaan dan kejiwaan yang bisa menimbulkan pengaruh tertentu —sekalipun hanya sekian persen saja—terhadap upaya untuk mengadili dan menegakkan keadilan.[27] Imam Ali pernah berpesan kepada para petugas pengumpul pajak agar ketika bertugas ke daerah mana saja tidak sampai memasuki rumah seseorang.

Mereka dinasihati untuk menunggu di samping atau halaman rumah (orang yang ditagih pajaknya). Sebab, kalau sampai bertamu, besar kemungkinan usaha mereka dalam menarik pajak masyarakat akan menjadi terpengaruh.[28]

Secara tegas, al-Quran menentang seseorang yang mengutamakan orang lain tanpa alasan yang jelas dan memadai. Ketika ayat al-Quran diturunkan, sedikit demi sedikit orang-orang tertarik ke arahnya (al-Quran). Pada saat bersamaan, Rasul saww dan sebagian Muslirnin senantiasa berusaha mengenalkan dan mengajak masyarakat memeluk lslam.

Pada suatu hari, terjadi sebuah pertemuan yang dihadiri para tokoh masyarakat. Tatkala perbincangan (yang dimaksudkan untuk rnengajak orang-orang agar menerima Islam itu) dimulai, datanglah seorang buta dan memotong pembicaraan. Ternyata, bukan hanya sekali saja hal itu dilakukan, melainkan berulang-kali.

Perbuatan orang buta tersebut tidak disukai orang yang tengah berbicara, yang karenanya menunjukkan muka masam (cemberut); ia tidak menyukai kedatangan orang buta itu pada saat-saat menentukan semacam itu —dan seandainya diperkenankan hadir dalam pertemuan itu, semestinya ia terlebih dahulu berdiam diri.

Sekalipun tidak begitu berbeda antara menunjukkan muka masam atau muka manis terhadap orang buta, namun dalam surah Abasa, al-Quran memperingatkan orang bermuka masam tersebut bahwa sesungguhnya ia tidak mengetahui kalau orang buta itu mungkin memiliki kesiapan yang justru melebihi para tokoh dalam hal menerima kebenaran dan kesucian diri.


[1] Asy-Syamsy: 8.

[2] Jami'us Sa’adat, jilid II, hal. 223.

[3] Ar-Rum: 19.

[4] An-Nahl: 32.

[5] Al-Baqarah: 119.

[6] Al-Jumu'ah: 2.

[7] Al-A'raf: 157.

[8] Al-An'am:55.

[9] Al-Hadid: 25.

[10] Nahj al-Balaghah, khotbah ke-126.

[11] Al-Isra': 27.

[12] Subhi Shaleh, Nahj al-Balaghah, khotbah ke-126, hal.183.

[13] Ibid., khotbah ke-15, hal. 57.

[14] Wasail asy-Syi'ah, jilid XI, hal. 81.

[15] Al-Maidah: 54.

[16] Safinah al-Bihar, jilid II, hal. 248.

[17] Bihar al-Anwar, cetakan lama, jilid XVI, hal. 108.

[18] Al-Kafi, jilid VIII.hal.230.

[19] Al-Hujurat: 13.

[20] Ar-Rum: 22.

[21] Safinah al-Bihar, jilid II, hal. 248.

[22] Al-Baqarah: 199.

[23] Hud: 29.

[24] Bihar al-Anwar, jilid XLI, hal. 136.

[25] Al-An'am: 52.

[26] Tafsir Majma' al-Bayan, jilid III, hal. 64.

[27] Wasail asy-Syi'ah, jilid XVIII, hal. 157.

[28] Nahj al-Balaghah, surat ke-25.