BAB KEEMPAT

Orang Yang Mengutamakan Nafsunya

Setelah menelusuri kajian tentang pengertian hawa nafsu, keadaan-keadaannya dan cara pengobatannya. Kini saya mulai mengkaji tentang tema orang yang mengutamakan keinginannya di atas keinginan Allah dan yang mengutamakan keinginan Allah di atas keinginannya. Kita rnulai dengan membahas orang yang mengutamakan keinginan dirinya di atas keinginan Allah.

Dalam sebuah hadis Qudsi disebutkan, Rasulullah SAWW mengatakan bahwa Allah SWT, berfirman: "Demi Kemuliaan- Ku, Keagungan-Ku, Kebesaran-Ku, Keperkasaan-Ku, Nur-Ku, Ketinggian-Ku dan ketinggian Kedudukan-Ku. Tiada seorang hamba yang mengutamakan keinginan dirinya di atas keingina n-Ku rnelainkan Kucerai-beraikan urusannya, Kukaburkan dunianya dan Kusibukkan dia dengan urusan duniawi serta Kuberikan dunia kepadanya seperti yang telah Kutakdirkan untuknya (tidak lebih)." [1]

Pembahasan saya dalam bagian ini - sebagaimana dising gung dalam hadis qudsi tersebut- akan terfokus pada tiga per kara:

1. Allah SWT akan menyiksa golongan yang mengutamakan keinginan dirinya di atas keinginan Allah dengan tiga hal:

a.           Allah akan mencerai-beraikan urusannya.

b. Allah akan mengaburkan dunianya.

c.   Allah akan menyibukkan hati mereka dengan urusan duniawi.

2.     Tiga bentuk siksaan dalam hadis ini didahului dengan sumpah yang sangat berat "Demi Kemulian-Ku, Keagungan- Ku, Kebesaran-Ku, Keperkasaan-Ku, Nur-Ku, Ketinggian-Ku dan tingginya Kedudukan-Ku ". Dan sumpah-sumpah ini meny ingkap betapa pentingnya permasalahan yang disebut setelah itu.

3. Gaya bahasa dan redaksi hadis ini menggunakan logika "kalau tidak begini pasti begitu" (al-hashr bayna an-nafyi wa al-itsbât). Gaya bahasa itu tertera pada kalimat "tiada seorang hamba yang mendahulukan keinginannya di atas keinginan Allah melainkan Aku cerai-beraikan urusannya..."

Dengan kata lain, bila ada seseorang yang mengutamakan keinginan dirinya di atas keinginan Allah SWT, maka pasti dia akan tertimpa tiga siksaan yang disebutkan dalam hadis Qudsi tersebut.

1. Aku Cerai-beraikan Urusannya

Siksaan pertama yang pasti akan menimpa kelompok manusia ini ialah kekusutan urusan. Seperti, Allah akan mencahut pendirian, kemantapan, integritas, langkah, sikap dan wahana hidupnya. Allah terus mengombang-ambingkan mere ka. Bak sehelai bulu atau sebongkah kayu yang terapung di atas air yang tidak bermuara.

Ada dua model kepribadian manusia,

1.          Pribadi yang harmonis.

2.          Model manusia yang gelisah atau kacau-balau.

Kepribadian Harmonis

Pribadi yang harmonis selalu berada di bawah sutu ke kuasaan dan penguasa. Sedangkan kepribadian yang gelisah dan rusuh terobang-ambingkan oleh sekian banyak f'aktor yang berbeda. Yangpertamaialah manusiadalam keadaan monoteis tik dan yang kedua ialah manusia dalam keadaan politeistik.

Kepribadian monoteistik berada di bawah kekuasaan, ke hendak, hukum, dan perintah Allah. Dia hanya tertarik kepada "magnetisme" keridhaan Allah. Perintah Tuhan menguasai nya baik di waktu senangatau susah. Wajab dan keridhaan-Nya adalah tujuan hidupnya. Pribadi ini selalu dikuasai oleh perin tah, kekuasaan dan tujuan Ilahi.

Perintah dan tujuan yang demikian itulah yang memheri kan keharmonisan dan integritas kepada manusia. Dengan memperhatikan perhedaan sikap politis dan status sosial me reka sekalipun. Terkadang taklif politis Muslim berpindah dan satu keadaan kepada keadaan lain. Seperti, dari sikap berperang kepada sikap berdamai; dari sikap mengangkat senjalu kepada sikap melucuti senjata.

Berbagai taklif dan perintah yang seri n g herganti-ganti tersebut tidak akan menimbulkan kemelut (dissociation) dan konflik dalam kepribadian seorang Muslim. Semua itu tidak akan memudarkan integritas atau harmoni yang tumbuh dalam kepribadian monoteistik.

Keadaan inilah yang disebut dengan tauhid praktis seba gai lawan tauhid teoretis. Sudah barang tentu, tauhid praktis adalah pantulan tauhid teoretis clalam prilaku hidup seorang.

Keadaan tauhid praktis yang begini akan membebaskan manusia dari berbagai pengaruh kekuasaan. Baik yang ada dalam jiwa manusia (hawa nafsu) maupun di luarnya (tagut). Secara integral, dia masuk dalam lingkaran kekuasaan hukum rlan perintah Allah. Hukum Allah sajalah yang menjadi penguasa tindak-tanduknya. Hukum Allah merupakan sibghah (warna) umum dalam kehidupannya. Dan akhirnya, dia adalah perwujudan dari sabda Rasulullah SAWW:

"Kalian belum dianggap beriman sehingga keinginan ka lian mengikitti apa yang telah aku bawa. " [2]

Syirik merupakan kebalikan dari keadaan di atas. Kesyi rikan mengeluarkan manusia dari garis haluan hukum Allah SWT. Jiwa orang musyrik akan tercabik-cabik hawa nafsn dari arah dalam dan tagut dari arah luar.

Manusia yang keluar dari benteng tauhid, akan dimusnah kan agen-agen hawa nafsu dan tagut. Bagaikan bangunan tinggi yang disapu bersih oleh badai. Alquran menjelaskan masalah ini dengan ungkapan sebagai berikut: "Allah ialah wali orang- orang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari bermacam kegel apan. kepada cahaya. Sedang wali-wali orang kafir adalah tagut... ". Q.S. Al-Baqarah:257.

Orang mukmin hanya memiliki satu wala' (perwalian) dan komitmen. Sementara orang-orang kafir memiliki pelbagai perwalian sebagaimana yang digambarkan oleh klause, "sedang wali-wali orang kafir itu tagut."

Pribadi yang harmonis akan bertahkim dan bertumpu pada satu perintah syar'i yang memusat pada Allah dan keri dhaan-Nya.

Kelompok ini melaksanakan perintah syar'i tanpa ragu, takut, bimbang, malu, dan gelisah. Sifat-sifat itu adalah indika tor kepribadian yang pecah (dissociated personality). Jiwa rna nusia yang dipimpin oleh satu faktor akan terhindar dari semua sifat itu.

Adapun ciri-khas kelompok monoteistik ini ialah keper cayaan diri, ketenangan, keyakinan, kebulatan tekad, kebera nian, kelapangan jiwa dan hati, kesatriaan, tidak mundur aki bat sendirian dalam sikapnya atau sedikitnya pembela dan banyaknya penentang.

Amirul Mukminin Ali as berkata: "Banyaknya yang (mengikutiku) tidak akan menambah kernulian dan ba nyaknya orang yang membenciku tidak akan menimbulkan keterasingan (alienasi)." [3]

Kepribadian kelompok ini bersifat langgeng. Baik di saat senang ataupun susah, lapang atapun menderita, dan kalah ataupun menang.

Ammar bin Yasir

Semoga Allah merahmati Amar bin Yasir. Dia adalah contoh pribadi yang tenteram; teguh pendirian dan berkepribadian harmonis.

Ammar ialah sahabat Nabi yang berada di belakang barisan Imam Ali melawan Muawiyah di perang Shiffin. Kala itu, dia sudah berusia 90 tahun. Namun, jiwa dan raganya pantang menyerah. Dengan gigihnya, dia menerobos pasukan musuh. Tak sedikitpun keraguan tentang kebenaran Imam Ali as dan kebatilan Mu'awiyah menggelayutinya.

Di tengah berkecamuknya perang Shiffin dan di hadapan Imam Ali, Ammar menengadahkan kedua tangannya dan bermunajat kepada Allah:

"Ya Allah, Engkau Mahatahu. Sekiranya aku mengetahui bahwa Ridha-Mu, diperoleh dengan menenggelamkan diriku ke laut, niscaya akan kulakukan.

Ya Allah, Engkau Mahatahu. Sekiranya aku mengetahui bahwa ridha-Mu diperoleh dengan menancapkan pedang di perutku sehingga menembus punggungku, niscaya akan ku lakukan.

Ya Allah, aku sungguh telah mengetahui dari apa yang Engkau ajarkan padaku, bahwa hari ini tiada amal yang lebih Engkau ridhai daripada mernerangi orang-orang fasik itu.

Seandainya aku mengetahui ada perbuatan lain yang lebih Engkau ridhai dari perbuatan ini, niscaya akan kula kukan!" [4]

Asma' bin Al-Hakam Al-Fazârî bercerita: "Pada peperan gan Shiffin bersama Imam Ali as, kami berada di bawah bendera yang dipegang Ammar bin Yasir. Ketika itu matahari mulai naik (waktu dhuha). Kami berteduh dengan kain merah. Tiba-tiba ada seorang datang menghadap dengan mengangkat Mushhaf. Persis di hadapanku dia berucap: 'Apakah Ammar bin Yasir ada di tengah-tengah kalian? "Akulah Ammar", jawab Ammar.

"Apakah engkau Abu Yaqthan?" tanya orang itu. "Benar," jawab Ammar.

"Ada yang ingin aku bicarakan. Apakah kita berbicara di sini saja atau empat mata?" Tanyanya.

Ammar menjawab: "Terserah!"

Lalu orang itu memilih di hadapan orang banyak. Ammar menyuruhnya agar memulai angkat bicara. Lalu orang itu mulai berbicara: "Aku telah meninggalkan keluargaku dalam keadaan yakin akan kebenaran yang sedang kita jalani. Aku yakin mereka (pihak Mu'awiyah) berada dalam kebatilan. Aku senantiasa meyakini demikian.

Sampai saat malam tiba, dan terdengar olehku suara azan. Terdengar olehku bahwa kita (kedua belah pihak) sama-sama bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan-Nya. Muazin kita mengumandangkan azan yang sama. Kita melakukan salat dengan cara yang sama. Kita berdoa dengan doa yang sama. Kita membaca Alquran yang sarna. Kita mempercayai Rasul yang sama.

Di rnalam itulah aku dihinggapi keraguan. Aku lewati malam yang entah bagaimana. Hanya Allah yang mengetahui. Pagi tiha. Aku segera mendatangi Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib. Aku menceritakan semua kejadian tersebut kepadanya.

Dengan tenang beliau berkata padaku: "Apakah engkau sudah bertemu dengan Ammar bin Yasir?"

"Tidak!" Jawabku.

Amirul Mukminin kemudian memerintahkanku untuk menemui Ammar dan memperhatikan apa saja yang diucapkan nya. Maka aku menjumpaimu semata-mata demi menjalankan perintah beliau.

Kemudian, dengan nada lantang Ammar berkata: "Tahukah kamu orang yang membawa bendera hitam yang sedang menghadapku itu? Bendera itu milik 'Amr bin Al-'Ash. Tiga kali aku memeranginya bersama Rasulullah. Ini kali keempatnya. Kali ini bukan yang terbaik dan termulia dari yang sebelumnya. Ini kali justru yang terburuk dan terkeji.

Apakah engkau hadir di perang Badr, Uhud dan Hunain? Atau setidaknya ayahmu pernah hadir kemudian mencerikan nya kepadamu?"

"'Tidak pernah," jawab lelaki itu.

Ammar melanjutkan: "Kami waktu itu bersama Rasulu llah di perang Badr, Uhud dan Hunain. Sedangkan mereka (Amr bin Al-Ash dan pasukannya) bersama orang-orang musyrik.

Tahukah kamu pasukan itu dan para prajuritnya?

Demi Allah! Seandainya orang-orang yang bersama Mu'a- wiyah itu berubah menjadi satu jasad, maka niscaya akan aku sembelih dan cincang ia.

Demi Allah, darah mereka lebih halal daripada darah seekor burung pipit. Apakah ada darah burung pipit yang ha ram?

"Tentu tidak ada!", jawab pemuda itu.

"Nah, begitu pula darah mereka”.

Mengertikah kau akan penjelasanku ini?" tegas Ammar.

"Mengerti," jawabnya.

"Sekarang, pilihlah mana di antara dua kubu ini yang lebih kau senangi!", sergah Ammar.

Ketika orang itu hendak pergi, Ammar memanggilnya. Dia berkata: "Ketahuilah! Mereka akan penggal leher kita dengan pedang mereka. Kemudian orang-orang yang gemar keba tilan di antara kalian mengatakan, sekiranya mereka tidak benar niscaya mereka tidak akan memenangkan kita.

Demi Allah! Mereka tidak mempunyai kebenaran, walau hanya sebesar kotoran mata seekor lalat.

Demi Allah! Apabila mereka memukul kita dengan pe dang sampai terkapar di tanah, maka aku pastikan bahwa kita tetap dalam kebenaran dan mereka tetap dalam kebatilan.

Aku bersumpah demi Allah! Selamanya tidak akan ada kedamaian sampai satu dari dua kelompok ini mengakui kekafi ran, membenarkan kelompok lainnya, dan meyakini bahwa orang yang terbunuh membela mereka masuk surga.

Demi Allah! Hari-hari dunia tidak akan berlalu kecuali mereka bersaksi bahwa korban yang terbunuh masuk surga. Mereka juga harus bersaksi bahwa korban yang terbunuh dari pihak lawan akan mendapat siksa di neraka dan yang masih hidup berada dalam kebatilan". [5]

Kepribadian yang Labil dan Disharmonis

Pertama konflik yang terjadi dalam pribadi yang labil dan disharmonis ini adalah antara akal dan hawa nafsu. Hawa nafsu berupaya untuk mencampakkan jiwa dari pengaruh akal dan memaksanya bertekuk lutut. Pada saat itu, jiwa manusia mem belah menjadi dua kubu yang bertikai.

Penderitaan manusia pada tahap ini besar sekali. Dhamir, fitrah dan akal mempunyai kekuatan yang mengakar dalam pribadi manusia. Mereka selalu melawan pengaruh hawa nafsu dan berupaya untuk membangkitkan dan mengembalikan ke pribadian manusia pada keadaan semula yang harmonis. Dalam tahap pergolakan internal ini, manusia mengemban penderi taan dan nestapa yang luar biasa.

Jika akal melemah dalam mengendalikan prilaku ma nusia atau jiwa tidak mampu lagi mengemban tekanan pergo lakan ini, ia berusaha lari dari kesadarannya. Ini adalah pe nyelesaian negatif bagi ketertekanan yang dialaminya. Penyele saian positifhanya dapat dicapai melalui konsistensi jiwa dalam memenuhi panggilan akal dan fitrah.

Manusia yang lemah terhadap kekuasaan hawa nafsu, akan terdisosiasi. Dia lari dari kesadarannya supaya selamat dari siksaan pergolakan dan kepedihan yang dialaminya. Pela rian mereka ialah dengan cara mabuk-mabukan, perjudian, tindak kriminal dan pelampiasan naluri seksual.

Mengherankan sekali bagaimana manusia dapat lari dari hawa nafsu menuju hawa nafsu; dari kekejian menuju kekejian. Seandainya dia berbuat sebaliknya, lari dari hawa nafsu menuju Allah, niscaya dia akan selamat dan bahagia.

Allah SWT berfirman: "Maka larilah ke Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata untukmu". Q.S. Adz-Dzâriyât:50.

Selama manusia tidak berlindung kepada Allah, dia akan selalu kalah melawan hegemoni hawa nafsu. Dia lari ke mabuk- mabukan dan pelampiasan seksual demi melupakan diri, pen deritaan, kepedihan dan siksa yang menimpanya dan demi menyelamatkan "diri" dari dirinya. Alquran mengungkap ma salah ini dengan sangat tepat.

Allah berfirman: "Mereka melalaikan Allah, maka Dia melalaikan rnereka dari diri mereka." Q.S. Al-Hasyr:19.

Orang yang lari dari keadaan sadar dan menuju minuman keras dan hiburan yang haram, sebenarnya sama dengan orang yang ingin melalaikan dirinya sendiri. Mereka termasuk orang yang lari dari keadaan ingat menuju kepada keadaan lupa. Pelarian dengan cara ini ialah yang paling berbahaya.

Dhamir ialah benteng pertahanan akhir jiwa dalam mela wan serbuan hawa nafsu. Jika dhamir telah runtuh, maka tahap awal pertempuran dan pertikaian internal dimulai; tahap pen deritaan dan ketersiksaan manusia. Jika setelah itu hawa nafsu menang lagi, maka semua kekuatan manusia telah terenggut. Dan manusia, secara total, berada dalam kendali hawa nafsu.

Tidak hanya sampai di sini penderitaan manusia. Dia akan mulai mengalami perpecahan internal lain. Perpecahan yang terjadi akibat konflik antara berbagai kubu hawa nafsu itu sendiri. Jiwa manusia akan menjadi ajang pertempuran yang tak terbayangkan sengitnya antara berbagai kubu hawa nafsu. Dalam pada itu, disintegrasi, kegelisahan, kegoncangan (psik ologis) manusia makin bertambah clengan bertambahnya ur gensi hasrat masing-masing kubu untuk dipenuhi.

Untuk lebih jelasnya di bawah ini akan saya berikan beberapa contoh:

1. Kadang manusia menjadi mangsa naluri balas den dam/amarah dan naluri cinta kehidupan/kekuasaan secara ber samaan. Naluri cinta tahta menuntutnya agar berpura-pura lembut kepada para penentangnya, sedangkan naluri balas dendam mendorongnya untuk menghabisi mereka. Lemah-lem but yang ini bukan termasuk sopan-santun yang merupakan bagian dari pasukan akal. Ini hanya sekadar sikap mengu tamakan hawa nafsu yang satu atas yang lainnya.

2.       Seringkali naluri cinta tahta berbenturan dengan na luri cinta status sosial yang menuntut suatu etiket kemasya rakatan. Banyak sekali naluri yang menolak etiket semacam itu seperti naluri seksual. Mengekang naluri seksual untuk mem peroleh kedudukan sosial tidak bisa dikatagorikan 'iffah. Ia semata-mata adalah mengutamakan tuntutan hawa nafsu ter tentu atas hawa nafsu yang lainnya. Lazimnya, naluri seksual manusia mengalahkan naluri cinta kedudukannya. Maka dari itu, banyak skandal seksual yang dari masa ke masa membuat para pemimpin berjumpalitan.

3.       Kadangkala manusia menjadi korban konfrontasi an tara cinta tahta dan takut akan diri sendiri. Naluri yang pertama menuntut manusia untuk menyerang dan bertindak se rampangan. Sementara naluri yang kedua lebih menuntut ke hati-hatian dan kewaspadaan.

Inilah tiga contoh adanya konflik intern berbagai hawa nafsu manusia. Konflik tersebut bersifat free-for-all. Berbagai hawa nafsu dan naluri manusia itu sama-sama menggeret jiwa menuju tujuan-tujuan yang berlawanan secara diametral.

Takut, rakus, cinta tahta, kikir, dengki, libido, amarah, dendam, cinta harta dan lain sebagainya akan mengacau-balaukan kehidupan psikologis manusia. Mereka mengeroyok jiwa manusia demi kepuasan masing-masing. Pada saat itu, derita, nestapa, keguncangan, keraguan dan disintegritas psikologis makin menjadi-jadi.

Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya, dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu, Allah menghendaki siksa bagi rnereka dalam kehidupan dunia dan akan rnelayang nyawa mereka, sedang mereka dalarn keadaan kafir." Q.S. At-Tauhah: 55.

Inilah keadaan disharmonis dan disintegral yang menim pa jiwa manusia, sebagaimana yang diisyaratkan hadis qudsi di atas.

Nestapa Manusia Terjadi Dalam Wilayah Hawa Nafsu

Terpecahnya kepribadian adalah salah satu derita yang dialami jiwa akibat hawa nafsu. Derita lain yang dialaminya, bersifat intrinsik pada nafsu itu sendiri. Setiap nafsu, menyiksa jiwa dengan caranya sendiri. Karenanya, jika manusia berserah diri pada salah-satu dari pelbagai hawa nafsu ini; seperti tamak, rakus, hasut dan lain sebagainya, tentu dia akan tersiksa tidak keruan.

Dalam kaitan ini, Al-Mufid dalam kitab Al-Irsyâd [6] meri wayatkan ujaran Imam Ali sebagai berikut:

"Sungguh mengherankan ihwal manusia ini!

Bila karunia harapan mendatanginya, kerakusan menghinakannya.

Bila kerakusan sudah meraja lela, obsesi membinasakannya.

Bila keputusasaan menguasainya, penyesalan akan mengganyangnya.

Bila kebahagiaan meliputinya, kelupaan akan mawasdiri mengancamnya.

Bila ketakutan mencekamnya, ketegangan membingungkannya.

Bila ketenteraman menyelimutinya, kelunglaian menjeratnya.

Bila musibah menimpanya, kegelisahan menghantuinya.

Bila rezeki mencucurinya, kekayaan merusaknya.

Bila kesulitan menyatroninya, bencana mencekiknya.

Bila kelaparan meimpanya, kepapaan merenggutnya.

Bila dia sudah terlalu kenyang, kelobaan akan menyusahkannya.

Maka, setiap kekurangan baginya membahayakan. Kelebihan yang diperolehnya membinaskan.

Kebaikan yang bersamanya membawa kejahatan. Dan kejahatan yang ada padanya membawa penderitaan .

Demikianlah, setiap nafsu menggeret manusia kepada nafsu yang lain dan akhirnya kepada kebinasaan yang menyelu ruh.

Dunia Bakal Menyiksa Orang yang Mencarinya

Hawa nafsu adalah satu sisi dari ketersiksaan manusia. Sisi lainnya ialah dunia. Dunia adalah terminal, tujuan, objek perintah dan gerak hawa nafsu.

Jika Allah telah menjadikan ketersiksaan manusia dalam mengikuti hawa nafsunya, maka ketersiksaan itu terletak pada mencari dunia. Ihwal mengikuti hawa nafsu tidak dapat dipisah kan dari ihwal memburu dunia.

Hakikat ini, perlu lebih dijelaskan, sebab ia merupakan salah satu saripati pemikiran keislaman.

Sebenarnya, di dunia tidak ada kejelekan dan siksa. Be gitu pula perkara mencari dunia. Tetapi, semua itu selama ia hanya dipakai memenuhi tuntutan gerak, pertumbuhan dan perkembangan manusia.

Islam raengajarkan bahwa dunia adalah kebaikan dan bukan kejelekan. Islam jugamelegalisasikan manusia berusaha mencari rizki di dunia.

Menurut pandangan Islam, "dunia adalah ternpat usaha para wali Allah dan tempat sujud para kekasih Alloh." [7] Karena itu, dunia bukanlah kejahatan dan siksaan bagi manusia.

Berusaha dan mencari dunia adalah suatu hal yang di syariatkan Allah SWT. Allah berfirman: "Apabila kalian telah menunaikan salat, rnaka bertebaranlah di muka bumi; dan curilah karunia Allah ..." Q.S. Al-Jumu’ah:10.

Kalau demikian, di mana letak kejelekan dan siksa ma nusia dalam dunia?

Dunia itu baik, begitu pula mencari dunia, kalau kita menjadikannya sebagai jalan menuju keridhaan Allah dan me mandang Allah melaluinya. Akan tetapi, jika arah dan tujuan manusia berubah dari mencari Ridha Allah SWT kepada dunia itu sendiri, maka dunia dibenci oleh Islam dan dianggap sebagai kejelekan dan Allah akan menjadikannya sebagai siksa bagi manusia. Dunia menjadi tercelajika berubah fungsi dalam jiwa seorang dari jembatan menuju Allah menjadi tujuan yang di cari. Jika manusia telah berbalik dari Allah SWT ke dunia, maka segala jerih payah baik yang berupa upaya dan usahanya akan menjudi sia-sia belaka. Pertumbuhan dan kesempurnaannya juga ikut berhenti. Setelah itu semua, gerak-gerik manusia di dalamnya menuju kekacauan dan kerugian.

Inilab akibat bagi manusia yang berpaling dari Allah. Tingkat kehancuran manusia bergantung pada seberapa dera jat penyimpangannya.

Penyimpangan manusia bisa mencapai titik di mana ia bergerak ke arah yang berlawanan. Pada saat itu, dia akan mengumumkan perang kepada Allah dan Rasul-Nya.

Apapun pasalnya, jika dunia berbalik dari jalan menuju Allah kepada tujuan yang dicari dan dikejar, maka dunia pasti akan berubah menjadi siksa dan azab bagi hidup manusia.

Demikianlah perbedaan antara dunia yang mencari ma nusia dan dunia yang dicari manusia.

"Dunia yang mencari manusia"

bakal membantu melapangkan jalan manusia menuju Allah, tapi "dunia yang dicari manusia”, akan menghalangi jalannya menuju Allah. Saat itu, dunia pennh dengan kepedihan dan siksaan bagi manusia.

Rasulullah SAWW bersabda: "Ketika Allah menciptakan dunia, la mernerintahnya agar taat pada Tuhannya. Allah berfirman pada dunia: berpalinglah dari orang yang membu rumu dan burulah orang yang berpaling darimu!" Dunia selalu menepati janjinya kepada Allah dan kodrat vang ditetaphan- Nya." [8]

Riwayat ini mengisyaratkan bahwa Allah SWT telah men jadikan dunia ini sebagai siksa bagi orang yang mengikutinya dan orang yang menjadikannya sebagai tujuan. Sebaliknya, Allah menjadikannyasebagai kesenangan bagi orang yang mencari Allah SWT dan tidak menjadikan dunia sebagai tujuannya.

Rasulullah SAWW bersabda: "Allah telah mewahyukan de mikian kepada dunia: "Waliai dunia, layani orang yang mela yani-Ku dan ganyang orang yang menghambakan diri kepa damu." [9]

Riwayat ini, seperti riwayat sebelumnya, menggunakan simbolisme. Kedua riwayat ini sebenarnya ingin menegaskan bahwa dunia diciptakan untuk berkhidmat kepada manusia yang semata-mata bertujuan kepada Allah SWT. Namun, jika manusia menyeleweng dari tujuan Ilahi ini kepada dunia itu sendiri, maka wajib bagi dunia untuk memperbudak dan mem perhambanya. Dan, sungguh menghamba kepada dunia adalah suatu perkerjaan yang melelahkan dan menyiksa.

Rasulullah SAWW bersabda bahwa Allah SWT telah mewa hyukan kepada dunia: "Ganyanglah orang yang berkhidmat kepadamu, dan berkhidmatlah kepada orang yang menolak mu”. [10]

Imam Ali as berkata: "Barangsiapa yang berkhidmat pada dunia, maka dunia akan memperbudaknya dan barangsiapa berkhidmat pada Allah, maka Allah akan membantu nya." [11]

Kepada Musa as Allah berfirman: "Tiada seorang pun dari makhluk-Ku yang mengagungkan dunia, kemudian me rasa bahagia karenanya. Dan tiada seorangpun yang menghi nakannya kecuali dia akan memanfaatkannya." [12]

Banyak lagi riwayat yang mengandung pengertian yang sama atau serupa. Orang yang tidak mengerti bahasa agama Islam dalam menjelaskan sunnatullah di alam raya ini, tidak akan bisa mengerti kandungan nash-nash keislaman tersebut kapanpun juga.

Bentuk lain Ketersiksaan Manusia yang Mengikuti Hawa Nafsu

Pada kajian sebelumnya, saya telah jelaskan bahwa mak na "Aku porak-porandakan urusannya" adalah disosiasi, disin tegrasi dan konflik antar berbagai kubu hawa nafsu akibat mengikuti hawa nafsu dan memburu dunia.

Di sini ada bentuk ketersiksaan lain yang diperoleh ma nusia ketika menyimpang dari Allah SWT ke dunia dan hawa nafsunya.    Ketersiksaan itu berupa kerakusan dan keserakahan.

Manusia yang kemauan dan orientasinya bergeser dari Allah menuju dunia, tidak akan pernah terpuaskan oleh dunia. Kerakusannya terhadap dunia tidak akan berakhir. Baik dunia meladeninya maupun membelakanginya.

Dunia Seperti Bayangan Manusia

Barangkali perumpamaan yang paling indah tentang dunia dan pada pendambanya ialah yang terdapat pada ujaran Imam Ali as:

"Dunia seumparna bayanganmu. Jika kamu berhenti, ba yanganmu pun ikut berhenti. Jika kamu mencarinya, ia akan menjauh." [13]

Ungkapan ini benar-benar menukik dalam memberikan gambaran tentang hubungan manusia dengan dunia dan se baliknya.

Semakin ngotot dan ngoyo manusia dalam mengejar du nia, tidak semakin banyak perolehannya. Karena, dunia bak bayangan seorang. Di saat orangitu mengejarnya dari belakang, bayangannya muncul di depan. Seolah-olah bayangan itu meno lak untuk dikejar. Maka, mengejar bayang-bayang hanya akan menimbulkan kelelahan dan kepenatan. Begitu pula dengan dunia.

Oleh karena itu, sebaik-baik kiat mencari dunia ialah dengan bersahaja kepadanya. Karena ngotot dalam mencari dunia tidak akan menambah perolehan seorang darinya, tapi akan menambah kepenatan dan penderitaannya belaka.

Beberapa Nash tentang Ketersiksaan Manusia

Berikut ini beberapa nash keislaman tentang ketersik saan orang yang mengikuti hawa nafsu dan menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya.

Rasulullah SAWW bersabda: "Cinta dunia akan membawa tiga dampak:

1. Kesibukan yang tidak akan pernah berakhir.

2.      Kefakiran yang tidak akan pernah tercukupi.

3.      Angan-angan yang tidak akan pernah tercapai." [14]

Kefakiran di sini bukan bersifat kuantitatif. Sebab, ka dang seorang disebut fakir padahal dia memiliki harta yang banyak. Kefakiran di sini bermakna kerakusan terhadap harta benda. Di lain pihak, ada seorang yang kaya, padahal dia tidak memiliki dunia kecuali sedikit saja.

Rasulullah SAWW bersabda: "Barangsiapa yang di pagi hari pikirannya sudah disibukkan oleh dunia, maka dia tidak akan mendapatkan apa-apa dari Allah dan hatinya akan tertimpa empat perkara: Pertama, kesumpekan yang terus-me nerus; kedua, kesibukan yang tidak beres-beres; ketiga, kefa kiran yang tidak pernah tercukupi; keempat, angan-angan yang tidak akan kesampaian selamanya." [15]

Imam Ali as menegaskan: "Barangsiapa yang hatinya dipenuhi cinta dunia, maka dia akan selalu terliputi oleh tiga perkara:

1.              Kesumpekan yang tidak berarti.

2.              Sakit yang tidak pernah sembuh.

3.              Harapan yang tidak akan tercapai." [16]

Imam Ali as berkata: "Siapa yang menjadikan dunia sebagai puncak harapannya, maka dia akan menelan keseng saraan dan kegelisahan yang berkepanjangan." [17]

Imam Ali as bertutur: "Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, rnaka dia akan mengalami penang gungan yang luar biasa saat berpisah dengannya." [18]

Imam Ali as berucap: "Menangis hati mereka yang ber senang-senang dengan dunia, meskipun (di saat) gembira. Dan bertambah kebencian rnereka atas diri mereka, meski orang lain ingin seperti mereka karena sekelumit rizki yang mereka pe roleh." [19]

Imam Ash-Shadiq as berkata: "Hati seorang yang tergant ung pada dunia, akan digantungi tiga hal:

1. Kesumpekan yang tidak mempunyai arti.

2.        Angan-angan yang tidak akan tercapai.

3. Harapan yang tidak akan bisa didapat." [20]

Inilah sebagian siksa bagi mereka yang mengikuti hawa nafsu di dunia sebelum di akhirat nanti. Sebagian yang lain, seperti ketakutan dan kegelisahan yang dialami orang-orang berharta dan bertahta di lingkarannya sendiri atau di luarnya.

Keterceraiberaian Urusannya di Akhirat

Kita kembali pada kajian "keterceraiberaian manusia". Namun, kali ini terjadi di akhirat.

Mula-mula keterceraiberaian manusia yang mengikuti hawa nafsunya terjadi di antara mereka sendiri. Waktu di dunia jasad-jasad mereka tampak berkumpul, tapi jiwa dan nafsu mereka selalu bertikai. Nah, di akhirat nanti Allah akan me nampakkan pertikaian yang mereka sembunyikan sekarang ini.

Allah SWT berfirman: "Setiap suatu umat yang masuk (ke neraka), akan mengutuk kawannya." Q.S. Al-A'râf:38.

Gambaran lain pertikaian yang nanti akan terjadi ialah marahnya manusia atas kulit, tangan dan kakinya sendiri ke tika semuanya itu memberi kesaksian atas pelbagai perbuatan keji yang dilakukannya di dunia. Pada hakikatnya, dia ingin menyembunyikan semua itu dari Allah. Namun, kaki, tangan dan kulitnya sendirilah yang membeberkan.

Allah berfirman: "Dan mereka berkata pada kullt mereka mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami? Kulit mereka menjawab: "Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai ber kata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata. Q.S. Al- Fushshilat:21.

Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa orang yang bermaksiat dan mengikuti keinginannya di dunia, akan saling berlepas diri dan saling mengutuk di akhirat. Inilah gambaran yang selaras dengan apa yang telah dialami seorang yang me ngikuti hawa nafsunya di dunia.

Rasulullah SAWW bersabda: "Hentikan gangguanmu pada dirimu sendiri dan jangan mengikuti hawa nafsumu untuk bermaksiat kepada Allah. Karena, ia akan rnenghujatrnu di kemudian hari nanti. Sampai-sampai yang satu mempersalahkan yang lain dan mgin berlepas tangan, kecuali jika Allah berkehendak mengampuni dan menutupi dengan rahmat-Nya." [21]

II. Aku Kaburkan Dunianya

Bentuk Dhahir dan Batin Dunia

Siksa kedua yang bakal dialami orang yang mengikuti hawa nafsu ialah pengaburan dunia. Artinya, menampilkan dunia dalam fenomena yang menggiurkan. Bentuk lahir atau fenomena dunia inilah yang merupakan sumber tipuan dunia dan keterperdayaan manusia. Dengan kata lain, yang menggi urkan adalah permukaan dunia. Dan permukaannya itu mudah lenyap dan hilang. Adapun inti dan batin dunia ialah sumber pelajaran ('ibrah), kejagaan (yaqzhah) dan kezuhudan.

Para ahli bashîrah yang terik, akan bisa "membakar" kulit luar dunia yang mudah lenyap itu. Mereka bisa menembus batin dan inti dunia yang membuat mereka zuhud, jaga-siaga dan mengambil pelajaran darinya.

Sedangkan mereka yang menyia-nyiakan anugrah bashî rah dari Allah ini, hanya akan bisa melihat dunia secara lahir dan superfisial. Sebagai konsekuensinya, hati mereka akan tertambat, tersungkur dan terperdaya olehnya.

Singkat kata, dunia memiliki bentuk lahir dan batin. Sedangkan pandangan manusia terhadapnya terbagi menjadi dua kategori:

1. Orang yang bashîrahnya tidak bisa menembus lebih dari apa yang tampak dari kehidupan duniawi. Tentang mereka, Allah herfirman: "Mereka hunya mengetahul yang lahir (saja) dari kehulupan dunia; sedangkan rnereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai". Q.S. Ar-Rűm ayat 7.

2. Orang yang bashîrahnya bisa menerawang dunia sam pai ke yang batinnya.

Jika Allah murka pada seseorang, maka Dia akan men cabut bashîrahnya, dan kaburlah baginya yang lahir dan yang batin; kulit dan inti. Pada saat itu, fenomena dunia akan me nipu dan memperdayainya dan tampak padanya hanya sebagai hiasan yang menggiurkan. Alquran menjelaskan: "Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir.... Q.S. Al-Baqarah:212

Pada pembahasan selanjutnya, saya akan mengurai dua sisi kehidupan dunia: yaitu sisi batin dan sisi lahir.

Sisi Batin Dunia

Seperti yang telah saya sebutkan bahwa sisi ini tidak akan terlihat kecuali oleh orang-orang yang memiliki bashîrah. Sisi batin ini merupakan sumber kesadaran dan ‘ibrah, bukan sum ber penipuan. Alquran menyifati sisi ini dari dunia dengan cermat sekali.

Berikut ini saya sehutkan sebagian sifat batin dunia me nurut Alquran:

1. Dunia merupakan matâ’ (kesenangan sementara)

Allah berfirman: "Padahal kehidupan dunia itu (diban ding dengan) kehidupan akhirat hanya kesenangan (yang sedikit)". Q.S. Ar-Ra'd 26.

Matâ' yang digunakan ayat tersebut herarti kelezatan sementara yang dibandingkan dengan kelezatan dan keindahan akhirat yang abadi.

Allah SWT berfirman: "Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanya lah sedikit". Q.S. At-Taubah:38.

2. Dunia adalah 'Aradh (harta benda)

Allah SWT berfirman: "Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu)” Q.S. Al-Anfâl:67.

Dan firman Allah SWT :"... (lalu kamu membunuhnya) dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak". Q.S. An-Nisâ':94.

Dan firman Allah SWT : "... yang niengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata Kami akan beri ampun... " Q.S. Al-A'râf:169.

‘Aradh (harta benda) adalah hal-ihwal yang cepat sirna. Kelezatan duniawi pun demikian. la tidak akan bersifat ahadi bagi siapapun juga. Meski hegitu, ia sangat menipu dan me ngelabui manusia.

Dunia mempunyai dua kondisi. Kondisi yang bisa men jadikan manusia zuhud kepadanya. Kondisi yang mengelabui manusia kepadanya.

Adapun kondisi yang bisa membuat manusia zuhud pada nya ialah sifatnya yang seperti 'aradli (harta benda); mudah sirna dan hilang. Sedang kondisi yang menipu dan menjadikan nuinusia .sangat mencintainya, ialah sifatnya yang gampang diperoleh dan cepat didapat ('ajilah).

Manusia sangat suka pada segala yang cepat didapat. Manusia lebih mendahulukan kesenangan yang cepat dirasa daripada yang abadi tapi masih mesti menunggu.

Allah SWT berfirman:" Kalau yang kamu serukan kepada mcreka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan tidak berapa jauh pasti mereka mengikutinya" Q.S. At-Taubah: 42.

Watak dasar manusia itu tergesa-gesa ('ajul). Ketergesa- gesaan mereka dalam memetik buah yang dekat dan harta benda yang gampang menjadikan mereka gagal menggapai ke lezatan abadi di surga.

3. Dunia adalah Tempat Penipuan

Allah SWT berfirman: "Maka janganlah sekali-kali ke hidupan dunia memperdayakan kamu dan jangan (pula) pe nipu (setan) memperdayakan karnu dalam (mentaati) Allah". Q.S. Luqman:33.

Al-Gharűr ialah semua yang menipu manusia, dari harta, status, kekuasaan dan hasrat. Begitulah dengan dunia. Dunia menipu, melalaikan dan menyibukkan manusia. Namun, ia sendiri akan meninggalkan manusia secara tiba-tiba.

4. Dunia adalah Kesenangan yang Memperdayakan

Dunia mempunyai dua arti, al-matâ' dan al-gharűr yang kadang digunakan secara terpisah dan kadang secara bersa maan.

Allah SWT berfirman: "Kehidupan dunia itu tidak lebih hanyalah kesenangan yang memperdayakan". Q.S. Âlu ‘Imrân: 185 dan Al-Hadîd:20.

Sumber tipu-daya itu ialah kesenangan temporal yang segera lenyap ini; dunia.


[1] Dikeluarkan oleh Ibnu Fahd Al-Hilly dalam kitah 'Uddatud Dâ'î:79; Al-Kulayni dalam kitah Ushűlul Kâfî, 2:235; Al-Majlisi dalam kitah Al-Bihâr, 70:78 dan 70:85-86.

[2] Diriwavatkan dari Thabari dalam Kitab Al-Jâmi' Al-Kahîr.

[3] Nahjul Balâghah :36.

[4] Shiffin , karya Nash bin Muzhâhir, 319-320.

[5] Shiffîn , karya Nash bin Muzhâhir, 319-320.

[6] Irsyâdul Mufid :159.

[7] Nahjul Balâghah, hikmah 131.

[8] Bihârul Anwâr, 70:315.

[9] Bihârul Anwâr, 78:203.

[10] Bihârul Anwâr, 73:121.

[11] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî, 2:237.

[12] Bihârul Anwâr, 73:121.

[13] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî, 2:284.

[14] Bihârul Anwâr, 77:188.

[15] Mîzânul Hikmah, 3:319.

[16] Syarh Nahjul Balâghah, karya Ibnu Abil Hadid, 19:52; Bihârul Anwâr, 73:130.

[17] Bihârul Anwâr, 73:81.

[18] Bihârul Anwâr, 73:181.

[19] Bihârul Anwâr, 78:21.

[20] Bihârul Anwâr, 73:24.

[21] Al-Mahajjah Al-Baidhâ`, karya Al-Faidh Al-Kâsyânî, 5:111.