Sebelumnya Daftar Isi Selanjutnya

2. IMAM MALIK BIN ANAS

Dia adalah Abu Abdullah, Malik bin Anas bin Malik, dilahirkan pada tahun 93 Hijrah, menurut sebagian pendapat, dan meninggal dunia pada tahun 179 Hijrah, menurut sebagian pendapat. Masa Malik bersinar dengan cahaya ilmu, dan kota Madinah menjadi kota yang didatangi oleh para penuntut ilmu yang berasal dari berbagai pelosok penjuru negeri Islam. Madrasah Madinah mempunyai kelebihan di dalam berpegang kepada hadis, dan memerangi madrasah ra'yu yang terletak di kota Kufah, di bawah kepemimpinan Abu Hanifah. Inilah salah satu yang menjadi penyebab timbulnya perselisihan dan pertengkaran di antara keduanya, hingga telah keluar dari batas-batas keilmuan dan objektifitas.

Di samping kedua madrasah ini terdapat juga madrasah lain, yaitu madrasah Imam Ja'far ash-Shadiq as. Sebuah madrasah yang dipenuhi oleh para para ulama dan utusan dari berbagai penjuru dunia Islam, yang menanti-nanti kesempatan untuk bisa berjumpa dengan para Imam Ahlul Bait as. Imam Ja'far ash-Shadiq as adalah orang yang paling sedikit mendapat tekanan dari pihak penguasa. Malik telah turut bergabung dengan Madrasah Imam ja'far ash-Shadiq as untuk beberapa waktu, dan Oleh karena itu, Imam Ja'far ash-Shadiq as dianggap guru terbesar Malik. Kemudian Malik berguru kepada beberapa orang guru, seperti Amir bin Abdullah bin Zubair bin al-Awwam, Zaid bin Aslam, Sa'id al-Maqbari, Abu Hazim Shafwan bin Aslam dan yang lainnya. Namun Malik lebih mengutamakan untuk mengambil dari Wahab bin Hurmuz, Nafi' (bekas budak Ibnu Umar), Ibnu Syihab az-Zuhri, Rabi'ah ar-Ra'yu dan Abu Zanad. Malik mengalami kemajuan, sehingga madrasah ahlul hadis berkembang pesat. Namun, dengan segera politik ikut campur untuk membantu madrasah ra'yu dan memusuhi madrasah ahlul hadis. Oleh karena itu, Malik menghadapi berbagai tekanan dari pemerintah. Dia dilarang untuk berbicara, dan bahkan dia pernah dicambuk dikarenakan fatwa yang dikeluarkannya tidak sejalan dengan keinginan pemerintah. Itu terjadi pada masa kekuasaan Ja'far bin Sulaiman, tahun 146 Hijrah. Dia digunduli, dibentangkan dan dipukul dengan cambuk hingga terlepas tulang bahunya.

Ibrahim bin Jamad berkata, "Saya pernah melihat Malik, apabila dia dibangungkan dari tempat duduknya dia membawa tangan kanannya dengan tangan kirinya atau tangan kirinya dengan tangan kanannya."

Namun, sangat mengherankan sekali, hanya dalam jangka waktu yang singkat Malik berubah menjadi orang yang sangat diutamakan dan dihormati di dalam pemerintahan, sehingga para gubernur sampai segan dan takut kepadanya. Yang menjadi pertanyaan ialah, apa yang terjadi pada diri Malik sehingga pemerintah menyukainya dan meninggikan kedudukannya sampai ke tingkat ini?

Apakah dahulu pemerintah membencinya karena Malik mempunyai pandangan tertentu, dan sekarang Malik menarik diri dari pandangannya itu?

Atau Malik tetap pada pendapatnya, namun sekarang pemerintah bersikap toleran terhadapnya?

Atau, apakah ada sesuatu yang lain?

Ini merupakan pertanyaan besar yang mengganggu benak orang-orang yang mempelajari sejarah Imam Malik, di mana mereka menyaksikan perubahan hubungan di antara Malik dengan pemerintah. Yaitu dari keadaan tegang dan bermusuhan kepada keadaan di mana al-Manshur dan Malik saling memberikan perhatian dan sanjungan kepada satu sama lain.

Al-Manshur berkata kepada Malik, "Demi Allah, kamu adalah manusia yang paling berilmu. Jika kamu menghendaki, niscaya aku akan tulis perkataanmu tidak ubahnya sebagaimana mushaf-mushaf kitab suci ditulis, dan aku akan kirimkan ke seluruh pelosok negeri, serta aku akan paksa mereka untuk menerimanya."

Dari sini tampak jelas, bahwa kemajuan mazhab Imam Malik terjadi manakala mendapat rida dari sultan. Oleh karena itu, sesungguhnya yang menjadi masalah bukanlah masalah paling berilmu dan bukan paling berilmu, melainkan masalah Malik, Sultan dan propaganda. Rakyat digiring untuk bertaklid kepada mazhab Malik, baik dengan suka rela maupun terpaksa. Inilah yang dikatakan oleh Rabi'ah ar-Ra'yu —guru Malik dan orang yang lebih berilmu darinya— tatkala dia mengatakan, "Tidakkah kamu tahu, bahwa bantuan sedikit saja dari pemerintah merupakan sebaik-baiknya pembawa ilmu."[183]

Ketika Malik memperoleh keridaan ini dari Sultan Malik berka-ta, "Saya mendapati al-Manshur sebagai orang yang paling mengetahui Kitab Allah, Rasul-Nya dan peninggalan-peninggalannya yang telah lalu."

Subhanallah\\ Ilmu apa yang dimiliki oleh al-Manshur, sehingga dia menjadi orang yang paling tahu tentang Kitab Allah SWT dan sunah Rasul-Nya saw?!

Perkataannya itu tidak lebih dari perbuatan menjilat, dan untuk mendekatkan diri kepada raja dan sultan.

Adapun yang menjadi alasan kenapa sebelumnya Malik dikucilkan, sejarah tidak pernah menceritakan kepada kita bahwa itu dikarenakan Malik berani menentang al-Manshur atau mengkritik kebijaksanaannya. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Abdullah bin Marzuq, tatakala dia berjumpa dengan Abu Ja'far al-Manshur dalam ibadah thawaf. Ketika itu manusia menyingkir darinya, namun Abdullah bin Marzuq berkata kepadanya, "Siapa yang menjadikanmu lebih berhak atas Baitullah ini dibandingkan manusia yang lain, sehingga kamu menghalangi dan menyingkirkan mereka dari-Nya.?"

Abu Ja'far al-Manshur melihat ke arah orang yang berkata demikian, dan dia pun mengenalnya. Kemudian Abu Ja'far berkata, "Wahai Abdullah bin Marzuq, siapa yang menjadikanmu berani berkata demikian, dan siapa yang mendatangkanmu ke sini?"

Abdullah bin Marzuq berkata, "Apa yan hendak kamu perbuat? Apakah di tanganmu ada bahaya dan manfaat? Demi Allah, saya tidak takut akan bahayamu dan tidak mengharapkan manfaatmu, sehingga Allah SWT mengizinkan yang demikian itu terjadi padaku."

Abu Ja'far al-Manshur berkata, "Kamu telah menghalalkan nyawamu sendiri dan telah mencelakakannya."

Abdullah bin Marzuq berkata, "Ya Allah, jika di tangan Abu Ja'far terdapat bahaya, maka janganlah Engkau tahan bahaya itu sedikit pun kecuali Engkau timpakan kepadaku; dan jika di tangannya terdapat manfaatku, maka putuslah seluruh manfaatnya dariku. Di tangan-Mulah ya Allah, segala sesuatu; dan Engkau adalah pemilik segala sesuatu."

Maka Abu Ja'far memerintahkan supaya Abdullah bin Marzuq ditangkap, lalu dia di bawa ke Baghdad, dipenjarakan, dan kemudian dilepaskan.[184]

Oleh karena itu, kita mendapati Malik menjauh dari Imam Ja'far ash-Shadiq as, dikarenakan Imam Ja'far ash-Shadiq as tidak setuju dengan pandangan-pandangannya yang berusaha mendekati sultan.

Dalam pandangan saya sendiri, bahwa yang menjadi penyebab utama marahnya penguasa terhadap Malik pada masa-masa permulaan adalah karena penguasa melihat Malik bersahabat dengan Imam Ja'far ash-Shadiq as, dan issu yang beredar pada waktu itu bahwa orang-orang Arab hendak menuntut balas bagi Ahlul Bait, maka Oleh karena itu, kita mendapati pemerintah lebih mendekati mawali (bekas-bekas budak yang telah dibebaskan) dan membantu Abu Hanifah yang ada di Kufah. Ketika masalah ini telah sirna, maka penguasa tidak melihat jalan lain kecuali meninggikan nama Malik dan memunculkannya sebagai pemegang otoritas agama bagi negara, sehingga Malik mem-benarkan penamaan negara pada saat itu dengan nama "negara Islam". Oleh karena itu, kita mendapati kebijaksanaan para raja dengan tegas menyatakan kemampuan dan kompetensi Malik, yang mana hal itu belum pernah dialamatkan kepada alim-alim sebelumnya. Abu Ja'far al-Manshur berkata kepada Malik, "Jika Anda ragu terhadap petugas Madinah, petugas Mekkah, atau salah seorang dari para petugas Hijaz, yang berkenaan dengan diri Anda atau yang lain, atau yang berkaitan dengan buruknya perlakuan mereka terhadap rakyat, maka laporkanlah hal itu kepadaku, supaya aku berikan kepada mereka apa yang seharusnya mereka terima."

Dengan begitu maka kedudukan Malik menjadi sedemikian tinggi, dan para gubernur takut kepadanya dikarenakan takut kepada al-Manshur. Hal ini sebagaimana yang diceritakan oleh asy-Syafi’i tatkala dia datang ke Mekkah dengan membawa surat dari gubernur Mekkah untuk gubernur Madinah, supaya disampaikan kepada Malik. Maka gubernur Madinah berkata, "Hai pemuda, berjalan kaki dari kota Mekkah ke kota Madinah dengan bertelanjang kaki, itu lebih ringan bagiku dibandingkan aku harus berdiri di depan pintu rumah Malik. Saya tidak melihat kehinaan sehingga saya berdiri di depan pintu Rumah Malik."[185]

Ketika datang era al-Mahdi, setelah era al-Manshur, kedudukan Malik semakin bertambah tinggi dan dia semakin dekat dengan penguasa. Al-Mahdi amat meninggikan dan menghormatinya serta mengirimkan berbagai hadiah kepadanya. Kedudukan Malik semakin bertambah cemerlang di mata masyarakat tatkala datang era Harun al-Rasyid. Harus ar-Rasyid tetap mempertahankan kedudukan Malik dan amat mengagungkannya, sehingga dengan begitu kewibawaan Malik terpatri pada diri masyarakat.

Demikianlah politik. Dia meninggikan siapa yang ingin ditinggikannya, dan melupakan orang yang ingin dilupakannya. Setelah semua ini, apa lagi yang akan menghalangi mazhab Malik untuk bisa tersebar, sementara dia telah mendapat keridaan dari penguasa?

Allah bagimu, wahai tuanku, Imam Ja'far bin Muhammad ash-Shadiq as.

Mereka mengetahui bahwa kebenaran milikmu dan ada padamu, serta tidak ada yang berhak atas keimamahan selainmu.

Bukankah Malik telah berkata, "Belum pernah mata terlihat oleh melihat, terdengar oleh telinga dan terlintas di dalam hati, ada orang yang lebih utama dari Ja'far ash-Shadiq, baik dari segi keutamaan, keilmuan, ibadah dan kewarakan."[186]

Sedemikian jelasnya keutamaan beliau, namun beliau dan para Syiahnya tidak pernah menerima apa-apa kecuali tekanan, ancaman, pembunuhan dan pengusiran, sebagaimana yang disaksikan oleh sejarah Syi'ah, mulai dari wafatnya Rasulullah saw hingga terus se-panjang sejarahnya.

Namun saya bertanya-tanya sebagaimana yang ditanyakan oleh penulis kitab al-Imam ash-Shadiq Mu 'allim al-Insan manakala dia berkata, "Saya tidak bertanya kenapa kaum Muslimin terpecah menjadi Sunah dan Syi'ah. Tidak, saya tidak bertanya tentang hal itu. Namun saya bertanya dengan penuh keheranan, bagaimana Syi'ah dapat tetap kokoh hingga sekarang, meski pun begitu kerasnya sikap ta'assub (fanatik) yang ditujukan kepadanya, yang berwujud dalam bentuk ancaman pemikiran dan fisik, meski pun dengan segala usaha yang dikerahkan pihak lawan untuk menghapus ajaran-ajaran kebenaran dan mencabik-cabik Islam?!"[187]

Bukankah merupakan sebuah kezaliman mendahulukan mazhab-mazhab lain atas mazhab Ja'far bin Muhammad ash-Shadiq as?! Bukan hanya itu, bahkan Syi'ah tidak dikenal hingga sekarang, meski pun di kalangan lapisan masyarakat yang terpelajar.

Saya ingat, suatu hari dosen kami di kampus mengajarkan fikih Maliki. Sekelompok mahasiswa memprotesnya, "Kenapa Anda tidak mengajarkan kami fikih empat mazhab?" Dosen kami itu menjawab, "Saya seorang bermazhab Maliki, dan seluruh penduduk Sudan bermazhab Maliki, maka barangsiapa di antara kamu yang bukan bermazhab Maliki, saya siap mengajarkan mazhabnya secara khusus." Saya berkata kepadanya, "Saya bukan Maliki, apakah Anda akan mengajarkan mazahab saya?" Dosen kami itu menjawab, "Tentu. Apa mazhab kamu? Apakah kamu bermazhab Syafi’i?"

Saya jawab, "Bukan."

"Apakah Hanafi?", tanya dia.

Saya jawab, "Bukan."

Dia bertanya lagi, "Oh, kalau begitu Hanbali?"

Saya jawab, "Bukan."

Tampak keheranan tergambar di wajahnya. Dia berkata, "Jadi, siapa yang kamu ikuti?"

Saya menjawab, "Ja'far bin Muhammad ash-Shadiq as."

Dia bertanya, "Siapa Ja'far itu?"

Saya jawab, "Guru Malik dan Abu Hanifah, dan termasuk dari keturunan Ahlul Bait. Mazhabnya terkenal dengan nama mazhab Ja'fari."

Dosen kami itu berkata, "Saya belum pernah mendengar nama ini sebelumnya."

Saya katakan, "Kami ini Syi'ah."

Dia berkata, "Aku berlindung kepada Allah dari Syi'ah", dan kemudian dia keluar.

Barangsiapa yang memiliki kemudahan dan propaganda sultan, maka dia akan sampai kepada bintang kartika. Malik sendiri tidak tamak kepada kedudukan ini, karena dia tahu masih banyak orang yang lebih layak darinya untuk menduduki kedudukan ini. Akan tetapi, penguasa menginginkannya menjadi marji' umum (pemegang otoritas tunggal) di dalam fatwa. Al-Mansur telah memerintahkannya untuk menulis sebuah kitab yang akan dipaksakan kepada masyarakat secara paksa. Malik tidak bersedia, namun al-Mansur berkata kepadanya, "Tulis kitab itu, sejak saat ini tidak ada seorang pun yang lebih pandai dari kamu."[188] Maka Malik pun menulis kitab al-Muwaththa, dan kemudian para propagandis sultan mengumumkan pada hari ibadah haji, "Sejak sekarang tidak boleh ada yang memberi fatwa selain Malik."

Tersebarnya Mazhab Maliki

Mazhab Maliki tersebar dengan perantaraan para hakim dan para raja. Di Andalus, raja memaksa rakyatnya untuk mengikuti mazhab Maliki, manakala sampai berita kepadanya bahwa Malik memujinya tatkala ditanya tentang perilaku raja Andalus. Malik mengatakan sesuatu yang menyenangkan raja Andalus, "Kita memohon kepada Allah supaya Dia menghiasi negeri kita dengan rajamu." Ketika ucapan Malik itu sampai kepada raja, maka raja pun memaksa rakyatnya untuk mengikuti mazhabnya. Raja meninggalkan mazhab al-Awza'i, dan kemudian masyarakat pun berbondong-bondong mengikuti rajanya.

Demikian juga mazhab Maliki tersebar di Afrika dengan perantaraan hakim Sahnun. Al-Muqrizi berkata, "Manakala al-Mu'iz bin Badis memerintah, dia memaksa seluruh rakyat Afrika untuk berpegang kepada mazhab Malik dan meninggalkan mazhab yang lainnya. Maka seluruh penduduk Afrika dan Andalus merujuk kepada mazhabnya, karena mengharapkan apa yang ada pada sultan dan gemar terhadap dunia. Oleh karena jabatan kehakiman dan jabatan mufti yang ada diseluruh kota tidak dapat diduduki kecuali oleh orang yang bermazhab Maliki, maka masyarakat umum mau tidak mau harus merujuk kepada hukum-hukum dan fatwa-fatwa mereka. Sehingga dengan begitu mazhab ini pun menjadi tersebar dan mendapat penerimaan. Namun ini bukan karena kualifikasi yang dimilikinya, melainkan semata-mata karena kehendak penguasa yang memaksa masyarakat untuk menerimanya."[189]

Demikian juga mazhab Maliki tersebar di Maroko pada saat Ali bin Yusuf bin Tasyifin memerintah di kerajaan Bani Tasyifin. Ali bin Yusuf bin Tasyifin memuliakan para fukaha dan mendekati mereka. Namun dia tidak mendekati kecuali orang yang bermazhab Maliki. Maka orang-orang pun berlomba-lomba di dalam mempelajari mazhab Maliki. Ketika itu buku-buku mazhab Maliki menjadi laris, mereka mengamalkannya, dan meninggalkan yang lainnya. Bahkan, sedikit sekali perhatian orang kepada Kitab Allah dan sunah Nabi-Nya pada saat itu.

Demikianlah politik mempermainkan agama kaum Muslimin, sehingga dialah sesungguhnya yang berkuasa atas keyakinan dan ibadah mereka. Masyarakat saling mewariskan mazhab-mazhab yang dipaksakan di antara mereka, dan mereka menerimanya dengan tanpa perdebatan atau pembahasan. Padahal yang layak ialah masing-masing generasi bersikap merdeka di dalam mengenal suatu mazhab, dan tidak mengikutinya secara membuta.

Ibnu Hazm berkata, "Ada dua mazhab yang pada awal mulanya tersebar dengan perantaraan raja dan sultan:

Yang pertama, mazhab Abu Hanifah. Karena, pada saat Abu Yusuf menduduki posisi kehakiman dia tidak mengangkat seorang hakim kecuali dari kalangan sahabatnya yang semazhab dengannya.

Yang kedua, mazhab Malik yang ada di negeri kita Andalus. Yahya bin Yahya adalah seorang yang mempunyai kedudukan yang kuat di sisi raja, dan mendapat pengakuan di dalam jabatan kehakiman. Raja tidak akan mengangkat seorang hakim diseluruh pelosok negeri Andalus kecuali berdasarkan musyawarah dan pilihannya, dan jabatan kehakiman tidak akan diserahkan kecuali kepada para sahabatnya."[190]

Tikaman Terhadap Malik.

Dalam hal ini kita akan mengabaikan perkataan orang-orang yang fanatik kepadanya, dan begitu juga kita akan meninggalkan keutamaan-keutamaan yang diberikan sultan kepadanya. Karena yang demikian ini tidak bisa menjadi ukuran yang nyata untuk mengenal pribadi Malik. Berikut ini saya kemukakan satu contoh darinya, "Sesungguhnya Qais melihat Rasulullah saw berjalan di sebuah jalan, sementara Abu Bakar berada di belakangnya, lalu Umar di belakang Abu Bakar, dan Malik di belakang Umar, serta Sahnun[191] di belakang Malik."[192]

Dan beberapa ratus contoh lainnya, yang kesemuanya merupakan hal-hal yang sepele dan keutamaan-keutamaan buatan yang tidak layak untuk didiskusikan.

Di sini, saya mencukupkan diri dengan ucapan-ucapan para ulama dan sebagian orang yang hidup sezaman dengan Malik, yang merupakan pandangan yang indefenden yang tidak melewati batas-batas kritik ilmiah.

Syafi’i berkata, "Singa lebih fakih dari Malik, hanya saja para sahabatnya tidak menguasainya." Sa'id bin Ayub berkata, "Jika seandainya Singa dan Malik berkumpul, maka Malik akan lebih bisu dari singa, dan singa akan menjual Malik kepada siapa saja yang diinginkannya."[193]

Ali bin al-Madini bertanya kepada Yahya bin Sa'id, "Pendapat siapakah yang lebih kamu sukai, pendapat Malik atau pendapat Sufyan?"

Yahya bin Sa'id menjawab, "Tentu tidak diragukan pendapat Sufyan yang lebih aku sukai." Yahya melanjutkan, "Sufyan berada di atas Malik dalam segala hal."

Yahya bin Mu'in berkata, "Saya mendengar Yahya bin Sa'id berkata, "Sufyan lebih aku sukai dibandingkan Malik dalam segala hal."[194]

Sufyan ats-Tsauri berkata, "Dia —yakni Malik— tidak mempunyai hapalan."

Ibnu Abdul Barr berkata, "Ibnu Dzubaib telah mengatakan sesuatu yang kasar dan keras tentang Malik, yang saya enggan untuk menyebutkannya."[195]

Ibrahim bin Sa'ad telah berkata tentang Malik sambil mengutuknya. Demikian juga Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, Ibnu Ubay Yahya, Muhammad bin Ishaq al-Waqidi dan Ibnu Abi Zanad telah menjelek-jelekkan beberapa hal dari mazhabnya.

Salmah bin Sulaiman berkata kepada Ibnu Mubaraak, "Kamu pernah menulis sesuatu tentang pendapat Abu Hanifah, namun kamu belum pernah menulis sesuatu tentang pendapat Malik?"

Ibnu Mubarak menjawab, "Saya tidak melihatnya sebagai seorang yang berilmu."[196]

Ibnu Abdul Barr berkata tentang Malik, "Mereka menjelek-jelekkan beberapa hal dari mazhabnya." Abdullah bin Idris berkata, "Muhammad bin Ishaq datang kepada kami, lalu kami menyebutkan sesuatu tentang Malik, maka kemudian dia berkata, 'Kemarikan ilmunya.'" Yahya bin Salih berkata, "Ibnu Aktsam telah berkata kepada saya, 'Kamu telah melihat Malik dan mendengar darinya, dan kamu juga telah menyertai Muhammad bin Hasan. Lalu, mana yang lebih fakih dari keduanya?' Saya jawab, 'Muhammad bin Hasan, pada apa yang dia ambil untuk dirinya, lebih fakih dari Malik.'"[197]

Demikian juga Muhammad bin Abi Hatim berkata, "Dari Zar'ah, dari Yahya bin Bakir yang berkata, 'Singa lebih fakih dari Malik, hanya saja Malik mempunyai langkah."[198]

Ahmad bin Hanbal berkata, "Abu Dzu'aib serupa dengan Sa'id bin Musib. Dia lebih utama dari Malik. Hanya saja Malik amat dibersihkan dan dipuji-puji oleh orang-orangnya."[199]

Dari semua perkataan ini kita dapat menarik kesimpulan bahwa tidak ada kelebih-utamaan Malik atas ulama yang lain, dan dia tidak memiliki kelebihan yang menjadikannya layak untuk menduduki posisi marji'iyyah (tempat rujukan) di dalam fikih. Namun, politik tidak memandang kepada keahlian, dia mempunyai cara penilaian khusus yang didasarkan kepada pertimbangan-pertimbangan politis dan kepentingan. Seorang fakih yang tidak bertentangan dengan kebijakan-kebijaksannya maka dialah yang wajib diikuti oleh kaum Muslimin, dan di tangannyalah hak otoritas pemberian fatwa.

3. IMAM SYAFI’I

Dia adalah Abu Abdillah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Usman bin Syafi'. Dia dilahirkan pada tahun 150 Hijrah, dan ada yang mengatakan dia dilahirkan pada hari wafatnya Abu Hanifah. Orang-orang berbeda pendapat mengenai tempat kelahirannya, antara Ghazzah, 'Asqalan dan Yaman, dan pendapat lemah mengatakan bahwa dia dilahirkan di Mekkah. Dia meninggal dunia di Mesir pada tahun 204 Hijrah.

Ketika kecil dia hijrah bersama ibunya ke kota Mekkah. Di Mekkah dia belajar Al-Qur'an, sehingga hafal Al-Qur'an. Kemudian dia belajar menulis, dan setelah itu pergi ke pedalaman padang pasir, dan menetap dengan suku Hudzail selama 20 tahun, sebagaimana yang diceritakan oleh Ibnu Katsir di dalam kitab al-Bidayah wa an-Nihayah, atau tujuh belas tahun sebagaimana yang diceritakannya sendiri di dalam kitab Mu'jam al-Buldan. Maka dia pun memperoleh kefasihan suku Hudzail. Sepanjang waktu tersebut Syafi’i tidak mempunyai perhatian kepada bidang keilmuan dan fikih. Dia baru mempunyai perhatian kepada bidang keilmuan dan fikih pada dekade ketiga dari umurnya. Jika dia tinggal selama 20 tahun di pedalaman padang pasir, maka dia baru mulai belajar fikih pada dekade keempat dari umurnya. Artinya, setelah melewati umur tiga puluh tahun.

Syafi’i berguru kepada guru-guru yang ada di Mekkah, Madinah, Yaman dan Baghdad, dan orang yang pertama menjadi gurunya ialah Muslim bin Khalid al-Makhzumi, yang dikenal dengan sebutan az-Zanji. Dia termasuk orang yang tidak bisa dipercaya ucapannya. Banyak dari kalangan para huffazh yang mendhaifkan dan mengecamnya, seperti Abu dawud, Abi Hatim dan an-Nasa'i.[200]

Kemudian Syafi’i belajar kepada Sa'id bin Salim al-Qaddah. Sa'id bin Salim al-Qaddah telah dituduh sebagai orang murji'ah. Syafi’i juga belajar kepada Sufyan bin Uyaynah, salah seorang murid Imam Ja'far ash-Shadiq as. Dia adalah salah seorang pemilik mazhab yang musnah. Syafi’i juga belajar kepada Malik bin Anas di Madinah, dan juga guru-guru lainnya. Ibnu Hajar menyebutkan Syafi’i telah belajar dari delapan puluh orang guru. Sebuah angka yang berlebihan. Ar-Razi menolak perkataan Ibnu Hajar tersebut. Syafi’i juga telah mengambil ilmu dari Muhammad bin Hasan asy-Syaibani, seorang qadhi yang merupakan salah seorang murid dari Abu Hanifah. Tidak ada tempat bagi kefanatikan di sini, karena Syafi’i sendiri telah mengakui bahwa dirinya telah mengambil ilmu darinya.

Adapun murid-murid Syafi’i sebagiannya orang-orang Irak dan sebagiannya lagi orang-orang Mesir. Mereka menjadi faktor penting di dalam penyebaran mazhabnya. Adapun murid-murid Syafi’i yang berasal dari Irak ialah Khalid al-Yamani al-Kalbi, Abu Tsaur al-Baghdadi, yang terhitung sebagai pemilik mazhab tersendiri dan mempunyai muqallid (pengikut) hingga abad kedua hijrah, dan dia wafat pada tahun 240 Hijrah. Kemudian, Hasan bin Muhammad bin ash-Shabbah az-Za'farani, Hasan bin Ali al-Karabisi, Ahmad bin Abdul Aziz al-Baghdadi, dan Abu Abdurrahman Ahmad bin Muhammad al-Asy'ari. Ahmad bin Muhammad al-Asy'ari diidentikkan dengan Syafi’i, karena dia memperkuat mazhabnya dan membela para pengikutnya, disebabkan kedudukan tinggi yang dimilikinya di mata sultan. Juga teimasuk salah seorang dari murid Syafi’i adalah Ahmad bin Hanbal, meskipun orang-orang Hanbali mengatakan bahwa Syafi’i pernah mengambil hadis dari Ahmad dan belajar kepadanya, sebagaimana yang disebutkan di dalam kitab Thabaqat al-Hanabilah.

Adapun murid-muridnya di Mesir, mereka amat berperan di dalam penyebaran mazhabnya dan penulisan buku-buku. Yang paling terkenal dari mereka ialah Yusuf bin Ya'qub al-Buwaithi, yang merupakan pengganti Syafi’i di dalam memberikan pelajaran, dan termasuk penyeru terbesar kepada mazhabnya.

Dia mendekati orang-orang asing dan memperkenalkan kepada mereka keutamaan Syafi’i, hingga banyak pengikutnya dan tersebar mazhabnya. Ibnu Abi Laits al-Hanafi merasa hasud kepadanya dan kemudian mengeluarkannya dari Mesir, sehingga akhirnya Yusuf bin Ya'qub al-Buwaithi meninggal dunia di dalam penjara di kota Baghdad.

Di antara murid-murid Yusuf bin Ya'qub al-Buwaithi ialah Ismail bin Yahya al-Mazni dan Abu Ibrahim al-Mishri, yang memiliki ber-bagai tulisan di dalam mazhab Syafi’i yang membantu penyebaran mazhab tersebut, seperti kitab al-Jami' al-Kabir, al-Jami' ash-Shaghir, al-Mantsur, dan yang lainnya.

Seseorang yang mempelajari sejarah mazhab Syafi’i akan menemukan bahwa murid-murid dan sahabat-sahabatnyalah yang telah membantunya dan menyebarkan mazhabnya.

Terdapat perbedaan antara madrasah Syafi’i di Irak dengan madrasah Syafi’i di Mesir. Suatu hal yang perlu kita cermati. Sebagaimana diketahui bahwa Syafi’i telah berpaling dari fatwa-fatwa yang dikeluarkannya ketika berada di Irak, yang kemudian dikenal dengan mazhab qadim, yang dipegang oleh murid-muridnya di Irak. Di antara kitab-kitab yang berasal dari mazhab qadim ialah kitab al-Amali dan kitab Majma' al-Kafi. Ketika pindah ke Mesir dia mengharamkan berpegang kepada mazhab qadim, setelah mazhab itu tersebar dan dipraktekkan oleh masyarakat umum. Apakah Syafi’i menarik diri darinya karena mazhab qadim itu batil?! Atau, apakah ijtihadnya ketika di Baghdad tidak sempurna, dan kemudian menjadi sempuma di Mesir?!

Kemudian, apa yang menjadi jaminan kebenaran mazhabnya yang baru di Mesir?!

Apakah kalau sekiranya umurnya panjang dia pun akan berpaling dari mazhab barunya itu?! Oleh karena itu, Anda menemukan dua pendapat dalam satu masalah di dalam mazhab Syafi’i. Sebagaimana yang terdapat di dalam kitab al-Umm. Ada orang yang menganggap bahwa perbedaan ini sebagai akibat tidak adanya ketetapan hati dari Syafi’i, dan ini merupakan sebuah kekurangan di dalam ijtihad dan ilmu.

Al-Bazzaz menyokong makna ini dengan mengatakan, "Ketika di Irak Syafi’i menulis beberapa kitab, namun para sahabat Muhammad asy-Syaibani mendhaifkan perkataannya dan mempersulitnya, sementara para ahlul hadis tidak memperhatikan perkataannya, dan bahkan menuduhnya sebagai mu'tazilah. Ketika di Irak pasar sudah tertutup baginya, maka Oleh karena itu, dia pun pindah ke Mesir, yang ketika itu belum ada seorang fakih yang dikenal di sana, dan pasar pun berpihak kepadanya."[201]

Keadaan berubah ketika dia pindah ke Mesir. Karena Syafi’i dikenal sebagai murid Malik dan sekaligus penolong dan pembela mazhabnya. Inilah faktor yang membentangkan jalan kesuksesan Syafi’i di Mesir. Karena watak umum masyarakat Mesir bermazhab Maliki. Di samping itu, kedatangan Syafi’i ke Mesir berdasarkan rekomendasi khalifah saat itu kepada gubernur Mesir, maka Oleh karena itu, Syafi’i memperoleh perhatian yang cukup di Mesir, terutama dari kalangan para pengikut Malik.

Namun itu tidak berlangsung lama sehingga akhirnya Syafi’i menulis kitab-kitab yang menolak Malik dan menentang perkataan-perkataannya. Ar-Rabi' berkata, "Saya mendengar Syafi’i mengatakan,

'Saya datang ke Mesir dalam keadaan tidak tahu bahwa Malik berlawanan dengan ucapan-ucapannya kecuali hanya enam belas ucapan. Saya perhatikan, dan kemudian saya mendapati dia mengatakan yang pokok dan meninggalkan cabang atau mengatakan cabang dan meninggalkan pokok.' Abu Umar berkata, 'Abdul Aziz bin Abi Salma dan Abdurrahman bin Zaid juga telah berkata tentang Malik, sebagaimana yang disebutkan oleh as-Saji di dalam kitab al-'llal, mereka menjelek-jelekkan beberapa hal tentang mazhab Malik.' Hingga Abu Umar berkata, 'Syafi’i telah berbuat zalim kepada Malik, dan begitu juga sebagian pengikut Abu Hanifah, berkenaan dengan sesuatu dari pendapatnya, karena merasa hasud akan kedudukan keimamahannya.'"[202]

Orang-orang Maliki telah habis kesabarannya terhadap Syafi’i, dan mereka menunggu saat yang tepat hingga akhirnya mereka membunuhnya. Ibnu Hajar mengatakan, mereka memukul Syafi’i dengan kunci besi hingga meninggal dunia.[203] Abi Hayyan menyebutkan peristiwa ini di dalam kasidah pujiannya terhadap Syafi’i,

"Tatkala datang ke Mesir dia menentang berbagai hal

menyakitkan yang ditujukan kepadanya.

Sementara orang-orang menyembunyikan kebencian kepadanya.

Dia datang mengkritik apa yang telah mereka peroleh

dan menghancurkan apa yang telah mereka tegakkan karena memang bangunan mereka lemah.

Maka mereka pun memperdayanya tatkala mereka berduaan

dengannya di tempat yang sepi.

Kecelakaan bagi mereka yang Allah telah lumpuhkan

kedua tangan mereka terhadapnya.

Mereka merobek keningnya dengan kunci besi

hingga pergilah dia tanpa dibentahukan kematiannya."

Maka Syafi’i pun meninggal dunia sebagai korban dari kefanatikan mazhab pengikut Malik.

Meski pun demikian, Mesir merupakan benih pertama, yang darinya tersebar luas mazhab Syafi’i, sebagai hasil dari upaya dan jerih payah para sahabat dan murid-muridnya. Apabila tidak ada mereka, mungkin nasib yang dialami mazhab Syafi’i tidak berbeda dengan nasib mazhab-mazab lain yang musnah.

Mazhab Syafi’i berhasil menyebar luas di Syam dan mampu mengalahkan mazhab mazhab al-Awza'i, setelah jabatan kehakiman dipegang oleh Muhammad bin Usman ad-Dimasyqi asy-Syafi’i. Dengan gigih dia berusaha menyebarkan mazhab Syafi’i di Syam, dan Oleh karena itu,lah mazhab al-Awza'i menjadi musnah. Kemenangan mazhab Syafi’i menjadi sempurna pada masa Dinasti Ayubiyyah, yang mana para rajanya merupakan para pemeluk mazhab Syafi’i yang setia. Hal ini merupakan faktor yang amat membantu sekali di dalam memperkokoh mazhab Syafi’i. Ketika datang Dinasti Mamalik di Mesir, langkah mereka tidak bergeser dari mazhab Syafi’i. Seluruh raja-raja mereka bermazhab Syafi’i kecuali Saifuddin yang bermazhab Hanafi, namun dia tidak mampu memberikan pengaruh terhadap penyebaran mazhab Syafi’i.

Dengan demikian, nama Syafi’i menjadi harum dan terkenal karena perantaraan raja dan sultan. Jika tidak, maka tentu mazhabnya akan menjadi mazhab yang terlupakan.

Sebelumnya Daftar Isi Selanjutnya