KETAUHIDAN

Pandangan Dunia (ar-ru`yah al-kaumah)

Kita semua acapkali mendengar istilah “Pandangan Dunia” (world view). Pandangan Dunia merupakan sebuah tafsiran universal terhadap keberadaan jagat alam (macrocosmos). Adapun Pandangan Dunia yang menyertakan kesadaran bahwa keberadaan alam ini memiliki tujuan, bersandar pada wujud yang memiliki perasaan, dan berdasarkan pada sebuah rancangan, sistem, serta perhitungan yang pasti, disehut Dengan "Pandangan Dunia Ilahiah". Sementara, pandangan semesti yang mengedepankan asumsi bahwa jagad alam ini tidak didasari oleh rancangan sebelumnya, tidak memiliki perancang yang berperasaan, tanpa tujuan, dan tanpa perhitungan, disebut dengan "Pandangan Dunia Materialisme."

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa "Pandangan Dunia" tak lain dari bentuk tafsiran serta perspektif universal seseorang terhadap universum keberadaan alam dan manusia.

Manfaat Pembahasan Pandangan Dunia

Tak diragukan lagi, pembahasan terhadap kedua bentuk pandangan tersebutpasti memiliki manfaat, serta keuntungan yang khas. Seumpama, rumah yang besar (alam) ini ada pemiliknya, dibangun dengan perhitungan, serta memiliki tujuan, di mana saya menjadi salah satu bagian di dalamnya, tentunya sikap serta perbuatan saya harus berdasar pada kerelaan pemilik rumah (Allah).

Selain itu, saya juga mesti mengamalkan berbagai aturan yang telah diberikan saya (dengan perantaraan wahyu dan para nabi). Adapun seandainya seluruh alam ini tercipta tanpa suatu rancangan apapun, tidak bertujuan, dan tanpa perhitungan, maka bagi saya tak ada alasan untuk menaati berbagai aturan serta tidak harus petuh pada berbagai ikatan dan larangan.

Pada masa sekarang, kalimat "manusia yang konsisten dan bertanggung jawah" acapkali didengung-dengungkan. Padahal, masalah pertanggungjawaban, adanya pengawasan, dipertanyakannya segala perbuatan, dan keyakinan bahwa alam ini tercipta berdasarkan perhitungan, sistem, serta tujuan, merupakan masalah yang tercakup dalam topik "Pandangan Dunia Ilahiah".

Dan melalui pandangan semacam inilah, kita dapat menjadi manusia yang konsisten dan bertanggung jawab. Akan tetapi, berbandirig terbalik Dengan itu, dalatn sudut pandang materialisme, seluruh jagat alam terwujud tanpa rancangan sebelumnya.

Menurut pandangan ini, semua keberadaan tercipta sesuai dengan berlalunya waktu. Dikatakan pula bahwa seluruh manusia berjalan menuju kemusnahan diri. Dengan kematian, mereka akan menjadi musnah. Sementara tujuan dari kehidupan ini tak lebih dari sekadar meraih kesenangan (dunia), untuk kemudian segera musnah dan bmasa. Bentuk pemikiran semacam ini niscaya akan menjadikan seseorang berkata kepada dirinya sendiri, "Mengapa saya mesti ada (hidup) dan tidak melakukan bunuh diri? Bertahun-tahun saya hidup menderita, toh akhirnya saya juga akan bmasa.

Lalu mengapa saya tidak segera mengakhiri hidup saya ini?" Benar, kehidupan yang bermakna hanyalah kehidupan yang berada di bawah naungan "Pandangan Dunia Ilahiah", tidak pada yang lain.

Fungsi Pandangan Dunia

Ketika di tengah malam buta, rumah Anda tiba-tiba diketuk seseorang yang belum Anda kenal betul dan tidak dapat terlihat secara jelas, tentu Anda tidak akan segera membuka pintu.

Ketika tidak mengetahui bagaimana cuaca kota yang akan kita tuju, pasti kita tidak akan mengetahui jenis pakaian apakah yang harus dibawa. Pabila kita tidak mengetahui apakah undangan yang ditujukan untuk kita berupa undangan dukacita atau pernikahan, jelas kita tidak akan bisa memutuskan pakaian maLam apakah yang mesti kita kenakan.

Dengan demikian, agar tugas-tugas yang akan kita laksanakan menjadi jelas, kita terlebih dahulu harus memiliki pandangan serta pengenalan yang jelas terhadapnya.

Karena itu, akidah bentuk pemikiran, serta pengenalan (yang keseluruhannya bisa dnstilahkan dengan "Pandangan Dunia") yang ada pada diri kita akan berpengaruh terhadap seluruh perilaku serta pilihan-pilihan kita.

Memilih Pandangan Dunia

Telah saya kemukakan bahwasannya terdapat dua bentuk pandangan terhadap keberadaan alam semesti dan manusia.

1. Pandangan Ilahiah: Sebuah pandangan yang menerima prinsip tentang adanya pemilik, perhitungan yang pasti, rancangan yang sistemis, serta perancang dari keberadaan jagat alam ini.

2. Pandangan Materialis: Sebuah pandangan yang meyakini bahwa semesti alam ini bukan milik siapa-siapa, tak ada perancangnya, tercipta tanpa tujuan, dan bergerak menuju titik kemusnahan. Dengan memperhatikan manfaat serta fungsi "Pandangan Dunia" sebagaimana yang saya singgung pada awal pembahasan, setiap orang mau tidak mau harus memnih salah satu dari kedua bentuk pandangan tersebut.

Ciri-ciri pandangan yang baik mengandungi sejumlah hal:

1. Pandangan Dunia senantiasa berpijak di atas  berbagai argumen akal (logika).

2. Pandangan serta proses penafsirannya harus sesuai dengan fitrah penciptaan alam.

3. Selain memiliki nilai, Pandangan Dunia juga mengobarkan semangat, harapan. serta rasa bertanggung jawab.

Dengan memperhatikan ciri-ciri di atas, kita akan memulai pembahasan dan kajian ini.

Tauhid: Poros "Pandangan Dunia Ilahiah" (ar-ru`yah al-kaumah al-ilâhiah)

Sesuai Dengan prinsip penalaran, kita mengetahui bahwasannya keberadaan sesuatu pasti memiliki sebab-musababnya. Keyakinan dan ketentuan ini sedemikian jelas sampai-sampai jika Anda meniup wajah seorang bayi, sekalipun secara perlahan, ia akan segera membuka matnya serta menengok ke kanan dan ke kiri demi mencari sebab munculnya angin yang menerpa wajah mungituya.

la mengetahui bahwa hembusan angin tersebut berasal dari suatu sumber tertentu. Ya, masalah adanya bekas atau jejak yang menunjukkan adanya sesuatu yang membuat bekas atau jejak tersebut, merupakan suatu masalah yang teramat jelas dalam kehidupan kita. Di seluruh pengadilan, keberadaan bekas atau jejak acapkali mampu mengungkap fakta suatu kasus. Apabila terdapat lukisan seekor burung merak atau ayam jantan, kita bisa memastikan bahwa untuk itu ada yang menggambar atau melukisnya.

Akan tetapi, mungkinkah hagi kita untuk membayangkan bahwasanya keberadaan hurung merak dan ayam jantan itu sendiri tidak memiliki perancang dan penciptanya? Bagaimana kita dapat meyakinkan akal kita kalau sebuah kamera saja ada yang membuatnya, sementara mata manusia tidak dibuat oleh pencipta yang memiliki perasaan?

Padahal, kita mengetahui dengan pasti bahwa dalam hal pengamhilan gambar, kemampuan mata kita jauh lebih sempurna daripada sebuah kamera. Setelah beberapa kali melakukan pengambilan gambar, sebuah kamera harus mengganti negatif filmnya dengan negatif film yang baru.

Sementara mata kita tiada henti-hentinya mengambil gambar tanpa perlu mengganti negatif film. Sebuah kamera biasanya hanya bisa mengambil gambar hitam-putih atau berwarna, sedangkan mata kita dapat mengambil gambar berbagai benda dalam berbagai wama, hitam-putih, berwama, dari jarak dekat maupun jauh, di bawah pancaran sinar matahari atau terlindung darinya.

Dengan demikian, mungkinkah akal kita dapat menerima pandangan bahwa anggota tubuh bagian permukaan diciptakan oleh sang pencipta, sementara bagian organ pencernaan tidak?! Kita meyakini bahwa keteraturan yang terdapat pada diri seseorang mencerminkan adanya perasaan dalam dirinya. Lalu, apakah keteraturan yang berlangsung di alam semesti ini tidak merefleksikan adanya (pencipta yang memiliki) perasaan? Bagaimanakah mereka bisa menggantikan (pencipta alam ini) dengan berbagai sebab-sebab serta hukum-hukum alam? Padahal kita mengetahui bahwa hanya untuk mengetahui hakikat keberadaan dari salah satu saja dari hukum-hukum alam tersebut, seorang cendekiawan sampai harus menghabiskan waktunya selama berpuluh-puluh tahun!

Ringkasnya, apabila ciri-ciri utama yang melekat pada "Pandangan Alam" terbaik selaras dengan pendapat akal, maka sejak kali yang pertama, akal kita telah menyaksikan adanya sistem (keteraturan) serta perhitungan yang rinci di jagat alam ini, sekaligus memberi keyakinan bahwa alam semesti merupakan hasil ciptaan suatu kekuatan yang memiliki perasaan. Melalui rumus akal itulah, Allah memberikan sederet jawaban atas berbagai keraguan yang mendera. Setelah melakukan observasi terhadap alam semesti dan mengetahui adanya berbagai keteraturan serta perhitungan yang amat hnci di dalamnya, kita niscaya akan terbawa ke dalam pandangan Ilahiah. Inilah suatu pertanda adanya kebenaran dalam cara memandang dan berpikir.

Pertanda lain yang menunjukkan kebenaran "Pandangan Dunia Ilahiah" adalah kesesuaiannya dengan keberadaan fitrah. Dalam hal ini, saya akan menjelaskan terlebih dahulu kepada saudara-saudara sekalian, makna dari fitrah, sehingga ketika saya menyinggung masalah pengenalan tuhan secara fitriah, kita sudah memiliki bekal pengetahuan yang memadai.

Penafsiran Fitrah

Istilah fitrah identik dengan kata khilqahi, yang memiliki arti "ciptaan"; suatu bentuk perasaan yang terdapat dalam diri manusia yang dalam perwujudannya tidak memerlukan latihan serta pengajaran dari seorang pendidik atau pengajar, dan perasaan tersebut senantiasa bersemayam dalam jiwa seluruh manusia di pelbagai tempat dan masa. Perasaan tersebut terkadang disebut fitrah, dan terkadang pula disebut gharîzah (insting).

Alhasil, insting merupakan perasaan serta berbagai kecenderungan yang Selain terdapat dalam diri manusia, juga terdapat pada hewan. Tentunya jelas bahwa salah satu pertanda bahwa sesuatu hal bersifat fitriah ialah apabila keberadaannya bersifat universal.

Misalnya, kecintaan seorang ibu terhadap anaknya yang merupakan sesuatu yang bersifat fitriah; perasaan kasih sudah tertanam dalam jiwa sang ibu, sehingga untuknya tidak diperlukan bimbingan atau pengajaran. Dan hal itu juga bersifat universal.

Dalam arti, apabila Anda rnenelusuri pelbagai tempat dan masa, pelbagai bentuk dan sistem pemerintahan, Anda tentu akan menjumpai kecintaan seorang ibu terhadap anaknya. Akan tetapi, terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan kuat dan lemahnya perasaan (fitrah) tersebut.

Boleh jadi suatu perasaan yang terdapat dalam jiwa seseorang berhasil mengalahkan perasaan yang lain. Misalnya saja dalam diri manusia terdapat rasa cinta terhadap harta, kesenangan, atau keselamatan. Akan tetapi, bobot dan masing-masing bentuk perasaan yang terkandung dalam diri setiap individu tersebut tidaklah sama persis.

Sebagian orang akan rela mengorbankan nyawa demi hartanya, sementara sebagian lainnya akan rela mengorbankan harta demi nyawanya. Sebagaimana pernah terjadi pada suatu masa, seorang ayah yang demi mempertahankan harga diri (dikarenakan anggapan yang berkembang waktu itu bahwa memiliki anak perempuan merupakan suatu kehinaan dan cela) sampai-sampai harus memutuskan rasa cintanya kepada anak (perempuan)nya.

Kemudian dengan tangannya sendiri, ia tega mengubur hidup-hidup anak itu. Karena itu, keberadaan fitrah tidak meniscayakan semua manusia memiliki sikap yang sama. Sebabnya, banyak sekali fitrah yang tertutupi fitrah yang lain. Salah satu hal yang dihasilkan fitrah ialah rasa bangga diri. Seseorang yang berjalan di garis fitrah, akan memiliki jiwa yang tenang. Seorang ibu yang menggendong putranya akan merasa bangga, sampai-sampai ia akan marah ketika menyaksikan seorang ibu yang tidak mengasihi anaknya sendiri. Ya, rasa bangga dan marah tersebut merupakan bentuk sikap yang dihasilkan oleh fitrah.

Sekarang, marilah kita saksikan bersama, apakah pengenalan terhadap Tuhan merupakan sesuatu hal yang bersifat filrah ataukah bukan?

Kita akan bertanya kepada setiap manusia yang ada di setiap tempat, masa, serta pemerintahan, "Apa yang kalian rasakan dalam kehidupan di alam semesti ini?" Apakah kalian merasa bahwa diri kalian benar-benar bebas? Ataukah kalian merasakan bahwadalam diri terdapat suatu keterikatan?

Tak seorangpun yang mengatakan, "Di alam semesti ini saya benar-benar merasa bebas." Setiap orang pasti akan merasakan bahwa di dalam dirinya terdapat suatu ikatan. Namun, perasaan yang benar semacam ini bisa terpenuhi dalam dua bentuk:

1. Perasaan yang henar dan dipenuhi dengan cara yang benar.

2. Perasaan yang benar dan dipenuhi dengan cara yang keliru (kebohongan).

Seumpama, seorang bayi yang menangis karena merasa lapar. Perasaan lapar tersebut merupakan sesuatu yang benar. Namun terkadang, pemenuhan tuntutan perasaan tersebut dilakukan dengan cara menghisap susu ibunya yang penuh dengan air susu.

Tentunya, pemenuhan semacam ini dilakukan dengan cara yang benar. Namun, terkadang pemenuhan perasaan tersebut dipenuhi dengan cara menghisap puting susu plastik tiruan (dot). Sebagaimana dikemukakan bahwa dalam diri manusia benar-benar terdapat rasa keterikatan. Akan tetapi, keterikatan pada apa?

1. Pada kekuatan Allah?

2. Pada kekuatan alam?

Keberadaan alam sendiri memiliki keterikatan terhadap ratusan sebab dan akibat. Dengan demikian, kita mesti mengikatkan diri kita dengan suatu kekuatan yang tidak lagi terikat sebagaimana diri kita.

Misi Para Nabi

Misi para nabi ditujukan untuk menjaga agar perasaan manusia yang pada hakikatnya bersifat lembut tidak sampai dijejali berbagai modus kebohongan (kekeliruan). Sebagaimana seorang ibu atau seorang pengasuh yang tidak akan pernah membiarkan seorang anak yang lapar—demi menghilangkan rasa laparnya—menyantap makanan secara sembarangan. Sejarah menunjukkan bahwa mereka yang tidak berada di bawah bimbingan para nabi akan terjerumus ke dalam berbagai macam khurafat (penyelewengan).

Apakah Perbudakan Bertentangan dengan Kebebasan Manusia?

Kadang kala, terbayang dalam benak kita bahwa ajakan pari nabi serta berbagai mazhab samawi untuk menyembah Allah semata merupakan perbuatan yang bertentangan dengan kebebasan manusia.

Namun, perlu diperhatikan bahwa susunan tubuh manusia telah diciptakan sedemikian rupa, sehingga manusia tidak dapat hidup tanpa cinta, kasih, peribadahan, serta harapan. Rasa cinta dan kegemaran dalam beribadah telah tertanam dalam jiwa manusia. Dan, jika perasaan tersebut tidak ditundukkan di bawah bimbingan para nabi, akibatnya manusia akan menjadi penyembah patung berhala, benda-benda langit, sesamanya, serta para pemimpin yang zalim.

Karena itu, perbudakan dan peribadahan kepada Allah merupakan suatu cara pemuasan yang benar, yang menghalangi berbagai bentuk pemuasan semu (keliru), sekaligus menyelamatkan jalur cinta dan peribadahan dari pelbagai penyimpangan.

Pandangan Alam Ilahiah dan iman kepada Allah berakar pada keberadaan fitrah. Perasaan serta keterikatan pada kekuatan adikodrati yang tidak terbatas, sudah tentu terdapat dalam jiwa setiap manusia. Namun demikian, sekalipun seseorang bisa memastikan adanya kekuatan tidak terbatas itu, ia boleh jadi mengalami kekeliruan dalam hal menentukan kekuatan manakah yang bersifat llahi dan mana yang bersifat alamiah.

Alhasil, perasaan dan huhungan semacam itu benar-benar ada. Karena itu, Pandangan Dunia Ilahiah meyakini bahwa seluruh keberadaan di jagat alam terikat dengan suatu kekuatan adikodrati tanpa batas dan memiliki perasaan, dan ini sesuai dengan fitrah manusia. lnilah bukti lain yang berkenaan dengan kebenaran.

Pandangan Dunia Ilahiah

Tanda ketiga yang melekat pada suatu pandangan yang paling komprehensif ialah melahirkan rasacinta, harapan, serta tanggungjawab dalam diri manusia.

Pabila seorang pelajar yang ada di sebuah sekolah mengetahui bahwa berbagai usahanya tidak akan sia-sia, seperseratus dari nilainya akan diperhitungkan, dan seluruh alasan yang masuk akal akan diterima, tentu akan terus belajar dengan semangat yang luar biasa.

Berkat Pandangan Dunia Ilahiah, manusia akan memiliki keyakinan bahwa setiap detik dari kehidupannya senantiasa berada di bawah pengawasan Allah. Dengan pandangan tersebut, setiap alasan keberadaannya juga akan diterima, perbuatan baik dan buruknya sekecil apapun—tidak akan diabaikan bahkan perbuatan baiknya akan dibeli Allah, harga dari nyawa dan hartanya akan dibayar oleh kenikmatan surgawi, dan memiliki keyakinan bahwa pada satu sisi dirinya acapkali memperoleh pertolongan gaib, sementara pada sisi yang lain memperoleh sarana pendidikan yang bebas dari keraguan, kekeliruan, serta kealpaan.

Ala kulli ha, semua itu merupakan pelita harapan yang paling benderang yang menerangi hati manusia.

Bagaimanakah Bentuk Iman dan Kecenderungan yang Berharga?

Dalam al-Quran terdapat berbagai kritikan atas berbagai bentuk iman serta kecenderungan yang dimiliki manusia:

1. Berbagai kecenderungan yang bersifat musiman (angin-anginan). Sebagai contoh. seseorang yang pada suatu ketika merasakan dirinya tengah berada dalam bahaya, di mana kapal yang ditumpanginya akan tenggelam.

Pada saat itu, ia segera menyebut, "Yaa Allah." Akan tetapi, begitu terlepas dari kesulitan tersebut, dan dirinya melihat bahwa kapal yang ditumpanginya tengah mendekati pantai, seketika itu pula ia kembali menyerahkan dirinya kepada Selain Allah; berbuat syirik.

2. Dalam Al-Quran kita membaca ayat ini: “Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan niat ketaatan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelematkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka kembali mempersekutukan (Allah)” (al-Ankabût: 65)

3. Keimanan serta kecenderungan ikut-ikutan terhadap keyakinan urang tua dan para pendahulu. Kecenderungan semacam ini biasanya tidak didasari argumentasi atau dalil yangrasional.

Keimanan ini mirip dengan keimanan yang dimiliki para penyembah berhala. Tatkala menjawab pertanyaan para nabi, mereka mengatakan, "Keyakinan kami dalam menyembah berhala ini diwarisi dari para pendahulu kami." Berkenaan dengan ini, al-Quran mengatakan, “Mereka menjawab, ‘(Bukan karena itu), sebenarnya kami mendapati nenek moyang berbuat demikian” (asy-Syu’arâ`: 74)

4. Keimanan dan kecenderungan yang hanya bersifat kulit belaka dan belum menembus ke dalam lubuk hati, ruh, serta jiwa.

Al-Quran mengatakan, "Sekelompok orang-orang Arab datang menemui Rasul saww dan mengatakan, “Kami semua telah beriman”.

Kemudian Allah berfirman kepada Nahi saww, “Katakanlah kepada mereka, “Keimanan kalian sekarang ini masih belum membekas dalam hati kalian. Kalian hanya sekedar mengungkapkan rasa keimanan saja’. Orang-orang Arab Badui itu berkata, ‘kami telah beriman’, Katakanlah (kepada mereka), ‘Kamu belum beriman, tapi katakanlah, ‘Kami telah tunduk’, karena iman itu berlum masuk ke dalam hatimu”. (al-Hujurât: 14)

5. Keimanan yang kosong dari amal perbuatan yang baik. Orang yang memiliki keimanan ini adalah orang yang berpengetahuan namun enggan mengamalkannya. Dalam al-Quran, terdapat banyak sekali kecaman terhadap orang-orang semacam ini.

Manakah Bentuk Keimanan yang Bernilai?

Dalam al-Quran disebutkan bahwa iman yang bernilai dan berharga harus didasari pada pemikiran serta pertimbangan rasional terhadap berbagai ciptaan. Kita membaca dalam al-Quran; “... dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia” (Ali Imrân: 191)

Hasil-hasil Keimanan Terhadap Allah

1. Munculnya perasaan cinta dan semangat.

Seseorang akan mengetahui secara pasti bahwa seluruh perbuatannya senantiasa berada di bawah pengawasan Allah, sembari meyakini pula bahwa tak satupun dari amal perbuatannya akan musnah, dan semua usahanya akan diganjar Allah dengan surga dan ridhwân (kerelaan Allah).

Bahkan, sekalipun ia hanya memiliki niat semata dan tidak berusaha, Allah tetap akan menganugerahkan paHala dan ganjaran kepadanya. Seseorang yang mengetahui semua itu pasti akan menjalani kehidupan yang penuh dengan semangat dan cinta.

2. Menjauhkan diri dari tipu muslihat, kehinaan moral, dan pelecehan hak.

Seseorang yang menyadari bahwa diri serta perbuatannya berada di bawah pengawasan serta kekuasan Allah, tidak akan melakukan berhagai bentuk penipuan.

3. Keagungan.

Seseorang yang bersedia menjadi hamba-Nya, tidak akan bersedia tunduk pada kekuatan lain. la akan memandang seluruh kebciadaan Selain-Nya sama seperti dirinya yaku hanya sebagai hamba.

4. Tidak akan melakukan pekerjaan yang merugikan.

Dikarenakan setiap perbuatan baik yang dikerjakannya akan mendapat pahala serta ganjaran yang kekal dan abadi, ia tidak akan pernah bersandar kecuali kepada-Nya, dan senantiasa menjauhkan diri dari berbagai kecenderungan kepada Selain-Nya.

5. Merasakan ketenangan jiwa.

Di sini kita akan melihat berbagai faktor penyebab munculnya rasa gelisah dan guncanganjiwa. Darinya, kita dapat menyaksikan dengan jelas bagaimana keimanan kepada Allah mampu menciptakan ketenangan dalam jiwa.

Faktor-faktor Penyebab Guncangan Jiwa

1. Adakalanya guncanganjiwa dan rasa gelisah timbul akibat keadaan yang dialami di masa lalu. Pada umumnya, hal itu berkaitan dengan berbagai kekeliruan yang dilakukan pada masa silam.

Akan tetapi, dengan mengingat serta menyebut nama AllahYang Mahapengasih lagi Mahapemurah, keadaan jiwa semacam itu niscaya akan berubah. Dari serba gelisah menjadi penuh dengan ketenangan. Sebabnya. Dia maha mengampuni berbagai kekeliruan dan perbuatan dosa, dan Dia juga Mahapenerima tobat.

2. Adakalanya guncangan jiwa serta kegelisahan bersumber dan rasa terasing (kesendirian). Dalam hal ini, keimanan kepada Allah Yang Maha Ada dan Maha Menyaksikan, akan mengubah semua itu menjadi penuh ketenangan den ketenteraman. la menyenangkan dan disenangi; la mendengar suaraku; la menyaksikan segenap perbuatanku; la mengasihi dan menyayangi diriku.

3. Adakalanya guncangan jiwa terjadi akibat adanya anggapan bahwa kehidupan dirinya tidak memiliki arti apa-apa serta nihil dari tujuan. Akan tetapi, dengan keimanan kepada Allah yang Mahabijaksana, yang telah menciptakan segala sesuatu di jagat alam ini berdasarkan pada kebijakan dan masing-masingnya memiliki tujuan, kadar, dan masa yang telah diperhitungkan secara cermat dan rinci, berbagai bentuk guncangan jiwa semacam itu niscaya akan lenyap.

4. Adakalanya rasa gelisah dan guncangan jiwa tersebut muncul dikarenakan seseorang tidak berhasil menyenangkan semua orang. la merasa sedih, "Mengapa si fulan atau golongan fulan merasa kecewa kepadaku?" Akan tetapi, sesuai dengan prinsip keimanan bahwa kita hanya diharuskan untuk membuat Allah rela dan senang, di mana keagungan serta kehinaan hanya berada dalam genggaman-Nya, seluruh kegelisahan dan guncangan tersebut akan pudar.

Berkenaan dengan itu, al-Quran mengatakan, “... Ingatlahm hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram”. (ar-Ra’d: 28) (ketahuilah, dengan mengingatdan menyebut nama Allah, hati akan menjadi tenteram). Semua itu merupakan suatu kenyataan yang tak bisa dipungkiri.

Berbagai Dampak dari Kekosongan Iman

Seseorang yang tidak beriman kepada Pencipta alam, Tuhan Yang Mahabijaksana, pada dasarnya:

1. Tidak memiliki prinsip dan tujuan hidup. Baginya, kehidupan hanyalah ditujukan untuk meraih kebahagiaan yang bersifat material. Keberadaan orang semacam ini tak ubahnya seekor hewan!!

2. Setiap aktivitas yang dilakukannya diyakini bersifat paksaan belaka (baik oleh masyarakat maupun kasta).

3. Rumah masa depannya adalah kebmasaan. Sebabnya, ia tidak meyakini adanya kehidupan pasca kematian serta adanya kekekalan ruh.

4. Para pembimbingnya terdiri dari orang-orang zalim. Selain itu, ia tunduk di bawah kemauan hawa nafsu.

5. Ruang kehidupannya (dikarenakan tidak meyakini adanya wahyu dan keberadaan para nabi yang maksum) sarat dengan berbagai keragu-raguan, keterbatasan, kekurangan, dan kekeliruan.

6. Mengalami kebingungan yang luar biasa dalam upayanya memahami eksistensi alam ini. la sama sekali tidak mengetahui, kenapa dirinya terlahir ke alam ini? Mengapa kemudian setelah itu dirinya pergi entah ke mana? Dan apa sebenarnya tujuan kehidupan ini?

Seluruh pemikirannya hanya tertumpu pada, "Bagaimanakah cara meraih kehidupan duniawi yang lebih baik." Bukannya pada, "Apakah tujuan kehidupan ini?" Ya, demikianlah sejumlah karakter khas dari seseorang yang nihil dari Pandangan Dunia Ilahiah dan akidah Islam. Dengan membandingkan wajah orang beriman kepada Allah dengan wajah orang tidak beriman kepada Allah, Anda dapat mengetahui dengan jelas fungsi penting dari sebuah keimanan.

Penjelasan Kaum Materialis Tentang Mazhab

Setelah kita mengetahui sebab-sebab serta akar keimanan kepada Allah, terdapat dua hal yang terkait dengannya:

1. Akal

2. Fitrah

Akal manusia akan mengatakan bahwa setiap sesuatu yang eksis harus ada yang meneiptakan (mengeksiskan). Di mana dan kapan saja kita menyaksikan adanya keteraturan dan kerapihan, kita pasti akan mengetahui bahwa untuk itu terdapat sesuatu yang mengatur serta merapihkan.

Demikian juga, fitrah mengatakan bahwa setiap jiwa manusia memiliki hubungan dengan sebuah kekuatan adi-kodrati. Namun, terdapat. pula sekelompok orang yang tidak menghiraukan kedua faktor tersebut. Dan berkenaan dengan keberadaan mazhab, mereka memberikan berbagai penjelasan yang menggelikan.

Sejumlah argumentasi yang mereka lontarkan telah saya kemukakan di celah-celah pembahasan ini, meskipun masih bersifat global. Sementara untuk lebih mengetahuinya secara lebih mendetail, saya persilahkan Anda merujuk buku Ushûl al-Falsafah jilid V atau juga sejumlah buku lainya yang membahas topik "Mengenal Allah" (ma’rifatullâh).

Kekeliruan Pandangan Kelompok Marxisme

Dengan berlalunya waktu, berbagai pandangan Marxisme semakin jelas menampakkan kekeliruannya sehingga mencoreng muka mereka sendiri. Umpama, berkaitan dengan peristiwa revolusi Islam di Iran. Meletusnya revolusi yang menggegerkan tersebut telah menudirig hidung masyarakat kita yang telah melakukan kesalahan dan kekeliruan dalam memandang keberadaan agama serta proses perubahan sosial.

Di antaranya, Marxisme mengatakan bahwa keberadaan agama tak lebih sebagai candu masyarakat. Agama telah menjadikan masyarakat lunglai, lesu, hina, pasrah, dan kecanduan. Akan tetapi, di negeri Iran ini kita memiliki tiga puluh limajuta saksi yang bisa mengatakan bahwa alih-alih membuat lesu, agamajustru telah menghembuskan semangat dan menginspirasikan pergerakan kepada masyarakatani merupakan salah satu bentuk pandangan mereka yang keliru dan amat memalukan.

Kekeliruan yang kedua dari pandangan Marxisme adalah ketika mereka mengatakan, "Kerusakan moral merupakan akibat dari kelemahan ekonomi." Berdasarkan itu, bisa dikatakan bahwa apabila ada seseorang yang rnencuri, umpamanya, maka tindakannya itu lebih disebabkan oleh tekanan kemiskinan!

Untuk itu, kita juga memiliki tiga puluh limajuta orang yang menyaksikan bahwa Syah Iran, si pengkhianat, adalah gembong para perampok. Kondisi kehidupan ekonomi dirinya tidaklah miskin. Demikian pula halnya dengan status ekonomi dari berbagai pencuri kelas kakap lainnya di seantero sejarah. Kekeliruan ketiga Marxisme terjadi dalam perkataannya, "Yang mencetuskan revolusi adalah gerakan orang-orang miskin dan perlawanan kaum yang kelaparan melawan para pengeruk keuntungan!"

Lagi-lagi kita semua yang ada di Iran menyaksikan bahwa revolusi Islam Iran diledakkan demi mewujudkan kebebasan serta kemerdekaan dalam melaksanakan hukum-hukum Ilahi, bukan demi roti dan air, juga bukan dikarenakan tinggi rendahnya harga barang-barang! Jika benar bahwa revolusi tersebut merupakan bentuk perlawanan orang-orang miskin (vis a vis segelintir pengeruk keuntungan—pent.), tentunya mereka yang pertama kali akan menggelar revolusi adalah para penduduk yang tinggal di daerah Kurdistan, Sistan, atau Baluchistan.

Namun, api revolusi yang disulut dari Madrasah Fadhiah dan dipimpin para ulama, dengan mengumandangkan slogan Allahu Akbar, justru terjadi pada hari-hari ‘Asyura (10 Muharam—pent.).

Dan pergerakan tersebut mencapai puncaknya tatkala tiba hari Arba’in (hari keempat puluh dari kesyahidan Imam Husain as di medan Karbala, tanggal 20 Safar—pent.). Semua itu merupakan bukti nyata bahwa yang menggerakkan revolusi tak lain dan spirit keyakinan (ideologi), bukannya perut. Revolusi tersebut menggelegar tak lain demi menghidupkan undang-undang Ilahi dan menpampakkan undang-undang penguasa zalim.

Revolusi tersebut bukanlah buah dari pergerakan orang-orang miskin. Tentu saja kita tidak mengingkari peran dari tekanan kondisi ekonomi serta keberadaan kaum miskin. Namun, faktor manakah yang menjadi lokomotif serta penggerak utama revolusi tersebut? Perut ataukah mazhab? Betapa banyak mereka yang hidup serba berkecukupan namun kemudian menyerahkan apa yang mereka miliki demi kemenangan revolusi.

Kekeliruan keempat—dan ini merupakan pembahasan kita pada bab "Pandangan dunia Materialisme"—dari pandangan Marxisme malah lebih menggelikan lagi. Kali ini komentar mereka berkaitan dongan keberadaan mazhah dan agama. Mereka menyatakan, "Kaum kapitalis dengan perantaraan suatu sarana pemberi harapan yang mereka sebut dengan mazhab, berusaha menenangkan dan membungkam suara orang-orang miskin! Mereka mengatakan kepada kaum miskin, "Bersabarlah, Tuhan menyukai orang-orang yang sabar. Jika hak kalian dilanggar, tabahkanlah hati kalian." Atau dikatakan, "Dunia tidak memiliki nilai, yang utama adalah akhirat." Atau, "Janganlah kalian melakukan revolusi, tunggulah kedatangan Imam Zaman (Mahdi) as. Dia sendirilah yang akan membuat perbaikan. "Juga dikatakan, "Lakukanlah taqiah. Apapun yang kalian saksikan,janganlah bersuara."

Seruan-seruan semacam itulah yang didengungkan kaum kapitalis melalui perantaraan sarana pemberi harapan yang diriamakan dengan mazhab. Pada akhirnya, seruan-seruan tersebut dibenarkan kelas pekerja, yang karenanya mereka (kaum kapitalis) berhasil mencegah dan menghalangi kelas pekerja untuk melakukan perlawanan serta penggugatan terhadap hak-haknya."

Perhatikanlah dengan cermat, betapa pernyataan semacam itu amat sulit diterima akal sehat. Pandangan tersebut sungguh amat memalukan.

Alhamdullah, kita hidup dalam sebuah masa, di mana para pemudanya telah memiliki kemajuan berpikir yang sangat mencengangkan sehingga sanggup menjawab berbagai pandangan Marxisme yang irasional dan primitif semacam itu. Dalam sekejap saja, para pemuda Muslim akan mengajukan berbagai bantahan kepada para pendukung Marxisme, di antaranya:

1. Jika yang menjadi pencipta mazhab adalah kaum kapitalis, dan itupun ditujukan untuk menenangkan kaum miskin, lantas mengapa dalam mazhab itu sendiri termaktub undang-undang yang justru menggerogoti modal kaum kapitalis, dan bahkan menyita harta mereka?

Berbagai keuntungan yang diperoleh kaum kapitalis melalui proses kezaliman, suap, pelambungan harga, pengurangan penjualan, riba, penumpukkan harta, penipuan dan sehagainya, dengan kata lain, seluruh kekayaan tersebut dihasilkan melalui cara-cara yang ilegal, akan serta merta disita oleh Islam dan mazhabnya.

Kalau memang demikian adanya, bisakah dibenarkan bahwasannya kaum kapitalislah yang menciptakan agama dan mazhab? Mungkinkah mereka menciptakan sesuatu yang justru pada akhirnya akan merampas seluruh harta yang dimilikinya?

Uraian ini baru ditinjau dai i satu sisi. Sementara pada sisi yang lain, berkenaan dengan berbagai peristilahan yang maknanya bisa diselewengkan sedemikian rupa. Padahal, agama sendiri telah memaknai berbagai peristilahan tersebut secara jitu dan benar.

Umpama, istilah intizhâr (penantian), yang artinya bukan semata-mata diam dan berpangku tangan. Ketika menanti terbitnya matahari, tentunya pada malam hari kita tidak hanya berdiam diri dan tidak menyalakan pelita atau lampu. Makna dari menunggu musim panas bukan berarti pada saat musim dirigin kita tidak mempersiapkan berbagai sarana pemanas ruangan.

Benar, dalam menunggu kedatangan Imam Zaman as demi mengharap terjadiriya perbaikan, tidak berarti kemudian kita tidak melakukan aktivitas apapun, berdiam diri, bahkan tunduk di bawah tekanan kezaliman. Makna dari idiom "dunia ini tidak memiliki nilai" bukan melepaskan dunia secara total. Akan tetapi, maksudnya adalah bahwa eksistensi manusia yang merupakan khalifah Allah di muka bumi jauh lebih bernilai dari keberadaan dunia itu sendiri. Sehingga, jangan sampai keberadaan dunia menjadi tujuan utama seseorang. Pendek kata, dalam pandangan Islam, istilah kesabaran, penantian, dan kerelaan bukanlah dimaksudkan bahwa kaum miskin harus pasrah dan berdiam diri terhadap berbagai kebijakan para pengeruk keuntungan.

Selain menyita harta yang telah dikumpulkan kaum kapitalis dengan cara yang tidak absah, Islam juga menyeru kepada orang-orang miskin:

1. Tidak dibenarkan tunduk dan merendahkan diri di hadapan para pemilik modal. Barangsiapa yang merendahkan dirinya di hadapan seseorang karena hartanya, maka sepertiga dari agamanya telah lenyap.

2. Imam Ridha as bersabda, “Barangsiapa yng lebih bersemangat dalam memberi salam kepada orang-orang kaya, pada hari kiamat kelak Allah akan murka kepadanya”

3. Memperingatkan manusia agar jangan mengistimewakan seseorang dikarenakan hartanya.

4. Tidak dibenarkan duduk dalam sebuah hidangan yang hanya dihadiri orang-orang kaya.

5. Imam Ridha as sendiri senantiasa duduk dan bersantap bersama dengan budaknya. Nabi Sulaiman as dengan berbagai keagungannya, senantiasa hidup bersama dengan orang-orang miskin. Imam Ali bin Abi Thalib as senantiasa duduk beralaskan tanah, dan nabi-nabi as kita pada umumnya menjadi penggembala ternak. Allah tidak akan mengabulkan doa orang yang menganggur, dan mengutuk seseorang yang membebankan kebutuhan hidupnya kepada orang lain. Dari perintah-perintah tersebut, kita mengetahui dengan jelas bahwa keberadaan Islam bukunlah hasil rekayasa kaum kapitalis. Islam tidak mendukung kebijakan mereka, dan bukan penyebab kelesuan masyarakat serta tidak menganjurkan seseorang untuk berdiam diri. Semua ini merupakan kajian singkat terhadap pandangan Marxisme seputar munculnya agama dan mazhab. Kesimpulannya, pandangan Marxisme merupakan pandangan yang menyimpang jauh dari kebenaran dan isinya amat menggelikan.

Penjelasan Lain yang Menggelikan

Sebagian kalangan Materialis tidak memiliki kesanggupan untuk memahami prinsip bahwa Pandangan Dunia Ilahiah bersumber dari akal dan fitrah. Acapkali mereka mengklaim dirinya sebagai cendekiawan yang kemudian berlagak memberikan berbagai penjelasan mengenai keimanan terhadap Sang Pencipta yang bersemayam dalam lubuk hati orang-orang mukmin.

Mereka umpamanya mengatakan, "Asal muasal keimanan kepada Allah adalah rasa takut". Maksud yang terkandung dari ucapan tersebut analog dengan keadaan seorang anak kecil yang butuh perlindungan kepada kedua orang tuanya. Namun, tatkala ia tumhuh dewasa, perlindungan tersebut tetap dibutuhkannya. Oleh karena itu, ia yang kini telah menjadi orang dewasa akan menciptakan sosok pelindung bagi dirinya yang kemudian diriamakan dengan Allah.

Pada saat menghadapi berbagai malapetaka seperti gempa bumi, sambaran petir dan guntur, serangan binatang buas, dan sejenisnya, seseorang akan segera membayangkan (mengharapkan—pent.) adanya sesosok pelindung bagi dirinya. Sehingga, setiap kali dirinya merasa ketakutan, (sosok pelindung itu) akan menenangkan jiwanya. Dengan demikian, disimpulkan bahwa asal muasal keimanan kepada Allah adalah rasa takut!

Jawab:

1. Apabila ketakutan merupakan asal muasal keimanan kepada Allah, maka itu berarti mereka yang paling penakutlah yang paling beriman. Andaikata keimanan kepada Allah berakar pada rasa takut. niscaya yang akan pertama kali beriman adalah orang-orang yang penakut.

2. Kalau memang demikian adanya bisa dikatakan bahwa tatkala seseorang tidak merasa takut, sesungguhnya ia tidak sedang mengingat Allah. Padahal, hakikatnya tidaklah demikian. Benar memang, ketika merasa takut, kita akan segera menghadap Allah. Namun, itu bukan berarti keimanan semata-mata bersumber dari rasa takut. Acapkali kita jumpai dalarn suatu kondisi tertentu, seseorang yang tidak memiliki rasa takut tetap beriman kepada Allah. Tatkala ia melihat adanya berbagai ciptaan yang sempuma, tertata, dan serba teliti, segera saja nalarnya mengenal keberadaanAllah Yang Mahatinggi.

la memiliki kepekaan fitriah sehingga rnampu merasakan aidanya sebuah kekuatan yang agung. Setiap kali ia bertafakur dan berbincang-bincang dengan dirinya sendiri. "Aku ada, dan keberadaanku bukan karena aku yang menciptakan. Seandainya akulah yang menciptakan diriku sendiri, tentu aku akan menciptakan sosok yang lebih kuat dan lebih bagus. Minimal, aku akan membuat perubahan pada diriku. Orang lain tentunya juga sama seperti diriku. Kita semua ada bukannya tanpa perhitungan. Masing-masing anggota tubuh dan sel memiliki perhitungan dan aturan yang pasti. Kalau memang demikian adanya, bisa dipastikan bahwa aku diciptakan Allah Yang Mahakuasa."

Logika semacam itu bersumber dari seseorang yang memikirkan dan menelaah kebenaran secara sungguh-sungguh, bukan oleh seseorang yang dirinya dihantui rasa takut dan kegelisahan.

Fitrah serta akallah yang telah membimbing dirinya ke arah pengetahuan tentang keberadaan Allah Yang Mahatinggi. Dengan demikian, pandangan yang menyatakan bahwa keimanan kepada Allah bersumber dari rasa takut tak lebih dari sekadar ungkapan yang asal-asalan belaka.

Pandangan semacam itu mengingatkan kita pada pandangan seseorang (yang menganggap pendapatnya sebagai sebuah argumen) mengenai suhu udara kota Kasyan pada saat musnn panas.

Dalam hal ini, ia mengatakan, "Tahukah Anda, mengapa suhu udara Kasyan sangat tinggi pada saat musim panas? Karena pada nami "Kasyan" terdapat huruf syîn, dan udara di padang Karbala amatlah panas sewaktu Syimr (pembunuh Imam Husain as—pent.) berada di situ.

Dengan demikian, kota Kasyan memiliki udara yang panas pula! "Pandangan tentang keimanan (yang bersumber dari rasa takut—pent.) tersebut sebenamya berasal dari salah seorang ahli psikologi. Ya, para cendekiawan ternyata dapat pula melakukan berbagai kesalahan yang fatal. Ini terhitung wajar, sebab, semakin tinggi sebuah gunung, semakin bahaya pula puncaknya.

Jangan sampai kita menjadi orang yang kagum dan fanatik buta terhadap ilmu pengetahuan sehingga kita akan menelan mentah-mentah satu atau dua penjelasan rasional salah seorang cendekiawan terkemuka berkenaan dengan masalah tertentu.

Salah satunya adalah (seorang cendekia dari Inggris—pent.) [Bertrand] Russel. la mengatakan, "Pertama-tama saya meyakini keberadaan Tuhan, lalu saya mulai berpikir bahwa apabila semua keberadaan ini merupakan hasil ciptaan Tuhan, lantas siapakah yang menciptakan Tuhan? Saya tidak berhasil menemukan jawabannya, sampai pada akhirnya saya memutuskan untuk tidak mengakui adanya Tuhan!"

Jawaban saya terhadapnya ialah, "Hai Russel, jika sekarang kau tidak lagi mengakui adanya Tuhan, lalu apa yang kau yakini?" Ia menjawab, "Sekarang saya berkeyakinan bahwa asal muasal seluruh keberadaan di jagat alam ini adalah materi, bukan Tuhan!''

Kita akan menjawah, "Baiklah, sebagaimana ketika kau bertanya kepada dirimu sendiri dari manakah Tuhan dan kemudian kau melepaskan keyakinan itu, sekarang tanyakanlah kepada dirimu juga, dari manakah asal muasal materi?" la akan menjawab, "Materi sudah ada sejak dahulu kala." Kita juga akan menjawab, "Allah juga telah ada sejak dahulu kala. Wahai Russel, mengapa engkau tidak meyakini Allah yang keberadaannya memiliki perasaan dan telah eksis sejak dahulu kala. Malah, kau meyakini keberadaan berjuta-juta materi yang telah ada sejak dahulu kala dan semua itu tidak memiliki perasaan?!!

Sebuah Contoh yang Lain

Para pendukung Marxisme mengatakan, "Selama tidak dapat dirasakan dan dieksperimentasikan, maka sesuatu tersebut tidak dapat kami terima. Dengan demikian, kami tidak dapat mempercayai keberadaan Tuhan, malaikat, ruh, dan sejenisnya.

Sebabnya, kami hanya mengenal dan mengetahui segala sesuatu hanya melalui perantaraan panca indera dan uji coba (eksperimen)!!"

Jawaban kita yang kita berikan kepada mereka, "Kalian mampu meneliti dan mengambil sebuah kesimpulan bahwa dalam ratusan abad yang silam, manusia hidup secara bersama-sama dalam berburu binatang dan memakan, juga hidup bersama dalam kondisi ketiadaan kepemilikan serta pemerintahan. Kemudian tibalah masa perbudakan, dan beberapa lama kemudian muncul kepemimpinan kepala suku dan seterusnya."

Bentuk pertanyaan kita ialah, "Sekarang ini, kalau memang kalian mampu mengetahui adanya kehidupan bersama pada ratusan abad yang lalu, apakah semua itu dapat kalian sentuh dan diujicobakan (eksperimen)?" Mereka menjawab, "Tidak, tetapi kami mengetahui semua itu dari berbagai jejak serta tanda-tanda yang ada."

Kita akan mengatakan, "Sebagaimana kalian mengetahui sejarah kehidupan manusia purbakala melalui perantaraan jejak dan tanda-tandanya, kami juga mengetahui jejak dan tanda-tanda Allah. Kalau saja berkat jejak dan tanda-tanda Kita pada akhirnya dapat menerima adanya suatu kenyataan, tentu tak ada beda antara jejak serta tanda-tanda yang menunjukkan adanya kehidupan manusia purbakala dengan jejak dan tanda-tanda yang menunjukkan adanya Allah Yang Mahaagung. Apakah sarana serta instrumen untuk mengetahui keberadaan segala sesuatu hanyalah panca indera dan pengujicobaan semata? Apakah hanya dengan mengetahui jejak dan tanda-tanda keberadaan, kita tidak akan mengetahui berbagai permasalahan?

Apabila kita benar-benar cermat dalam berpikir, kita akan mengakui bahwasannya sebagian besar dan pengenalan kita terhadap berbagai hal merupakan hasil dari penelaahan terhadap berbagai jejak dan tanda-tanda.

Sebuah Penjelasan yang Lain

Sebagian pihak enggan mengakui keberadaan akal dan fitrah sebagai salah satu sarana untuk mengenal Allah. Mereka melontarkan berbagai alasan serta pandangan tentang asal muasal munculnya keimanan. Pada intinya, mereka berkeyakinan bahwa Keimanan bersumber dari kebodohan!

Penjelasannya sebagai berikut: Pada saat tertimpa berbagai musibah dan bencana yang tidak diketahui sebab-musababnya, seseorang segera berkhayal bahwa memang ada sesuatu yang disebut dengan Tuhan. Karenanya, di mana dan kapan saja seseorang menghadapi permasalahan yang secara ilmiah tidak dapat diketahui, segera saja akan mengatakan, "Ini merupakan perbuatan Allah."

Dari sinilah munculnya keyakinan terhadap adanya Tuhan. Jujur saja, ungkapan-ungkapan semacam ini sesungguhnya telah sedemikian lama lenyap di telan masa. Bahkan sejiak awal dirumuskan, tak seorangpun yang sudi mendengarnya. Sebab:

1. Seandainya asal muasal keimanan kepada Allah merupakan sebuah kebodohan, tentu dengan semakin bertambahnya ilmu, iman seseorang akan semakin berkurang! Dan begitu mengetahui faktor penyebab terjadiriya sebagian bencana alam, ia tidak akan lagi beriman kepada Allah. Padahal kita mengetahui bagaimana para ilmuwan semacam Galileo (Galilei), (Albert) Enstein, atau Ibnu Sina yang berhasil mengungkap sebab-sebab kejadian alam tetap memiliki keimanan kepada Allah. Benarkah ketika sebagian hukum alam berhasil disingkapkan, kita tidak lagi butuh kepada pencipta hukum tersebut.

Umpama, kita berhasil menyingkap sebuah hukum alam yang disebut dialektika (formula perjalanan sejarah yang terdiri dari unsur tesis, antitesis, dan sintesis). Lantas, apakah dengan temuan semacam itu kita tidak lagi menyakini keberadaan pembuatnya?

Jika memang demikian, ketika menemukan sejumlah uang di tengah jalan, janganlah kalian bertanya, "Uang ini jatuh dari kantong siapa?" Apakah hanya dengan menyingkap dan menemukan (berbagai hukum alam), lalu habis perkara?!

Mengapa Timbul Kelompok Anti-Allah dan Anti-Mazhab?

Jawaban:

1. Seseorang tentunya bisa memperuleh pengetahuan serta kejelasan tentang keberadaan Allah hanya dengan cara memperhatikan sebuah sel, atom, ataupun sehelai daun. Asalkan, ia memang benar-benar memiliki keinginan untuk mengenal Allah. Adapun seseorang yang tidak berkeinginan untuk mengenal Allah, sekalipun sering menyaksikan jejak dan tanda-tanda keberadaan-Nya, tidak akan pernah mengenal dan merasakan keberadaan-Nya.

Agar mempermudah Pernahaman kita, perhatikanlah beberapa contoh di bawah ini.

a).  Seorang penjual hati (hewan sembelihan), setiap harinya memotong dan mengiris-iris berpuluh-puluh potong hati, untuk kemudian dijual ke pasar. Namun, sesungguhnya ia tidak mengetahui adanya urat halus yang melekat pada jaringan hati tersebut. Wajar, ia memang tidak berminat untuk meneliti keberadaan urat halus tersebut.

b).  Seorang penjual cermin yang rambutnya acak-acakan. Sekalipun sejak pagi sampai petang sudah ratusan kali memandangi cermin jualannya, tetap saja ia tidak merapikan rambutnya yang acak-acakan tersebut. Dalam keadaan itu, ia tidak akan sempat memikirkan kerapihan rambutnya, lantaran terlampau sibuk menjual cermin-cermin itu.

c).  Cobalah Anda bertanya kepada seseorang yang tengah mengelap kaca sebuah jam, "Waktu azan dhuhur tinggal berapa menit lagi?" Tentu ia terlebih dahulu akan menengok kepada jam tersebut. Mengapa? Sebab, sampai saat itu, ia begitu sibuk membersihkan kaca jam tersebut dan tidak memiliki tujuan untuk mengetahui waktu yang ditunjukkannya.

d).  Seorang tukang kayu yang senantiasa membuat tangga, belum tentu pernah memanjat tangga yang dibuatnya. Sementara boleh jadi, seorang tukang batu yang membeli tangga tersebut justru telah ribuan kali memanjatnya.

Dari contoh-contoh di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa bila seseorang tidak berkeinginan untuk mengenal atau mengetahui sesuatu, mustahil ia dapat mengenal dan mengetahuinya.

Pabila seseorang telah menyaksikan jejak dan tanda-tanda Allah, namun tetap saja tidak memiliki keimanan, itu tak lain dikarenakan tujuan atas kajian serta penelitiannya bukanlah untuk mengenal Allah.

2. Anda pasti telah mengetahui bahwa jika kehidupan kita sejak awal telah dipenuhi berbagai kenikmatan, tentu kita tidak akan Pernah merasakan adanya sesuatu yang baru (berkenaan dengan jenis kenikmatan—pent.).

Dalam kehidupan ini, kita senantiasa melihat berbagai jejak dan tanda-tanda Allah. Namun, justru karena itulah kita tidak mengingat dan bersyukur kepada-Nya. Sebabnya, sudah sejak awal kita telah hidup dalam dan dengan berbagai kenikmatan. Sebagai contoh:

Sampai detik ini, Anda belum bersyukur kepada Allah atas keberadaan ibu jari Anda, dikarenakan sejak awal, ibu jari tersebut telah menyertai Anda. Namun, seandainya dalam beberapa saat ibu jari tersebut tidak berfungsi, atau terpotong, Anda tentu akan segera menyadari bahwa tanpanya, Anda tidak dapat memasukkan kancing baju ke dalam lubangnya (sekarang ini juga Anda dapat mencoba dan membuktikan kebenaran ungkapan tersebut).

Ya, lantaran terus tenggelam dalam samudera berbagai kenikmatan, kita menjadi lalai terhadap keberadaan Allah. Salah satu filosofi dari terjadiriya bencana adalah sebagai wahana peringatan serta penyadaran.

Al-Quran mengatakan bahwa terkadang Tuhan menimpakan berhagai kejadian yang tidak menyenangkan kepada sekelompok orang, “....supaya mereka tunduk merendahkan diri,” (la’allahum yatadharra’ûn) (al-A'raf: 94), yakni agar mereka sadar dan merendahkan diri.

Al-Quran senantiasa memerintahkan manusia untuk senantiasa mengingat berbagai kenikmatan dan pertolongan llahi. Kita sendiri menyaksikan bagaimana dalam memanjatkan doanya, para wali Allah senantiasa mengungkapkan secara satu persatu berbagai kenikmatan yang telah  dianugerahkan Allah kepada mereka. Misalnya dikatakan, "Engkaulah Yang mengubah kami dari kecil menjadi besar, bodoh menjadi pintar, sedikit menjadi banyak, miskin menjadi kaya, sakit menjadi sehat, dan...."

Sebelumnya telah dikemukakan sekitas pembahasan berkenaan dengan mengingat Allah. Karenanya, dalam kesempatan ini saya tidak akan mengulanginya kembali.

3. Penyebab larinya sebagian pihak dari agama dan mazhah adalah adanya berbagai khurafat yang dijejalkan ke dalam agama oleh sejumlah sahabat yang bodoh dan culas. Sebagai contoh, jika kita memberi segelas air yang ada lalatnya kepada seseorang yang sedang kehausan, tentu ia tidak akan bersedia meminum air tersebut, hahkan mungkin langsung membuangnya.

Begitu pula halnya dengan keberadaan agama. Apabila sebuah agama dipenuhi khurafat, tentu orang akan enggan menganut dan mengikutinya. Karena itu, Janganlah kita sampai lengah terhadap segenap ulah sebagian Muslimin yang menyusupkan pelbagai khurafat ke dalam agama. Sebab, semua itu akan menyebabkan masyarakat kabur dari agama.

4. Pengaruh lingkungan merupakan salah satu faktor penyebab terjadiriya penyimpangan manusia dari ajaran agama. Secara fitriah, manusia tidak menyukai, bahkan amat membenci, tindak pencurian. Selain pula memandang buruk berbagai bentuk pengkhianatan. Namun, jika seseorang hidup dalam sebuah lingkungan atau habitat di mana masyarakat sekelilingnya rata-rata “berprofesi” sebagai maling dan suka berkhianat, niscaya ia akan terpengaruh juga.

5. Lari dari tanggung jawah. Adakalanya ketidakpedulian seseorang terhadap agama disebabkan adanya keinginan untuk menghindar dari tanggungjawab. Hal ini memang masuk akal.

Sebab, tatkala menerima dan memeluk agama, seseorang juga mesti menerima sederetan ikatan dan kekangan. Konsekuensi semacam ini tentu bertolak-belakang dengan keinginan orang-orang yang tergila-gila pada  prinsip kebebasan mutlak dalam menjalani kehidupannya. Orang semacam itu tentu tidak akan mau peduli dan bersikap curiga terhadap agama.

Padahal, mereka tidak menyadari bahwa dengan tidak mengindahkan berbagai perintah Allah, berarti mereka telah menerima bentuk lain dari pengekangan dan perbudakan. Seseorang yang enggan menjadi hamba-Nya, pada saat yang sama akan menjadi hamba sesuatu yang lain. “Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung...” (al-Hajj: 31)

Seseorang yang bergerak menuju kepada Selain Allah diibaratkan seolah-olah terhempas dari tahta langit ke permukaan bumi, untuk kemudian dikelilingi burung pemakan bangkai yang masing-masingnya mencabik-cabik tubuhnya dan membawanya terbang jauh.

6. Pembangkangan. Dorongan fanatisme, nafsu, dan egosime yang berkobar-kobar dan menghanguskan jiwa, akan menjadikan seseorang gemar melancarkan penolakan, pembangkangan, serta meremehkan ajaran agama samawi.

7. Tidak adanya penyampaian (tablîgh) secara benar. Pelbagai bentuk penyampaian yang keliru atau sesat menjadi salah satu faktor kuat yang bisa mendorong orang-orang tidak bersimpati kepada agama.

Keharusan Adanya Agama

Kehidupan yang dijalani manusia tentu akan senantiasa disertai dengan program tertentu. Namun darimanakah asal muasal program, rancangan hidup, kebahagiaan, serta perkembangannya?

Di sini terdapat tiga cara yang bisa ditempuh:

1.  Memilih dan menentukan program menurut selera kita.

2.  Kita menyusun berbagai program tersebut menurut tuntutan dan desakan masyarakat.

3.  Dengan berprinsip pada penyerahan diri secara total kopada Allah, program kehidupan yang kita rancang semata-mata bersumber dari-Nya.

Evaluasi terhadap Cara Pertama

Cara pertama jelas keliru. Sebabnya, pengetahuan manusia amatlah terbatas. Dikarenakan keterbatasan itulah, dirinya menyaksikan ratusan kekeliruan yang telah diperbuatnya sendiri di masa silam. Selain itu. setiap saat, hawa nafsu yang bersemayam dalam diri seseorang akan senantiasa mendorongnya ke suatu arah tertentu.

Dalam kondisi semacam ini, apakah layak jika seseorang menentukan cara yang akan ditempuhnya—cara mana yang akan menjadi faktor penentu apakah dirinya akan meraih kebahagiaan ataukah kesengsaraan abadi—semata-mata berdasarkan akal pikiran yang tidak sempurna dan persediaan ilmu yang sangat terbatas?!

Evaluasi terhadap Cara Kedua

Sebagaimana cara pertama, seseorang yang menempuh cara kedua juga tidak akan pernah bisa meniti jalan kehidupannya dengan stabil. Sebabnya, keberadaan masyarakat terdiri dari kumpulan individu-individu yang berbeda-beda keinginan serta selera. Selain itu pula, keinginan atau selera masing-masing individu masyarakat pasti mengandungi kekeliruan, kelalaian, dan keterbatasan.

Berkenaan dengan selera atau keinginan saya, inisalnya, tak ada satupun argumen meyakinkan yang mengharuskan saya untuk menanggalkan atau mengabaikannya. Atau tak ada keharusan untuk menyerahkan kebebasan saya, untuk kemudian menjadi budak orang lain yang tidak saya kenal. Sebabnya, mereka tidak mengetahui konsepsi kebahagiaan abadi saya, dan juga tidak jelas mengetahui kebahagiaan apa yang saya inginkan.

Evaluasi terhadap Cara Ketiga

Hanya inilah cara yang benar. Kalau kita, umpamanya, memiliki sebuah mobil, tentu kita akan menyerahkan seluk-beluk mobil tersebut kepada seorang ahli otomotif. Atau terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan tubuh kita, pasti kita akan mempercayakannya kepada seorang dokter.

Semua itu didasari alasan bahwa mereka lebih tahu ketimbang kita. Dengan demikian, segenap program kehidupan yang kita jalani ini harus kita serahkan sepenuhnya kepada Allah. Sebab, Dialah yang paling mengetahui serta paling menyayangi diri kita.

Program dan Rancangan Umum Agama

Rancangan umum yang terkandung dalam agama dapat diungkapkan dalam beberapa kalimat. Menurut ungkapan salah seorang teman, "Sebagaimana kita yang mengerahkan segenap daya upaya kita terhadap sebuah mobil, demikian pula halnya dengan agama dalam memperlakukan manusia."

Maksudnya, dalam memproduksi sebuah mobil, kita mesti melewati beberapa fase berikut:

1. Mencari dan menemukan lokasi barang tambang.

2. Menggali dan mengeluarkan barang tambang tersebut.

3. Membuat bagian-bagian mobil.

4. Memasang dan merakit bagian-bagian tersebut.

5. Mobil jadi tersebut dioperasikan seorang sopir yang mahir berkendara.

Rancangan umum dan peran agama terhadap diri manusia pada dasarnya mirip dengan kelima poin di atas:

1. Menemukan (jati diri) manusia. Seseorang yang lupa pada jati dirinya niscaya akan kehilangan jalan, pembimbing, dan tujuan hidupnya. Dalam keadaan demikian, ia telah menjelma menjadi seekor binatang. Tujuan hidup yang ada dalam pikirannya hanyalah mencari dan memenuhi kesenangan dan kenikmatan duniawi serta materi. la tak ubahnya seonggok mayat. Kebenaran apapun tidak akan sanggup menggoreskan pengaruh pada dirinya. la menjadi begitu buas bak seekor serigala, licik seperti seekor rubah, maling layaknya seekor tikus, sementara hatinya membatu. Karenanya, jati diri yang hilang harus segera dicari dan ditemukan kembali, sehingga seseorang mampu menemukan dan mengenali dirinya sendiri.

Salah satu upaya agama berkenaan dengan kondisi semacam itu adalah memberi penjelasan kepada manusia tentang potensi dan kemampuan yang bersemayam dalam dirinya. Selain itu, agama juga akan mengenalkan seseorang pada hakikat keberadaannya sendiri. Dalam al-Quran, kita dapat menjumpai penjelasan Islam tentang hakikat manusia. Al-Quran mengatakan:

a.  Engkau adalah khalilah (wakil) Allah di jagat alam ini. “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. (al-Baqarah: 30)

b. Segenap yang ada di langit dan di bumi diciptakan demi kepentinganmu. “Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang dilangit dan apa yang di bumi?” (Luqman: 20)

c. Engkau (manusia) adalah pemegang amanat Ilahi. “Dan dipikullah amanat itu oleh manusia”. (al-Ahzab: 72)

d. Dalam dirimu bersemayam ruh Allah yang ditiiupkan-Nya. “Dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaab)-Ku”. (al-Hijr: 29)

e.  Kami memuliakan manusia. “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam”. (al-Isra`: 70)

f.  Kami menganugerahkan manusia berbagai kelebihan. “Dam Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”. (al-Isra': 70)

Dalam al-Quran juga tercantum peringatan yang menyatakan janganlah sekali-kali engkau lupa pada dirimu sendiri, menghilangkannya, merugi, tidak memperoleh keuntungan dalam perdaganganmu, engkau jual dirimu dengan harga yang begitu murah, engkau gadaikan dirimu kepada pembeli yang tidak layak.

Melalui perumpamaan berbagai burung dan nasib yang menimpa orang-orang yang merugi, al-Quran hendak memberi contoh dan teladan agar manusia mampu mengetahui adanya sejumlah potensi dan kemampuan terpendam dalam dirinya sehingga ia bisa berpikir jernih dan bertanya kepada dirinya sendiri: "Jika kehidupan saya ini hanya demi mengejar materi, berfoya-foya, dan memenuhi tuntutan nafsu kebinatangan semata, lantas apa gunanya berbagai kecerdasan, potensi, dan harapan yang terdapat dalam diri saya?"

2. Usaha agama yang kedua adalah mengeluarkan barang tambang (jati diri manusia) yang telah ditemukan tersebut. Setiap manusia harus dibebaskan dari berbagai belenggu kelaliman, kebodohan, penyimpangan, syirik, dan....."Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)."(al-Baqarah: 257)

3. Sementara itu usaha agama yang ketiga berkisar pada pembentukan kepribadian serta penyusunan berbagai program peribadahan, ketakwaan, pengembangan sifat-sifat mulia, dan penyempumaan manusia.

4. Adapun usaha agama yang keempat adalah merakit dan menghubung-hubungkan berbagai bagian yang sudah jadi tersebut sehingga terbentuk sebuah pemerintahan Ilahi yang memiliki undang-undang yang lengkap dan jelas dalam berhagai aspek. Upaya semacam ini yang dijalankan Rasulullah saww di Madinah. Pemerintahan yang sudah terbentuk itu pada gilirannya menggabungkan segenap individu demi menggalang kekuatan dan menyiapkan rancangan kehidupan bersama. Dalam membentuk masyarakat yang Islami, agama menentukan berbagai standar, tujuan, simbol, dan slogan yang khas.

5. Sedangkan usaha agama yang kelima atau yang terakhir adalah menyerahkan masyarakat yang telah terbentuk tersebut kepada seorang pemimpin yang layak. Sembari itu, (agama) memerintahkan agar manusia segera memutuskan berbagai bentuk belenggu keterikatan.

Selain itu, agama juga bersumpah untuk tidak menyantuni berbagai individu atau kelompok yang rusak (fâsid), gemar berfoya-foya, bersikap congkak, berperilaku lalim, bodoh, dan sejenisnya.

Menyerahkan sebuah masyarakat untuk hidup di bawah kepemimpinan seseorang yang tidak maksum (terjaga dari berbagai kesalahan) sesungguhnya sama dengan bertindak zalim dan menginjak-injak nilai-nilai kemanusiaan.

Kesimpulannya, agama merupakan subjck yang menentukan program universal yang terdiri dari "pandangan", "usaha" serta "sistem" yang layak dan sesuai dengan standar khusus ketuhanan bagi kehidupan manusia, baik secara individual maupun secara sosial.

Hakikat dan Dimensi-Dimensi Ketauhidan

Dalam wawasan Islam, istilah "tauhid" memiliki makna yang sangat agung dan luas. Kalangan cendekiawan Muslim pada umumnya menggolongkan jenis-jenis ketauhidan menjadi "tauhid dalam zat" (dzati), "tauhid dalam sifat" (sifati), dan "tauhid dalam perbuatan" (fi’li). Namun, sayang, ternyata ada sebagian pihak yang justru menyalahgunakan istilah yang suci ini -sebagaimana mereka juga sering melakukannya terhadap pelbagai hal suci lainnya. Mereka menjadikan istilah tauhid sebagai slogan semata, seperti masyarakat yang tauhid, tentara yang tauhid dan sehagainya. Padahal, sesungguhnya mereka hendak menggunakan semua itu sebagai pembenaran terhadap sistem sosial komunisme yang mereka junjung tinggi-tinggi berupa kepemilikan bersama dan penghapusan kasta (penyamarataan).

Akan tetapi, berkat perjuangan ilmiah Imam Khomeini— yang merupakan pemimpin revolusi— dan kalangan cendekiawan lainnya, mereka berhasil menyingkap hakikat kelompok minoritas tersebut dan menyelamatkan istilah suci ini dari penyalahgunaan dan pemutarbalikan yang mereka upayakan.

Dalam pembahasan kali ini —seraya tidak menyertakan sebagian istilah yang berhubungan dengan ketauhidan— saya akan menyampaikan semua itu kepada para pembaca yang budiman. Dengannya, kita hendak mengaca diri agar kita mengetahui dengan jelas seberapa jauh sebenarnya diri kita berada dalam lingkup ketauhidan.

Arti tauhid adalah mengakui hanya Allahlah "Yang merupakan Raja bagi manusia", beriman kepada ketunggalan Allah dan meyakini Allah itu Esa. Dalam maknanya yang lain, tauhid berarti menafikan berbagai nafsu. Seseorang yang memuja nafsunya berarti telah keluar dari lingkup ketauhidan, “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya”. (al-Jâtsiyah: 23)

Orang-orang yang tunduk pada desakan hawa nafsunya (yang keliru) pada hakikatnya telah menuhankan hawa nafsu itu sendiri.Tauhid berani pula penolakan dan penentangan terhadap kepemimpinan tiran dan lalim. Slogan dan tujuan para nabi adalah; “Dan sesungguhnya kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Semabhlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut’”. (a]-Nahl: 36)

Dalam riwayat dituturkan bahwa setelah Imam Ali Ridha menerima dengan penuh keterpaksaan jabatan waliy al-ahd (pewaris kerajaan) dari Makmun, beliau menyampaikan sebuah pernyataan yang sangat tegas dalam suatu pertemuan yang diadakan secara terang-terangan dan dihadiri seluruh masyarakat. Pernyataan terebut pada intinya menegaskan bahwa dalam tubuh pemerintahan Makmun, beliau tidak mau ikut campur tangan dalam urusan pengangkatan atau pemecatan seseorang.

Tauhid juga bermakna tidak mengakui berbagai hal yang digariskan pihak Barat maupun Timur, dan menghalangi serta menolak mentah-mentah keberadaan sistem yang dibangun berdasarkan konsep pemikiran orang-orang serakah.

Makna tauhid lainnya adalah merobek dan memutus seluruh jalinan berbagai faktor yang menyebabkan kaum Muslimin terpinggirkan dan jatuh di bawah penguasaan orang lain. Tauhid juga bisa dimaknai dengan tidak mengamini segenap perintah yang bertentangan dengan perintah Allah.

Makna lain dari tauhid adalah menenma kepemimpinan para individu yang disepakati dan diabsahkan Allah. Dalam pengertian lain, tauhid berarti tidak melanggar segenap perintah Allah; menyerahkan diri secara total dan menjadi hamba-Nya. Tauhid juga bisa diartikan sebagai upaya merontokkan seluruh berhala yang bersemayam di dalam dan di luar diri; berhala gelar, titel, kedudukan, harta, harta (yang mana semua itu berpotensi untuk menglealangi kita menerima dan berada dalam kebenaran).

Dan akhirnya, tauhid adalah tidak adanya hubungan dan keterikatan dengan berbagai pihak yang memaksa kita untuk meniti jalan kebatilan dan kerusakan. Hubungan dan keterikatan yang dijalin hanya dilakukan terhadap mereka yang membimbing manusia di atas jalan dan kerelaan Allah.

Sistem ekonomi bernuansa tauhid akan senantiasa menyandarkan proses produksi, pemasaran, pengkonsumsian, dan pengelolaan kepada syariat Allah semata. Barisan tentara beratribut tauhid akan selalu konsisten dalam menjaga dan mempertahankan berbagai ilmu pengetahuan, berpengalaman, memiliki kemahiran dalam menyerang, serta ahli taktik dan strategi perang.

Di samping itu, tentara tauhid senantiasa memperhatikan tuntunan dan tuntutan Ilahi dalam berbagai kondisi, baik ketika marah atau gusar, maupun dalam keadaan tenang. Prinsip dan tujuan yang mendasari gerak-gerik tentara tauhid bukanlah egoisme, balas dendam, perluasan negeri, ataupun pengerukan keuntungan.

Namun, semata-mata demi menegakkan kalimat yang hak (benar) dan memperluas pengamalan ajaran-ajaran Ilahi. Tujuannya hanyalah menjadikan orang-orang yang tadiriya lalim untuk melaksanakan hukum-hukum Allah. Selain pula bertujuan untuk menolong kaum yang tertindas, mempertahankan kehomratan, harta,jiwa, dan raga, diri sendiri serta keluarga, dan berusaha keras menjaga wilayah perbatasan (negara).

Seorang komandan tentara tauhid memiliki hubungan dengan wakil Imam yang ma’shum (suci dari dosa), berorientasi pada tujuan yang benar, serta menjadikan pasukannya rela mati syahid. Karir ketentaraan orang semacam itu jelas merupakan sebuah ibadah. Makna sesungguhnya dari tentara tauhid bukanlah dengan menghapus dan meniadakan hierarki kepangkatan dan kelebihan masing-masing serdadu (umpama dalam hal pengalaman, keahlian, kecakapan, dan ketangkasan bertempur) atau bahkan berani membangkang perintah atasan. Memang kita tak bisa menutup mata terhadap adanya sejumlah pihak yang berniat jahat dengan mengatasnamakan tentara taulnd. Pada hakikatnya, mereka bertujuan hendak melunturkan wibawa dirias ketentaraan itu sendiri. Dan berkat pertolongan Allah serta kecakapan pemimpin revolusi yang agung (Imam Khomeini),semua itu berhasil digagalkan.

Masyarakat bertauhid merupakan masyarakat yang dipimpin seseorang yang memang telah memenuhi pelbagai syarat dan standar Ilahi (ilmu, takwa, jihad, pengalaman. amanat, kecakapan, dan kemampuan). Dengan kata lain, figur pemimpin masyarakat bertauhid tidak boleh mengacu pada pelbagai kriteria non-llahi (seperti paksaan, kesukuan, teman dekat, dan sejenisnya)

Dalam masyarakat bertauhid, undang-undang yang diberlakukan hanyalah undang-undang yang bersumbei dari Allah semata. Semua masyarakat tentu wajib mematuhi dari melaksanakannya. Dalam pada itu, semua orang, tanpa pandang bulu, memiliki kedudukan yang sama di mala hukum. Pemberlakuan undang-undang tersebut pada gilirannya akan melenyapkan segenap tujuan yang sia-sia. Selain mencegah terjadiriya perpecahan di tengah-tengah masyarakat.

Nampaknya, pelbagai bentuk pengertian tauhid di atas sudah melingkupi, sempurna, luas, dan benar. Persoalannva sekarang, siapakah orang atau masyarakat yang telah mencapai peringkat tauhid semacam itu? Juga, bagaimana cara mencapai puncaknya?

Kita tentu tidak bisa menganggap enteng sabda Rasul saww, “Ucapkanlah, tiada Tuhan selain Allah, maka kalian akan mendapatkan kemenangan”. Sebabnya, hasil yang akan dipetik dari menggaungkan dan mewujudkan slogan tersebut adalah tuflihû (maka kalian akan mendapatkan kemenangan).

Al-Quran menegaskan bahwa hasil akhir dari semua upaya tersebut tak ada lain kecuali kemenangan. Karenanya, kita dapat memahami bahwa tujuan seluruh peribadahan adalah demi menggapai ketakwaan sejati, “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa”. (al-Baqarah: 21)

Wahai masyarakat, beribadahlah kepada Tuhan yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. Akan tetapi, ketakwaan itu sendiri bukanlah sebuah fase perjalanan paling akhir.

Ketakwaan tak lebih dari sebuah pintu gerbang yang harus dilalui demi meraih kemenangan akhir. Semua itu sesuai dengan pernyataan yang termaktub dalam al-Quran; “Maka bartakwalah kepada Allah, hai orang-orang yang berakal, agar kalian mendapatkan kemenangan”. (al-Maidah: 100)

Wahai para pemilik akal, bertakwalah kalian kepada Allah agar buah kemangan dapat diraih. Pada dasarnya, jagat alam ini dianugrahkan untuk kita (manusia), sebagaimana penegasan al-Qur’an, sakhkhara lakum (Dia telah menundukkan bagi kalian), atau khalaqa lakum (Dia telah menciptakan bagi kalian).

Sementara itu, kita diciptakan hanya untuk beribadah dan menapaki jalan Allah. Adapun ibadah itu sendiri dipraktikan demi menggapai ketakwaan. Dan ketakwaan tak lebih dan gerbang atau mukadimah dalam meraih falâh (yang secara harfiah berarti zhafar atau kemenangan/keberhasilan).

Dengan demikian, alur kehidupan kita menjadi begitu gamblang: jagat raya ini untuk kita; kita untuk beribadah; beribadah untuk ketakwaan; dan ketakwaan demi meraih kemenangan. Darinya kita pun menjadi tahu, apa arti penting dari falâh (kemenangan). Kemenangan yang dimaksud adalah keterbebasan dari pelbagai belenggu dan ikatan, baik dari musuh luan maupun dalam. Tatkala menjelaskan arti kalimat 'tiada Tulmn selain Allah' dalam suatu kesempatan di dalam kelas, saya membuat sebuah itustrasi. Saya menggambar sebutir biji yang di atasnya ditaburi tanah. Setelah itu, ia pun tumbuh dan menghijau. Berdasarkan itu, saya mengatakan bahwa demi membebaskan diri dari timbunan tanah, biji tersebut harus melewati tiga tahap perjalanan:

1.  Mengikatkan dan menghujamkan akar-akarnya ke dalam tanah.

2.  Menghisap sari-sari makanan dari dalam tanah.

3.  Mendorong dan menyibakkan serpihan-serpihan tanah yang menutupi dirinya.

Kemudian, saya menyatakan bahwa jika manusia berkeinginan untuk tumbuh, ia juga harus melintasi tiga fase yang tidak dipisahkan antara satu sama lain:

1.  Pertama-tama, ia mesti memiliki akidah dan ideologi fundamental yang ditopang oleh pelbagai argumen yang masuk akal.

2.  la harus memiliki sejumlah sarana dan tenaga yang memadai untuk mendorong dan mendukung kemajuan serta perkembangan dirinya.

3.  la juga harus menyingkirkan pelbagai rintangan yang melintang di tengah jalan yang sedang dilaluinya sehingga dirinya menjadi leluasa dalam meraih ketauhidan.

Apabila salah satu dari ketiga fase perjalanan tersebut tidak kita lampaui, maka kita tidak akan pernah mengalami perkembangan, kalau bukan malah akan celaka.

Seandainya akidah kita begitu rapuh dan tidak disangga oleh ilmu dan argumen yang tepat, serta tidak memiliki sarana dan tenaga yang memadai untuk itu, niscaya diri kita perlahan-lahan akan rusak, kcropos, dan kemudian mati membusuk. Ini sebagaimana nasib sebutir biji-bijian yang ditanam di dalam tanah: menjadi busuk ketika salah satu dari tiga fase perajalanan hidupnya luput dilewati.

Sebab-sebab Penyimpangan dari Ketauhidan

Penyebab seseorang menyreleweng dari garis Allah dan ketauhidan antara lain:

1. Tirani dan penindasan. Kedua bentuk perilaku tersebut merupakan faktor pemicu terjadiriya pengalihan rasa takut dalam diri masyarakat (yang tadiriya harus semata-mala ditujukan kepada Allah, kini beralih kepada para tiran dan pihak penindas—pent.). Al-Quran menukil ucapan Fir'aun yang menyatakan bahwa siapa saja yang mengakui dan menerima adanya Tuhan dan kekuatan selain dirinya, maka ia akan menjebloskannya ke dalam penjara.[1] Lantaran rasa takut yang begitu mencekam, akhirnya masyarakat bersikap pasrah dan menyerahkan dirinya menjadi budak dan hamba Fir'aun.

2. Cinta dan kesukaan. Terkadang, proses mencintai dan menyukai sesuatu dapat menyebabkan seseorang lupa kepada Allah. Dalam keadaan demikian, orang tersebut hanya mencurahkan perhatiannya kepada sesuatu atau seseorang yang dicintai dan disukainya. Bahkan tak jarang, sesuatu tersebut menjadi garis orbit aktivitas kecintaan dan kebenciannya.

Kasus semacam itu diituslrasikan dengan begitu indah oleh al-Quran. Dikatakan bahwa orang-orang Yahudi kerap menjadikan para rahibnya sehagai tuhan mereka, seraya mengesampingkan keberadaan Allah. Disebabkan kecintaan serta kesukaan, mereka menjadi begitu patuh pada perintah dan larangan para rahibnya yang berpura-pura cerdik dan pandai. Padahal, para rahib te'sebut menghalalkan apa-apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa-apa yang dihalalkan Allah.[2]

3. Berpengharapan tidak pada tempatnya. Kondisi demikian akan menyebabkan seseorang menjadikan sesuatu selain Allah sebagai tumpuan harapan demi memperoleh bantuan, pertolongan, atau kemuliaan.

Dalam al-Quran diriyatakan bahwa sebagian orang sesungguhnya tengah berjalan menuju kepada Selain Allah, seraya berharap akan mendapat pertolongan.[3] Dan dalam ayat lainnya dikatakan bahwa mereka berharap kepada selain Allah dalam menginginkan kemuliaan!![4]

Peringatan

Dalam usahanya membelokkan manusia dari garis lurus dan lingkaran ketauhidan, mereka (musuh-musuh ketauhidan) senantiasa menggembar-gemborkan berbagai propaganda dan slogan yang sedemikian memikat, sembari pula menebar janji-janji membuai. Akan tetapi, al-Quran mengatakan bahwa semua itu pada hakikatnya nihil, tidak memiliki arti, dan hanya sebentuk istilah-istilah belaka.[5] Pada masa sekarang, kita bisa menjumpai berbagai istilah yang pada dasarnya membalut usaha diam-diam dalam menyelewengkan umat manusia dari garis perjalanan Islam. Beberapa di antaranya adalah kebebasan, demokrasi, hak asasi, undang-undang internasional, majelis permusyawaratan dan sejenisnya. Padahal, semua itu tak lain hanyalah peristilahan yang tidak memiliki fungsi sama sekali kecuali untuk menjadikan kita sibuk dan terlena.

Bukti Ketauhidan

1. Keserasian

Bukti termudah dan tergamblang tentang ketauhidan adalah keserasian dan keteraturan yang terjalin di antara berbagai ciptaan yang tersebar di jagat alam. Umpama, keserasian yang tercetak pada sebuah bangunan, tulisan dalam sebuah buku atau surat. Semua itu merupakan bukti nyata yang menunjukkan bahwa masing-masing darinya pasti disusun atau ditulis oleh satu orang. Dengan kata lain, semua itu mustahil dilakukan oleh lebih dari satu orang. Ambil contoh, tiga orang pelukis yang masing-masing hendak melukis bagian-bagian dari tubuh seekor ayam jantan yang sama. Sang pelukis pertama melukiskan bagian kepalanya. Sedangkan pelukis kedua melukis kakinya. Dan pelukis ketiga melukiskan potongan tubuhnya.

Setelah itu, ketiga lembar lukisan tersebut kita gabungkan. Pastilah ketiga bagian lukisan ayam tersebut tidak harmonis dan tidak beraturan. Dengan begitu, keserasian, keteraturan, serta keseimbangan yang jalin-menjalin dalam pelbagai ciptaan ini merupakan bukti terbaik dan termudah bagi ketunggalan Sang Pencipta.

Kelemahan dan kekuatan, penyerangan dan pertahanan, kekerasan dan kelembutan, semuanya memang terjalin dalam suatu kesatuan yang membingungkan. Biarpun begitu, kesemuanya ternyata merangkai sebuah sistem yang betul-betul harmonis.

Kita bisa saksikan bagaimana seorang bayi yang lemah dan rapuh dilindungi kekuatan kedua orang tua. Juga kita saksikan bersama, bagaimana batu besar meteor yang jatuh mengarah ke permukaan bumi, namun disebabkan adanya lapisan kuat dan panas yang mengelilingi bumi, menjadikannya tertahan dan terbakar sejak masih di lapisan atmosfer!

Atau juga, bagaimana manusia mengeluarkan karbondioksida (CO2) yang kemudian dibisap tetumbuhan, yang pada gilirannya menghembuskan oksigen (02). Pada prinsipnya, seluruh keberadaan dalam kehidupan ini pasti tak luput dari harmoni dan keteraturan.

Dalam hal penglihatan, mata seseorang harus bekerja sama dengan cahaya yang memancar. Ketika menghadapi berkas cahaya yang begitu kuat, lensa mata seseorang dengan serta merta akan mengecil. Sedangkan kalau pancaran cahaya yang diterima sedemikian lemah, otomatis ia akan membesar. Sementara itu, kelopak mata serta bulu mata yang hitam dan indah berfungsi sebagai penapis jatuhnya cahaya, untuk kemudian ditransmisikan ke alat penglihatan (biji mata). Air mata yang terasa asin dan air liur di mulut yang serasa manis pada dasarnya sesuai dengan kebutuhan dan komposisi tubuh. Kekekaran dan ketegasan kaum laki-laki, serta kelemahlembutan perempuan berfungsi untuk menyeimbangan dan menyerasikan kehidupan yang mereka arungi bersama. Perhatikanlah secara cermat pelbagai ihwal yang terdapat dalam kehidupan ini. Semuanya terjalin secara paksa dan alamiah dalam sebuah tatanan yang rapi, harmonis, dan seimbang.

Bayi yang mungil dan air susu ibu diciplakan oleh Pencipta yang satu. Sebabnya, begitu bayi terlahir ke dunia, dengan serta merta air susu akan keluar dari payudara sang ibu. Begitu pula dengan proses siklus ulain.

Matahari memancarkan cahayanya ke permukaan bumi; lautan membubungkan uap air ke angkasa; kemudian berkat daya gravitasi bumi, uap tersebut ditarik kembali ke permukaan bumi; akar tetumbuhan menghisap sari-sari makanan dari perut bumi; tidakkah semua keserasian ini merupakan bukti atas adanya kekuasaan atau kekuatan pemelihara adikodrati yang tak terbatas?

Alhasil, perbandirigan antara wawasan pengetahuan kita dengan lubang gelap ketidaktahuan kita, ibarat setetes air di hadapan lautan yang menghampar. Di jagat alam ini, jutaan rahasia masih tersimpan rapi. Bagaimanapun canggihnya teknologi dan ilmu yang dirumuskan, sampai saat ini belum seorangpun yang mampu menyingkapkan keseluruhan hubungan yang terjalin dalam ekosistem secara utuh dan tuntas.

Sebuah Kejadian

Pernah pada suatu hari seorang pemuda datang menemui saya. Pemuda tersebut yang baru mempelajari beberapa istilah saja, namun kemudian menjadi sombong dan lupa diri karenanya, berkata kepada saya, "Kenapa salat Subuh hanya dua rakaat?" Saya menjawab, “Saya tidak tahu, yang jelas, pasti ada dalituya. Akan tetapi, kita tidak harus mengetahui dalil yang mendasari seluruh perintah Allah. Apalagi kalau kita rnenginginkan dalil-dalil tersebut diketahui sekarang ini juga."

Dalam al-Quran, kita membaca bahwa tatkala posisi kiblat kaum Muslimin dipindahkan, Kami hendak mengetahui siapakah di antara mereka (yang setelah perpindahan kiblat itu) masih tetap mengikuti Nabi, dan siapa yang mencari-cari alasan dan membangkang perintah tersebut.

“Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot”. (al-Baqarah: 143)

Apakah dalam Al-Quran tidak termaktub perintah kepada Nabi Ibrahim as untuk menyembelih puteranya sendiri, Ismail? Berkenaan dengan perintah tersebut, al-Quran mengemukakan bahwa semua itu dilakukan agar diketahui siapakah yang memang bersedia berkorban demi Kami? (ash-Shaffat: 105)

Kemudian saya berkata kepada pemuda itu, "Sebagaimana di alam materi ini terdapat berbagai formula, yang sekiranya tidak diperhatikan secara rinci dan seksama niscaya seseorang tidak akan memperoleh hasil yang sesuai dengan keinginannya, begitu pula dengan alam maknawiah. Di alam tersebut, besar kemungkinan memang terkandung pelbagai formula bagi kebahagiaan kekal dan abadi. Seandainya formula tersebut diabaikan, tentu kebahagiaan abadi tersebut mustahil terwujudkan.”

Sebagai contoh, andaikata seseorang mengatakan kepada Anda bahwa dalam seratus langkah ke depan tertanam seonggok “harta karun", namun Anda menapaknya sampai seratus sepuluh langkah, tentunya Anda tidak akan menjumpai apapun di situ sekalipun Anda menggali tanah tersebut dalam-dalam.

Dalam hal ini, Anda mesti memperhatikan ukuran dan jarak yang diinstruksikan. Penggunaan telepon memerlukan ketelitian dalam memencet tombol angka-angkanya. Kalau sampai terjadi kekurangan atau kelebihan, tentu tidak akan terjadi kontak dengan kota atau tempat tujuan.

Meskipun sudah banyak contoh yang dikemukakan, saya berharap Anda masih bersemangat mendengarkan contoh berikut ini. Perhatikanlah sebatang kunci pintu rumah atau kunci mobil. Apabila salah satu geriginya patah, atau lebih panjang atau lebih pendek, pasti pintu mobil tersebut tidak dapat dibuka dan mesinnya pun mustahil bisa dinyalakan.

Saya menjumpai dalam kenyataannya bahwa sekalipun deretan contoh semacam itu telah dikemukakan secara gamblang, namun lantaran titel dan tingkat pendidikan tinggi yang berhasil ditempuhnya, tidak sedikit orang-orang yang terdidik menjadi takabur dan sombong. Akibatnya, dirinya menjadi enggan menerima dan mengakui pelbagai persoalan yang menyangkut ta’abbudi (penghambaan).

Padahal, sebagaimana diketahui bersama, tanpa mengarungi sungai taslim (penyerahan diri), seseorang mustahil mampu menggapai kesempurnaan dirinya; pintu eksistensinya tidak akan pernah terbuka hanya dengan menggunakan kunci akal dan ilmu yang serba terbatas semacam ini. Di jagat alam yang penuh rahasia dan misteri ini, kita tidak akan memperoleh apapun selain keragu-raguan dan kebimbangan.

Argumen Ketauhidan

Argumen pertama menegaskan tentang adanya keserasian dan harmoni dalam berbagai ciptaan di alam ini. Argumen kedua berkaitan erat dengan penjelasan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib —yang juga menyertakan himbauan agar kita betul-betul memperhatikannya. Bunyinya seperti ini, seandainya memang terdapat Tuhan lain (Selain Tuhan Yang Tunggal), tentu Dia juga akan mengutus para nabi dan menunjukkan jejak serta tanda-tanda kekuasaannya. "Apabila Tuhanmu memiliki sekutu, niscaya engkau akan menemui para utusan-Nya dan melihat tanda-tanda kerajaan-Nya."

Anggapan tentang adanya dua bentuk kekuatan (Tuhan) tersebut juga meniscayakan keterbatasan eksistensial masing-masing, yang karenanya menjadikan keduanya sebagai “bukan Tuhan”.

Kekuatan yang serba terbatas, yang menuju titik ketiadaan (fana), jelas mustahil disandang Tuhan. Dan jika kedua kekuatan tersebut dikatakan "tidak terbatas", maka yang ada bukan lagi "dua kekuatan" (melainkan satu kekuatan). Saya akan menukil sebuah ungkapan salah seorang cendekiawan, "Apabila Anda mengatakan kepada seorang ahli bangunan untuk membangun sebuah rumah yang luasnya meliputi seluruh tanah di permukaan bumi ini, pasti ia hanya akan membangun sebuah rumah saja. karena sudah tak ada lagi tempat baginya untuk membangun rumah yang lain."

Pembahasan Syirik

Syirik berarti bersandar kepada Selain Allah, menggeser posisi ketuhanann-Nya kepada makhluk, serta menyakini adanya kekuatan di atas kekuatan-Nya. Syirik juga memiliki arti kepatuhun secara absolut kepada selain Allah. Syirik bisa bermakna segala bentuk pemujaan dan pendirian suatu kelompokk di luar jalan yang dibentangkan Allah. Di sela-sela kisah yang tercantum dalam al-Quran, terdapat dua persoalan yang sungguh berharga:

1.  Menghidupkan keimanan dengan kekuatan Ilahi, menyadari adanya kemurahan dan pertolongan gaib dan Allah, serta tidak lalai terhadap amarah dan murka-Nya.

2.  Meruntuhkan seluruh sandaran yang bersifat semu, menolak segenap tolok ukur yang keliru, dan mencabut pelbagai akar kesyirikan.

Kita membaca dalam al-Quran bahwa Nabi Nuh as telah menasehati anaknya yang tidak beriman, dan memperingatkan seluruh orang kafir yang hidup pada masa itu akan kemurkaan Ilahi yang mendatangkan bencana air bah yang akan menenggelamkan mereka. Namun anaknya mengatakan, "Selama belum menyaksikan murkaTuhanmu, aku akan pergi berlindung ke puncak gunung."

Perhatikanlah, bagaimana logika berpikir yang dibangun anak Nabi Nuh as tersebut! la membandingkan eksistensi gunung dan kekuatannya dengan eksistensi dan kekuatan Allah. Inilah salah satu bentuk jiwa yang mengidap kesyirikan. Oleh karenanya, tatkala kita juga bersikap seperti itu (mengagungkan seseorang atau sesuatu secara sejajar atau bahkan melebihi Allah), pada saat itu pula kita terbenam dalam kesyirikan.

Perbuatan Syirik

Seseorang pernah mengatakan, "Sekarang ini kita tidak perlu lagi melakukan salat istisqa` (meminta hujan). Sebab, dengan menggali sumur dalam-dalam, kita pasti akan memperoleh air yang dibutuhkan."

Orang yang lain juga pernah mengatakan, "Kini sudah bukan saatnya lagi Allah bermurka dan menyiksa suatu kaum dengan mendatangkan paceklik (kekurangan bahan makanan). Soalnya, kapal-kapal bermuatan gandum dapat dengan mudah didatangkan dari berbagai daerah di luar negeri." Orang ketiga pun pernah mengatakan, "Kita mengakui bahwa hukum-hukum syariat bersandar pada perhitungan. Tapi, kita tidak dapat menentang hukum-hukum pemerintahan (nasional) dan internasional." Ada pula yang mengatakan. "Keberadaan hukum Allah memang demikian (pasti dan gamblang), namun kita juga harus mempertimbangkan kerelaan masyarakat serta isteri; Ketika kita patuh kepada perintah Allah, kita juga harus taat kepada ini dan itu."

Semua itu jelas-jelas bertentangan dengan tauhid dan penghambaan kepada Tuhan Yang Hak. Salah seorang ahli hukum (fuqaha) yang bertugas di Majelis Penjaga Revolusi (Syura-e Negahbon) menceritakan bahwa sekitar dua puluh tahun silam, saat menyertai Imam Khomeini dalam perjalanan dari Teheran menuju Qum, terdapat sebuah peristiwa yang sulit dilupakan.

Beliau berkata, "Pada waktu itu saya berkata, 'Alangkah baiknya jika pemerintah Irak melarang warga Iran memasuki Irak. Sebab kalau tidak, para ulama dan santri yang belajar dan mengajar di Qum akan berbondong-bodong pindah ke Najaf, sehingga Hauzah ilmiah (pesantren) di Qum akan menjadi kosong dan sepi.’

Ketika mendengar perkataan saya tersebut, Imam Khomeini langsung terkejut dan kecewa. Sejak dari Teheran sampai Qum —dalam mobil, beliau tak henti-hentinya menasihati saya dengan mengatakan, 'Kalau pemikiran seseorang tidak semata-mata diarahkan untuk Allah, maka ia akan senantiasa menginginkan agar yang satu naik dan satunya lagi jatuh, Hauzah yang ada di Qum menjadi sepi dan Hauzah di Najaf menjadi ramai, atau sebaliknya.

Alhasil, seandainya seseorang giat berupaya memenuhi sesuatu tanpa mempertimbangkan keridhaan Allah dan tidak berada di jalan-Nya, ia telah jauh dan terlempar dari orbit tauhid.

Semua usaha kita harus ditandasi ketentuan Allah. Bukan disandarkan pada pelbagai hubungan atau ikatan sesama kawasan, dacrah, ras, profesi, atau fanatisme kedaerahan, kekahilahan, kesukuan, dan sejenisnya.'"

Tanda-tanda Kesyirikan

Dalam al-Quran (yang tersebar di pelbagai ayatnya), tercantum sekitar dua ratus kata dunallah atau dunahu (selain Allah). Inilah pokok pembicaraan tentang kesyirikan. Adapun tanda-tanda kesyirikan yang paling mencolok dan sesuai dengan perkataan al-Quran adalah berjalan bukan di jalan Allah, keagungan dan kehinaan diri digantungkan kepada selain Allah, menjalankan undang-undang yang diproduksi selain Allah, terikat dengan selain-Nya, menyokong kegiatan yang tidak diridhai Allah, gentar terhadap selain Allah, serta berusaha demi selain Allah. Semua itu jelas berada di luar jaring-jaring ketuhidan.

Kuantitas Keberadaan Musyrikin (Orang-orang Musyrik)

Sebagaimana diketahui, jumlah atau kuantitas orang-orang ikhlas sangat minor (sedikit). Mereka adalah orang-orang yang tegar dan konsisten dalam menapaki jalan Allah dan tidak mengharapkan balasan serta ucap terima kasih secuilpun dari Selain-Nya. Mereka tidak memiliki sifat riya’ (suka pamer), bersikap pasrah secara total di hadapan undang-undang Allah, dan tidak menjalankan produk undang-undang selain yang diturunkan Allah.

Kuantitas orang-orang semacam ini memang sangat sedikit sekali. Al-Quran mengatakan, Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahab-sembahan yang lain)”. (Yusuf: 106)

Depresi: Dampak Kesyirikan

Di antara pelbagai masalah yang dikaji dan diteliti para ahli kejiwaan berkenaan dengan depresi dan tekanan jiwa, serta cara pencegahannya.

Menurut hemat saya, seseorang yang terus hidup dalam lingkaran ketauhidan, dan segenap usaha serta aktivitasnya semata-mata ditujukan kepada Allah, mustahil mengalami depresi dan frustasi. Lebih jelasnya, ia terbebas sama sekali dari pelbagai gangguan jiwa. Alasannya sebagai berikut:

Segenap hasil kerja dan upaya seseorang yang melangkahkan kakinya demi Allah akan dibeli Allah,[6] Allah mendengar pembicaraannya dan menyaksikan perbuatannya.[7]

Dan dirinya tidak terbelenggu dan tidak bergantung kepada Selain Allah.[8] Di tengah-tengah kehidupan masyarakat, acapkali kita jumpai pelbagai ungkapan yang berkenaan dengan tingkat keberhasilan usaha seseorang. Umpama, "berhasil/gagal", "menang/kalah", atau "berkembang/statis atau mundur".

Sementara itu, dalam literatur psikologi, pada umumnya diasumsikan bahwa sikap putus asa (frustasi) terhadap suatu usaha merupakan penyebab utama terjadinya depresi. Sikap putus asa jelas-jelas berada di luar lingkaran ketauhidan.

Dengan kata lain, ketauhidan tidak mengenal dan mencakupi segenap hal yang berbau keputusasaan. Semua itu dapat kita saksikan secara prima pada diri Nabi mulia saww: ketika menjadi seorang penggembala; tatkala beihjrah dari Mekah ke Madinah; saat berlindung di gunung-gunung; dalam berbagai peperangan; ketika berdiri di atas numbar; dalam keadaan tawaf; ketika mengangkut tanah liat guna membangun masjid di Madinah; ketika mengenakan atau tidak mengenakan pakaian tempur; saat sedang sendirian atau bersama-sama; jiwa Rasulullah saww sama sekali tidak bergeming dan berubah.

Memang benar, jika dikatakan bahwa masing-masing bentuk pertanggungjawabannya berbeda-beda. Namun, semua itu bukan semata-mata dimaksudkan sebagai bentuk yang menyenangkan hati (yang ini lebih menyenangkan sedangkan yang lain tidak—pent.).

Lain hal (mudah-mudahan saja tidak) dengan diri kita. Tatkala terjadi perubahan dalam hal pekerjaan, pakaian, meja, buku, atau lingkungan kehidupan, kita kontan bersikap murung, merasa sedih, dan kecewa.

Keadaannya bahkan sedemikian rupa, sampai-sampai kita—na’udzubillah—nekad bunuh diri.Tindakan yang sulit diterima akal sehat tersebut mungkin saja terjadi lantaran semua itu betul-betul diyakini sebagai hal yang paling utama. Dengan kata lain, "Semua itu telah menjadi semacam berhala yang membelenggu jiwa."

Pada masa pemerintahan lalu, agen-agen Savak (dirias intelijen rezim Syah) pernah mengintimidasi salah seorang ulama. Mereka memerintahkan agar pada saat berkhuthah di atas mimbar, sang ulama tersebut mendoakan Syah. Tentunya, desakan yang dilakukan agen-agen Savak itu terhadap sang ulama tadi disertai pula dengan pelbagai ancaman dan teror.

Padahal kita tahu, perbuatan (mendoakan Syah) tersebut sangatlah berbahaya. Ini sebagaimana yang ditegaskan dalam hadis, “Jika orang lalim dipuji, akan berguncanglah ‘Arsy Allah”.

Tatkala pujian dilayangkan kepada seseorang yang lalim, dengan sendirinya kelaliman yang dipraktikkannya akan kian menguat dan bertambah luas. Sehingga, jelas, Arsy yang merupakan sebutan bagi pemerintahan Allah akan berguncang hebat. Secara logis, menguatnya eksistensi pemerintahan yang lalim akan dibarengi dengan melemahnya pemerintahan Allah. Dan dalam hal ini, sungguh amat disesalkan bahwa pada akhirnya ia melaksanakan juga perintah tersebut.

Seandainya ulama yang berada di bawah tekanan penguasa lalim tersebut siap berhijiah ke daerah lain, menghentikan ceramahnya, serta menanggalkan pakaian ulama yang dikenakannya, maka semua itu justru akan menjadi sebuah tekanan balik yang sangat bertenaga. Selain pula, dirinya tidak sampai melakukan perbuatan tercela (memuji penguasa yang lalim—pent.).

Akan tetapi, dikarenakan tempat kediaman, pekerjaan, pakaian, dan kedudukan, telah menjadi semacam berhala dan membelenggu dirinya, maka ia pun tunduk dan mau melakukan perbuatan mengerikan semacam itu.

Semoga Allah membebaskan kita dari berbagai belenggu dan keterikatan kepada Selain Allah yang selama ini telah tertanam kuat-kuat dalam benak dan jiwa kita.


[1] “Fir’aun berkata, “Sesungguhnya jika kamu menyembah Tuhan selain ku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan”. (asy-Syu’ara`: 29)

[2] “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahibnya sebagai Tuhan selain Allah”. (at-Taubah: 31)

[3] “Mereka mengambil sesembahan-sesembahan selain Allah agar mereka mendapat pertolongan”. (Yasin: 74)

[4] “Dan mereka mengambil sesembahan-sesembahan selain Allah agar sesembahan-sesembahan itu menjadi pelindung mereka”. (Maryam: 81)

[5] Qishârul Jumal.

[6] “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka”. (at-Taubah: 111)

[7] Seluruh ayat yang menyifati Allah dengan Mahadengar dan Mahalihat.

[8] Ini merupakan kejadian yang pernah dialami oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib yang memberikan makanan untuk berbukak puasa selama tiga malam berturut-turut kepada masyarakat yang sedang kekurangan (orang miskin, anak yatim, dan tawanan). Kemudian beliau berkata, “Dalam memberikan makanan ini, aku tidak menginginkan balasan dan ucapan terimakasih dari kalian”. (al-Insan: 9)