Back Index Next

Apakah logis kita beranggapan bahwa Rasul yang menegaskan bahwa kaum muslim akan membuka tanah-tanah di sekitar Jazirah Arabia menaklukan Kisra dan Kaisar, dan menjadikan generasi Muhajirin dan Anshar selaku pihak-pihak yang kompeten dan bertanggungjawab atas penaklukan-penaklukan tersebut yang akan membuka tanah dan daerah-daerah luas yang merupakan ladang baru dan subur bagi benih dan bibit-bibit unggul Islam?

Bahkan kita berkesimpulan lebih jauh dari semua ini. Kita berkesimpulan bahwa generasi yang pernah hidup bersama Rasul tidak mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang masalah-masalah agama yang ringan yang sering beliau lakukan dihadapan mereka.

Sebagai contohnya, kita ambil "Tragedi Shalat Mayat yang menyedihkan". Shalat jenazah adalah ibadah yang ratusan kali Rasul kerjakan secara terang-terangan di hadapan dan di tengah-tengah para sahabat yang ikut mengerjakannya. Meskipun demikian, para sahabat itu dulu tidak merasa perlu menghayati dan mengingat ibadah demikian, sebab (menurut mereka) selama Rasul melakukannya mereka akan selalu mengikuti gerak-geriknya dari belakang punggung beliau. Itulah sebabnya mengapa mereka ribut tak karuan memperdebatkan jumlah takbir yang sebenarnya dalam shalat jenazah begitu Rasulullah wafat.

Ath-Thahawi membawakan sebuah riwayat daripada Ibrahim, yang demikian isinya: la berkata:

Rasulullah wafat sedangkan rakyat pada saat itu sedang sibuk memperselisihkan jumlah sebenarnya takbir dalam shalat jenazah. Mereka menolak kesaksian seseorang yang berkata di tengah-tengah mereka: saya pernah dengar Rasulullah bertakbir tujuh kail. Sebagian berkata: Saya pernah dengar beliau melakukan lima kali takbir. Lainnya bersuara: Saya dengar beliau mengerjakan shalat jenazah dengan empat takbir. Maka kemudian semuanya sama-sama mempertahankan pendapat masing-masing dan suasana diskusi tiba-tiba makin tegang hingga berjalan terus pada saat Khalifah Abu Bakar putra Abu Quhafah hampir menghembuskan nafasnya yang terakhir. Dan ketika Umar mengambil alih tampuk kekuasaan, ia meninjau kembali masalah shalat mayat ter­sebut dan mengutus beberapa orang dari sahabat Rasul dan berpesan kepada mereka:

"Kalian adalah sahabat-sahabat Rasulullah. Jika kalian berselisih pendapat, masyarakat akan berselisih pula. Tapi apabila kalian bersepakat terhadap suatu masalah, maka masyarakat lain akan sependapat dan pasti mengikuti. Maka dari itu lihatlah dan perhatikan apa yang kalian sepakati, usahakan itu seolah-olah membangkitkan mereka.

Para sahabat itu menjawab: Ya, benar apa yang anda piklrkan wahai Amirul Mukminin!" ('Umdatul Qari,4/129).

Begitulah adanya. Para sahabat pada masa hidup Nabi menggantungkan semua urusan yang berkaitan dengan mereka kepada Nabi sendiri, dan tidak merasa berkepentingan menyerap hukum-hukum dan faham-faham baru semasa beliau masih hidup.

Mungkin sebagian orang menolak gambaran bahwa para sahabat itu adalah tidak mampu menyerap dan mencernak hukum dan pemahaman-pemahaman baru dengan alasan bahwa hal ini bertentangan dengan keyakinan kita semua bahwa pendidikan Rasul telah membuahkan kesukseskan yang gemilang dan telah berhasil menciptakan sepasukan generasi ideolog dan revolusioner yang hebat dan dapat dibanggakan.

Sebagai jawabannya, kita katakan bahwa sebelum kita mengambil kesimpulan dan gambaran di atas, kita telah mempelajari dan melihat kenyataan yang sebenarnya dari generasi besar tersebut yang ikut hidup bersosial bersama Nabi itu - kenyataan ini - tidak bertentangan sama sekali dengan kenyataan bahwa Rasul telah melakukan operasi pendidikan yang hebat dan mencengangkan semasa hidupnya, sebab kita juga tidak menutup mata menolak kenyataan bahwa cara yang dilakukan Rasul dalam upaya mendidik itu adalah langkah yang terhebat sepanjang sejarah nabi-nabi. Dan kehebatan cara serta penerapan operasi pendidikan beliau tidak harus tercerminkan dan tertakar dalam hasil dan ekses serta pengaruhnya dalam cara berfikir dan cara bertindak para sahabat. Itu harus kita pisah dan bedakan, sebab keduanya mempunyai subyek yang berbeda, disamping kita juga harus memasukkan dan mempertimbangkan faktor situasi dan kondisi serta kesamaran-kesamaran tertentu - yang masih belum bisa diungkapkan - mungkin merupakan faktor utama dari tidak terpantulnya cara pendidikan lewat Rasul dalam kehldupan sosial para sahabat. Dan kehebatan cara pendidlkan Rasul serta hasilnya tidak bisa diukur atau ditakar dengan angka dan kuantitas kesuksesannya dalam realita tanpa memasukkan faktor-faktor kualitas.

Sebagai contohnya, bila seorang guru mengajar beberapa murid mengenal pelajaran bahasa dan sastra Inggris dan kita ingin mengukur kemampuan guru itu dalam mengajar, maka kita tidak dapat hanya dengan melihat kemampuan dan sejauh mana para siswa itu memahami bahasa dan sastra Inggris. Tapi kita harus memasukkan faktor tempo, berapa lama guru tersebut mengajarkan bahasa Inggris dan dengan memperhatikan latar belakang pemahaman para siswa - sebelum diajar sang guru - terhadap bahasa Inggris. Di samping kita juga harus mempelajari kesulitan dan hambatan-hambatan yang mungkin telah sedikit banyak mengganggu kelancaran dan kelangsungan pengajaran bahasa Inggris ter­sebut. Mungkin kita juga perlu meneliti niat dan kadar semangat guru tersebut dalam mengajar bahasa Inggris mengapa ia sampai terdorong mengajar bahasa dan sastra Inggris. Kemudian dengan melihat hasil total terakhir pada ujian mereka dibandingkan dengan hasil ujian dan pdajaran tahun sebelumnya serta sistem, situasi, dan kondisi yang mungkin berbeda.

Dalam masalah penjabaran tentang operasi dan upaya pendidikan yang digalakkan Rasul, kita harus menjadikan beberapa hal sebagai bahan pertimbangan:

Pertama:

Jangka waktu yang relatif singkat dalam melakukan usaha pendidlkan, sebab itu melampaui dua batas waktu pergaulan beberapa orang yang ikut bersama Rasul dalam menempuh jalan pertama. Dan itu tidak lebih dari satu periode yang hidup pada saat itu masyarakat kebanyakan dari kelompok Anshar, dan itu berjalan tidak lebih dari tiga atau empat tahun daripada jumlah yang besar orang-orang yang masuk Islam, dimulai dengan pakta perdamaian Hudaibiah dan berlanjut hingga penaklukkan kota Makkah.

Kedua:

Situasi dan kondisi para sahabat sebelumnya, baik dari segi intelektual atau spiritual, agama dan operasional di samping kebodohan dan krisis intelektualitas serta kevakuman dalam segala atau kebanyakan aspek kehidupan mereka. Dan kiranya tidak diperlukan lagi pembuktian dan informasi tambahan untuk mendukung kenyataan ini, mengingat hal ini sangat jelas dan gamblang bila kita memandang Islam sebagai serangkaian upaya dan aksi perombakan-perombakan total dan mendasar ternadap masyarakat, bahkan Islam itu dapat kita indentifikasikan sebagai perombakan dari bawah dan pembinaan Umat baru yang mendasar dan bersifat menyeluruh. Dan ini semua menggambarkan betapa jauh jarak moral dan kultural yang memisahkan antara peradaban sebelumnya dengan situasi baru pada zaman Nabi dengan memulai menggalakkan operasi pembersihan masyarakat dari pengaruh budaya jahiliyah mereka.

Ketiga:

Perkembangan-perkembangan politik yang muncul akibat konflik politik dan pertentangan fisik (militer) di setiap front pertempuran itu merupakan ciri khas kondisi dan corak istimewa hubungan yang sejalan antara Rasul dan sahabat-sahabatnya yang berbeda dengan corak hubun­gan Isa a.s. dan Hawariyyinnya. Hubungan antara Nabi dan sahabat-sahabatnya bukanlah seperti hubungan yang terjalin antara seorang guru dengan siswa-siswanya, tapi hubungan yang terjalin antar keduanya adalah hubungan yang selaras dengan status dan derajat terhormat beliau sebagai seorang Rasul, selaku pendidik utama, selaku panglima perang dan selaku pemimpin negara.

Keempat:

Pertentangan dengan kelompok Ahlul Kitab serta kontradiksi yang terjadi antara Islam dengan kebudayaan agama yang beraneka warna yang merupakan baglan dari rentetan pertentangan dan pertikaian ideologi dan sosial yang selama ini dihadapi masyarakat muslim itu merupakan penyebab kegelisahan dan keresahan yang tak pemah kunjung reda. Dan kita tahu bahwa iu - dalam tahap perkembangan - telah menciptakan suatu aliran pemikiran israelisme (israiliyyat) yang terserap secara diam-diam ke berbagai corak pemikiran Islam yang murni atau masuk dengan didasari oleh tujuan jahat berkonspirasi dan kemudian niat buruk ini sedikit banyak telah berhasil menyusupkan pandangannya yang sesat ke pelbagai pemikiran Islam. Dan dengan mengkaji dan menelaah Al Quran secara seksama kita akan dapat dengan mudah mengukur besar kecilnya pen­garuh aliran pemikiran kelompok kontra revolusi (penyebar israiliat) dan seberapa besar perhatian dan perlindungan Allah SWT melalui wahyu-Nya memantau dan membatalkan secara eksplisit maupun secara implisit pemikiran-pemikiran rusak yang diproduksi oleh kelompok anti revcdusi tersebut.

Kelima:

Cita-cita yang hendak dicapai Rasul secara universal dalam dekade itu adalah menciptakan sebuah pangkalan dan tonggak masa yang kokoh dan dapat diandalkan sehingga dengan sendirinya mereka mampu mengkoordinir proyek pengembangan dakwah risalah - semasa hidup beliau dan seterusnya - dengan meningkatkan kerja sama dan melanjutkan program pengembangan tersebut melalui jalan yang telah digariskan sebelumnya. Tujuan dan ctta-cita beliau itu meningkatkan dan memupuk masyarakat sedemikian rupa sehingga mampu memimpin dengan sen­dirinya secara langsung, sebab konsekuensi tugas berat ini - kalau memang benar - adalah menuntut adanya pemahaman yang sempurna dan menyeluruh tentang kandungan dan esensi risalah Rasul dengan segala aspek hukum dan nilai-nilainya yang tidak sedikit. Penentuan dan penggarisan tujuan pada tahap itu adalah merupakan akibat pasti dari tindakan dan aksi perombakan, sebab adalah tidak rasionil bila seandainya Rasul hanya menggambarkan tujuan tanpa mempertimbangkan hal-hal negatif yang terjadi sebagai efek dari kesalahan-kesalahan yang terjadi dl tengah perjalanan kelak. Dan kemungkinan tentu terjadi pada situasi dan kondisi seperti yang dialami Islam. Hal ini tidak mungkin dilakukan kecuali bila dilakukan dalam ruang lingkup yang telah kami sebutkan diatas. Sebab jarak perbedaan moril, spirituil, intelektual dan sosial yang memisahkan antara Islam (risalah baru) dan kondisi yang serba rusak saat itu sangat fundamental sehingga tidak memungkinkan kesadaran dan kemampuan politik sosial ummat berkembang sampai tingkat kemampuan guna memimpin dan mengemban tugas misi risalah secara langsung. Ini akan terbukti pada pembuktian keenam. Di sana kita akan membuktikan bahwa kelanjutan wishayah - atas dasar pengalaman aksi perombakan yang baru - adalah tertampung dalam imamah dan kepemimpinan Ahlul Bayt a.s. Dan khilafah Ali adalah suatu hal pasti yang dituntut oleh logika kamus perombakan dan pembaharuan sepanjang sejarah.

Keenam:

Orang-orang yang masuk Islam setelah penaklukan Makkah merupakan mayoritas masyarakat muslim yang ditinggal Rasul meninggal. Yakni mereka itu masuk Islam setelah penaklukan Makkah dan setelah risalah menyebar ke berbagai pelosok jazirah Arabia dan menjadi kekuatan politik dan militer yang sangat besar, sedangkan mereka tidak mendapat kesempatan yang cukup untuk lebih lama bergaul dengan Rasul hanya dalam tempo yang sangat singkat di hari-hari setelah penaklukan kota Makkah usai. Mereka melihat Rasul tidak lebih dari seorang pemimpin saja, mengingat periode itu bisa dikatakan sebagai masa kejayaan yang nyata bagi eksistensi negara yang dibentuk Rasul. Dalam periode itulah muncul konsep grasi bagi orang-orang yang dikenal dengan sebutan Almu`allafah Qulubuhum yang kemudian setelah melalui beberapa proses asimilasi menjadi bagian masyarakat Islam lainnya dan mereka mendapat perhatian dan prioritas dalam hal zakat dan hukum-hukum lain. Mereka menjadi bagian dari selayaknya umat muslim yang terkadang berpengaruh dan terkadang pula mempengaruhi masyarakat besar tersebut.

Dengan memahami keenam hal di atas, kita dapat menyimpulkan dengan hati lega bahwa pendidikan Nabawiah telah membuahkan keberhasilan dan kesuksesan yang sangat gemilang dan tak ada duanya. Beliau telah berhasil menciptakan perubahan yang unik dan mencengangkan. Nabi telah melahirkan generasi kawakan yang mampu dan siaga. Generasi-generasi andalan itu adalah kenyataan dan manifestasi dari impian dan cita-cita luhur beliau membangun suatu pangkalan dan tonggak masa yang mampu mengemban tugas menuntun perjalanan dakwah selanjutnya. Generasi yang siap mengarungi pengalaman baru yang belum pernah digelutinya. Itulah sebabnya mengapa generasi hebat tersebut berfungsi sebagai pangkalan dan pondasi masa yang dapat dibanggakan selama Nabi sendiri memimpin. Seandainya kepemimpinan setelah Rasul itu berjalan terus sesuai dengan missi dan garis beliau dan beriandaskan agama yang sebenamya, maka pasti pangkalan dan tonggak masa tersebut akan dapat memainkan peranan pentingnya yang telah ditentukan. Tapi yang harus diingat penjabaran ini sama sekali tidak memberi pengertian bahwa pangkalan dan pengawal risalah itu dibentuk untuk mengambil alih tampuk kepemimpinan secara langsung dan bertanggungjawab menuntun perjalanan baru yang akan ditempuh oleh missi risalah dan dakwah setelah Nabi wafat. Sebab pembentukan dan mobilisasi generasi tersebut sebagai panitia penerap dakwah dengan sendirinya menuntut adanya keutuhan loyalitas dan iman yang sempurna terhadap risalah itu sendiri serta memerlukan adanya kearifan yang betul-betul menyeluruh dan mendasar tentang hukum dan ide-ide penyelesaiannya yang banyak dan saling berbeda terhadap kenidupan. Dan pembentukan tim (pasukan) dengan tugas berat itu harus dimulai dengan membersihkan tubuh tim atau generasi tersebut dari segala macam unsur dan oknum-oknum munafikin, para penyusup dan segerombolan dari orang-orang Islam kemarin (Almu'allafah Qulubuhum) yang masih merupakan bagian yang tidak bisa disepelekan dan dipisahkan dari generasi tersebut, mengingat jumlah dan prosentasi mereka itu cukup besar dan Nabi harus membuka-buka lembaran hidup masa lalu dan latar belakang mereka satu persatu dan dengan mempertlmbangkan pengaruh-pengaruh negatif dan kebiadaban kaum munafikin sebagalmana yang telah sering digambarkan dalam Al Quran tentang tipu dan makar serta sikap-sikap mereka yang sudah dikenal. Dan adanya beberapa orang yang terpercaya dan dapat diandalkan dalam tubuh generasi tersebut telah sedikit banyak membantu kelangsungan program pemupukan ideologi yang kokoh dan proyek pengkaderan itu telah menghasilkan tokoh-tokoh revolusioner yang tangguh seperti Salman Al-Farisi. Abu Dzar AI-Ghifari, Ammar bin Yasir  dan lain-lain.

Saya berani katakan bahwa adanya beberapa orang seperti yang tersebut di atas di tengah-tengah generasi besar itu juga tidak membuktikan bahwa generasi secara keseluruhan telah mencapal tingkat yang dapat menjamin mereka mampu memikul tanggung jawab membina masyarakat dan menuntun perjalanan dakwah atas dasar konsep dan sistem syura.

Dan orang-orang yang kita jadikan sebagai contoh dari keberhasilan program pendidikan Nabi itu pun tidak ada yang menampakkan dan merasa mampu mengemban tugas dan telah siap dalam segi intelektual dan kultural memimpin masyarakat dalam mengarungi perjalanan baru mereka meskipun ketulusan dan loyalitas mereka tidak kita sangsikan dan pertanyakan lagi, tetapi ada suatu titik rahasia yang harus kita ketahui bersama bahwa Islam bukahlah suatu teori atau sebuah pendapat yang dicetuskan oleh seorang ideolog atau seorang ahli hukum yang jenius siapa pun, sehingga tergaris dan menjadi jelas setelah diterapkan dengan benar-benar tepat dengan esensi ajaran Islam itu sendiri. Islam adalah misi luhur Allah SWT yang sejak semula sudah sempurna dan baku dengan segala macam batas-batas dan nilai-nilai pemikirannya. Sebuah misi sempurna yang telah diramu dengan rapi dan diperlengkapi dengan batas-batas serta penetapan hukum yang merupakan kebutuhan dan syarat pasti bagi aksi penerapan.

Maka memahami secara mendalam dan menghayati kandungan risalah seutuhnya adalah syarat yang tak bisa ditawar-tawar lagi begitu juga mengetahui semua hukum dan nilai serta ide-ide yang bersumber pada risalah suci tersebut. Sebab jika hal penting ini tidak dijadikan sebagai syarat maka sebagai jalan keluarnya, generasi yang belum terdidlk secara matang itu akan mengenang kembali masa kejayaan jahiliyah dan kemudian mengambil pengaruh pemikiran jahiliyah kuno mereka sebagai penyelesaian dalam menghadapi dan mengatasi problema-problema serius mereka. Dan ini jelas akan membawa bencana dan mengkeruhkan suasana dan sekaligus akan mengotori citra Risalah Allah yang sudah disempurnakan itu. Lagi pula itu akan menimbulkan kesenjangan dan kemacetan dalam gerak maju aksi penerapan yang diidam-idamkan Pemim-pin Agung Muhammad SAWW. Bencana besar itu akan lebih tragis dan menakutkan bila kita hubungkan misi Risalah Nabi dengan risalah-risalah para nabi sebelumnya.

Kita semua tahu bahwa Risalah yang dibawa Nabi Muhammad adalah merupakan penutup sekaligus pelengkap missi-missi sebelumnya yang dibawakan oleh para nabi sejak Adam as. Sebuah missi universal yang semestinya berjalan terus seiring dengan perjalanan zaman kemudian menerobos bagaikan bah melenyapkan segala macam batas waktu, teritorial dan ras. Hal-hal di atas menuntut agar kepemlmplnan ini dijalankan dengan rapi oleh pihak yang kompeten dan mengerti sehingga kepemimpinan tersebut berjalan sesuai dengan garis strateginya dan tidak terbentur dengan kesalahan-kesalahan fatal yang akibatnya bila kesalahan itu berulang-ulang terjadi dan menumpuk, maka akan menimbulkan bahaya besar yang dapat mengancam keutuhan dan kesuk-sesan program dalam proses perjalanan dan perkembangannya.

Itu semua menunjukkan bahwa penataran dan upaya mendidik yang dilakukan Nabi secara umum di kalangan Muhajirin dan Anshar tidak seukuran dengan kebutuhan yang besar bagi penyiapan pimpinan yang sadar intelektual sosial-politik demi masa depan dakwah dan kesuksesan aksi perombakan. Tapi yang beliau lakukan hanya mendidik dan mengadakan penataran semacam penataran yang sengaja dilakukan guna membangun pangkalan dan pondasi rakyat yang kokoh dan sadar akan tanggung jawab memimpin dan menuntun jalan dakwah dewasa ini dan di masa mendatang.

Dan setiap anggapan yang kesimpulannya bahwa Nabi telah berencana menciptakan kader profestonal untuk memegang kekuasaan dan menjadi pengawal pengawas tangguh projek dakwah dl jajaran Muhajirin dan Anshar adalah anggapan yang mengandung tuduhan yang sama sekaii tak berdasar bagi pribadi seorang pemimpin ideologi berpengaruh manapun dalam sejarah dan kamus aksi perombakan dan revolusi ideologi, dengan menuduh bahwa Rasul tidak dapat membedakan antara kesadaran yang dibutuhkan bagi sebuah pondasi dan pangkalan masa demi dakwah dengan kelangsungannya dan kesadaran yang dibutuhkan bagi pemimpin dan penggiring dakwah dalam segala aspek kehidupan politik, sosial, kebudayaan, dan lain sebagainya.

Dakwah dapat dirasakan sebagai operasi perombakan dan merupakan "way of life" yang serba baru yang dengan sendirinya menyodorkan konsep dan rencana kerja bagi pembentukan kerangka awal dalam masyarakat dan mencabut setiap akar dan pengaruh jahiliyah serta membasmi semua sisa-sisanya yang berkarat.

Dan ummat Islam secara umum tidak pernah hidup bersosial dibawah proyek operasi perombakan hanya dalam satu dekade saja (dan inipun menurut perkiraan maksimal). Dan masa singkat tidak memadai - menurut logika dan tradisi sejarah kebangkitan ajaran-ajaran baru - untuk meningkatkan dan mengangkat generasi yang hanya sepuluh tahun bersama Rasul sampai mampu mencapai kebebasan dan pembersihan total dan segala rnacam pen­garuh kemarin jahiliyah dan sekaligus dapat menampung segala nilai dan ide-ide baru yang menjadikan mereka mampu meluruskan jalannya Risalah dan mengemban tugas dakwah serta menyempurnakan projek perombakan tanpa bimbingan seorang arkitek ulung dan pemimpin kaliber. Logika dan kamus sejarah ajaran dan ideologi manapun telah menunjukkan betapa pentingnya menatar masyarakat dengan tataran dan pendidikan ideologi secara intensif dalam jangka waktu yang cukup lama sehingga dapat mengangkat masyarakat ke tingkat kesadaran yang sempurna.

Ini bukan hanya sekedar hasil atau sebuah kesimpulan belaka, bahkan telah menggambarkan kenyataan yang terefleksi dalam kejadian-kejadian yang timbul sejak setelah Nabi wafat dan kenyataan tersebut makin jelas setelah kurang lebih setengah abad yang terjelma dalam tindakan dan pada hidup generasi Muhajirin dan Anshar dalam menjalankan tugas membawa misi dakwah sepanjang perjalanannya, sebab pelancaran tersebut telah berlangsung selama tidak lebih dari seperempat abad yang berakhir secara tragis dan menyedihkan dengan timbulnya gejala kehancuran khilafah Arrasyidah yang telah dimotori oleh generasi Muhajirin dan Anshar. Khilafah tersebut akhlrnya tumbang setelah mendapat beberapa pukulan beruntun dari musuh-musuh bebuyutan Islam yang mana kehancuran itu terjadi dalam ruang lingkup perjalanan Islam dan tidak terjadi di luarnya. Itulah sebabnya mereka berhasil mengambil alih dan menduduki pos-pos penting sepanjang perjalanan dakwah secara bertahap. Mereka kemudian - sebagaimana yang telah terbuktl dalam sejarah - berhasil mengelabui dan memperalat aparat-aparat pemerintah yang tidak layak menjadi kurir dan boneka-boneka yang dapat dikendalikan dari jauh. Setelah semua strategi dan rencana pertama berjalan dengan lancar mereka turun ke lapangan; merampok kekuasaan (kudeta) dengan kekerasan dan memaksa masyarakat serta generasi senior mereka agar tunduk dan mengalah mengorbankan identitias mereka (selaku sahabat) dan kekuasaan mereka. Akhirul hikayah, khilafah mereka sihir dan robah secara dratis dalam sekejap mata menjadi kerajaan dan sistem monarki turun-temurun yang absolut; tidak menghargai hak asasi, menganiaya dan membantai orang-orang yang tidak berdosa, menon-fungsikan hukum dan undang-undang dan tidak memberlakukan batas-batas hukum (had-had seperti hukuman terhadap perbuatan zina, dan lain-tain). Kedurjanaan dan kediktatoran berubah menjadi tradisi dan fenomena yang wajar dalam kehidupan sehari-hari umat muslim. Dan khilafahpun tak ubahnya bagaikan bola-bola kecil yang ditendang dan dipermainkan kesana kemari oleh bocah-bocah ingusan Bani Ummayah.

Maka, segala kejadian dan pengalaman yang kerap kali terjadi sejak Rasul wafat dan segala akibat dan hasil-hasil yang menyedihkan daripada perkembangan-perkembangan yang timbul selama kurang lebih seperempat abad yang telah memaksa kami mengambil kesimpulan seperti diatas bahwa tuduhan memberikan hak wewenang mengendalikan tali kekuasaan dan menempati posisi tempat kembali bagi soal politik dan langkah-langkahnya kepada generasi Muhajirin dan Anshar begitu Rasul wafat adalah tindakan yang terlalu dini dan melanggar hukum alam yang normal. Oleh karena itu, adalah anggapan yang tidak rasional bila dikatakan bahwa Nabi telah melakukan hal semacam ini.

Back Index Next